
Tekan 👍 sebelum membaca dan tekan 💜 untuk menempatkan Qu Liwey menjadi List favoritmu.
Happy reading.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Liwey menghirup udara sebanyak yang ia mampu lalu mengeluarkannya perlahan. Entah bagaimana caranya, Liwey bisa keluar bersama dengan Jiali tanpa diketahui oleh satupun penjaga di kediaman.
Ahh ... jika dilihat dari masa remaja Liwey yang sering kabur tanpa ketahuan dari rumah mungkin kalian akan mendapatkan jawabannya. Setidaknya Liwey jago dalam hal mengendap-ngendap tanpa ketahuan.
Kini Liwey sudah berdiri dipasar kota Dong Yuo dengan Jiali disampingnya. Senyum merekah tak pernah pudar terlukis dibibirnya. Matanya menoleh kesekeliling, berbinar menatap hal yang pertama kali ia lihat.
Banyak orang yang berlalu lalang dengan mengenakan segala macam warna hanfu indah. Baik pria maupun wanita, mereka terlihat asik berbaur dengan sesama.
Para pedagang menjajakan makanannya, pembeli berkerumunan di satu ruko lalu berpindah keruko yang lain. Aroma kekeluargaan sangat tercium pekat di sana.
"Apakah Anda ingin melihat perhiasan, Nona muda?" Liwey menoleh kearah pedagang wanita yang memanggilnya. Dengan tersenyum Liwey mengangguk.
Diambilnya salah satu tusuk konde dengan motif kupu-kupu berwarna putih dengan tambahan hiasan berlian sewarna delima, diputarnya bolak balik seolah meneliti apakah ada cacat di sana.
Kini tangannya beralih dengan gelang giok putih berkilauan. Kembali Liwey membolak-baliknya. Ingin mencari apakah ada retakan sekecil apapun. Namun nihil, Liwey tak menemukannya.
Malahan, perhiasan ini sangat indah menurut Liwey.
"Gelang giok ini hanya tersisa satu. Apakah Anda ingin membelinya, Nona? Akan ada potongan harga untuk Anda."
Potongan harga? Diskon? Ouh ... pedagang ini sangat paham keinginan wanita ternyata.
Liwey segera mengangguk mengiyakan, menurutnya gelang giok ini indah dan berhasil menarik perhatiannya. Jadi, Liwey memutuskan untuk membelinya.
"Harganya satu Tael perak." Pedagang wanita itu tersenyum sembari memberikan peti kayu kecil berisikan gelang giok didalamnya.
Liwey menerimanya. Tersenyum, lalu membiarkan Jiali membayar dagangannya.
Setelah Jiali menyelesaikan transaksinya, Liwey langsung menarik Jiali mendekat kearahnya. "Jiali, aku ingin memakan sesuatu. Bawakan aku ke restoran di daerah sini."
"Baiklah, Nona. Mari, Jiali antar."
Liwey mengangguk cepat. Merangkul bahu Jiali lalu berjalan mengikuti langkah kaki Jiali menuju restoran. Liwey harus mengisi perut siang ini, mengingat bagaimana dia tidak menikmati sarapannya pagi tadi.
\=\=\=\=\=\=\=
Liwey dan Jiali berhenti di depan pintu sebuah restoran mie yang cukup terkenal di daratan Dong yuo. Aroma masakan sudah mengelitik hidung dan memporak-porandakan perut Liwey hingga bergemuruh.
Ukh ... dia sungguh tak sabar ingin segera mencicipi makanan yang terkenal lezat itu.
"Ah ... perutku sudah bergejolak, ayo kita masuk." Liwey menarik lengan Jiali masuk kedalam.
Duduk disalah satu meja yang tersedia. Seorang pelayan datang menghampiri meja mereka.
"Ingin pesan makanan apa, Nona-nona muda?"
"Aku ingin makanan yang terlezat di restoran ini," ujar Liwey sembari tersenyum kearah sang pelayan.
Mengangguk. Pelayan itu pergi meninggalkan meja mereka.
"Hmm ... Jiali, setelah ini kau harus membawaku ke tempat pedagang makanan ringan. Aku ingin memanjakan perutku ini." Liwey mengusap perutnya membuat Jiali terkekeh.
"Tentu, Nona."
Tak butuh waktu lama, pesanan mereka sudah mengisi meja. Dua mangkuk bakmi ayam ekstra sayur, ikan gurame goreng dengan potongan daun seledri diatasnya dan juga teh camomile hangat menghiasi meja.
"Wahh ... bahkan visual makanan di restoran ini lebih baik daripada di kediaman." Liwey mendesah.
Dengan segera diambilnya sumpit dan mulai menyuapkan bakmie kedalam mulutnya. "Wah, Jiali. Ini surga." Setelah mengatakan itu, Liwey kembali disibukkan dengan kegiatan memakan bakmie miliknya.
Jiali hanya tersenyum senang melihat respon dari sang Nona, dan kemudian ikut melahap bakmie dalam damai.
Sehingga mereka tak menyadari, jika sedari tadi ada dua sosok yang mengikuti mereka.
\=\=\=\=\=\=\=
Lain halnya dengan Liwey yang tengah bersenang-senang dipasar dengan Jiali. Di kediaman, Jing Xuan sedari tadi disibukkan dengan berbagai perkamen yang tak ada habis-habisnya untuk di periksa.
Posisinya sebagai seorang pangeran yang juga merambat menjadi seorang menteri yang berurusan dengan hukum kerajaan membuat dirinya selalu sibuk disiang hari.
Setiap hari, akan ada puluhan perkamen yang datang ke kediamannya hanya untuk meminta stempel menteri dan juga revisi.
Jing Xuan menghela napas saat perkamen terakhir yang ia periksa sudah tergulung sempurna. Menyandarkan punggung di kursi kerja.
"Yubo, panggil kasim Tang kemari," perintah Jing Xuan yang diangguki Yubo. Dengan sigap Yubo langsung keluar dari ruang kerja menuju halaman depan, hendak memanggil sang kasim.
Jing Xuan memejamkan matanya. Berusaha rileks untuk membantu mengontrol kekuatannya. Sejak seminggu terakhir, Jing Xuan sudah berhasil mengontrolnya. Dan itu juga yang membuat Jing Xuan tak perlu khawatir jika ingin berdekatan dengan Liwey.
Pintu ruang kerjanya terbuka. Jing Xuan masih menutup matanya karena mengira yang masuk adalah Yubo. Tapi saat suara lain yang tertangkap indra pendengarnya, sontak membuat Jing Xuan membuka mata dan menatap tajam objek yang dengan seenak jidat masuk tanpa permisi keruang kerjanya.
"Maafkan Putri ini yang mulia. Putri ini hanya ingin mengajak yang mulia untuk meminum teh bersama."
Jing Xuan diam, matanya masih menyorot tajam kearah Ailin. "Putri ini hanya ingin memulai hubungan baik dengan anda Yang Mulia. Sudi kiranya Yang Mulia menerima ajakan dari Putri ini."
__ADS_1
Jing Xuan masih diam. Tapi kali ini tatapannya tak lagi setajam yang awal. Melipat kedua tangan di depan dada. Jing Xuan menegakkan duduknya.
"Anda tak perlu repot-repot Putri Ailin, karena saya memiliki jadwal tersendiri untuk minum teh."
"Ah ... kalau begitu, apakah Yang Mulia mau berbagi jadwal dengan Putri ini. Supaya ... Putri ini dapat menyesuaikan waktu."
"Tidak usah. Lebih baik anda pergi Putri Ailin, saya ingin sendiri."
Ailin berdiri mematung mendengar pengusiran dari Jing Xuan. Tenggorokannya tercekat. Ailin memang memiliki obsesi besar terhadap Jing Xuan, hanya saja dirinya tetap akan ciut jika berhadapan langsung dengan aura intimidasi dari Jing Xuan.
Menelan air liurnya sendiri, Ailin berusaha sekuat tenaga untuk bersuara. "Baiklah yang mulia, jika anda membutuhkan Putri ini. Anda dapat menemui Putri ini di kamar." Setelah mengucapkan kata itu, Ailin keluar dari ruangan Jing Xuan.
Putri yang berani. Menyuruh pangeran untuk mendatangi kamarnya? cih.
Tak lama setelah kepergian Ailin, pintu ruang kerja Jing Xuan terbuka. Menampilkan Yubo dan juga Kasim Tang yang menunduk menghadapnya.
"Hamba kasim Tang Yang Mulia, apakah ada yang bisa hamba bantu?" Kasim Tang menunduk disela ucapannya.
"Awasi putri Jing dan pastikan dia berada di dalam kamarnya." Mendengar penuturan Jing Xuan, sontak sang kasim mematung.
Terakhir kali ia memeriksa kediaman putri Jing, tidak ada orang disana. "Maafkan hamba Yang Mulia, putri Jing tidak ada dikediamannya."
Jing Xuan menaikkan sebelah alisnya. "Benarkah?"
"Benar yang mulia."
Gadisku yang pembangkang, dan sungguh berani.
"Baik kau boleh pergi, dan Yubo siapkan kudaku. Aku ingin melihat sejauh mana gadis kecil itu bertindak."
\=\=\=\=\=\=\=\=
Liwey dan Jiali sudah mengelilingi hampir keseluruhan pasar daratan Dong Yuo ini. Membeli berbagai macam perhiasan dan juga mencicipi segala macam makanan yang terjual di tiap ruko. Bahkan Liwey yakin perutnya sudah tak dapat dimasukkan satu buah kue persik sakingkan penuhnya.
Matahari sudah mulai bergeser kearah barat. Pertanda kalau sudah sore, namun Liwey seakan belum mau berpisah dengan pasar tradisional yang ia tempati sekarang.
"Nona, sudah beranjak sore. Lebih baik kita pulang sekarang." Entah sudah keberapa kali Jiali menyuruh sang Nona untuk pulang. Namun dasar Liwey, jika merasa belum cukup ia tak kan pernah mau meninggalkan sebuah tempat sampai ia benar-benar puas.
Jiali saja sudah mendesah lelah melihat sikap pembangkang Nonanya satu ini.
"Aku akan kesana," ucap Liwey dan langsung lari meninggalkan Jiali yang tengah kerepotan menyusulnya. Entah kenapa, Jiali sungguh ingin mengutuki barang tak bernyawa yang ia pegang. Sungguh barang-barang ini menghambat jalannya.
"Nona, tunggu Jiali," teriaknya. Namun Liwey, seakan tuli. Gadis itu tetap melanjutkan larinya tanpa memikirkan apa yang akan ia hadapi didepan nanti.
Sementara berbeda jauh dari mereka, Jing Xuan beserta Yubo baru saja menapaki pasar tradisional Dong Yuo dengan kudanya. Mata keduanya awas menatap sekeliling. Berharap objek yang di cari berada diantara kerumunan orang yang berlalu lalang.
"Bukankah itu Pangeran ke-4?"
"Rambut putih itu sangat kontras dengan jubah hitam milik Pangeran. Sungguh berwibawa."
Bisikan demi bisikan tak henti terdengar. Jing Xuan acuh, baginya mendengar hal yang seperti itu sudah biasa di telinganya.
"Tapi, aku mendengar Pangeran menikah dengan putri kedua kediaman Qu. Bukankah itu putri yang rumornya sangat bodoh?"
"Kau benar, sungguh malang sang Pangeran mendapatkan istri bodoh seperti Putri Qu."
"Benar ... benar."
Baiklah, kali ini benar-benar membuat Jing Xuan sedikit naik pitam.
Apa yang kalian katakan itu salah, Istriku adalah orang tercerdik di seluruh daratan Dong Yuo.
Ingin rasanya Jing Xuan menyerukan kata-kata itu, namun urung. Ia khawatir tak dapat mengontrol emosi dan berakhir dengan keluarnya kekuatan yang berlebihan, dan mengakibatkan seluruh pasar beku.
"Tuan, lebih baik kita lanjutkan perjalanannya," ucap Yubo yang menyadari perubahan aura dari Jing Xuan.
"Baiklah, lanjutkan."
Tali kekang kuda ditarik, Jing Xuan dan Yubo mulai memasuki pasar. Memusatkan pikiran hanya pada satu orang. Qu Liwey.
\=\=\=\=\=\=
Tersesat.
Iya, sepertinya Liwey tersesat. Terkadang selalu ada resiko didalam rasa penasaran kita yang terlalu besar. Itu yang diterima oleh Liwey.
Dia terjebak di sebuah gang dengan banyak bangunan rumah yang sudah tak berpenghuni. Suasana mencekam tercipta sangat kental disana.
Liwey berusaha tenang.
Dengan pikiran yang tenang, ia mudah mendapat penyelesaian dari masalahnya. Tapi semuanya buyar, saat ada sebuah tangan besar mendekap mulutnya. Menarik Liwey paksa menuju salah satu bagunan rumah yang sudah tak berpenghuni.
Liwey di lemparkan keatas ranjang kayu keras. Menciptakan bunyi bedebum yang tercipta dari dirinya yang menghantam ranjang kayu. Liwey meringis, pinggangnya sakit dan dia yakin mungkin lebam besar ada disana.
"Haha ... susah juga untuk membawamu kemari. Pelayan sialan itu entah kenapa bisa menjadi penghalang." Liwey berusaha menatap seseorang yang berbicara.
"Ah ... tapi kita sudah mendapatkannya sekarang. Bagaimana? kita tuntaskan nafsu kita terhadapnya." Liwey terkejut saat mendengar suara lain. Kondisi rumah yang temaram membuat jarak pandangnya menipis.
"Putri Ailin membayar kita untuk memuaskan nafsu. Ah ... sungguh beruntungnya kita." Setelah mengucapkan kalimat itu, kedua pria itu tergelak.
__ADS_1
Putri Ailin?
Liwey berusaha berdiri. Iya tahu Ailin mana yang mereka maksud.
Ternyata gadis penuh obsesi itu sudah mulai menghalalkan segala cara ya.
Liwey perlahan bangkit dari posisinya. Rasa sakit yang teramat sangat di area pinggang semakin membuat Liwey meringis.
Sepertinya, pinggangku terkilir.
"Wah ... masih sanggup berdiri ternyata."
"Ja*ang ini kuat juga."
Ahkk ... jika kondisi Liwey tidak merasakan sakit, mungkin Liwey sudah mencakar mulut orang didepannya ini.
"Kalian mau apa dariku?" Tanyanya.
"Anda masih bertanya Putri Jing? ya tentu saja kami ingin kau memuaskan kami."
Cih ... lelaki kurang belaian ternyata.
"Apa sebegitu tak lakunya kah kalian? Sehingga menculik istri orang untuk dijadikan pemuas nafsu." Liwey menekan kata istri orang pada katanya.
"Wah ... mulutmu kasar juga, Putri Jing. Aku semakin menyukainya."
Cih ... buaya.
"Bagaimana kalau kita mulai pertunjukannya." Lelaki pertama mulai melangkah mendekati Liwey.
Liwey sigap, menunggu ancang-ancang agar dapat melayangkan serangan.
"Kau benar," ujar lelaki kedua.
Kedua lelaki itu mulai berjalan mendekati Liwey. Dengan awas, Liwey sudah memusatkan tenaganya di telapak kaki. Bersiap melayangkan perlawanan.
"Bagaimana jika aku yang ... Argghh." Skak mat. Liwey menendang tepat di bagian terpenting milik lelaki pertama.
Ouh ... itu pasti sakit.
Tak membuang banyak waktu, Liwey mulai berlari keluar ruangan walaupun sedikit terhalangi akibat rasa sakit yang semakin menjadi di area pinggangnya.
"Kejar! Jangan biarkan dia kabur, argh." Lelaki kedua mengangguk. Mulai melangkah keluar dari dalam rumah mengejar Liwey.
Sepertinya dewa keberuntungan memihak dua lelaki itu. Liwey yang awalnya berlari tak kuat menahan pinggangnya yang berdenyut sakit tersungkur di tanah.
Lelaki kedua langsung sigap. Di kuncinya pergerakan Liwey agar tak dapat kabur.
"Lepaskan aku sial*n. Argh ... kau menyakitiku buaya."
"Maki aku sepuasmu Putri, haha. Kau tidak akan bisa kabur dariku kali ini." Si pemuda kedua tertawa penuh kemenangan.
"Lepaskan aku." Entah mendapat ide dari mana, Liwey menggigit kuat tangan Lelaki yang mengangkungnya. Membuat lelaki itu berteriak kesakitan.
"Dasar jala*g." Satu tamparan, dua, tiga.
Tiga tamparan mendarat di pipi mulus Liwey. Membuat dirinya tak dapat berkutik. Liwey jatuh terkulai di jalanan, dengan darah yang merembes keluar di sela bibirnya.
"Haha ... Putri lemah sepertimu tak akan dapat melawanku." Lelaki tadi mulai berjalan mendekati Liwey. "Bahkan dewa keberuntungan memihakku Putri, haha." Lelaki itu tertawa.
Tangannya sudah memegang bahu Liwey, teringin melihat wajah penuh menyedihkan Liwey saat ini. Namun apa yang ia lihat berbeda. Liwey berubah, membuat si lelaki menjatuhkan Liwey tanpa ampun.
Liwey tak meringis. Perlahan dirinya mulai bangkit, sorot matanya menatap tajam lelaki yang tengah berdiri ketakukan tak jauh darinya.
"Kau." Liwey berujar rendah, telunjuknya terarah pada si lelaki, "akan mati."
\=\=\=\=\=\=\=
Tbc ...
Audhikim.
Hayolohh ...
Ada yang penasaran. Sebenarnya Audhi mau buat part ini sampai lengkap. Tapi kalau Audhi menuliskannya dalam satu bab, bisa-bisa ini menjadi bab terpanjanh di cerita Qu Liwey dengan hampir 5000 kata.
Jadi Liwey putuskan untuk di bagi dua ...
semoga kalian suka dengan Cerita Audhi yang ini.
Ouh Ya ... Audhi juga mau promosi. Audhi lagi membuat work baru dengan tema Horror komedi, misteri romantis.
Bagi yang tertarik silahkan mampir. Audhi bakalan berusaha serajin mungkin untuk update.
Ouh Btw ini Coverny
Kalau tertarik silahkan mampir ...
__ADS_1
Salam.dari Istri Kim Taehyung.