
Tekan 👍 sebelum membaca dan tekan 💜 untuk meletakkan Qu Liwey di list favoritmu.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Liwey tersadar saat dirinya terduduk di tepi kolam ikan koi, pandangannya mengedar ke sekeliling lalu menghela napas pelan. Ini entah sudah ke berapa kali ia menginjakkan kaki di tempat ini.
Suasananya masih sama, tidak berubah sama sekali dari pertama ia tertarik untuk masuk ke dalam bagunan ini.
"Kau sudah datang rupanya?" Liwey menoleh sekilas, sirat benci tercetak jelas di wajahnya saat menatap wajah familiar tengah berdiri tak jauh dari dirinya.
"Kau ...." Liwey menggeram, "bisakah tidak menunjukkan wajah tampan yang sialnya menjijikkan itu."
"Apa maksudmu?" Liancheng menelengkan kepala ke kiri.
"Hei ... bisakah beri sedikit rasa berperikemanusiaan pada reinkernasimu itu? Bagaimana bisa dia lebih layak di sebut siluman daripada manusia, cih." Liwey berdecih di akhir kalimat.
Liancheng makin tak mengerti, pria itu kemudian duduk tepat di samping Liwey yang kini sedang mengobok air kolam sesuka hati membuat ikan yang ada di sana berenang tak tentu arah.
"Kau ingin membunuh ikan yang ada di kolam ini, eoh? Apa salah ikan-ikan ini?"
"Ikan ini tak salah." Suara Liwey berat, kemudian dia menoleh cepat kearah Liancheng. "Tapi kau yang salah," teriaknya.
"Lah ... kenapa aku?" Liancheng membulatkan kedua bola matanya sembari meletakkan dua telapak tangan didada. Terkejut?
"Ya jelas kau salah. Kau menciptakan manusia dan menganggap dia reinkernasi ..."
"Aku tak menciptakan manusia." Liancheng dengan cepat meralat, bagaimanapun penciptaan manusia itu ada di tangan Tuhan, bukan dirinya.
"Ya ... aku tau, tapi kenapa reinkernasimu itu menyebalkan." Liwey semakin keras mengobok dan mencipratkan air kolam. "Bagaimana bisa ada manusia yang tidak berperikemanusian seperti dia." Liwey menoleh kearah Liencheng. "Bayangkan saja, dia menyuruhku untuk menyalin seratus salinan kitab tata krama dalam seminggu, dan kau tahu tanganku sudah seperti jelly sakingkan capeknya."
"Aku bahkan merasa ...." Liwey belum selesai berbicara tapi Liancheng sudah tertawa keras, seolah penderitaan yang di terima oleh Liwey adalah sebuah lelucon lucu.
"Kenapa kau tertawa?" Liwey sudah mengepalkan tengannya, menunggu jawaban dari dewa kloningan Jing Xuan satu ini.
"Kau sangat sial. Hidupmu sungguh sial, Hahaha ...." Baiklah, Liancheng kau berbuat satu kesalahan.
"Apa kau pikir aku menyukai kesialan yang menimpaku selama ini." Liwey memukul keras bahu kiri Liancheng, "dan apa kau pikir aku menyukai hal yang sial ini." Liwey semakin membabi buta memukuli bahu Liancheng.
"Lalu, apa kau pikir aku senang saat menyadari diriku terjatuh kedalam danau dan berakhir di dunia ini, hah ... apa kau pikir aku senang dan menerima semua ini." Liwey sudah terisak, membuat Liancheng yang sedari tadi hanya menghindar dari pukulan-pukulan yang diberikan Liwey langsung terpaku.
Pukulan Liwey terhadapnya melemah, dan digantikan dengan isakan tangis pilu yang tak ingin dia dengar.
"Aku bahkan tak mengerti apa tujuanku kesini ... hiks ... aku tak mengerti." Liwey masih terisak saat ia dengan paksa menyeka air mata yang masih mengalir di pipinya. Dipandangnya Liancheng tepat di retina beda warna pria itu.
"Kalian lancang membawaku kemari." Suara Liwey berubah dingin, "Kalau aku mati, apa aku bisa kembali keduniaku yang asli?"
Liancheng diam, dia tak tahu harus berkata apa.
"Kalau kau mati disini, kau akan terjebak selamanya disini." Tan'er datang diiringi cahaya kemilau dari timur bangunan.
"Kau memiliku tugas di sini, Liwey."
__ADS_1
"Tapi apa?" Liwey berteriak frustasi, "kalian mengatakan aku memiliki tugas, kalian juga mengatakan aku orang yang terpilih untuk menjalankan tugas itu, tapi ... apa tugasku sebenarnya?" Liwey sudah terjatuh, terduduk di tepian kolam sambil memeluk lutut. Isakannya semakin terdengar pilu di telinga mereka.
Tan'er menghela napas pelan. Perlahan tapi pasti ia berjalan menuju dimana Liwey tengah menangis terisak. Mengelus punggung bergetar Liwey, Tan'er seolah menerawang akan nasib yang harus diemban gadis seperti Liwey.
"Maafkan aku, karena telah lancang membawamu tanpa meminta izin terlebih dahulu." Tan'er menghembuskan napas panjang, sebelum manik ambernya menatap Liwey yang juga tengah menatapnya dengan wajah sembab.
Tan'er tersenyum, "Jika kau tak ada disini, seluruh keturunanmu akan dibantai oleh kegelapan dan berakhir dengan diriku dan Liancheng menghilang perlahan-lahan."
"Apa maksudmu?"
"Pergilah ke kuil disebelah timur Dong Yuo, kau akan menemukan jawabannya." Tan'er kembali tersenyum manis, menyisakan rasa penasaran yang teramat besar pada Liwey.
Hingga sebuah cahaya datang, dan menelan Liwey menghilang dari sana.
\=\=\=\=\=\=\=
"Putri Jing, air mandi anda sudah siap." Liwey dengar dengan jelas Jiali mengajaknya berbicara. Membuka mata perlahan iris amber dirinya mendapati langit-langit kamar tempatnya selama ini bersemayam.
"Jiali," pangilnya.
"Iya, nona."
"Apa kau tahu kuil di timur Dong You?" Liwey berujar dengan pandangan yang masih menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.
Jiali menoleh kearah Liwey yang masih berbaring sembari menatap langit-langit dengan bingung.
"Nona, apa anda lupa? Itu adalah kuil yang sering anda kunjungi bersama mendiang ibu anda."
"Benarkah? kau tahu tempatnya." Kini Liwey menoleh memandang Jiali.
Mendengar penuturan Jiali, Liwey mendesah pelan, beranjak dari berbaring ke posisi duduk. Liwey menatap ember berisi air dengan kelopak mawar yang sudah disediakan Jiali di nakas sebelah kanan ranjangnya. Membasuh muka lalu menyekanya sampai kering, kemudian Liwey kembali duduk di atas ranjang.
"Jiali, bawa sarapan ke kamar. Aku sedang tak ingin keruang makan."
Jiali mengangguk lalu berjalan meninggalkan Liwey di kamar sendirian.
Takdir seperti apa yang kau berikan padaku, Tuhan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Kondisi ruang makan kediaman sama seperti biasa. Hening di kala menantikan hidangan selesai di tata dengan rapi.
Jing Xuan meneguk segelas teh camomile dari cawan giok tranparan, kemudian mengedarkan pandang dimana Liang Jie tengah bermain dengan kucing abu-abu di samping kirinya. Sebuah senyum tipis ia tujukan, bahkan sangat tipis. Kemudian Jing Xuan menorehkan pandang ke samping kanan, tempat dimana Liwey akan duduk dan menggerutu sewaktu makan saat tak sengaja bertatapan dengan Ailin dan juga dua selir di kediamannya. Dan itu cukup menjadi hiburan tersendiri bagi Jing Xuan, Liwey itu unik dimatanya.
Hidangan sudah tersedia lengkap di atas meja. Ikan gurame yang dikukus dengan potongan seledri dan juga ginseng yang menjadi menu utama sarapan terlihat menggoda di mata Jing Xuan. Asparagus panggang dan juga sup tauge juga turut ikut serta menjadi pendamping sarapan mereka kali ini.
"Kak, dimana kakak ipar? Apa dia tidak ikut sarapan bersama?" Pertanyaan yang keluar dari mulut kecil Jiali mengalihkan atensi semua orang tepat ke sebelah kanan Jing Xuan, tempat dimana Liwey seharusnya duduk.
"Seperti biasa, dia pasti akan terlambat. Sebaiknya kita sarapan terlebih dahulu, Tuanku." Li Hua berujar.
Jing Xuan hanya menoleh sekilas kearahnya tanpa menimpali perkataan Li Hua. Ia malah menyapu pandangannya terarah ke pintu masuk ruang makan, seakan dirinya menanti Liwey untuk berhadir di ruangan ini.
__ADS_1
"Kau ingin menunggu seberapa lama lagi, cucuku? Memakan makanan dingin akan sangat tidak enak," ucap Ibu Suri yang tak juga digubris oleh Jing Xuan. Wanita itu hanya mendengus kesal, sementara Ailin sedari tadi sudah mengutuk Liwey karena berhasil mendapatkan tempat tersendiri di hati Jing Xuan.
"Ibu, apakah pangeran Jing Xuan mulai mencintai Liwey? Itu tidak bisa dibiarkan." Ailin berbisik di telinga Ibu Suri.
"Tidak." Ibu suri tersenyum sembari mengusap puncak kepala Liwey, "kita akan pastikan, Jing Xuan untuk jatuh cinta kepadamu tak lama lagi."
"Benarkah?"
"Hmm ..." Ibu suri tersenyum mendapati wajah sumringah Ailin.
Jing Xuan yang atensinya sedari tadi menatap pintu ruang makan, segera teralih saat mendengar suara bisikan dari dua orang yang duduk tepat di depannya. Cih, dasar. Kalian tidak lupa 'kan, jika Jing Xuan itu peka terhadap hal yang berada di sekitarnya, termasuk akan suara tentunya. Tapi, untuk perempuan? entahlah. Oke, lupakan.
Krieeett ...
Pintu ruang makan terbuka, menampilkan Jiali yang masuk sambil menunduk. Menghormati orang-orang berkedudukan diatasnya yang berada di sana.
"Jiali, dimana kakak ipar?" Liang Jie bertanya.
Jiali yang langsung diserbu dengan pertanyaan dari putri paling kecil di kediaman itu hanya tersenyum sebelum berkata. "Yang mulia Putri Jing sedang tak enak badan, dan meminta sarapannya dibawakan ke dalam kamar."
Liang Jie mengangguk paham.
"Kalau begitu, aku akan ikut makan dengan kakak ipar."
"Tidak." Jing Xuan berujar. Iris heterocromia menatap lekat kearah Jiali yang masih menunduk hormat kearahnya. "Ambillah sarapan untuk Putri Jing dan segera hubungi tabib setelahnya."
"Baik Pangeran." Jiali membungkuk sekali lagi sebelum mengambil nampan berisi sarapan untuk nonanya, lalu keluar dari ruang makan.
Sementara Liang Jie, yang tidak di izinkan oleh Jing Xuan hanya mengerucutkan bibirnya. Kesal dengan keputusan yang diberikan oleh sang kakak.
"Mari lanjutkan sarapannya." Perintah Jing Xuan dan mulai mengambil sumpit untuk melanjutkan sarapan.
\=\=\=\=\=\=\=
Tbc.
AudhiKim
Maafkan diri ini,
chapter ini tuh rasanya ancur banget deh ...
sumpah ...
di sini tuh Audhi lagi blank banget sumpah ...
Tapi Audhi harus ngikutin deadline untuk up setiap hari ...
maafkan Audhi atas ketidak puasan kalian di chapter ini man teman...
tapi, di cahpter berikutnya.
__ADS_1
Nantikan adegan Liwey dan Jing Xuan.
Salam dari istrinya Kim Taehyung.