Qu LiWey

Qu LiWey
Bagian 28 : Hubungan Ayah dan Anak


__ADS_3

...Jangan lupa kllik 👍 sebelum membaca dan klik 💜 dan jadikan Qu Liwey di list favoritmu....


...__________...


Jing Xuan menepati janjinya, setelah menyelesaikan makan siang bersama anggota keluarga -- dan sedikit sulit untuk terlepas dari adik kedelapannya-- akhirnya Jing Xuan sudah menginjakkan kakinya di depan pintu ruangan kaisar.


Mengetuk pintu tiga kali sebuah sahutan dari dalam menyuruhnya untuk masuk. Jing Xuan membuka pintu perlahan kemudian melangkah memasuki ruangan lebar dengan tirai-tirai merah yang menari di tiap hembusan angin.


Kaisar Mo menggulung perkamen yang ia baca saat mendapati Jing Xuan berdiri dihadapannya. Diletakkannya perkamen itu di samping meja, iris gelapnya melirik kursi kayu yang berada di hadapannya. Mengisyaratkan Jing Xuan untuk duduk disana.


Jing Xuan menurut tanpa berucap. Mendudukkan diri dihadapan sang Kaisar yang tak lain tak bukan adalah ayah biologisnya. Keduanya diam, tak ada yang bersuara. Mereka masih saling berpandangan dengan tatapan yang tak dapat diartikan.


Jing Xuan dengan ekpresi dan sorot mata seperti biasa, datar. Dan Kaisar Mo dengan tatapan menyelidik, seolah ingin mencari rahasia dibalik iris beda warna yang ia tatap sekarang. Jing Xuan mendengus, bersandar di punggung kursi Jing Xuan menyilangkan tangan di depan dada. Tatapan matanya masih sama, datar namun ada sirat kekesalan meliputinya.


"Seperti biasa, kau mudah kesal, Nak." Kaisar Mo berujar, di ambilnya cawan berisi teh jasmine lalu menyesapnya perlahan. Merasakan setiap tetes air teh mengaliri kerongkongannya.


"Aku tidak punya banyak waktu untuk bermain, Yang Mulia." Jing Xuan berujar datar. Kaisar Mo terkekeh, dituangnya teh dari teko kecil kedalam cawan lalu memberikannya pada pria bersurai putih, anaknya.


Kembali ditatapnya sang anak yang kini tengah menyesap teh, sang Kaisar tersenyum tipis. "Kau benar-benar mengambil seluruh gen ibumu." Jing Xuan mendongak, sebelah alisnya naik mendengar penuturan sang Kaisar.


"Dia juga memiliki surai putih, dan hawa tubuh yang dingin namun matanya berwarna biru, Nak." Kaisar Mo tersenyum miris, teringat akan sosok yang dulu teramat ia cintai namun tak dapat ia lindungi. Jing Xuan mendecih mendapati ekpresi murung dan penyesalan sang Kaisar.


"Menyesal sekarang, eoh? Tapi sudah terlambat 'kan," Jing Xuan mendecak lidah. "Sudah hukum alam, penyesalan selalu ada di akhir," gumamnya.


Kaisar Mo mengangguk, menyesal? Tentu, ia sangat menyesal tidak dapat melindungi sang istri yang teramat ia cinta. Bahkan saat akhir hayatnya, Kaisar Mo tidak berada di sana. Hening, dua manusia satu gender itu tengah menikmati pikiran masing-masing.


"Apa yang ingin Anda katakan," kata Jing Xuan dingin sekaligus memecahkan keheningan yang sempat terjadi diantara keduanya. Jujur, Jing Xuan sudah muak berada di ruangan ini. Jika sang Kaisar memintanya datang ke sini hanya untuk membahas acara pesta yang sudah jelas-jelas Jing Xuan tolak. Maka Jing Xuan akan pergi tanpa menjawab sekalipun.


Dia sudah terlalu lama di istana ini, dan dia ingin pulang. Istana bukanlah tempat yang nyaman bagi Jing Xuan --baik dulu maupun sekarang. Ah ... Jing Xuan jadi merindukan Liwey. Pria itu ingin bermanja-manja padi wanitanya itu. Iya, wanitanya. Liwey sudah sepenuhnya menjadi wanitanya.

__ADS_1


"Aku hanya ingin mengajakmu bernostalgia, Nak." Perkataan Kaisar Mo menarik Jing Xuan kedunia nyata. Ternyata pengaruh Liwey sangat besar pada diri Jing Xuan, hingga membuat pria itu selalu memikirkannya tiap saat.


"Nostalgia?" Dahi Jing Xuan berkerut, sebelah alisnya terangkat keatas. Seolah ingin mengulik lebih dalam maksud dari perkataan Kaisar Mo. Pria tua itu terkekeh. "Aku masih ingat saat kau pertama kali belajar naik kuda dan keluar istana ...."


"Dan itu juga hari pertamaku di cap sebagai anak penyihir karena memiliki mata tak biasa." Jing Xuan menyela. Kaisar Mo terdiam, tenggorokannya tiba-tiba kering mendengar penuturan Jing Xuan. Dengan cepat diraihnya cawan berisi teh dan menegaknya secara cepat hingga tak bersisa.


"Setelahnya aku dilempari batu dan kotoran, namun Anda tetap berdiri dibelakang tanpa berniat ingin maju untuk membantu." Jing Xuan terkekeh sinis mengingat kejadian yang paling tidak bisa ia lupakan. Ia ingat, para warga dan anak bangsawan yang tidak mengenali dirinya seorang pangeran melemparinya dengan kotoran dan batu. Bahkan ada yang tak segan-segan meludah di depan wajahnya, menginjak martabat Jing Xuan muda sebagai seorang anak raja.


Kaisar Mo kembali tercekat, bukan seperti ini topik nostalgia yang ia inginkan. Pria tua itu menginginkan topik hangat dan penuh kekeluargaan bukan membuka luka lama yang sarat akan kepiluan.


Jing Xuan menoleh menatap wajah Kaisar Mo dengan mata memerah. "Anda ingin membuat trauma lamaku kembali Yang Mulia." Dingin, nada yang dilontarkan Jing Xuan dalam perkataannya dingin dan semakin dingin. Bahkan suhu ruangan juga menjadi dingin oleh aura yang terpancar dari tubuh Jing Xuan.


"Tidak, Nak. Bukan seperti itu maksudku, aku ingin mengajakmu bernostalgia dengan hal yang penuh dengan keba ...."


"Aku tak pernah mendapat kebahagian sejak kecil, Yang Mulia." Jing Xuan menumpu sikunya diatas meja. "Bahkan dihari pertama kalinya aku mendapatkan langkah pertamaku." Aura Jing Xuan semakin kuat, suhu di ruangan itu semakin rendah.


"Anda tahu Yang Mulia, saat anak usia empat tahun masih ingin dimanja oleh kedua orang tuanya, tapi dia malah di hadapkan dengan besi tajam yang bahkan tak sanggup untuk ia angkat." Nada bicara Jing Xuan merendah, matanya menyipit menatap Kaisar Mo. "Saat aku bertanya waktu itu, kau berkata jika aku harus menjadi seseorang yang kuat agar dapat menduduki tahta, tapi apa."


Tanpa sadar Jing Xuan menggeram, kedua tangannya mengepal diatas meja. "Hanya karena cacian yang diberikan masyarakat kau menghapus pangkatku dan memberikannya pada Mo Yanzhi yang saat itu, memegang pedang pun tidak pernah."


"Apa kau memikirkan perasaanku saat itu? Tidak 'kan. Kau mencampakkanku Yang Mulia, sosok seorang ayah yang selalu mendatangi kamarku tiap pagi untuk diajar berpedang tak pernah lagi mengunjungiku. Kau tahu betapa sakitnya hatiku?"


"Untung ada ibunda, yah setidaknya aku masih bahagia saat ibunda masih hidup." Jing Xuan berujar sendu, tatapan tajam yang ia berikan pada Kaisar Mo tak lagi terlihat. Wajahnya menatap kebawah, topik yang membahas masalah ibundanya adalah topik yang membuat Jing Xuan merasa lemah. Dirinya terdiam, menikmati mengingat kenangan indah saat bersama ibundanya.


"Nak, maafkan aku." Jing Xuan masih diam tak menjawab. "Aku memanggilmu kemari ingin memperbaiki hubungan ayah dan anak diantara kita."


"Tidak ada hubungan ayah dan anak antara Anda dan aku, Yang Mulia." Jing Xuan berujar rendah, mendongak. Jing Xuan menatap datar pria tua dihadapannya ini. Bibir pria tua itu bergetar, Jing Xuan sadar kalau auranya membuat suhu ruangan turun drastis namun dia tak peduli.


"Dari awal hubungan itu tidak pernah ada, kau hanya memanfaatkanku, Yang Mulia. Mencampakkanku disaat kau malu dan menarikku ketika kau butuh." Kaisar Mo semakin tersudutkan dengan aura yang keluar dari tubuh Jing Xuan, namun dia berusaha bertahan. Ditatapnya manik sang anak, bohong kalau Kaisar Mo mengatakan tak mengerti akan apa yang dikatakan sang anak. Karena sejatinya dia mengerti semuanya dan paham keseluruhannya.

__ADS_1


Dia tidak pernah memberikan kasih sayang pada Jing Xuan kecil. Dia malah memaksanya berlatih pedang dengan angan-angan kursi tahta. Jing Xuan kecil yang belum tahu apa-apa akan intrik istana tentu menurut, semua dia lakukan. Walaupun perlakuan sang ayah membuatnya tersiksa namun dia tetap lakukan. Bagi Jing Xuan kecil, mengajarkan dirinya cara berpedang dan menaiki kuda adalah bentuk kasih sayang dari sang ayah.


Namun ia salah besar.


Jing Xuan kecil menyadari itu, saat dimana dirinya tengah terpuruk diantara caci maki masyarakat dan para bangsawan yang dengan terang-terangan menekan kehormatannya sebagai pangeran. Dia, sang Kaisar. Hanya berdiri di barisan belakang, menatap si kecil Jing Xuan dengan pandangan dingin yang tak terbaca.


Lalu kemudian saat kerajaan tengah terpuruk, sang Kaisar datang pada Jing Xuan remaja. Kemudian mengancam dengan hal terlemah yang Jing Xuan punya. Agar Jing Xuan kembali memihak padanya.


Kaisar Mo menunduk, dia tahu kalau dirinya yang dahulu dibutakan akan kehormatan dan tidak lagi memperdulikan sang hanya karena caci maki tak beralasan. Bahkan dia tak pernah memikirkan bagaimana rasa sakit yang diterima anaknya akibat ulah yang ia perbuat.


Jing Xuan kembali menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, tangannya kembali tersilang di depan dada sembari menatap wajah penuh penyesalan dari pria tua yang bergelar Kaisar di hadapannya.


"Sudah selesai membuka luka lama, Yang Mulia." Ucapan Jing Xuan menarik perhatian Kaisar. Pria tua yang tengah menyesali perbuatannya itu mendongak menatap wajah sang anak sendu.


Jing Xuan tersenyum miring, kemudian bangkit dari posisi duduknya menjadi berdiri. Membungkuk, Jing Xuan melipat kedua tangannya di depan kepala. Seberapa bencinya Jing Xuan pada sosok dihadapannya kini, namun tetap saja. Sosok itu yang harus Jing Xuan hormati dan juga .... lindungi.


"Terimakasih atas waktu anda untuk bernostalgia Yang Mulia." Perkataan Jing Xuan secara tak langsung menyayat hati Kaisar. "Hamba, undur diri."


Setelahnya, Jing Xuan hilang dari balik pintu. Meninggalkan pria tua berjubah merah tengah menunduk menyesal.


Benar katanya, sesuai hukum alam. Penyesalan selalu datang di akhir.


..._________...


Tbc ...


wawww ... akhirnya terungkap juga kenapa Jing Xuan mempunyai sisi kelam, dan sangat sulit mengontrol keistimewaannya ketika marah. Ternyata Jing Xuan punya cerita toh .


Hm ... gimana dengan chapter ini, berikan pendapat kalian manteman, so happy reading. Salam dari Audhikim🤓😉

__ADS_1


__ADS_2