Qu LiWey

Qu LiWey
Bagian 26 : Aku mencintaimu.


__ADS_3

...Jangan lupa like dan koment...


...__________...


Liwey baru saja selesai makan malam beserta para anggota kediaman. Dan malam ini Liwey merasakan sedikit tenang karena Jing Xuan tidak menampakkan batang hidungnya saat makan malam tadi, setidaknya moodnya malam ini tidak terlalu buruk. Sikap menjengkelkan Jing Xuan sudah mendarah daging menurut Liwey. Dan dia tidak menyukai jika sikap itu keluar ke permukaan.


Berjalan memasuki kamar, indra penciuman Liwey segera dimanjakan dengan wangi lilin aromatherapi. Sungguh wangi dan menenangkan. Ah ... Liwey harus berterima kasih pada Jiali besok pagi, pelayannya yang sekalu berkepang itu sungguh mengerti kebutuhan Liwey.


Berjalan semakin kedalam, Liwey hendak melepas pakaian luarannya sebelum sebuah suara mengintrupsi.


"Aku akan menerkammu jika kau berganti pakaian di sana." Suara Jing Xuan, Liwey membalikkan badannya cepat. Menggeram, ingin rasanya Jing Xuan memukul kepala makhluk putih ini dengan sepatu yang ia kenakan.


"Apa yang kau lakukan di ranjangku?" tanya Liwey sarkas. Jing Xuan melirik ranjang dengan seprei berwarna merah yang tengah ia duduki. Menyilangkan kaki, Jing Xuan tersenyum nakal.


"Tentu saja ingin tidur denganmu."


Liwey mengerutkan kening, Tidur? Tidur yang sebenar-benarnya tidur 'kan. Jika itu, maka Jing Xuan tidak boleh memonopoli ranjangnya lagi. Cukup semalam, tidak hari ini.


"Tidak, kau tidak boleh tidur di ranjangku. Keluar! Kau memiliki kamar sendiri."


Jing Xuan terkekeh kecil. "Istriku memang menarik." Bangkit dari duduknya, Jing Xuan melangkahkan kakinya mendekati Liwey yang masih berdiri di tempat awal. Jing Xuan menyibakkan rambut tergerai milik Liwey kesamping kiri, membiarkan leher bagian kanannya terekspos. Mendekat, Jing Xuan segera mengecup mesra kulit leher Liwey.


Menahan nafas. Liwey terkejut dengan apa yang dilakukan Jing Xuan padanya. Sentuhan bibir pria itu membuat bulu kuduk Liwey berdiri. "A--apa yang kau la--kukan?" Liwey berujar terbata.


Tersenyum miring, Jing Xuan kembali mengecup leher jenjang Liwey menghembuskan nafas di sana. Liwey meremang, nafas hangat Jing Xuan mengelitik tubuhnya. Darahnya berdesir, ia merasakan banyak kupu-kupu yang berterbangan di perutnya sekarang.


"Aku menginginkanmu malam ini," ujar Jing Xuan serak dan rendah. Kembali Jing Xuan menenggelamkan kepalanya di lekuk leher Liwey, menciumnya lembut lalu beranjak naik dan terus naik hingga ketelinga Liwey. Jing Xuan menggigitnya pelan, membuat Liwey mengerang.


"Kau menyukainya?" Tanya Jing Xuan parau. Liwey tidak menjawab, gadis itu tengah menetralkan nafasnya yang tiba-tiba memburu. Pikirannya ingin sekali menjauhkan Jing Xuan dari tubuhnya, namun hatinya berkhianat. Hatinya menginginkan lebih dari sentuhan tiap sentuhan yang Jing Xuan berikan padanya.


"Sudah lama aku menginginkan ini, kau selama ini menggodaku dan menjadikanku berakhir berendam di air dingin."


"Kau mempunyai selir untuk melepaskan hasratmu."


"Tapi aku tidak ingin." Jing Xuan mensejajarkan wajahnya pada Liwey. "Aku tidak pernah sekalipun berniat menyentuh mereka."


"Lalu kenapa kau angkat mereka."


"Aku tak pernah mengangkatnya, raja tua itu begitu mengkhawatirkan orientasi seksualku sehingga mengangkatkan mereka untuk diriku." Terdengar nada kesal dalam ucapan Jing Xuan dan entah kenapa terdengar menggelikan di telinga Liwey. Tanpa sadar Liwey terkekeh.


"Apa yang kau tertawakan?"


"Entahlah, ceritamu menggelitik hatiku."

__ADS_1


Jing Xuan menatap dalam manik amber Liwey, menelisik kedalam bola mata indah itu.


"Aku menginginkamu, Liwey," ujar Jing Xuan dengan suara serak kasat akan gairah yang menggebu.


Liwey mengerjab, susah payah menelan ludahnya sendiri. Perkataan dan nada suara Jing Xuan sungguh membuat Liwey merinding. Jing Xuan kembali mendekatkan wajahnya pada leher Liwey, mengecupnya pelan sekaligus menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya itu yang entah sejak kapan menjadi candu untuknya. Ah ... Jing Xuan begitu menginginkan gadis di hadapannya ini.


Tangan Jing Xuan bergerak, melingkari pinggang ramping Liwey. Menariknya mendekat kearah Jing Xuan, membiarkan tubuh mereka menempel satu sama lain.


Liwey mengerang kecil saat merasakan sensasi memabukkan yang diciptakan oleh Jing Xuan. Ia bisa merasakan kulit lehernya di kecup dan dihisap pelan oleh suaminya. Bahkan kini, Liwey juga menyadari tangan Jing Xuan sudah memeluknya, mendekatkan tubuh keduanya hingga menempel satu diantara yang lain.


Jing Xuan menarik kepalanya dari leher Liwey. Iris beda warna miliknya menatap wajah Liwey lekat. Meneliti setiap inchi wajah Liwey. Mulai dari mata, hidung, pipi, dan terakhir bibir. Ingin sekali Jing Xuan mengecup bagian-bagian wajah Liwey satu persatu.


Jing Xuan mendekat, mengecup kedua kelopak mata Liwey, beralih kehidungnya lalu kedua pipi sedikit berisi gadis itu dan terakhir bibir ranum yang selalu menggoda iman Jing Xuan dengan segala perkataan pedas dari Liwey.


Liwey menutupkan mata, menikmati setiap sentuhan yang diberikan Jing Xuan padanya. Darahnya berdesir hangat, jantungnya sudah memompa cepat dan semakin cepat.


Jing Xuan tersenyum lembut menatap wajah istrinya. "Aku mencintaimu."


Deg ...


Apa itu tadi, Liwey tidak salah dengar kan. Jing Xuan, mencintainya? Perlahan tangan Liwey yang terbebas menyentuh bagian dada kirinya mendengarkan setiap detak jantungnya yang memompa cepat. Jing Xuan tersenyum hangat melihat reaksi Liwey. Perlahan pria itu menarik Liwey kedalam pelukannya, membenamkan kepala Liwey di dadanya.


Liwey mendengarnya, sungguh, Liwey mendengar detak jantung Jing Xuan. Ternyata bukan hanya jantungnya yang berdetak cepat tetapi jantung Jing Xuan juga.


"Aku benar-benar mencintaimu Liwey." Jing Xuan semakin mengeratkan pelukannya pada Liwey. "Apa kau mencintaiku?"


Liwey terdiam, dia tidak tahu apakah dirinya mencintai Jing Xuan atau tidak. Hatinya memang merasa hangat dan nyaman jika berada dalam pelukan Jing Xuan, gadis itu merasa dilindungi. Bahkan darahnya berdesir hebat di tiap sentuhan yang diberikan Jing Xuan padanya. Tapi untuk cinta, Liwey belum yakin. Baginya, rasa yang ia miliki saat ini hanya sebatas rasa aman karena dilindungi, tidak lebih.


Jing Xuan tersenyum maklum, ia sadar Liwey belum bisa membalas perasaanya. "Tak apa jika kau belum ingin menjawabnya, kau hanya perlu tahu satu hal bahwa aku mencintaimu dan tak ingin jauh darimu."


Liwey mendongak menatap Jing Xuan, gadis itu tersenyum miris menatap iris beda warna pria itu. Liwey melihatnya, rasa cinta yang teramat besar itu Liwey melihatnya di balik mata Jing Xuan.


"Maaf," lirih Liwey.


Jing Xuan kembali menarik Liwey dalam pelukannya. "Aku memafkanmu." Jing Xuan mengurai pelukannya, menatap wajah istrinya lekat-lekat, "aku menginkanmu malam ini, bolehkah?"


Liwey mendongak, "Jika aku mengatakan tidak kau akan menurutinya?"


"Tentu saja tidak."


Liwey terkekeh. "Baiklah."


Jing Xuan membulatkan mata menatap Liwey dengan pandangan tak percaya. "Kau mau?"

__ADS_1


Liwey tersenyum kemudian mengangguk. Dia memang belum mencintai Jing Xuan namun dia tidak ingin munafik karena menampik keinginannya menyentuh Jing Xuan. Bagaimanapun Liwey juga mendamba sentuhan Jing Xuan di tubuhnya. Jing Xuan tersenyum, perlahan pria itu memajukan kepalanya mendekati Liwey. Hidung keduanya bersentuhan menghantarkan hawa panas dari masing-masing hembusan nafas keduanya. Dan tanpa pikir panjang, Jing Xuan mencium lembut bibir Liwey penuh cinta.


...°♡°♡°...


Liwey terusik dari tidurnya saat cahaya matahari menyelinap masuk kedalam kamarnya. Menggeliyat, Liwey menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Menghalau cahaya matahari mengenai matanya. Liwey berguling kesamping, ranjang terasa lapang baginya saat ini, seperti ada yang kurang. Teringat akan sesuatu, Liwey sontak membuka matanya lebar. Rasa pegal manjalari tiap bagian tubuhnya.


Dia ingat akan tadi malam, akan pergumulan panas antara dirinya dan Jing Xuan. Liwey mengulum senyum, bagi keduanya itu adalah hal yang pertama yang penuh penjajakan dan kehati-hatian. Semuanya berjalan dengan khidmat dan tidak tergesa-gesa. Tidak ada kesan terburu-buru bagi mereka malam itu.


Liwey melilitkan selimut menutupi bagian tubuhnya. Berjalan perlahan menuju pakaiannya yang berserakan di lantai. Sel*ngkang*n Liwey sakit, dan itu sungguh menganggu pergerakannya saat ini.


Pintu kamar terbuka, terlihat Jiali dengan rambut khas berkepangnya memasuki kamar. Gadis itu menunduk menghadap Liwey.


"Jiali sudah menyiapkan air hangat untuk mandi anda, Nyonya."


Nyonya? Ah iya, status Liwey sudah berganti dari Nona ke Nyonya, dari gadis ke wanita. Semuanya terjadi hanya dalam semalam.


Liwey mengangguk menanggapi perkataan Jiali, gadis itu beranjak menuju bak pemandian. Melepaskan selimut yang melilit tubuhnya lalu memasuki bak berisi air dengan aroma melati kesukaannya.


Hah. Liwey mengehela nafas lega, air hangat seolah telah berhasil merontokkan rasa pegal yang dideranya.


"Jiali," panggil Liwey, membuat gadis yang tengah menuangkan esens melati ketubuh Liwey mendongak menatapnya.


"Iya, Nyonya."


"Kemana Jing Xuan?"


Jiali mengerutkan kening sejenak kemudian tersenyum sebelum menjawab, "Yang mulia pangeran ke-4 sedang pergi ke istana. Dua hari lagi perayaan ulang tahun yang mulia kaisar Mo."


Hm. Liwey berdehem kemudian menganggukkan kepala. Tangannya memainkan air bak yang ditaburi kelopak bunga melati. Menenangkan diri dengan menghirup aroma melati yang menguar dari dalam air.


......°♡•♡°......


Tbc ...


Aduh duh ... gimana chapter ini ...


udah uwu uwu gak ... maafkan Audhi manteman, Audhi gak bisa buat cerita yang romanti sesuai imajinasi kalian. Maafkan Audhi.


Jing Xuan : Itu karena dirimu terlalu lama menjomblo.


Diamlah, kau selalu saja menyela ucapanku.


Baiklah teman-teman. happy reading.

__ADS_1


salam Audhi kim.


__ADS_2