Qu LiWey

Qu LiWey
Bagian 21 : The power of light III


__ADS_3

Klik 👍 sebelum membaca dan tekan 💜 untuk menjadikan Qu Liwey di list favoritmu


...******...


Suara hentakan kaki kuda yang beradu dengan tanah menghiasi perjalanan Jing Xuan di sore hari mendung itu. Angin sedari tadi berhembus kencang, membuat keseimbangan Jing Xuan hampir goyah. Jika tidak sigap, mungkin Jing Xuan sudah terjatuh dari kudanya.


Raut khawatir terjetak jelas di wajah tampannya. Mata indah dengan iris heterecromia miliknya memindai tajam setiap tempat yang ia lewati. Baik itu rumah warga, restoran, maupun gang-gang penghubung jalan.


Ini sudah lebih dari satu jam Jing Xuan berkeliling pusat kota daerah Dong Yuo, namun tujuan utama juga belum ia temukan. Menyerah? Itu bukan gaya Jing Xuan.


Perkataan Yubo yang memungkinkan bahwa Liwey sudah berada di kediaman mengusik pikiran Jing Xuan. Ditariknya tali pelana kuda miliknya menyuruh berhenti. Pikirannya sudah mengolok Jing Xuan terlampau bodoh jika ia melanjutkan perjalanan mencari keberadaan Liwey yang mungkin sudah berada di kediaman. Namun hatinya menolak, hatinya merasa jika Liwey masih di luar, dalam keadaan bahaya dan butuh pertolongannya.


Pergulatan batin Jing Xuan lakukan ditengah diamnya. Hingga sebuah teriakan keras menyadarkan dirinya. Jing Xuan menoleh, mendapati sebuah gang sempit yang diapit dua buah bagunan tua yang sudah diyakini Jing Xuan tak berpenghuni, dari situlah suara berasal.


Dengan penasaran, Jing Xuan menarik pelana kudanya, berjalan memasuki gang. Iris beda warna miliknya sontak membola, mendapati apa yang ia lihat sekarang.


Qu Liwey, gadis yang sedari tadi ia cari-cari berada di sana. Namun bukan keberadaan Liwey yang membuat mata Jing Xuan melotot sempurna. Melainkan saat matanya mendapati seorang lelaki yang tengah di selubungi oleh cahaya yang berasal dari jari jemari Liwey.


Bagaimana ... Jing Xuan tak sanggup melanjutkan kata yang ada dalam benaknya saat dirinya mendapati lelaki yang awalnya di selubungi oleh cahaya hilang menjadi debu dikarena kan Liwey. Kejadiannya berlangsung cepat. Jing Xuan rasa dirinya baru sedetik yang lalu mendapati tubuh lelaki tadi diselubungi oleh cahaya dan sekarang sudah menjadi abu yang kini sudah terbang berserakan terbawa angin.


"Apa yang terjadi?" Sebuah tanya terlontar lirih dari mulut Jing Xuan, dia masih tidak mempercayai apa yang baru saja dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri.


......****......


"Kau ... akan menjadi yang selanjutnya." Suara Liwey terdengar sangat mengerikan di telinga lelaki yang tengah menunduk memohon ampun itu.


Si lelaki masih menunduk, menyatukan tangan bahkan sudah bersujud menempatkan dahinya di tanah merah yang sudah tercampur dengan abu dari temannya yang ia lihat mati dengan matanya sendiri. Berharap Liwey mau mengampuninya.


Tapi sepertinya tiada pengampunan untuk dirinya. Rasa panas menjalari tubuhnya, membuka mata. Si lelaki sontak melotot saat melihat sulur cahaya yang keluar dari jari Liwey sudah melilitnya.


Sungguh sakit bukan main. Di area tubuhnya yang di liliti oleh sulur cahaya yang di ciptakan oleh Liwey menimbulkan rasa panas terbakar yang tiada tara. Mungkin kulit tubuhnya sudah menciptakan jejak luka bakar akibat sulur cahaya itu.


Mendongak, si lelaki berusaha menyatukan kedua telapak tangannya dengan susah payah. Memohon ampun pada Liwey. "Putri, hamba mohon ampuni hamba. Hamba memiliki anak dan istri yang harus hamba jaga."


Liwey tak peduli, walau ada sepuluh anak bahkan sepuluh istri yang ditinggal oleh lelaki yang mencoba melecehkan dirinya, walau ada keluarga kecil yang menanti kepulangan si lelaki. Liwey tetap tak peduli. Baginya, kematian dari lelaki ini adalah hal yang baik.


"Aku ingin membuatmu mati," ucap Liwey. Kembali sulur-sulur cahaya ia keluarkan dari jarinya. Emosi benar-benar sudah mempengaruhi kesadaran Liwey. Hanya butuh sedetik lagi, lelaki itu akan mati. Hingga sebuah tepukan tepat di belakang leher Liwey membuat gadis itu menghentikan kegiatannya, ia pingsan dan terjatuh di tanah.

__ADS_1


"Syukurlah kita datang tepat waktu," ucap seseorang yang kini sudah membawa Liwey kedalam gendongannya.


"Cepat bawa dia kelangit, dia butuh perawatan."


Seseorang yang mengendong Liwey mengangguk menyanggupi perkataan seseirang yang lain. Dengan sekali hentakan kedua orang itu pergi meninggalkan tempat yang mereka pijaki. Tanpa menyadari, jika Jing Xuan sudah memperhatikan semuanya.


...*****...


Jing Xuan melajukan kuda yang tunggangi dengan pelan. Awan hitam yang menutupi langit sudah menghilang tepat dimana ia melihat Liwey jatuh pingsan akibat di pukul seseorang.


Apa mungkin itu disebabkan oleh Liwey?


Pertanyaan itu terus saja bercokol dikepala Jing Xuan beserta pertanyaan-pertanyaan lainnya. Baik itu tentang, bagaimana bisa Liwey mendapatkan kekuatan mengerikan seperti itu? Kejadian apa yang sebenarnya menimpa Liwey sampai gadis itu menjadi seperti monster? Dan juga siapa dua orang dengan hanfu putih yang membawa Liwey pergi barusan?


Jing Xuan pusing sendiri. Hingga tak menyadari jika dirinya sudah berada tepat di depan gerbang kediamannya.


"Anda sudah sampai Pamgeran." Perkataan dari Ailin menyadarkan Jing Xuan dari lamunannya. Memandang Ailin datar, Jing Xuan kembali memacu kudanya menuju kamar Liwey. Dia ingin memastikan keberadaan sosok gadis yang sudah membuatnya khawatir dan bingung seharian ini.


Membuka pintu kamar Liwey dengan paksa, Jing Xuan dikejutkan dengan kehadiran dua orang yang sangat mirip akan dirinya dan juga Liwey. Keduanya menatap Jing Xuan sambil tersenyum ramah.


"Aku yakin kau akan datang, itu sebabnya kami memutuskan untuk membawa Liwey kembali ke kamarnya. Aku menyadari jika dirimu sedari tadi berada di sana." Wanita yang Jing Xuan akui memiliki kemiripan dengan Liwey berujar, lalu kembali menatap sosok Liwey yang tengah terbaring di ranjang sembari mengusap penuh kasih puncak kepalanya.


Jing Xuan masih diam, dia syok. Bagaimana bisa ada dua orang yang sangat mirip dengan dirinya dan Liwey tengah berada di sini. Bahkan Jing Xuan tidak menyadari jika dirinya sudah melongo dengan mulut terbuka.


Sungguh bukan Jing Xuan sekali.


"Jangan membuka mulutmu bodoh, kau ingin lalat memasuki mulutmu." Jing Xuan langsung mengatupkan bibirnya rapat. Sedikit terkejut karena menyadari jika dirinya sudah membuka mulut sedari tadi kerena terkejut.


"Kau bisa lebih sopan Chengcheng, kita tamu di kediaman ini," ujar Tan'er memperingati.


"Aku hanya sedikit kesal dengan dia, apa aku begitu bodoh sehingga mempunyai reinkernasi seperti dirinya yang bahkan tak memiliki niatan menghentikan istrinya yang tengah menggila." Liancheng menunjuk tepat ke wajah Jing Xuan, "sungguh tidak berguna," lanjutnya.


Tan'er hanya menggeleng, sementara Jing Xuan sudah mengepalkan tangannya karena merasa tidak dihormati oleh pria yang sialnya memiliki wajah yang sama persis dengan dirinya.


"Kau diamlah." Akhirnya setelah sekian lama, Jing Xuan berujar juga. Langkah besarnya memasuki lebih dalam kamar istrinya lalu duduk tepat di sisi ranjang. "Siapa kalian?" Tanyanya datar.


"Sungguh tidak sopan, kau ..." Liancheng baru saja hendak menunjuk wajah Jing Xuan namun ditahan oleh Tan'er.

__ADS_1


"Tenanglah," ujar Tan'er lembut. Kemudian wanita itu menoleh kearah Jing Xuan sembari tersenyum. "Bawa Liwey pergi ke kuil di timur Dong Yuo secepatnya, sebelum semuanya terlambat."


Mendengar perkataan Tan'er sontak Jing Xuan yang sedari tadi hanya menatap Liwey menoleh kearahnya. Kuil di timur Dong Yuo, Liwey pernah berkata jika ia ingin pergi kesana dan Jing Xuan juga berjanji untuk membawanya kesana bersama. Tapi yang menjadi pertanyaan di benak Jing Xuan sekarang ialah, mengapa Tan'er menyuruhnya untuk kesana secepatnya? Dan kenapa pula Tan'er tau akan kuil di timur Dong Yuo?


"Aku tidak tahu bagaimana bisa kau mengetahui tentang kuil itu, tapi ... kenapa kau seakan menyuruhku untuk pergi kesana. Ada apa disana?" Tanya Jing Xuan.


"Kau akan tahu jika sudah kesana."


"Tapi mengapa? Dan siapa kalian?"


Tan'er hanya tersenyum, sementara Liancheng sudah memutar bola matanya melihat Jing Xuan yang banyak tanya.


"Datanglah kesana, seminggu setelah ini."


"Minggu depan ulang tahun kaisar."


"Tak bisakah kau menuruti apa yang kami katakan, ini juga demi kebaikan kalian." Liancheng sudah geram, membuat Tan'er dengan sigap mengenggam tangan suaminya agar tenang.


"Usahakanlah, bagaimanapun Liwey sudah mendapatkan kekuatannya. Dia hanya membutuhkan tujuan setelahnya kalian berdualah yang akan menghadapinya bersama," ujar Tan'er yang sontak membuat Jing Xuan mengerutkan alis bingung.


Apa maksudnya?


"Teruslah bersamanya, baik dimasa kini maupun akan datang. Kami pergi." Setelah mengatakan itu mereka langsung hilang dari kamar Liwey, meninggalkan Jing Xuan dengan banyak tanda tanya.


Menoleh kearah Liwey, Jing Xuan mengusap lembut puncak kepala gadis yang sudah menjadi istrinya sebulan lalu. "Dari awal aku mengenalmu, kau selalu berhasil membuat diriku bertanya-tanya. Sebenarnya apa yang kau sembunyikan, Putri Jing?"


Jing Xuan kembali mengusap puncak kepala Liwey sekilas, lalu mencium puncak kepala istrinya itu lembut. Desiran aneh menimpa tubuhnya. Jantung miliknya juga sudah berdentum kencang.


Jing Xuan melepas kecupan di kepala Liwey. Menatap wajah sang istri lekat. "Kau sudah berhasil membuatku jatuh cinta tanpa usaha."


...******...


TBC ...


Terima kasih atas do'a kalian ...


Audhi udah sembuh ... doa kalian manjur ...

__ADS_1


setelah ini, Audhi usahain buat sering2 update ..


salam dari Audhi ...


__ADS_2