
Jangan Lupa Like 👍 sebelum baca, Dan jangan lupa tekan 💜 dan menjadikannya favorite mu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Makan siang hari ini sangat suram menurut Liwey, bagaimana tidak hanya karena ia menyebut Jing Xuan dengan panggilan Xuanxuan, mendadak semua orang yang berada diruangan itu melongo seakan apa yang dikatakan Liwey barusan adalah kata-kata kasar yang tidak seharusnya diucapkan sekarang.
Rasa daging yang direbus menjadi semakin hambar di indra pencecap Liwey.
"Xuanxuan." Liwey memanggil Jing Xuan sedikit berbisik, "kenapa daging ini hambar?"
Jing Xuan menggubrisnya, pria itu masih asik dengan kegiatannya menyeruput kuah dari daging rebus itu dengan khidmat.
Liwey berdecak, pria ini tuli atau apa?
"Xuanxuan, kenapa sup tauge ini rasanya pedas sekali. Sudah seperti sup pereda pengar saja?" kembali Liwey bertanya sambil berbisik. Dan Jing Xuan masih acuh, kali ini pria itu sedang menyesap teh camomile dari cawan giok transparan.
Oke, Liwey sekarang merasa bagai makhluk tak kasat mata akibat pria satu ini. Menghela napas kasar, Liwey menggebrak meja didepannya membuat kembali atensi semua makhluk bernafas yang berada di sana terfokus kepadanya.
"Hah ... makanan ini hambar, siapa yang membuatnya." Bagai seorang tuan yang tak menyukai hasil jerih payah pelayannya, Liwey berdiri berkacak pinggang.
Seorang wanita paruh baya berpakaian khas pelayan menghadap Liwey sembari menunduk dalam. Takut-takut akan dihukum oleh Permaisuri kediaman ini.
"Mohon ampun hamba, Permaisuri. Hamba yang memasak menu makan siang hari ini." Si pelayan semakin tertunduk dalam.
Liwey menatap pelayan itu dari atas kebawah, menyeringai, Liwey mendatangi tempat di mana pelayan itu tengah berdiri sembari menunduk dalam. "Kalau begitu, ayo ke dapur. Kita akan membuat masakan baru," ucap Liwey seketika menarik lengan si pelayan yang kini tengah melongo tak percaya akan reaksi Liwey.
"Tak boleh." Langkah Liwey mendadak terhenti tepat di depan pintu. "Kau ingin membakar dapur lagi?" Kening Liwey berkerut dalam, seketika ia berbalik menatap tak suka pada si pemilik suara. Siapa lagi kalau bukan mahkluk halus yang sialnya tampan itu.
"Kapan aku membakar dapur?" Liwey berseru sewot. Dia ingat tentang dapur yang hampir terbakar sewaktu dia bersikeras ingin menghidupkan api tanpa bantuan dayang lain. Dan itu juga yang membuat ia mendapatkan hukuman yang memaksanya harus begadang semalaman.
"Apa ingatanmu sudah mulai rusak, Putri Jing? Kau melupakan kejadian yang belum seminggu berlalu." Baiklah, Liwey kesal setengah mati. Ohh ... apa hukuman memenggal kepala seorang pangeran? Oke hukumannya ya dipenggal kembali, dan Liwey belum mau mati untuk kedua kalinya. Tapi tetap saja, Liwey merasa ingin memenggal kepala manusia putih satu ini.
"Ya .... aku ingat, tapi itu karena aku ke dapur tanpa pengawasan dari dayang. Kali ini beda, aku ke dapur bersama dayang yang sudah berpengalaman lama di dapur, jadi apa masalahnya?" Liwey semakin tak mengerti dengan jalan pikiran pangeran satu ini, kalaupun dia khawatir Liwey akan membakar kembali dapurnya, tapi sekarang 'kan Liwey di dampingi oleh dayang sehari-harinya bekerja di dapur dan dia tak perlu takut.
Jing Xuan menyesap teguk terakhir dari teh camomile kemudian duduk menghadap kearah Liwey yang tengah menekuk wajahnya kesal.
"Kau tak mengerti perkataanku, Putri Jing?"
Liwey mengepalkan kedua tangannya hingga buku-bukunya jarinya memutih. Wajah putih Liwey sangat kontras dengan warna merah yang tercipta karena emosinya sudah di ujung.
"Aku mengerti, tapi aku tak peduli. Memangnya kau siapa yang bisa mengaturku seenaknya?"
Ruangan yang dari awalnya sudah senyap menjadi semakin senyap karena semua orang yang berada disana tengah menahan napas. Raut wajah mereka takjub, sekaligus khawatir. Bahkan Jiali yang sedari tadi berdiri tak jauh dari Liwey sudah berlinangan air mata. Dia tak menyangkanya, Nonanya akan seberani ini. Semoga Nonanya selalu dilindungi oleh Tuhan.
"Ayo, antar aku ke dapur." Liwey kembali menarik tangan pelayan yang sedari tadi ternyata masih ia genggam.
"Ke dapur atau membersihkan seluruh halaman belakang kediaman?" Jing Xuan berujar dingin, kembali langkah Liwey terhenti dan untuk sesaat pelayan yang sedari tadi tangannya di genggam oleh Liwey mendengar Liwey menggeram marah.
Liwey berbalik, siap untuk melabrak Jing Xuan.
"Kasim Tang, bawa Putri Jing kehalaman belakang untuk menyelesaikan hukuman dan awasi dia... " Liwey melongo tak percaya, apa-apaan pria beruban ini? "... juga jangan biarkan dia menginjak dapur."
Liwey sudah tak tahan. "Apa maksudmu, kau tak mengizinkan ku ke dapur dan sekarang kau malah menghukumku tanpa alasan jelas, apa kau waras?" sekali lagi semua orang disana menahan napas.
"Jangan hanya karena kau memiliki status sebagai pangeran dan kepala di kediaman ini kau jadi seenaknya." Dada Liwey naik turun mengimbangi deru napasnya. "Aku tak menerima hukuman itu." Liwey melipat tangannya di depan dada.
"Kau sudah sangat lancang Putri Jing." Jing Xuan menatap tepat di manik amber milik Liwey.
"Lancang bagaimana?"
"Kau tak boleh meninggalkan halaman belakang kediaman sampai kau tau dimana letak kesalahanmu." Jing Xuan berujar dingin lalu mulai beranjak keluar dari ruang makan meninggalkan Liwey yang masih berdiri dengan tangan terkepal di sana bersama orang-orang yang sedari tadi menatap pertengkaran mereka.
"Dasar sialan, awas saja kau!! Akan kubalas kau!!" Liwey berteriak mengeluarkan semua emosi yang sudah terpendam di dadanya.
"Dasar pria gila, berengsek, mahkluk halus." Terdengar jelas suara deru napas Liwey yang tak beraturan. Membuat pelayan yang sedari tadi terpaksa harus berada di sampingnya sedikit takut, bahkan Kasim Tang yang ditugaskan untuk mengawas dirinya dalam menjalani hukuman terlihat sedang meringis takut.
"Putri Jing ..." Kasim Tang mencicit takut.
__ADS_1
"Apa ..!!!" Liwey berteriak tepat di hadapannya, dan itu sontak membuat Kasim Tang tersentak mundur. Perempuan memang menakutkan kalau marah.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Didalam ruang kerjanya, Jing Xuan tengah disibukkan dengan bertumpuk gulungan perkamen berisi data-data kerajaan yang harus ia kerjakan. Kening pria itu berkerut dalam, berusaha memahami isi dari perkamen yang telah dibentang di atas meja olehnya.
Yubo, yang sedari tadi mendampingi dirinya di ruang kerja sedikit bingung akan tingkah tuannya yang tidak meledak saat diperlakukan tak sopan oleh Liwey. Bukankah Jing Xuan akan marah besar saat seseorang tak berperilaku sopan padanya, bahkan pangeran ke-8 saja pernah di hukum cambuk seratus kali hanya karena dirinya tak sengaja mendahului Jing Xuan berjalan. Sikap arogan dan tak berperikemanusiaan Jing Xuan sudah mendarah daging. Tapi, kenapa sekarang berbeda.
Menurut Yubo, Liwey sudah teramat sangat tak sopan pada Jing Xuan. Namun, kenapa hukumannya hanya membersihkan halaman belakang yang Yubo tahu ... cukup, ah tidak sangat luas. Hm ... sepertinya tidak masalah untuk itu. Liwey seorang perempuan, jadi sangat pantas mendapat hukuman seperti itu 'kan? Entahlah, Yubo mendadak pusing.
"Tuan, apakah anda tak ingin mengajarkan sopan santun pada putri Jing? Beliau sudah sangat keterlaluan tadi." Jing Xuan yang baru saja membuka perkamen kedua menoleh kearah Yubo yang tengah menatapnya, namun tak lama perhatiannya kembali di sita oleh gulungan perkamen di atas meja.
"Apakah putri Jing harus ditangani oleh ibu suri agar putri dapat lebih sopan?" Yubo kembali bertanya.
"Aku sendiri yang akan mengajarinya," saut Jing Xuan tanpa mengalihkan tatapannya dari perkamen yang kini sedang ia gulung dan mengambil perkamen yang lain untuk ia buka.
Yubo mengangguk mengerti, sebenarnya ada banyak pertanyaan yang ingin ia sampaikan. Tapi melihat bagaimana situasi Tuannya saat ini membuat Yubo mengurungkan niatnya. Menurutnya, sang Tuan sudah ada pencapaian dalam mengendalikan amarah, hanya saja dia takut kalau amarah Tuannya akan meledak saat dirinya bertanya. Dan itu tidak ada didalam kamus keselamatan Yubo.
"Yang Mulia Pangeran ke-4, kereta yang membawa putri Liang Jie dan ibu suri sudah sampai." Seorang kasim dengan menunduk menyampaikan pesan.
Jing Xuan dengan segera menggulung perkamen yang sebenarnya belum ia pahami sepenuhnya, tapi mendengar sang adik sudah kembali dari daerah teritorial ibu suri membuat dirinya sedikit bersemangat.
"Yubo, pastikan kucing kesayangan Jie'er berada di halaman belakang. Aku akan menyambut mereka."
Yubo mengangguk lalu berjalan mundur hendak keluar dari ruang kerja.
Sepeninggal Yubo, Jing Xuan pun beranjak keluar. Langkah kakinya panjang-panjang menuju pintu masuk kediaman.
Senyum lebar langsung terpatri di wajah tampannya, setengah berlari ia menyambut sang adik yang juga ikut berlari dan hinggap dalam gendongannya.
"Bagaimana harimu disana?" Tanya Jing Xuan.
Liang Jie mengerucutkan bibirnya, lalu berbisik, "sungguh tidak menyenangkan, perempuan hijau itu membuatku muak."
Jing Xuan mengerutkan kening, siapa perempuan hijau? apa itu gelar baru untuk ibu suri yang diberikan oleh adik kecilnya ini?
"Wu Ailin, yang bermimpi untuk menjadi putri Jing." Sontak air muka Jing Xuan berubah dingin, dan Liang Jie tahu kalau kakaknya ini sedang kesal. Turun dari gendongan sang kakak, Liang Jie segera berlari menuju taman belakang yang ia yakini menjadi tempat bermain Bobo, kucing abu-abu yang dipulangkan sehari sebelum kepulangan dirinya.
"Kemana istrimu, apa dia tak ikut untuk menyambut kami? atau kau malu karena sudah menikahi seorang gadis bodoh Jing Xuan?" Seketika rahang Jing Xuan mengeras mendengar penuturan dari wanita tua yang kini tengah berdiri didepannya.
"Ada keinginan untuk memenuhi dekrit kedua dari kaisar, cucuku."
"Tidak." Jawab Jing Xuan datar, kemudian berbalik hendak meninggalkan dua orang berjenis kelamin perempuan.
"Pangeran ke-4, sungguh tidak sopan meninggalkan tamu tanpa menjamunya terlebih dahulu." Suara Ailin mengalun lembut, Jing Xuan menoleh dari sudut bahunya.
"Jika ingin dijamu, pinta pada dayang. Aku sibuk dan ingin bekerja." Jelas Jing Xuan datar lalu langsung beranjak meninggalkan gerbang depan.
"Ibu Suri, dia bahkan enggan melihatku." Ailin merengek.
"Sudahlah, sekarang kau hanya perlu mendapatkan hati dari adiknya, Jie'er. Setelahnya kau baru mendapatkan hati Jing Xuan, bagaimana pun Jing Xuan menyukai gadis yang dekat dengan adiknya."
"Benarkah?"
Ibu Suru tersenyum sembari mengangguk, "Jie'er pasti berada di halaman belakang, ikutilah dia."
Ailin tersenyum senang, setelahnya gadis berhanfu hijau itu berjalan diikuti oleh dua orang dayang menuju halaman belakang.
"Semoga saja kau mendapatkan kebahagiaanmu, Anakku."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Liwey tengah menyapu dedaunan kering yang sialnya tak berhenti jatuh dari atas sana. Entah sudah berapa kali dia mengumpati pohon yang tak dapat diajak bekerja sama. Sudah cukup ia dibuat kesal oleh Jing Xuan tadi, tolong jangan tambah kekesalannya hanya karena pohon dan angin yang berhembus.
Menghela napas kasar, Liwey kembali menyapukan sapu yang terbuat dari lidi ke tanah yang kini sudah kembali di hinggapi oleh dedaunan kering dengan sabar.
Angin berhembus kencang, tumpukan daun yang sudah ia kumpul terbang berserakan. Baiklah kesabaran Liwey sudah habis sekarang, dihempaskannya sapu ke tanah kemudian mengerang geram, membuat Jiali yang membantu dan kasim Tang yang mengawasi sontak menoleh kearahnya.
__ADS_1
"Dasar angin sialan!! Kenapa kau harus berhembus sih? Lihat, pekerjaanku jadi sia-sia" Liwey menghembuskan napas kasar, lalu beranjak kearah gazebo dekat dengan pohon sakura, duduk di lantai dengan wajah tertekuk dalam. Ingatkan Liwey untuk menjambak rambut putih Jing Xuan nanti, penderitaan ini 'kan disebabkan olehnya?
"Nona, anda boleh istirahat biar Jiali yang melanjutkan." Liwey tak menanggapi, emosinya benar-benar sudah diujung sekarang.
Kini Liwey sudah membaringkan tubuhnya di lantai gazebo, tak perduli lantai itu bersih atau tidak dia hanya perlu meluruskan tubuhnya yang mungkin sudah kena encok akibat membungkuk terlalu lama saat menyapu tadi. Melipat tangan di depan dada, lalu menutup kata. Mungkin istirahat sebentar dapat menetralisir amarahnya.
"Kenapa kau berbaring di sini?" sebuah suara sontak membuat bola mata Liwey terbuka sempurna. Seorang anak dengan hanfu putih dan juga rambut sewarna hanfunya berdiri sambil memeluk kucing abu-abu.
Dengan cepat Liwey bangkut dari berbaringnya, masih dalam posisi duduk di lantai, Liwey tersenyum.
"Ah ... kau sangat imut, siapa namamu?"
"Mo Liang Jie."
"Mo Liang Jie? Adiknya Xuanxuan?"
Liang Jie menelengkan kepala kesamping kanan, "Siapa Xuanxuan?"
"Ah ... dia pangeran dengan mata beda warna itu." Mengingat Jing Xuan sontak Liwey kesal seketika.
"Ouh ... kalau kau siapa?"
"Dan sialnya, aku adalah orang yang menjadi istri pangeran gila itu." Jadi dia kakak iparku, manis.
"Pangeran gila?"
"Ia dia gila, sangat gila. Apa kau tau dia sudah menghukumku untuk membersihkan halaman belakang yang seluas lapangan sepak bola ini sendirian, apa dia waras?" Raut keki tercetak jelas di wajah Liwey.
Liang Jie ikut duduk disamping Liwey, kucing abu-abu yang sedari tadi ia peluk sudah hilang entah kemana.
"Apa kau membuat kesalahan?"
"Aku hanya izin kedapur, dan dia tidak mengizinkanku, dasar pria gila." Jejak kekesalan tak berkurang dari wajah Liwey.
"Apa kau mau bercerita denganku?"
"Tentu saja, aku akan menceritakan semuanya."
Dan begitulah, cerita Liwey tentang mengapa ia harus mendapat hukuman mengalir dan sontak membuat Liang Jie tertawa.
"Kenapa kau tertawa?"
"Kau sangat berani kakak ipar, kakak sangat tak mentolerir orang yang diam-diam menjelekkan dia, dan kau secara terang-terangan mengumpati Kak Jing Xuan, wajar kalau dia marah."
"Tapi dia terlebih dahulu membuatku kesal, apa salahnya menjawab pertanyaanku bukan? Ini dia hanya diam."
"Bagitulah kakak ku, kau harus minta maaf padanya kakak ipar!"
"Tidak mau?"
"Atau kakak ipar ingin membersihkan halaman selamanya?
"Tidak ju ...."
"Kenapa kau duduk di lantai bersama dayang ini Jie'er." Sontak keduanya menoleh ke asal suara. Disana sudah berdiri Ailin dengan tatapan tak suka sembari berkacak pinggang.
Sementara Liang Jie sudah berpindah di hadapannya, Ailin berujar. "Tak pantas seorang Putri duduk begitu dekat dengan seorang dayang yang kotor, itu tidak sederajat."
Baiklah, emosi Liwey kembali tersulut.
"APA KAU BILANG?!!! AKU DAYANG!! MAU MATI??"
\=\=\=\=\=\=\=
TBC ......
AudhiKim
__ADS_1