
...Like dan komen...
...Jangan lupa...
...Audhikim...
...🤓...
..._____________...
Desah*n dari dua sosok yang tengah bergumul panas mengisi seluruh ruangan. Lantai kayu ruangan itu dipenuhi oleh serakan dari helai demi helai pakaian yang keduanya pakai. Er*ngan, desis*n kenikm*tan, juga teriakan lirih penuh gairah menjadi musik pengantar yang mengalun menemani waktu malam.
Yanzhi semakin menekan miliknya untuk masuk lebih dalam, meng*rang pelan menikmati tiap gerakan demi gerakan penuh gairah yang kini tengah ia lakukan. Di angkatnya Ailin untuk duduk berhadapan dengannya. Menghent*k pelan, iris kelabu miliknya bertatapan pada iris kecoklatan Ailin yang juga tengah menatapnya sayu dengan sirat gairah yang menggebu.
Bergerak perlahan, Yanzhi menyingkirkan rambut panjang Ailin yang menempel di pipinya akibat keringat. Pergumulan mereka sudah berlangsung lama sejauh ini, namun kedua insan itu masih tak ingin lepas dari sentuhan menggairahkan yang terus terjadi.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang? Liwey berhasil selamat dari rencanamu waktu itu," ucap Yanzhi. Kembali pria itu menghent*kkan miliknya lebih dalam lagi, membuat Ailin tak dapat menahan des*han dan er*ngan kenikm*tan yang selalu membuatnya gila.
Hah. Ailin mengatur nafasnya, agar dapat berbicara normal kepada sosok pria dihadapannya. "Aku tak tahu ..." Ailin mendongak saat Yanzhi meletakkan kepalanya di ceruk lehernya. "Pangeran Jing Xuan sudah mengetahui jika aku terlibat, dan aku yakin dia tidak akan menerimaku untuk tinggal di kediamannya setelah ini," lanjutnya.
Yanzhi menarik kepalanya, masih sembari bergerak perlahan, Yanzhi menatap lekat wajah Ailin yang memerah. "Kalau begitu tinggal lah dikediamanku."
"Itu suatu keuntungan buatmu, Putra Mahkota."
"Bukankah kau menyukainya." Yanzhi tersenyum nakal. Kini hentakan yang ia lakukan tak lagi perlahan. Gerakan tubuhnya cepat menghent*k Ailin, membuat gadis itu kembali tak kuasa menahan de*ahan yang keluar.
Yanzhi terkekeh, tak lama kemudian menger*ng pelan sembari masih mengh*ntak cepat dan dalam. "Kau tak bisa menolakku, bibi angkat," bisik Yanzhi di telinga Ailin, gadis itu tak merespon. Gerakan Yanzhi menghantam dirinya sungguh membuat Ailin tak dapat mengeluarkan kata selain des*han kenikm*tan.
"Jadi ..." Yanzhi semakin mempercepat tempo hentakannya, sampai ranjang kayu yang mereka tempati berderik kecil. Sesuatu yang besar ingin menerobos keluar, "tinggallah bersama ... ku, arggh." Erang*n keduanya terdengar nyaring memenuhi seluruh isi kamar. Ailin jatuh terkulai di dalam pelukan Yanzhi, nafasnya berderu tak teratur.
"Bagaimana?" tanya Yanzhi, dirinya menginginkan jawaban dari wanita yang tengah ia peluk kini. Pria itu tersenyum saat merasakan jika Ailin mengangguk kecil.
"Huh, kau membuatku iri manusia." Sebuah suara mengangetkan Yanzhi. Diliriknya Ailin yang masih setia dirinya peluk, dari deru nafasnya dapat Yanzhi pastikan jika gadis itu telah tertidur. Tanpa sadar Yanzhi menghela nafas lega.
"Aku yang membuat jal*ng itu tertidur." Yanzhi mengerutkan dahi tak suka mendengar penuturan sosok itu, baginya Ailin bukan jal*ng. Karena wanita itu tak mengobral dirinya dengan pria lain selain dirinya.
__ADS_1
"Ck, terserah apa yang kau pikirkan." Asap hitam tipis bergelung di kursi panjang dekat jendela kamarnya, semakin lama asap itu memekat kemudian membentuk sebuah sosok pria dengan jubah hitam bertudung tengah terduduk menyilangkan kaki di sana.
Kening Yanzhi mengerut dalam.
Siapa?
Apakah ini sosok manusia dari suara itu?
"Mau sampai kapan kau tetap dalam posisi itu, aku kemari bukan untuk melihat kalian bercint*, ck." Sosok itu mendecakkan lidah.
Yanzhi sedikit gelagapan. Bagaimanapun juga dirinya malu jika dihadapkan dengan situasi seperti ini, saat dirinya baru selesai akan kegiatan panas dan belum sempat bebersih diri kemudian seorang tamu datang dan langsung menerobos kamar tanpa peringatan.
Dengan cepat, pria itu melepas penyatuan mereka, membaringkan Ailin di atas ranjang kemudian menutupi tubuh tel*njang gadis itu dengan selimut. Yanzhi dengan cepat memakai celana kainnya, kemudian mengambil jubah hitam yang tergeletak tak jauh dari atas ranjang.
"Kau siapa?" tanya Yanzhi di saat dirinya tengah memakaikan jubah ketubuhnya.
Sosok yang tengah duduk menyilangkan kaki itu beranjak berdiri, tudung jubah miliknya ia buka perlahan, menampilkan surai hitam yang sangat kontras dengan kulit putih pucatnya. Iris semerah darah miliknya menatap datar Yanzhi, membuat pria itu sedikit bergetar takut.
Huh. Seringaian tipis tercipta di sudut bibir sosok itu. "Apa diotakmu hanya sebatas sel**gkangan wanita? Ah, pantas saja kau sangat lemah," ujar sosok itu sarkas.
"Aku sudah berjanji akan menemui jika kau berhasil membawa Liwey untuk membunuh pria yang ingin mencelakainya. Tapi, waw ... sungguh sebuah sambutan yang menarik, aku menyaksikan pergumulan panas orang lain secara langsung." Sosok itu bertepuk tangan jumawa, membuat Yanzhi mendengus keras.
Sosok itu menatap jari jemarinya. "Aku mempunyai banyak kerjaan, Putra Mahkota!! Dan hanya saat ini aku bebas dari beban itu. Heh. Aku tak seperti dirimu, asal kau tahu."
Yanzhi mengepalkan kedua tangannya, entah kemana rasa gentar saat dirinya menatap iris merah menyala itu tadi. Ingin rasanya Yanzhi mengayunkan pedangnya untuk memotong lidah orang ini lalu memberikannya kepada Lian, singa peliharaannya. Ah, tepat sekali jika singa itu tidak memakan manusia lagi dalam kurun waktu dua bulan ini.
Sosok itu menatap Yanzhi dengan alis kiri terangkat. Mendudukkan dirinya kambali ke kursi, lalu menyilangkan kaki serta tangannya. Sosok itu menggeleng pelan. "Jangan berfikiran seperti itu, kau tidak akan pernah bisa mewujudkannya."
"Lancang sekali kau membaca pikiranku." Yanzhi lupa perihal itu. Perihal akan sosok suara tak kasat mata yang kini sosok manusianya tengah duduk menyilangkan kaki dengan pongah dihadapannya ini dapat membaca pikirannya.
Sosok itu mendengus. "Sudahlah, berdebat dengan Putra Mahkota bodoh sepertimu sungguh tidak berguna. Bagaimana bisa Kaisar itu memilihmu sebagai Putra Mahkota." Sosok itu berdecih sinis. Ditatapnya iris kelabu Yanzhi tajam. "Dalam dua minggu ini kosongkan kegiatanmu, dan juga kontrol nafsu bejatmu itu. Aku ingin bersenang-senang dengan bantuan darimu."
Yanzhi kesal, sungguh. Tapi dia tak bisa melakukan apa-apa, melawan sosok dihadapannya sekarang? Sama saja bunuh diri. "Aku, Hong Li. Dewa terkuat di dunia atas." Sosok yang mengakui dirinya bernama Hong Li itu tersenyum sinis, setelahnya tubuh miliknya melebur menjadi asap hitam yang perlahan berjalan keluar dari celah-celah ruang kamar Yanzhi.
Pria itu masih mematung sembari memegang erat tali jubah yang ia kenakan. Pikirannya masih mencoba untuk memahami apa tujuan dari perkataan Hong Li barusan. Namun semenit kemudian dirinya menggeleng.
__ADS_1
"Buat apa aku memikirkan itu, lebih baik lihat saja nanti," gumamnya.
...°♡°♡°♡°...
Tidur Liwey terusik saat sebuah cahaya terang memasuki retina matanya dengan paksa. Wanita itu bergerak gelisah dalam tidurnya, ini masih terlalu pagi untuk bangun lebih awal.
"Liwey." Sebuah suara lembut yang familiar menyadarkan Liwey dari kegiatannya mencari posisi nyaman untuk tidur. Tanpa pikir panjang, wanita itu langsung terduduk membuat Jing Xuan juga ikut tersentak dari tidurnya akibat gerakan Liwey.
"Kenapa? Kau mimpi buruk?" Jing Xuan mengucek mata kanannya yang terasa gatal dan berat. Liwey menggeleng, iris matanya menatap dua sosok yang tengah berdiri dihadapannya lekat. Seperempat siku muncul di dahi Jing Xuan, dan pada akhirnya pria itu pun ikut menoleh kearah mana pandangan Liwey terpaku.
"Akhirnya kami bisa menemui kalian." Itu suara dari sosok yang mirip dengan Jing Xuan, Liancheng.
"Kau ...." Liancheng menunjuk tepat didepan wajah Jing Xuan. "Jangan menunda lagi, segera pergi ke kuil itu, kita tak punya banyak waktu."
"Dia sudah bebas, dan aku takut kalian dalam masalah." Kali ini Tan'er yang berucap, ekpresi gadis itu menunjukkan gurat kekhawatiran yang sangat kentara. Dan itu ditangkap cepat oleh Liwey, juga wajah Tan'er lebih pucat dari biasanya. Apa yang terjadi.
"Apa yang terjadi denganmu? Kenapa ...."
"Dia menyerang dunia atas, banyak para dewa gugur dalam penyerangan tiba-tiba yang dia lakukan," jelas Liancheng.
"Tunggu?! Dia siapa maksud kalian?"
"Hong Li."
...°♡°♡°♡°♡°...
Tbc ...
Okeyy ... Selesai part tiga dalam triple up hari ini ...
Pukul 01 : 56 ... waw😲😲
maaf jika telat, dan maaf juga dengan opening yang Audhi berikan di atas ya ...
hehe ... ☻☻
__ADS_1
Happy Reading.💜💜
AudhiKim🤓