
Jangan lupa tekan like sebelum baca, dan tinggalkan komentar setelah membaca.
Terimakasih😊
\=\=\=\=\=\=\=
Gadis kecil dengan stelan hanfu berwarna putih, senada dengan rambut putih panjang berkilauan tanpa hiasan kepala tergerai menutupi bagian belakang tubuhnya. Iris biru miliknya menatap lekat kereta kuda, dimana di dalamnya sudah duduk manis perempuan berhanfu hijau glamor yang didampingi oleh hiasan wajah dan kepala yang menurutnya sangat berlebihan.
Ah ... jangan lupakan, wanita tua dengan hanfu hitam serta jubah kebesarannya yang dihias dengan bordiran berpola burung phoenix yang baru saja memasuki kereta yang sama.
"Putri Liang Jie, sudah saatnya anda memasuki kereta. Kita akan segera berangkat menuju kediaman pangeran ke-4." Gadis kecil bernama Liang Jie itu mengangguk menanggapi perkataan dari kasim yang baru saja berbicara padanya.
Hari ini adalah hari kepulangan dirinya setelah diajak? ah ... lebih tepatnya dipaksa untuk menemani Ibu Suri kerajaan di kediamannya yang jauh dari tempat tinggal kakak lelaki tersayangnya. Awalnya Liang jie sangat senang saat mendengar bahwa dia akan pulang dan kembali bertemu dengan sang kakak. Tapi kehadiran perempuan yang sangat tak disukainya membuat rasa senang itu lenyap digantikan dengan rasa kesal karena mengetahui fakta bahwa dia harus satu kereta dengan manusia hijau berkilauan itu.
Pada awalnya Liang Jie biasa saja saat bertemu dengan perempuan itu dahulu, tapi setelah waktu itu, saat dimana Liang Jie tengah bermain dengan Bobo -kucing kesayangannya- perempuan hijau itu tiba-tiba berteriak bahkan sampai menendang Bobo miliknya tepat di depan matanya. Dan itu yang membuat Liang Jie tak menyukai perempuan itu, ditambah lagi saat kedua telinganya mendapati percakapan antara perempuan itu dengan ibu suri semakin membuat Liang Jie tak menyukainya.
Apa-apaan ingin mengantikan posisi putri Liwey sebagai putri Jing kepadanya, itu tidak akan mungkin terjadi. Walaupun Liang Jie belum pernah bertatapan langsung dengan putri Liwey tapi dia tidak ingin posisi kakak ipar sah digantikan oleh perempuan hijau itu, dia tidak sudi.
Kini Liang Jie sudah duduk didalam kereta, tepatnya di tengah dua manusia satu spesies dengan dirinya yang sedang asyik bergosip ria. Dan jujur, Liang Jie benci situasi ini. Bolehkah Liang Jie bertukar tempat sebagai supir sekarang? Sepertinya, mengendalikan kuda sembari melihat pepohonan rimbun itu menyenangkan.
"Jie'er kenapa kamu tak mengenakan satu hiasan rambut pun?" tanya perempuan berhanfu hijau berusaha ramah. Liang Jie hanya menoleh sekilas lalu kembali menatap lurus kearah pintu kereta yang sengaja di buka karena perintahnya.
"Aku ingin kakak yang memakaikan hiasan kepala pada rambutku." Jawabnya tanpa mengalihkan atensi dari punggung prajurit yang bertugas mengendalikan kuda yang menarik kereta yang mereka pakai.
"Apa pangeran ke-4 pandai menghias rambut seorang wanita?" perempuan berhanfu hijau kembali bertanya yang dijawab dengan anggukan kepala dari Liang Jie.
"Wah ... sungguh beruntung wanita yang menjadi istrinya." Liang Jie menoleh ke kiri menatap tepat ke wajah si perempuan hijau dengan tatapan seakan bertanya 'apa maksud perkataan mu itu?
"Benar, sangat beruntung. Kamu pasti akan merasakan bagaimana Jing Xuan menata rambutmu kelak." Ibu suri yang sedari tadi terdiam melihat interaksi antara Liang Jie dan perempuan itu ikut berujar.
"Tidak," sahut Liang Jie, "kakak tak akan pernah menata rambutmu, aku tidak akan menyetujuinya."
__ADS_1
"Jie'er, jangan bicara begitu. Bagaimana pun kakak Wu Ailin akan menjadi kakak iparmu." sela ibu suri.
"Tidak, kakak iparku hanya Putri Qu Liwey, tidak ada yang lain." Jawab Liang Jie cepat. Dia benar-benar tak ingin perempuan bernama Ailin ini menjadi kakak ipar ataupun istri untuk kakaknya, dia tidak izin. Sudah cukup kehadiran dua selir tak berguna itu di kediaman milik kakaknya, jangan tambah satu lagi. Dia tidak rela.
Berbeda dari Liang Jie, Ibu suri dan Wu Ailin saling tatap. Seolah sedang bicara melalui retina mata mereka. Ailin tersenyum kecut, sementara ibu suri menepuk pelan bahu Ailin seolah sedang menyalurkan kekuatan kepadanya.
Ailin adalah anak yang dia angkat dari pasangan jendral yang wafat didalam perang, saat itu Ailin masih berusia seperti Liang Jie, delapan tahun. Ailin tumbuh dengan baik dibawah asuhannya yang tak lagi muda. Hingga tepat saat berusia sepuluh tahun, saat itu adalah hari dimana permaisuri Zhang wafat. Hari dimana Ailin menatap sosok Jing Xuan yang berdiri tegar sembari memeluk gulungan kain putih dimana Liang Jie kecil berada membuat Ailin tertarik.
Ailin jatuh kedalam pesona Jing Xuan, hingga meminta ibu suri untuk dapat menikahkan dirinya dengan Jing Xuan jika dia telah dewasa. Namun, seolah alam tak berpihak pada Ailin. Jing Xuan malah menikah dengan Liwey, anak kedua dari perdana mentri Qu yang terkenal sakit-sakitan dan juga bodoh. Itu juga yang menyebabkan Ailin menggila, sampai-sampai gadis itu tak menyentuh sedikitpun dari makanan yang disediakan untuknya, membuat ibu suri khawatir dan terpaksa membuat kesepakatan dengan kaisar, agar mengeluarkan dekrit baru yang bertuliskan agar Jing Xuan mau menikah dengan Ailin dan menjadikan Ailin sebagai selir utama.
Tapi itu tidak mudah, Jing Xuan masih menolak dekrit dari kaisar dengan alasan dia sudah mempunyai tiga wanita di kediamannya. Walau begitu, ibu suri akan tetap melancarkan rencananya agar Jing Xuan dapat menikah dengan Ailin dengan membawa Liang Jie ke kediamannya tepat sehari sebelum pernikahan agar Liang Jie tidak dekat dengan Liwey yang notabene istri dari Jing Xuan tapi malah lebih dekat dengan Ailin, sehingga rencananya tidak gagal. Tapi, Liang Jie pun tak menyukai Ailin di hari dimana Liang Jie menangis karena kucingnya ditendang oleh Ailin yang membenci kucing. Dan ini semakin sulit.
Cara terbaik yang terfikirkan otaknya hanya dengan membawa Ailin ke kediaman Jing Xuan dan menginap selama seminggu di sana. Semoga saja dengan begitu Jing Xuan dapat melirik Ailin dan menyetujui dekrit baru akan pernikahannya. Semoga saja.
Kereta kuda masih berjalan menuju utara, kearah yang tepat untuk menuju kediaman Jing Xuan. Hanya saja, situasi sekarang berbeda, tidak seperti tadi yang ribut akan celotehan antara ibu suri dan Ailin. Sekarang kondisi kereta senyap. Liang Jie sudah tertidur di pangkuan ibu suri, Ailin hanya menatap kearah jendela kereta yang sengaja ia buka menatap puluhan pohon yang mereka lewati, sedangkan ibu suri, wanita itu tengah sibuk akan rencananya bagaimana Jing Xuan mau menikahi Ailin.
\=\=\=\=\=\=
"Benar nona."
"Apa salju akan turun?"
"Tidak."
"Kenapa aku kedinginan?" Jiali hanya menggeleng mendengar penuturan sang nona, bagaimana dia tidak kedinginan? sedari tadi nonanya ini hanya berendam di dalam bak mandi dan tak berniat keluar sedikitpun. Jiali yakin, kulit tangan nonanya sudah keriput akibat terlalu lama di dalam air.
"Anda sudah hampir setengah hari berdiam diri di bak mandi, nona." Jiali menjawab sembari mempersiapkan pakaian kering serta handuk untuk nonanya.
"Aku suka berlama-lama disini, wewangian yang kau campur sangat harum, membuatku tak ingin keluar dari bak mandi." Jiali kembali menggeleng, ia berjalan menuju piggiran bak kayu yang di gunakan Liwey untuk berendam selama setengah hari itu. Bahkan wewangian yang ia campurkan kedalam air sudah tak tercium lagi tapi nonanya tetap betah berada di sana.
"Nona, saatnya keluar. Waktu sudah mendekati makan siang." Jelas Jiali sembari memasangkan handuk kering ketubuh Liwey.
__ADS_1
Liwey menurut, walaupun hatinya tak ingin berpisah dengan air beraroma wangi itu, tapi ia sadar. Ia baru saja sadarkan diri, dan sebenarnya tak baik untuk tubuhnya berlama-lama di dalam air.
"Setelah makan temani aku bersantai di pendopo dekat kolam terarai ya." Jiali tersenyum mengiyakan ajakan Liwey.
"Apa menu makan siang kali ini?"
"Daging sapi rebus, dan sup tauge dengan tofu nona."
Liwey sontak mendengus mendengar menu makan siang itu. Apa-apaan daging sapi di rebus, bukannya lebih enak daging sapi dijadikan steak? ahh ... apalagi kalau di rendang, pasti akan sangat enak. Makanan Indonesia satu itu tak bisa diragukan kelezatannya.
Tak lagi melontarkan pertanyaan, Liwey menurut saja saat Jiali membantu dirinya memakai pakaian dan juga merias wajah. Hanfu sederhana berwarna putih dengan campuran warna biru di bagian lutut kebawah dengan motif bunga jasmine melekat di tubuh rampingnya. Hiasan wajah natural dan juga rambut yang di sanggul sebagian dan sisanya dibiarkan tergerai. Tusuk rambut bermotif bunga jasmine yang terbuat dari susunan mutiara kecil-kecil tersemat di antara sanggulnya.
Satu kata untuk hari ini, perfect.
Liwey tak pernah kecewa dengan hasil seni yang di torehkan Jiali kepadanya.
"Baik, ayo sekarang kita makan." Ajak Liwey semangat, langkah kakinya keluar terlebih dahulu dari kamar menuju ruang makan yang biasanya hanya akan di huni oleh dirinya dan dua selir tukang cari sensasi saat makan siang seperti ini. Karena Jing Xuan selalu sibuk saat siang hari.
Terkadang, Liwey selalu menanyakan dirinya sendiri. Sebenarnya apa sih pekerjaan suaminya itu? Tapi pertanyaan itu hanya sampai di hati dan pikirannya saja, tak pernah terlontar sedikitpun. Karena Liwey yakin, jika Jing Xuan menjelaskan tentang pekerjaannya dia akan pusing sendiri karena tidak mengerti.
"Selamat siang semuanya," ucap Liwey saat sudah memasuki ruangan makan siang, dan entah hoki atau apa. Jing Xuan ada disana, tengah asik dengan secangkir teh di cawan giok yang berada di tangannya, dan juga dua selir yang sedari tadi tersenyum tak jelas sambil melirik Jing Xuan diam-diam.
"Hai Xuanxuan, apa pekerjaanmu sudah selesai?" Baik Jing Xuan dan juga manusia yang berada di ruang makan menatap Liwey tak percaya. Bahkan dua selir yang sedari tadi tersenyum malu-malu kini malah melongo tak percaya menatap Liwey, seketika ruangan mendadak sunyi.
"Kenapa semuanya diam?"
Dan Liwey malah mengedipkan mata polos sembari menyapu pandang keseluruh ruangan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tbc.
__ADS_1
Audhikim😍😍