
...Jan Lupa like and komennya....
..._________...
Pagi menyapa seperti biasa. Diawali dengan suara kokok ayam yang saling sahut-sahutan antara satu dan yang lain. Suara kicau burung dengan penuh kebahagiaan, juga suara desau angin lembut membelai daun pepohonan tinggi.
Liwey tengah duduk tenang sembari menikmati teh krisan hangat yang disediakan oleh Jiali. Ah ... mengenai Jiali, subuh tadi rombongan pengawal baru dan juga Jiali serta Yubo dengan tangan yang di bebat perban sampai ke halaman kuil. Dan sekarang Yubo serta Jing Xuan sedang berbincang dengan biksu yang sangat dihormati di kuil ini. Itu yang di katakan mereka sesaat sebelum pergi.
Menyesap teh dengan anggun, Liwey menghembuskan nafas pelan. Iris amber miliknya menatap kehamparan dandelion bertabur di halaman kuil.
"Nyonya, setelah ini anda akan kemana?" tanya Jiali. Liwey menoleh menatap gadis dengan rambut dikepang itu. Menggendikkan bahu, Liwey kembali menyesap tehnya.
"Aku juga bingung sebenarnya apa tujuanku datang kemari."
"Bukankah, untuk mencari tahu jawaban?" Jiali menelengkan kepala ke kiri.
"Mungkin." Liwey menghela nafas lelah. Benar, tujuan dirinya datang ke kuil ini adalah untuk mencari jawaban akan maksud dan tujuan jiwanya dibawa ke dunia ini.
Entahlah, ketika Liwey mengetahui kebenarannya nanti akan berbuah baik atau buruk. Tapi sejujurnya, Liwey tak ingin mengetahui itu. Biarlah dirinya hidup aman di dunia ini, bersama Jing Xuan dan anak-anaknya kelak. Sesederhana itu keinginan Liwey, namun jika takdir berkehendak lain dirinya tak dapat berbuat apa-apa.
Kembali menghela nafas lelah, Liwey menatap cawan giok yang terisi setengah dari teh krisan di dalamnya. "Jika boleh jujur, aku tak ingin mengetahui kebenarannya," ujar Liwey lirih.
"Aku sudah bahagia disini," lanjutnya. Liwey menunduk. Jiali ikut-ikutan menghela nafas, dirinya tidak mengerti akan kebenaran yang ingin junjungannya ini ungkap, dirinya juga tak tahu apa maksud dari kebenaran itu nanti. Tapi, dari kata yang keluar dari mulut junjungannya ini, Jiali tahu. Jika junjungannya ini tak menginginkan kebenaran itu terungkap. Entah itu hal baik atau buruk, Jiali tidak tahu.
Tak bisa apa-apa, Jiali hanya mengelus pelan punggung tangan Liwey berusaha menenangkannya. "Tenanglah, dewa keberuntungan bersamamu, Nyonya."
"Semoga benar, kali ini dewa keberuntungan memihakku."
...°♡°♡°♡°...
__ADS_1
Jing Xuan menatap dua patung dewa di hadapannya. Yubo sudah tercengang sedari tadi, sementara biksu yang mereka temui sudah bersujud dalam dihadapan Jing Xuan.
"Hormat hamba sang reinkernasi dewa petir." Kata itu selalu terucap lirih dari mulut sang biksu yang masih setia bersujud.
Jing Xuan menghela nafas berat, dirinya masih tak percaya. Apa ini akal-akalan dua orang yang menyerupai dirinya dengan menempatkan patung dirinya dan Liwey di kuil ini? Sihir semacam apa yang mereka gunakan hingga nekat membuat rencana sedetail ini.
Jing Xuan melipat kedua tangannya di belakang punggung sembari menggeleng tak percaya.
"Hormat hamba sang reinkernasi dewa petir." Jing Xuan menunduk, menatap biksu tua nan ringkih itu heran. Sejak kapan biksu ini bersujud di depannya, dan juga apa maksud dari reinkernasi dewa petir, apa biksu ini juga salah satu permainan mereka.
"Berdirilah," ucap Jing Xuan pelan, sungguh dia tidak terlalu senang jika ada seseorang yang membungkuk atau bersujud menghormatinya. Jing Xuan memang gila hormat, tapi dia tidak suka diperlakukan berlebihan.
Sang biksu berdiri, masih merunduk. "Angkat kepalamu," pintanya.
"Hamba tak berhak mengangkat kepala di depan anda sang reinkernasi dewa."
"Angkatlah, ini perintah sang reinkernasi dewa." Jing Xuan mengeryit akan apa yang ia ucapkan sendiri. Apa benar ia reinkernasi dewa? Cih yang benar saja.
Patung dewa petir yang agung mirip dengan perawakan junjungannya? Mungkinkah?
"Berhentilah seperti orang bodoh." Kegiatan Yubo di intrupsi Jing Xuan, yang sontak membuat Yubo mengangguk dan memasang wajah datar. Walau sebenarnya di otaknya masih berseliweran akan tanya, mengapa patung dewa petir mirip dengan Jing Xuan.
"Apa maksud dari semua ini?" tanya Jing Xuan, dirinya masih tak percaya dan membutuhkan pembuktian nyata di sini sekarang.
Sang biksu membungkuk hormat menghadap Jing Xuan. "Anda adalah sang reinkernasi dewa petir, Yang Mulia Pangeran. Anda sudah di ramalkan akan datang ke kuil ini mencari jawaban."
Jing Xuan mengerutkan dahi tak mengerti. Sang biksu yang mendapati ekpresi Jing Xuan kembali menunduk hormat dan undur diri menuju salah satu rak yang ada di sudut paling kanan kuil. Rak berisi penuh dengan gulungan-gulungan perkamen bersampul kain berwarna kuning.
Sang biksu menyusuri tiap dari rak-rak yang dirinya lewati, tersenyum saat mata sayunya mendapati gulungan perkamen dengan sampul kain berbeda dari perkamen yang lain.
__ADS_1
Perkamen itu bersampul merah dengan ukiran naga dan pheonix dari benang emas menghiasinya. Sang biksu mengambil gulungan itu perlahan dan kembali mendekati Jing Xuan serta Yubo yang masih berdiri di tempat yang sama.
Sang biksu memberikan gulungan itu kepada Jing Xuan. "Bukalah," pinta sang biksu.
Jing Xuan menerimanya patuh. Membuka sampul kain merah itu perlahan Jing Xuan mengeluarkan gulungan perkamen bambu yang sudah terlihat lusuh dari dalamnya. Di bukanya pelan gulungan perkamen tersebut hingga menampilkan tulisan hanja dengan tinta berwarna merah tertera rapi di dalam sana.
"Kegelapan akan terbebas akibat cahaya. Dua reinkernasi akan datang tepat hujan membasuh bumi dengan satu kuda. Meminta kebenaran akan tujuan sebenarnya," eja Jing Xuan pelan. Keningnya kembali mengerut, bukan karena tak mengerti tapi karena semua yang ada dalam perkamen ini sama dengan dirinya dan Liwey.
Liwey punya cahaya, itu keistimewaan yang baru Jing Xuan tahu ada pada diri Liwey. Juga satu kuda dan hujan, itu sama dengan dirinya dan Liwey. Mereka datang dengan satu kuda saat hujan mengguyur bumi. Dan tujuan mereka juga sama.
Apa ini salah satu akal-akalan juga. Tapi, tidak mungkin akal-akalan melibatkan alam bukan? Memingat akan kata hujan yang tertera di dalam perkamen itu nyata dan jelas mereka alami.
Ah ... atau mungkin mereka baru saja menulis kata ini tadi malam? Tapi, sangat tak masuk akal karena perkamen bambu ini sudah sangat tua. Bahkan tiap sisi bambu itu terlihat sudah termakan oleh serangga pengerat rayap.
Sebenarnya apa tujuan dan maksud dari semua ini.
"Kegelapan hanya bisa bebas karena cahaya dan juga bisa sirna karena cahaya. Sang dewi membantu, sang dewa juga turut membantu. Duka menyelimuti sang dewi disaat hal yang diharapkan di renggut pergi, namun dia tak sanggup terpendam dalam duka, karena hal besar tengah menantinya." Kembali Jing Xuan mengeja lanjutan kata demi kata dari perkamen itu.
Jing Xuan menghela nafas berat, ditatapnya sang biksu kemudian menyerahkan perkamen itu padanya. "Apa maksud dari perkamen itu adalah aku dan istriku."
Sang biksu tersenyum lembut, "benar Yang Mulia Pangeran, hal besar tengah menanti kalian."
...°♡°♡°♡°...
tbc ...
uhuhuhu ....
Lanjutannya esok ya manteman.
__ADS_1
Salam Audhi.