Qu LiWey

Qu LiWey
Bagian 33 : Kau Penyihir?


__ADS_3

Suara derik kereta kuda yang membawa Jing Xuan serta Liwey masih menggema. Di dalamnya, Jing Xuan maupun Liwey sama-sama bungkam, keduanya kembali sibuk dengan pikiran masing-masing.


Liwey tengah asik menatap hamparan pohon besar dari balik jendela kereta, tirai yang menutupinya sudah Liwey geser kesamping. Matanya menatap lurus kearah jalanan yang dijejeri pepohonan. Tadi saat sebelum berangkat, Jing Xuan mengatakan jika mereka akan memakan waktu setengah hari perjalanan jika menaiki kereta kuda untuk sampai ke istana, dan sepertinya mereka sudah mengambil waktu seperempat hari perjalanan.


Matahari sudah mulai menghilang kembali ke peraduan. Kegelapan mulai menyelimuti jalan yang mereka lalui, pohon-pohon besar yang awalnya memberikan kesan sejuk dan menenagkan bagi Liwey entah kenapa terlihat mengerikan. Namun, Liwey masih tak mengalihkan pandangannya ke luar jendela.


Pikiran Liwey sudah berkelana entah kemana-mana. Hubungannya dengan Jing Xuan baik, namun Liwey memilih untuk tak terlalu dekat dengan Jing Xuan saat ini. Dia ingin mengetahui perasaan apa yang ia simpan untuk Jing Xuan, apakah hanya perasaan dilindungi atau lebih. Jadi Liwey memutuskan untuk mengacuhkan Jing Xuan selama perjalanan mereka dan juga nanti saat di istana.


Jika dirinya merasa kehilangan, maka benar dia mencintai Jing Xuan. Namun jika dirinya biasa saja berarti dia hanya merasa di lindungi oleh Jing Xuan.


Iya, hal seperti itu harus dilakukan.


"Tutup jendelanya. Angin malam tidak baik untukmu." Suara Jing Xuan mengalihkan atensi Liwey. Menoleh kearah Jing Xuan sekilas, Liwey menutup jendela kecil kereta itu juga tirainya. Tanpa kata Liwey memilih bersandar pada dinding kereta, walaupun sedikit tidak nyaman --karena kepalanya akan terantuk jika ban kereta menabrak kerikil-- Liwey tetap bersandar sembari memejamkan mata.


Jing Xuan menatap Liwey dalam, hatinya sakit saat mengetahui Liwey tiba-tiba cuek padanya. Apakah dirinya melakukan kesalahan? Apa Liwey tidak ingin dia membuat Liwey jatuh cinta? Lalu, kenapa Liwey tidak menolak saat disentuh oleh dirinya. Sungguh Jing Xuan bingung dengan situasi ini.


Jika, Liwey memang tak mencintai ataupun menyukainya, maka tolak keinginannya. Tapi, Liwey menuruti. Menuruti semua keinginan Jing Xuan, tak menolak tiap sentuhan Jing Xuan, tak berontak saat dipeluk oleh Jing Xuan.


Di satu sisi, Liwey seolah memberi harapan pada Jing Xuan jika suatu saat dirinya akan jatuh cinta pada Jing Xuan. Namun di sisi yang lain, Liwey seolah sedang memanfaatkan Jing Xuan.


Hah. Pria bersurai putih itu menghela nafas, tatapannya masih terpaku di wajah wanita yang ia cintai. Jing Xuan terkekeh pelan saat mendapati kepala istrinya terantuk-antuk dinding kereta. Dengan perlahan diraihnya tubuh sang istri, meletakkan perlahan kepala sang istri untuk berbantalkan pahanya.


Tangan kekar Jing Xuan mengelus pelan surai kecoklatan Liwey, matanya menatap sendu wajah tidur Liwey. Wajah tidur ini, yang membuat Jing Xuan jatuh cinta pada Liwey.


"Kapan kau akan mencintaiku?" lirihnya. Kemudian mengecup puncak kepala Liwey dengan penuh kelembutan.


...°♤°♤°...


Tak terasa kereta yang mereka tempati telah sampai pada tujuannya. Liwey dibangunkan oleh Jing Xuan, dirinya sedikit tersentak saat mengetahui kepalanya menjadikan paha Jing Xuan sebagai bantal. Padahal seingatnya dia bersandar dikereta, kemudian tertidur setelahnya dia tidak ingat apa-apa. Apa Jing Xuan yang memindahkannya?


Mereka berdua keluar bergiliran dari kereta, bagunan megah dengan warna dominan merah serta banyak relief naga menyambut pemandangan Liwey. Takjub, Liwey sampai tak sadar jika dirinya sudah membuka mulutnya.


"Tutup mulutmu, kau tidak ingin binatang kecil masuk kedalamnya kan." Sontak Liwey menutub rapat mulutnya. Melipat bibir, Liwey sedikit tersentak dengan cara Jing Xuan memperingatinya. Pria itu mencium sudut bibirnya. Ingat, menciumnya. Diperjelas MENCIUMNYA.

__ADS_1


Apa pria ini tidak malu, ouh ayolah. Bukan hanya mereka berdua yang berada di sana, tapi para prajurit, pelayan dan juga. Oh?! kenapa Liwey tidak melihat jika ternyata banyak orang di sana.


Dari pakaian yang mereka gunakan menjelaskan mereka adalah anggota keluarga kerajaan. Sungguh Liwey malu sekarang.


"Sepertinya Pangeran ke-4 sangat mencintai istrinya. Sampai-sampai cara menegurnya saja spesial." Ugh ... tolong ciptakan lubang di bawah kaki Liwey sekarang, ia ingin tenggelam kedasar tanah sekarang juga.


Wanita dengan hanfu hijau glamour itu berjalan mendekat kearah Liwey, dari wajahnya dapat Liwey kira jika wanita ini baru memasuki kepala tiga.


Wanita itu tersenyum, kemudian mengusap pelan bahu Liwey. "Ternyata rumor itu salah, kau sangat cantik, Putri Jing." Liwey hanya bisa tersenyum kikuk mendengar pujian mengalun lembut dari mulut wanita itu.


"Beruntung sekali kau mendapatkannya, Jing Xuan." Wanita itu menoleh kearah Jing Xuan, sekilas dapat wanita itu lihat Jing Xuan mengangguk dengan ekpresi datar. Tak terlalu memperdulikan Jing Xuan, wanita itu kembali menatap Liwey. Binar dari iris kecoklatan miliknya menampilkan raut ketertarikan di sana.


"Aku Selir Huang kau bisa memanggilku apa saja. Kita akan berteman sekarang Putri Jing." Wanita yang mengakui dirinya sebagai selir dengan marga Huang itu tersenyum ramah kearah Liwey.


"Selir Huang, aku juga ingin bertemu menantuku." Suara berat khas seorang pria mengintrupsi Selir Huang, wanita itu berbalik lalu membungkuk hormat pada pria paruh baya dengan brewok yang menutupi sebagian wajahnya.


"Maafkan Selir ini, Yang Mulia. Selir ini hanya sangat tertarik dengan istri Pangeran ke-4," ucapnya lemah gemulai, dapat Liwey lihat wanita dengan hanfu merah menyala yang berdiri tepat di samping pria paruh baya itu mendecih.


Liwey menggeleng akan pemikirannya.


"Kenapa kau menggeleng menantuku?"


Eh? Liwey gelagapan, matanya bersibobrok dengan iris gelap sang Kaisar. Menggaruk tengkuk, Liwey berujar maaf dengan lirih karena sudah tidak fokus. Sang Kaisar tersenyum, melangkah perlahan mendekati menantunya.


"Kau sangat cantik, pantas saja Jing Xuan memperlakukanmu spesial." Ah, kenapa mereka selalu memujinya, tidakkah mereka tahu jika Liwey bisa pingsan kalau di puji cantik terus menerus. Ish, Liwey yakin jika pipinya sudah memerah sekarang.


"Kau demam, Nak? Kenapa pipimu merah." Tuh kan. Liwey semakin gelagapan, kepalanya menunduk semakin dalam. Hingga secara tiba-tiba sosok Jing Xuan langsung mendekapnya.


"Dia sedikit kedinginan." Itu suara Jing Xuan, dengan aksen yang telah lama tak Liwey dengar. Dingin dan datar.


"Lepaskan aku," ujar Liwey lirih. Jing Xuan semakin mengeratkan pelukannya, menandakan jika dirinya tak ingin melepaskan istrinya itu.


"Xuanxuan."

__ADS_1


"Tidak," jelas Jing Xuan tegas. Liwey tak berkutik. Baiklah, sekarang mari nikmati pelukan Jing Xuan Liwey.


"Kau jangan terlalu mengekangnya adik ke-4, apa kau tak khawatir dia akan kabur darimu." Liwey mengerutkan kening mendengar suara itu. Suara ini pernah ia dengar sebelumnya, dan juga ....


Dengan paksa Liwey melepas pelukannya dari Jing Xuan, membuat pria itu sedikit tersentak kaget. Iris amber Liwey segera bertubrukan dengan iris kelabu sosok dengan hanfu hitam dan jubah hitam yang melekat pada tubuhnya.


Ah, Putra Mahkota, pantas saja Liwey seperti tak asing, tapi dia ....


"Kenapa adik ipar, apa kau tertarik padaku?" Yanzhi menaikkan sebelah alisnya, raut nakal dan menggoda ia tunjukkan.


Namun Liwey tak terpengaruh, wanita itu tidak mendecih atau mendengus --padahal dia benci pria yang terang-terangan menggodanya-- Liwey masih menatap nyalang tepat di manik kelabu Yanzhi, seolah mencari sesuatu didalamnya.


"Kenapa kau menatapku seperti itu adik ipar? Kau membuatku takut?" Kini Yanzhi berujar seolah sedang ketakutan setelahnya pria itu tertawa.


Jing Xuan heran, seperempat siku tercipta di dahinya. Segala macam tanya tercipta di otaknya. Tentang, kenapa Liwey menatap Yanzhi begitu lekat? Apa Liwey jatuh cinta pada pandangan pertama pada Yanzhi? Atau mungkin, Yanzhi menggunakan sihir hitamnya untuk memikat Liwey? Atau ...


"Kau penyihir?"


Pertanyaan yang terlontar dari mulut Liwey membuat semua orang yang berada di sana terdiam, bahkan Jing Xuan tidak melanjutkan pertanyaan-pertanyaan yang berseliweran di pikirannya. Iris heterocromia miliknya membeliak menatap Liwey.


Kenapa dia tahu?


Sementara Yanzhi, pria itu tak mampu untuk berkata-kata lagi setelah mendengar penuturan Liwey. Raut tengil dan nakal di wajahnya menghilang begitu saja. Tangannya terkepal menahan emosi.


"Auramu pekat sekali, hitam dan gelap." Setelah mengatakannya, Liwey jatuh dalam dekapan Jing Xuan.


...°♡°♡°...


Tbc ...


Tdu tdu tdu ...


jangan lupa like and komennya.

__ADS_1


__ADS_2