Qu LiWey

Qu LiWey
Bagian 40 : Apakah Aku Mencintainya?


__ADS_3

...Hallo...


...Jangan lupa Klik 👍 sebelum membaca dan Klik 💜 untuk menjadikan Qu Liwey di list favoritmu....


...Audhikim...


...🤓...


...________________...


"Putri Jing, aku dengar kau di culik?!" Liwey serta Jing Xuan segera menoleh ke asal suara, keduanya mendapati selir Huang mematung di ambang pintu, dadanya bergerak naik turun dengan cepat untuk menetralkan deru nafasnya yang bersahut-sahutan.


"Apa anda berlari untuk sampai di sini, Selir Huang?" tanya Jing Xuan. Penampakan selir Huang dengan hanfu hijau muda yang terlihat berantakan juga hiasan kepala yang agak miring membuat Jing Xuan memikirkan spekulasi itu. Karena kalau dirinya tidak berlari, penampilannya tidak akan sekacau ini bukan.


Selir Huang menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Tangannya bergerak ke kepala, melepas tusuk konde dari sanggulnya dan membiarkan surai hitamnya itu tergerai sempurna. "Aku begitu khawatir akan kondisi Putri Jing, hingga tak memikirkan martabat ke anggunan untuk sampai kemari," ujarnya di sela menyisir rambut dengan jemari.


Jing Xuan mengangguk kecil, kembali ditatapnya wajah istrinya itu lembut. "Aku akan meningalkanmu dengan selir Huang, ada sesuatu yang harus ku urus." Liwey mengangguk sebagai jawaban. Jing Xuan tersenyum kecil kemudian mendaratkan bibirnya tepat di dahi Liwey. Mengecup dahi istrinya itu lembut dan dalam.


"Aku mencintaimu," ucapnya lalu beranjak berdiri, tangan kekarnya mengelus pelan puncak kepala Liwey kemudian membungkuk singkat sebagai hormat pada selir Huang yang ada di sana setelahnya keluar dari ruang kamar Liwey. Ada satu hal yang harus ia kerjakan sekarang.


Selir Huang mengulum senyumnya saat melihat kedekatan antara Jing Xuan dan juga Liwey. Terbersit rasa iri juga, karena dirinya tak pernah diperlakukan seperti itu oleh kaisar. Tapi, tetap saja dirinya bersyukur karena sudah dipertemukan dengan kaisar.


Selir Huang berjalan mendekati Liwey, rambut hitam panjangnya ia gulung asal membentuk sanggul tak beraturan. Senyum merekah di wajahnya, duduk di sisi ranjang Liwey tangannya mengambil tangan dingin Liwey untuk ia genggam.


"Apa kau sudah merasa baikan?" tanyanya. Liwey hanya mengangguk membalas pertanyaannya.


"Kau beruntung, Nak." Liwey mengerutkan kening mendengar penuturan wanita tiga puluh tahunan ini. "Kau mendapatkan suami seperti Jing Xuan," lanjut selir Huang.


Liwey menunduk, benarkah dirinya beruntung mendapatkan suami seperti Jing Xuan. Sejauh ia mengenal Jing Xuan, dirinya selalu merasa di lindungi walaupun di awal-awal hubungan mereka Jing Xuan masih seolah tak menganggap keberadaan dirinya. Tapi, Liwey tahu, jika sebenarnya Jing Xuan sangat perhatian dan memiliki kekhawatiran berlebih akan dirinya. Dia jadi ingat, akan cerita Jiali yang mengatakan jika Jing Xuan selalu menghampiri kamarnya saat dirinya tak sadarkan diri akibat menyerap suhu dingin yang keluar dari tubuhnya, dan juga perkataan Liancheng tentang seseorang yang menunggu dirinya terbangun karena khawatir. Seseorang itu adalah Jing Xuan. Dari awal, Jing Xuan memang sudah memberikan perhatian lebih terhadap dirinya, dari awal, Jing Xuan sudah mencintai dirinya.


Apakah Liwey jahat, jika dirinya masih tak membalas perasaan Jing Xuan saat dirinya sendiri tak mengerti akan perasaannya sendiri?


"Sudah lama aku tak melihat raut wajah khawatir Jing Xuan, sudah delapan tahun sejak ia mengkhawatirkan keadaan ibunya dahulu. Tapi kini, aku melihatnya lagi. Raut khawatir saat dirinya menatap wajah tidurmu, Nak." Liwey tersentak dari lamunannya, matanya menatap Selir Huang.


"Entah bagaimana bisa kau mengubah sifat dingin Jing Xuan, Nak. Ahh, aku iri. Bahkan cara dia menatapmu menunjukkan jika dirinya sangat mencintaimu." Selir Huang menatap pintu kamar Liwey yang terbuka, seorang pelayan yang ia perintahkan membawa teh datang dengan nampan berisi cawan dan teko yang berisi teh camomile dan juga cemilan manis kedalam ruangan. Meletakkannya ke meja bundar kemudian membungkuk memberi hormat lalu pergi meninggalkan ruangan. Selir Huang berjalan kearah meja bundar, menuangkan teh camomile kedalam cawan giok perlahan.

__ADS_1


"Apa benar Jing Xuan banyak berubah saat bersamaku?" Sebuah tanya keluar dari mulut Liwey, kedua tangannya saling bertautan matanya bergerak liar ke kanan dan kiri pertanda dirinya sedang bingung juga banyak pikiran. Dia sendiri masih berperang akan perasaannya.


Selir Huang tersenyum, diletakkannya teko di atas meja bundar lalu membawa nampan berisi cawan teh dan juga cemilan mendekat kearah Liwey. "Minumlah," katanya sembari mengulurkan cawan giok berisi teh yang diterima Liwey dengan senang hati. Menyesap teh dengan perlahan, Selir Huang tersenyum tipis saat mendapati wajah kebingungan Liwey.


"Kau bingung akan perasaanmu, Nak?" Liwey langsung menatap Selir Huang. Wanita itu tersenyum lembut, cawan teh miliknya ia simpan kembali ke dalam nampan. Kedua tangannya terulur mengusap lembut wajah pucat Liwey.


"Dengar, aku ingin bertanya apa yang kau rasakan saat bersama dengan Jing Xuan?"


Liwey menipiskan bibir, matanya bergerak liar. "Aku ... merasa nyaman dan dilindungi."


Selir Huang kembali menyunggingkan senyum, "ceritakan padaku saat dimana jantungmu berdegup kencang?"


Liwey mendongak, menatap iris coklat selir Huang. "Saat dekat dengan Jing Xuan, saat dipeluk olehnya, saat ...." Liwey tak sanggup melanjutkan perkataannya, semua rasa aneh yang selalu ia rasakan selama ini memang berasal dari Jing Xuan. Mulai dari takut, penasaran, dilindungi, berdebar dan juga perasaan hangat dan nyaman semuanya dari Jing Xuan. Apa itu artinya, dia juga mencintai Jing Xuan atau malah merasa seperti dilindungi seorang ibu? Karena sejatinya, Liwey terdampar di dunia ini, orang yang paling dekat dengan dirinya hanya Jing Xuan dan Jiali. Jadi sudah pasti dia merasa ....


Liwey sontak membulatkan matanya, sebuah kesadaran menohok pikirannya. Jiali, gadis itu juga membawa kesan melindungi serta hangat dan nyaman, namun gadis itu tak memberikan kesan berdebar seperti Jing Xuan.


Sebenarnya apa maksudnya ini?


"Kau mencintainya, Nak."


"Wajar jika kau merasakan perasaan dilindungi saat bersama dirinya, itu juga bagian dari cinta. Cinta itu rumit, Nak." Liwey menatap lurus Selir Huang. "Kau hanya perlu menyakinkan perasaanmu, Nak. Aku sangat yakin Jing Xuan mencintaimu."


Liwey menelan susah payah salivanya, cawan berisi teh miliknya bergetar kecil. "Apa aku mencintainya?"


Suara pintu kamar terbuka, Selir Huang langsung menyunggingkan senyumnya melihat siapa yang hadir di sana. Diraihnya cawan teh dari tangan Liwey kemudian menyimpannya di atas nampan. Di remasnya tangan Liwey pelan. "Buktikan, Nak. Yakinkan hatimu sayang." Selir Huang mengelus pelan surai kecoklatan Liwey kemudian beranjak dengan membawa nampan keluar dari kamar.


Selir Huang menundukkan sekilas kepalanya kearah Jing Xuan yang masih berdiri di depan pintu lalu keluar dari sana.


Jing Xuan tersenyum, di dekatinya Liwey yang masih terduduk di atas ranjang. "Kau ingin makan sesuatu?" tanyanya.


Liwey diam matanya menatap lekat Jing Xuan yang kini sudah terduduk di hadapannya.


"Apa yang kau rasakan?" Bukannya menjawba pertanyaan Jing Xuan, Liwey malah kembali bertanya.


Jing Xuan mengerutkan keningnya mendengar perkataan Liwey. Apa yang ia rasakan? maksudnya.

__ADS_1


"Apa yang kau rasakan? Kenapa kau mencintaiku?" Mata Jing Xuan membola sebentar, sedikit terkejut akan pertanyaan Liwey namun sedetik kemudian Jing Xuan kembali menetralkan ekpresi wajahnya. Tangannya menggenggam jari jemari Liwey lembut.


"Aku tak tahu, aku hanya merasa kau telah mengubahku, kau membawaku kearah lain, dan juga kau berhasil membuat aku takut hanya karena melihat wajah tidurmu."


Liwey mengerutkan kening. "Kenapa?"


Jing Xuan kini menarik Liwey kedalam pelukannya, meletakkan kepala Liwey lebih dalam kedadanya. "Kau mendengarnya? Jantungku selalu berdetak cepat saat bersamamu, awalnya aku mengira aku sakit namun setelah sekian lama aku akhirnya menyadari jika kau telah mengubahku dan membuat diriku selalu berdebar saat bersamamu ...."


"Kau juga membuatku takut Liwey, aku takut kehilanganmu, kekhawatiranku berkali-kali lipat saat melihatmu tertidur, aku harus memeluk dirimu agar aku merasa nyaman. Awalnya aku tak menyukai perasaan ini, namun semakin lama, aku sadar, jika perasaan yang kau timbulkan terhadap diriku semata-mata karena aku telah mencintaimu..."


"Rasa itu semakin dan semakin besar seiring berjalannya waktu, aku merasa takut, bahagia dan khawatir secara bersamaan hanya karena mu. Kau telah merubah hampir seluruh dari hidupku, kau yang meyakinkan diriku, jika aku jatuh cinta padamu tanpa kau melakukan apapun untuk itu."


Liwey tersenyum dalam dekapan Jing Xuan, rasa nyaman dari jantungnya yang terus berdebar cepat membuat dirinya yakin. Jadi selama ini, perasaan aneh yang ia punya karena sejatinya dirinya sudah menyimpan rasa yang sama dengan Jing Xuan. Dirinya juga mencintai Jing Xuan.


"Terima kasih." Sepertinya aku juga mencintaimu.


...°♡°♡°♡°...


Tbc ...


Gaje, iyaaaa pasti ... kenapa, karena Audhi gak paham soal cinta, bahkan sejauh ini Audhi naksir sama orang Audhi gak pernah tuh rasanya dugun dugun kalo dekat dia ... Audhi kagak pernah berdebar ...


jadi maafkan Audhi jika part ini jauh dari kata sempurna manteman ...


baru kali ini Audhi nulis satu part dengan 1000 kata butuh waktu 5 jam ...


tapi semoga kalian terhibur,


untuk besok, sepertinya Audhi gak akan update ... karena Audhi harus mengerjakan tugas Audhi ...


Dan bakalan Audhi ganti di hari lain dengan tripple update tapi di jam yang berbeda, hanya saja masih di hari yang sama ...


okedeh ...


Kalo begitu Happy Reading.

__ADS_1


__ADS_2