
...Klik 👍 sebelum membaca dan klik 💜 untuk menjadikan Qu Liwey di list favoritmu....
..._________...
Setelah acara sarapan pagi paling menjengkelkan menurut Liwey. Kini gadis itu berakhir di tanah kosong yang baru ia isi dengan biji bunga matahari. Kejadian saat sarapan tadi benar-benar membuat Liwey ingin membunuh Jing Xuan.
Bagimana tidak, pria itu selalu saja merecoki acara makannya. Mulai dari meletakkan segala macam lauk dan sayur ke atas mangkok nasi Liwey, juga menyuapi Liwey secara paksa hingga mengakibatkan makanan yang seharusnya memasuki mulut malah berakhir menodai wajah Liwey.
Ya ... makanan itu mengotori Liwey juga hanfu yang ia kenakan. Liwey menyiram tanaman dengan perasaan dongkol yang teramat dalam. Bahkan Jiali yang menawarkan diri untuk membantunya ia tolak dan usir secara kasar.
Moodnya benar-benar hancur hanya karena pria putih satu itu. "Kau sangat rajin menyirami tanah kosong, Putri Jing."
Ouh, ayolah. Bahkan mood Liwey belum membaik, tapi kenapa pria itu harus muncul. Meletakkan gayung yang iya gunakan sebagai alat untuk menyiram bunga pada tempatnya. Liwey keluar dari sana, berjalan di koridor halaman belakang meninggalkan Jing Xuan yang masih asyik bersandar di salah satu pilar.
"Sungguh perilaku yang tak terpuji, bagaimana bisa kau tega meninggalkan suami yang rela meninggalkan pekerjaannya untuk menemuimu?" ucap Jing Xuan dengan nada merendahkan. Liwey berbalik, nafasnya terlihat memburu karena amarah. Sungguh, ia tak pernah semarah ini sebelumnya. Bahkan saat aksi jambak bersama Ailin, Liwey masih bisa mengontrolnya. Walaupun tetap saja, Ailin dibuat babak belur olehnya.
"Aku tidak memintamu untuk menemuiku," ucap Liwey sarkas. Jing Xuan terkekeh mendengarnya, membaguskan posisi berdirinya Jing Xuan berjalan mendekat kepada Liwey. Jarak diantara mereka bisa diukur dengan jengkal jari.
"Kau memang tidak memintaku, tapi setidaknya hargai keinginanku untuk bertemu denganmu." Jing Xuan menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Kau tahu, kau sudah melukai kehormatanku."
"Peduli setan dengan kehormatan." Liwey menaikkan nada suaranya. "Aku tidak suka kau dekat-dekat denganku, apalagi terus mengekoriku."
"Kau terlalu percaya diri, siapa yang mengekorimu." Liwey membuka mulutnya ingin membalas perkataan Jing Xuan, namun memilih kembali menutup mulut saat menyadari dia tak memiliki topik untuk membalas Jing Xuan.
Jing Xuan berjalan selangkah, semakin memperpendek jarak antara dirinya dan Liwey, bahkan kini tangan Jing Xuan sudah memeluk pinggang Liwey posesif. Liwey tersentak, sentuhan Jing Xuan benar-benar membuat dirinya tegang. Tanpa sadar, nafas Liwey memburu akibat sentuhan yang diberikan oleh pria yang berstatus suaminya sekarang.
"Kau tahu, entah kenapa pesonamu selalu memikatku," ujar Jing Xuan dengan nada rendah di hadapan Liwey.
Liwey dengan susah payah menelan ludahnya. Nada rendah yang terlontar dari ucapan Jing Xuan membuat dirinya sedikit kikuk. "Tatapanmu seolah menghipnotisku." Jing Xuan menatap lekat manik amber Liwey. Menusuknya hingga kebagian terdalam. Mencoba memasuki pikiran gadis yang tengah berdiri didepannya dan dalam pelukannya.
"Kau bahkan membuat hatiku berdesir di hari pertama aku menyentuhmu." Jing Xuan terkekeh, kepalanya tertunduk. Ingatannya berkelana pada saat hari dimana ia dan Liwey sudah terikat sebagai pasangan suami istri. Ia ingat saat hari dimana ia mencium Liwey di tengah banyak orang, dan Jing Xuan tidak menampik jika jantungnya berpacu cepat sejak itu.
__ADS_1
Kembali Jing Xuan menatap manik amber Liwey. Manik kesukaannya. Menelisik segala apa yang ada di dalam manik keemasan itu.
Liwey semakin tak karuan, perlakuan Jing Xuan sungguh membuat dirinya merasa canggung. Seumur hidupnya, ini adalah kali pertama ia berada sangat dekat dengan seorang pria dalam keadaan sadar. Jantung Liwey? Tolong jangan ditanyakan. Liwey bahkan sudah memvonis dirinya mengidap penyakit jantung akut saat ini.
Alat penanda kehidupan miliknya tengah memompa cepat, mengalirkan desiran darah yang terasa menggelitik tubuh Liwey saat ini. Dan entah kenapa, Liwey merasa sedikit ... nyaman?
"Bahkan kau berhasil membuat diriku begitu khawatir di hari itu." Liwey menatap manik beda warna Jing Xuan, jelas sekali rasa khawatir tercipta di dua manik berbeda miliknya. "Dan kau juga membuatku penasaran, akan apa yang ada pada dirimu." Jing Xuan menjatuhkan kepalanya kepundak Liwey. Menghirup aroma melati juga cendana yang bercampun di tubuh gadis itu dalam-dalam.
"Dan itu yang membuat aku semakin menginginkanmu." Jing Xuan mengecup leher Liwey lembut. Liwey mengehela nafas kaget. Dia begitu terkejut dengan perlakuan Jing Xuan barusan. Bahkan kini jantungnya sudah menambah tempo pompaannya. Liwey khawatir jika terus begini maka jantungnya akan pecah. Ouh Liwey tidak ingin mati untuk kedua kalinya.
Jing Xuan masih asik menghirup aroma tubuh Liwey juga sesekali mencium leher gadis itu. Bahkan kini leher jenjang milik Liwey sudah meninggalkan tanda kemerahan yang di buat olehnya. Jing Xuan tersenyum menatap leher Liwey, memperhatikan tanda kepemilian yang begitu indah tercipta di leher istrinya. "Kau milikku," lirih Jing Xuan. Kini pria itu meletakkan bibirnya di telinga Liwey, menggigitnya kecil. Entah kenapa, Jing Xuan merasa bergairah saat ini.
Liwey semakin tidak karuan, salivanya terasa sulit tertelen. Liwey tak bisa menahan gejolak dari dalam tubuhnya yang diakibatkan oleh Jing Xuan. Dengan gerakan cepat, Liwey mendorong tubuh Jing Xuan menjauh darinya. Dapat Liwey lihat, mata berbeda warna milik Jing Xuan menyiratkan gairah yang teramat kuat dan ingin disalurkan.
Liwey dengan susah payah menelan salivanya, menipiskan bibir meredam rasa canggung yang tengah menggerogoti perasaannya.
"Aku -- aku ada yang harus lakukan dengan Ailin, aku harus pergi." Baru saja Liwey ingin melangkah meninggalkan Jing Xuan, sebuah tangan kekar dengan hawa dingin yang khas melingkari pergelangan tangannya.
"Sepertinya -- aku harus memulai hubungan baru yang lebih baik dengan Ailin. Yah hubungan baik." Liwey menatap mata Jing Xuan yang dibalas dengan tatapan tajam dari pria itu. Seketika itu juga Liwey kesulitan bahkan hanya sekedar menelan ludah.
"Tapi aku ingin bersama-sama dengamu." Jing Xuan sudah menarik Liwey kedalam pelukannya, kedua tangan Jing Xuan melingkari pinggang ramping Liwey.
"A-- apa yang akan kau lakukan?"
"Melakukan hal yang seharusnya dilakukan oleh sepasang kekasih, apalagi yang sudah menikah seperti kita." Jing Xuan membisikkan perkataannya tepat di telinga Liwey, hembusan nafas Jing Xuan menerpa leher dan telinganya, menggelitik bagian tersensitif bagi Liwey.
Liwey sudah tidak kuat menahan pesona dan gairah yang diciptakan Jing Xuan untuknya. Ini tidak benar, mengingat dimana sekarang mereka berada.
"Tapi ini di luar!!" Dengan sigap Liwey mendorong tubuh Jing Xuan sekuat tenaga, membawa pria itu mundur beberapa langkah darinya.
"Kali ini aku ada urusan dengan kasim Tang, selamat tinggal." Liwey berjalan cepat meninggalkan Jing Xuan, ia tidak ingin pria itu menghentikan dirinya dan berakhir dengan dirinya yang terbuai oleh perlakuan Jing Xuan. Jujur, jika Liwey tidak pergi menjauh dari pria itu maka ia tidak akan bisa menjelaskan apa yang akan terjadi selanjutnya. Bagiamanapun juga, Liwey sudah terbuat oleh Jing Xuan.
__ADS_1
Jing Xuan menyenderkan tubuh sampingnya dipilar kayu, menyilangkan kedua tangan didepan dada. Jing Xuan terkekeh, gelagat Liwey sungguh menggelitik hatinya. Raut wajah kikuk dari istrinya itu membuat Jing Xuan jadi menginginkan lebih. Beruntung Liwey segera kabur menjauh darinya, dengan segala macam alasan yang menurutnya lucu.
Jing Xuan terkekeh, bagaimana bisa gadis itu membawa nama Ailin sebagai alasan untuk menjauh dari Jing Xuan. Tapi, sepertinya Jing Xuan sedikit bersyukur. Jika Liwey tidak kabur, maka Jing Xuan tidak akan bisa menahan gairahnya dan itu tidak baik. Lebih bagus jika ia melakukannya di malam hari dengan banyak lilin aromaterapi, mungkin itu akan lebih baik. Ah ... Jing Xuan jadi ingin mencobanya.
...°♡°...
Warning keuwuwan ini hanya dapat dilakukan oleh pasangan yang sudah menikah☻☻
Tbc ...
Tdu tdu tdu tdu ...
Gimana dengan part ini, berikan komentar kalian 😉
Dan buat Jing Xuan, tolong lihat kondisi jika ingin bermesraan.
Jing Xuan : Katakan saja kau iri!!.
Ukgh ... itu menyakitkan Jing Xuan. Tapi tak apalah, kalian pasangan yang sudah menikah. Hanya saja, lihat konsisi dan situasi.
Jing Xuan : Aku sudah berusaha menahannya.
Tapi jika Liwey tetap berada di sana kau akan memakannya saat itu juga.
Jing Xuan : Aih sudahlah.
Ah ... aku sayang Jing Xuan, tenang saja. Setelah ini kau akan mendapatkan apa yang kau impikan.
Uwwu dapat bocoran tak ...
Nantikan chapter selanjutnya entar malam.
__ADS_1
Salam Audhi Kim.😉😉