Qu LiWey

Qu LiWey
Bagian 34 : Bertolak Belakang.


__ADS_3

..._________...


Suara kokok ayam memaksa wanita yang masih bergelung dibawah selimut membuka matanya. Iris amber miliknya mengerjab, menyesuaikan kontras cahaya yang masuk kedalam retina. Terduduk, wanita itu menatap kesekiling. Dimana dia? Ini bukanlah kamarnya? Bentuk ruangan ini, sangat jauh berbeda dari kamarnya. Sekali lihat saja dia sudah mengetahuinya.


Namun sebuah kesadaran memukul pelan ingatannya. Huh. Wanita itu menghela nafas lalu beranjak turun dari ranjang menuju meja yang tak jauh darinya. Mengambil botol berisi air dan menegaknya tanpa iming iming menuangkan kedalam cawan yang tersedia.


Tenggorokannya terasa kering dan tercekat, dia tidak punya waktu untuk menunggu air itu mengalir mengisi cawan. Iris amber miliknya memutar keseluruh ruangan, meneliti tiap interior ruangan yang kini ia tempati. Sejauh ini tidak banyak yang berbeda, semua perabotan yang ada di sini sama dengan disana --kamarnya-- hanya saja mungkin kualitas dan harganya yang sedikit lebih mahal.


Terbukti dari sebuah guci porselen dengan lukisan rumit yang menghiasinya. Dirinya tak pernah melihat guci seperti itu di sana dahulu.


Saat masih asik meneliti interior serta perabot yang berada di ruangan, tiba-tiba pintu penghubung antara ruangan dengan dunia luar terbuka. Sosok pria bersurai putih dengan iris mata unik memasuki ruangan lalu tersenyum ramah kearahnya.


"Kau sudah bangun ternyata? Apakah ada yang sakit? Aku begitu khawatir saat melihatmu pingsan malam itu, aku fikir kau terlalu kelelahan." Wanita itu menatap lama sosok yang sangat ia kenal, sosok yang selalu menatap remeh dirinya dahulu, sosok yang tak segan-segan mengeluarkan aura dingin saat merasa kesal dengannya dahulu, sosok yang telah menjadi suaminya, yang entah sejak kapan menaruh hati padanya dan berjanji untuk selalu mencintainya. Dia sosok Jing Xuan, pria yang mampu membuat hatinya bertanya-tanya akan perasaan yang dirinya punya.


"Iya, aku tak apa. Mungkin kau benar, aku hanya kelelahan," jawabnya.


"Ouh syukurlah, aku takut kau kenapa-kenapa. Kenapa kau selalu saja membuatku khawatir Qu Liwey." Jing Xuan berjalan mendekat kearahnya, tatapannya sendu. Dan entah kenapa selalu menimbulkan rasa aneh di hati Liwey, antara sedih dan menyesal. Kenapa sebenarnya dengan dirinya. Apa yang terjadi padanya.


Liwey melangkah mundur saat mengetahui jarak antara dirinya dan Jing Xuan semakin dekat. Pria itu tersenyum masam mengetahui Liwey mundur darinya. Dia tidak tahu apa sebabnya gadis itu menjauh darinya. Apa dia berbuat salah?


"Kenapa kau menjauhiku?" Tanya Jing Xuan yang kini sudah tak lagi melanjutkan langkahnya untuk mendekati Liwey. Pandangannya menatap Liwey sendu, ia masih bertanya-tanya, apa kesalahannya hingga Liwey sampai menjauhinya.


"Aku tak menjauhimu." Datar. Jing Xuan sedikit tersentak mendengar nada bicara yang dikeluarkan oleh Liwey. Tak biasanya. Liwey yang Jing Xuan kenal bukan seperti ini. Liwey yang Jing Xuan kenal adalah sosok perempuan ceria dan rada bodoh, juga selalu saja mengeluarkan nada kesal juga ledekan di tiap kata yang ia ucapkan.


Tapi kenapa, Liweynya berbeda.


"Lalu kenapa kau mundur?" Liwey terdiam, dia tak tahu harus menjawab apa. Matanya masih terpaku pada sosok Jing Xuan yang berdiri tak jauh di hadapannya. Ouh, hati Liwey semakin gelisah saja. Apa sebenarnya yang hatinya rasakan terhadap Jing Xuan, Liwey tak mengerti.


Hah. Liwey menghela nafas, lalu membalikkan badan membelakangi Jing Xuan. "Aku ingin mandi, kau keluarlah," ujarnya lalu langsung melangkah menuju bilik pemandian yang berada di dalam ruangan itu.


Menjauhi Jing Xuan untuk sementara harus Liwey lakukan, jika tidak. Liwey takut, Jing Xuan akan kecewa padanya. Karena sejatinya, dia masih bingung akan apa yang hatinya rasakan untuk Jing Xuan.


Pria bersurai putih itu menatap pias punggung Liwey yang menghilang dibalik bilik pemandian. Terkekeh, Jing Xuan menertawakan dirinya sendiri. Sekarang Liwey menjauh perlahan darinya, sementara hatinya dan perasaannya semakin dan semakin besar akan wanita itu. Bahkan Jing Xuan berharap mendapatkan keturunan dari wanita itu dan menciptakan sebuah keluarga kecil penuh kebahagiaan.


Namun sepertinya, impian itu hanya menjadi impian belaka. Liwey menjauh darinya. Apakah Jing Xuan harus menyerah terhadap perasaannya?


Tidak, sejauh ini Jing Xuan sangat sulit jatuh kepada wanita. Dan ia juga tahu bahwa dirinya tak akan sanggup untuk melupakan perasaannya dan membuka hati kepada wanita lain. Tidak, Jing Xuan tidak bisa melakukan itu.


Dirinya akan tetap memperkuat komitmennya, terus berharap jika mimpinya akan menjadi nyata suatu saat nanti. Jing Xuan harus berusaha. Berusaha untuk membuat Liwey beralih menatapnya kembali.

__ADS_1


...°♡°♡°♡°...


Liwey baru saja selesai memakan sarapan yang dibawa oleh Jiali saat dirinya memilih untuk keluar kamar mengelilingi istana. Bagi Liwey ini adalah pengalaman pertamanya masuk ke sebuah istana, karena sejatinya, Liwey jarang memasuki bangunan-bangunan bersejarah sewaktu masih bersekolah dulu.


Sekilas info, Liwey paling benci sejarah. Namun malah dirinya terlempar ke zaman kuno yang berpotensi sebagai sejarah.


Aih entahlah.


Liwey masih asik berjalan dan mengagumi tiap interior banguan hingga sebuah suara menghentikan aktifitasnya. Suara itu berasal dari arah belakang.


Liwey berbalik, iris amber miliknya mendapati sosok wanita dengan hanfu kuning cerah berdiri tak jauh darinya. Ahh, Liwey ingat. Dia sosok permaisuri yang mengenakan hanfu merah tadi malam.


"Apa yang dilakukan Putri Jing disini? Berjalan-jalan sendirian, eoh? Kemana suamimu, apa dia tidak mengikutimu?" Dari nada bicaranya dapat Liwey pastikan sosok wanita yang terlihat seumuran ibunya ini adalah sosok wanita angkuh tidak seperti selir Huang yang lebih lembut dan enak dijadikan teman ngobrol.


"Putri ini hanya ingin berjalan-jalan menghirup udara segar Permaisuri," jawab Liwey berusaha ramah sembari menurunkan kepalanya sedikit.


"Ouh, kenapa kau tidak ditemani oleh suamimu, Putri Jing? Apa suamimu malu punya istri bodoh dan tak bisa diandalkan sepertimu?" Liwey sontak mendongak, menatap tajam wanita yang berdiri didepannya.


Wanita itu menaikkan alis, "ouh, ada apa dengan pandanganmu? Apa kau tak menyukai apa yang kukatakan? Bukankah menurut rumor kau memang terkenal bodoh?" Hm. Ingatkan Liwey untuk tidak menjambak wanita ini. Secara dia tidak ingin dihukum gantung karena telah menjambak Permaisuri.


Ihh, itu mengerikan. Dia tidak ingin mati dua kali.


"Kau benar Yang Mulia Permaisuri, seharusnya wanita bodoh seperti diriku tak dapat bersanding dengan pangeran Jing Xuan. Namun jika dirinya sudah cinta, kau tidak akan bisa berbuat apa-apa." Liwey berujar dengan lembut, masih mengedepankan sopan santun pada wanita angkuh ini. "Ouh ya, tentang kau bertanya kenapa aku berjalan sendirian. Jawabannya karena aku memang ingin sendiri dan tak membutuhkan orang lain yang pastinya akan merepotkanku nantinya." Liwey menyindir halus wanita di depannya.


"Maaf atas kelancangan Putri ini Yang Mulia, tapi Putri ini tidak menganggap anda penganggu tuh." Dapat Liwey lihat wanita itu mengepalkan tangannya kuat. Membuat Liwey menggeleng kecil, kenapa semua wanita yang ia temukan di dunia ini memiliki kriteria yang sama. Dahulu Ailin sekarang wanita tua ini. Aih, untung saja Jiali tidak seperti mereka, jika Jiali juga memiliki karakter seperti mereka, maka Liwey akan langsung memecatnya di hari pertama ia membuka mata.


"Apa yang dilakukan oleh dua wanita cantik ini di sini." Suara berat khas seorang pria mengalihkan atensi kedunya. Wanita berhanfu kuning tampak tersenyum kemudian berjalan menuju kearah sosok pria yang mengintrupsi percakapan antara dirinya dan Liwey lalu melingkarkan tangannya di lengan pria itu.


"Anakku, sudah lama aku tak berbicara panjang lebar lagi denganmu. Ibumu ini sangat merindukanmu," ucap wanita itu dengan nada manja.


"Ah, maafkan anakmu ini, Ibu. Kesibukanku sebagai Putra Mahkota membuatku jarang menemuimu."


Liwey menatap drama telenovela antara ibu dan anak yang saling merindu itu datar. Kemudian tanpa pamit berjalan hendak pergi meninggalkan keduanya, jika saja sebuah suara tidak menghentikan langkahnya.


Liwey kembali berbalik, menatap malas kearah Putra Mahkota yang bahkan namanya tidak Liwey ketahui aslinya. "Kenapa anda memanggilku, Yang Mulia Putra Mahkota." Liwey berusaha untuk tetap sopan, namun masih terdengar jelas nada malas dari bicaranya.


"Kenapa kau meninggalkan kami tanpa permisi?"


"Kalau begitu saya pamit undur diri."

__ADS_1


"Siapa yang memperbolehkanmu untuk pergi?"


Argh, memukul kepala Putra Mahkota hukumnya apa sih? Jika hukumnya menyalin kitab tata krama, apa boleh Liwey memukul kepala pria itu sekarang.


Liwey memasang wajah malas terang-terangan pada Putra Mahkota Yanzhi.


"Apa maumu?" tanya Liwey, kentara kali jika dirinya sudah malas berlama-lama dengan dua orang ini.


"Tidak sopan! Begitu caramu bertutur kata di depan Putra Mahkota." Uh ... Liwey memutar bola mata jengah. Iris ambernya bertubrukan dengan iris kelabu Yanzhi. Sekali lagi, Liwey menemukan aura pekat dan gelap di dalamnya.


"Kau gelap sekali, Putra Mahkota," ujar Liwey tanpa tedeng aling aling. "Entah mengapa aku yakin kau bersekutu dengan penyihir."


Yanzhi membelalakkan mata mendengar penuturan Liwey yang sudah kelewatan menurutnya. "Kau kenapa selalu menudingku penyihir, bahkan tadi malam juga."


"Aku hanya berpendapat. Ouh, sudahlah. Bolehkah aku pergi, aura kita bertolak belakang. Aku takut kau akan terluka nantinya." Entah kenapa, Liwey merasa, semakin lama dirinya dekat dengan Yanzhi semakin besar pula keinginannya untuk mencekik ataupun menjerat Yanzhi dengan sulur cahayanya.


"Kau pikir aku lemah, wanita bod*h."


"Bukan begitu tapi ...." Belum selesai Liwey berkata, dengan cekatan Yanzhi memegang pergelangan tangan Liwey tanpa izin dan berakhir dengan dirinya mengerang akibat rasa terbakar di telapak tangannya.


"Kau ...." Yanzhi tak mampu untuk melanjutkan ucapannya. Bahkan kini Permaisuri yang berada di antara mereka terlihat panik saat mendapati anaknya menjerit kesakitan.


"Kau apakan dia?!" Tanya permaisuri murka.


"Aku tak melakukan apapun padanya, dia yang menyentuhku."


"Dasar penyihir," umpat Permaisuri yang kini tengah meniup-niup telapak tangan Yanzhi yang terlihat sekali memerah.


"Siapa? aku? Bukannya lebih pantas dia," tunjuk Liwey kearah Yanzhi. "Dia yang memiliki aura gelap seperti penyihir." Lanjutnya.


Yanzhi menatap Liwey geram. Dia ingat, di hari pernikahan Liwey dan Jing Xuan Yanzhi juga merasakan aura yang keluar dari tubuh Liwey namun tak sepekat ini. Dia tak menyangka, jika Liwey dapat menyudutkannya sejauh ini. Hanya dengan menggenggam saja, Yanzhi sampai harus terluka seperti ini.


"Sudahlah, Ibu. Bawa aku ke kamarku. Untuk anak ini, aku akan pikirkan hukumannya." Permaisuri hanya mengangguk lalu membantu Yanzhi untuk segera sampai di kamarnya.


Sementara Liwey, gadis itu hanya mengendikkan bahu.


Aku sudah menyangka ini akan terjadi, auaranya gelap, dan itu bertolak belakang dengan diriku.


...°♡°♡°♡°...

__ADS_1


Tbc ...


Happy Reading.


__ADS_2