
"Tan'er dan Liancheng ..." lirih Liwey, perlahan namun pasti tautan jemari dirinya dan Jing Xuan mulai terlepas. Entah karena apa -- Liwey juga tak mengerti -- langkah kakinya seakan tertarik ke arah dua patung marmer yang menjiplak replika dirinya dan juga Jing Xuan.
Sakit. Hati Liwey mendadak sakit, entah karena apa, Liwey tak tahu. Tinggal lima langkah lagi, hanya lima langkah lagi untuk Liwey dapat menyentuh kaki patung. Namun apa daya, kakinya mendadak lemas. Liwey terjatuh bersimpuh di lantai kayu kuil. Tangannya meremas kuat dadanya yang semakin terasa sesak dan sakit.
Kepala Liwey pusing, kilasan-kilasan suatu kejadian berputar-putar di otaknya. Menunjukkan gambaran demi gambaran abstrak tak beraturan. Liwey tak kuat. Dirinya sudah menjerit sejadi jadinya. Liwey seolah lupa larangan untuk tidak membuat keributan di tempat suci. Sungguh kepalanya berdenyut hebat sekarang, gambaran-gambaran acak yang tengah berputar di otaknya semakin cepat dan bertambah cepat menukar slide demi slide nya, seolah tengah bekerja membentuk suatu gambaran kejadian yang tepat untuk di tunjukkan kepada Liwey.
Jing Xuan tersentak dari berdirinya di depan pintu. Dirinya terkejut mendengar tangis pilu dan juga teriakan Liwey di sana, Jing Xuan tahu Liwey sedang kesakitan sekarang dia harus membantu.
Baru saja langkahnya hendak mendekati Liwey sang biksu berhenti sembari merentangkan tangannya di hadapan Jing Xuan.
"Apa yang kau lakukan?! Apa kau tak melihat istriku sedang kesakitan di sana, eoh?!"
"Anda tak boleh gegabah yang mulia, itu salah satu proses mencapai kebenaran dan tujuan."
"Kebenaran semacam apa yang membuat istriku kesakitan sampai seperti itu?!"
"Hamba tidak tahu, Yang Mulia Pangeran. Anda tenang dan tunggulah."
Argh ... ingin rasanya Jing Xuan menepis tubuh ringkih biksu di depannya ini. Dirinya sungguh tak sanggup melihat Liweynya, istrinya, tengah meringkuk sembari berteriak merasakan sakit. Dia tak sanggup.
"Ah ... persetan dengan kebenaran." Jing Xuan menepis dengan kasar tubuh sang biksu hingga terdorong cukup keras kesamping. Langkahnya besar dan cepat, raut khawatir sagat tercetak jelas di wajahnya. Tinggal lima langkah lagi, dan Jing Xuan akan segera mendapatkan Liwey dalam dekapannya.
Bugh ...
Bagai ada perisai tak kasat mata, Jing Xuan terpental jauh hingga membentur pintu utama kuil. Jing Xuan terkejut, bagaimana bisa?
...******...
Liwey membuka matanya perlahan, rasa sakit di kepalanya sudah berkurang namun tak sepenuhnya hilang. Dirinya beranjak berdiri dari posisi bersimpuhnya.
"Ish ..." Liwey meringis merasakan sakit yang teramat di dada. Pandangannya mengabur, Liwey mengerjap beberapa kali. Sebuah rumah kecil di tengah padang rumput luas dengan beberapa sapi yang tengah menyantap pangan hijau langsung menyapa penglihatan Liwey.
Liwey kembali mengerjab, bahkan kini sudah mengucek matanya dengan kedua tangan sedikit keras. Masih tak percaya dengan apa yang dirinya lihat. Ouh, Liwey memang mengalami kesakitan yang teramat sangat di kepalanya, tapi bukan berarti Liwey menjadi hilang ingatan seketika. Dia masih ingat jika terakhir kali dirinya berada di dalam kuil, lalu kenapa sekarang dirinya berada di tengah savana dengan sebuah rumah kecil yang tampak damai di tengah sana.
"Istriku, aku ingin menikmati susu sapi ini, aku sudah memerahnya, bisakah kau panaskan untukku?"
Liwey menorehkan kepalanya keasal suara. Disana, seorang pria dengan surai putih terlihat berjalan menjauh dari salah satu sapi dengan ember yang Liwey yakini berisi susu menuju ke rumah.
Liwey menajamkan penglihatannya agar dapat melihat wajah pria itu lebih jelas, namun apa daya, surai putih pria itu berhasil menutupi wajahnya.
"Kau selalu suka susu sapi, seperti bayi saja."
Deg
Jantung Liwey berdetak tak beraturan, suara itu ... sangat mirip dengan suaranya.
"Bukankah aku bayi besarmu?"
"Ouh ... bayi besarku ingin minum susu, baiklah aku akan panaskan untukmu."
Liwey kembali mengucek matanya semakin keras, dia tak salah lihat. Sosok yang berdiri di depan sana mirip dengan dirinya dan juga Jing Xuan. Tapi ... bagaimana bisa. Sebenarnya ada berapa kembaran dirinya dan suaminya di dunia ini.
Dapat Liwey lihat, jika sosok wanita yang amat mirip dengan dirinya itu mengambil ember berisi susu dari tangan si pria.
"Aku akan membantumu membuat api," ujar si pria bersemangat.
Liwey berkedip sekali dan betapa terkejutnya dirinya saat mendapati taman savana penuh rumput segar dan beberapa sapi menghilang dan digantikan dengan pemandangan sebuah ruangan dengan tiga buah tungku api yang terbuat dari tanah liat tepat berada di hadapannya.
"Kau juga harus meminum susunya, agar si kecil dapat tumbuh sehat." Sayup-sayup Liwey mendengar suara dari arah pintu masuk dapur.
__ADS_1
"Iya, aku akan meminumnya juga, terima kasih telah memerahkannya untukku."
"Sama-sama."
Liwey berjalan mendekat menuju pintu dan langsung mendapati dua orang itu saling bercengkrama dengan gelas berisi susu hangat berada di atas meja.
"Apa kau bahagia hidup bersamaku?" Liwey masih mengintip memperhatikan interaksi dua orang itu.
Si wanita terlihat mengerutkan kening. "Apa maksudnya, Xuanxuan."
Deg.
Xuanxuan?
"Aku bahagia menikah denganmu, apalagi sekarang aku tengah mengandung buah hati kita, aku sangat baha ... argh."
Mata Liwey membola, entah datang dari mana namun secepat kilat tombak berujung runcing sudah menancap di perut si wanita. Darah mengucur deras dari luka yang ada di perutnya. Liwey menutup mulutnya dengan kedua tangan untuk mendekam suara teriakannya.
"Liwey, apa yang terjadi?! Bagaimana ... Liwey!!"
Slap.
Liwey hendak pingsan rasanya. Pedang yang terbuat dari besi hitam berhasil memutuskan kepala si pria dalam sekali tebas. Bau anyir sudah menusuk indra penciumannya.
Kenapa? Apa yang terjadi? Dan mereka, memiliki nama dan panggilan yang sama dengan dirinya juga suaminya. Sebenarnya apa ini?
Asap hitam menggulung spiral dari bawah ke atas, menciptakan sosok dengan jubah hitam berdiri dengan tawa menggelegar mengisi seluruh ruangan. Liwey bergetar takut.
Perlahan tudung hitam dari orang itu terbuka, iris merah sepekat darah menyambut penglihatan Liwey mata mereka bertubrukan. Ouh Tuhan, apa ini akhir dari hidup Liwey.
cit ... cit ... cit ...
Penasaran, Liwey membuka matanya perlahan. Tersentak, Liwey tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sekarang bukan lagi adegan berdarah dengan satu sosok bermata merah menyeramkan lagi yang ia lihat, melainkan ruangan dengan puluhan burung warna warni yang terjebak dalam sangkar.
Tring ...
"Ada yang dapat saya bantu Tuan dan Nyonya." Liwey mendengarnya, suara ringkih khas perempuan tua. Matanya menangkap sepasang manusia saling berangkulan memasuki tempat yang kini ia berada.
"Ah ... istriku Liwey sedang mengidam, dia ingin memelihara burung."
"Ah ... ini tempat yang tepat untuk anda kunjungi tuan, istri anda yang cantik ini pasti akan senang." Liwey menyipitkan matanya, sekilas dapat dirinya lihat mata wanita tua itu berkilat merah. Hah. Mendadak Liwey menjadi gelisah.
"Mari, ikut saya," ujar wanita tua itu, kedua pasangan manusia yang mirip sekali dengan dirinya dan suaminya --Jing Xuan-- terlihat mengikuti langkah wanita tua itu menuju satu pintu yang berada di pojok ruangan.
Liwey mengikuti mereka dari belakang, entah kenapa Liwey dapat merasakan aura tak mengenakkan dari wanita tua itu.
"Ah ... ini adalah koleksi burung paling cantik yang saya punya. Sangat cocok untuk wajah cantik seperti istri anda." Si wanita tua mengelus wajah si wanita yang hanya di balas dengan senyuman. Merasa tersanjung akan pujian yang wanita tua itu lontarkan.
"Liwey, kau silahkan pilih."
Wanita itu tersenyum lalu mulai menjalani tiap-tiap sangkar yang berisi dengan banyak macam dan jenis burung. Bahkan dapat Liwey lihat, burung paling langka di abad ke dua puluh satu juga di perjual belikan di sini.
Liwey masih mengikuti pergerakan seorang wanita cerminan dirinya itu. Hingga sebuah suara teriakan mengalihkan atensinya.
Liwey tercekat, wanita tua penjaga toko berubah menjadi sosok pria dewasa dengan mata merah menyala menatap benda seukuran kepalan tangan yang masih berdenyut lemah di tangan kirinya.
Itu jantung.
Liwey syok, bahkan sosok wanita yang mirip dengan dirinya sudah muntah menyaksikan adegan di depan sana. Pria bersurai putih itu kini tergeletak tak berdaya dengan dada kiri berlubang.
__ADS_1
"Ah ... sangat mudah membunuh kalian." Pria berjubah itu tersenyum sinis, diarahkannya tangan kanannya ke depan, seketika wanita itu tertarik ke dekapannya.
Mengelus pelan pundak bergetar sang wanita, pria berjubah hitam itu menyeringai. "Jangan takut," bisiknya lirih. "Perkenalkan, namaku Hongli, sang malaikat pencabut nyawa kalian."
Jleb.
Liwey membelalak, tangan pria yang mengaku bernama hongli itu masuk ke dalam tubuh sang wanita dan secara paksa mengeluarkan jantung dari dalam sana.
Liwey sesak, penampakan sadis ini sangat tak pantas untuk dirinya lihat. Masih dengan mata terbelalak, Liwey menoleh kearah pria berjubah hitam yang juga tengah menatap dirinya sembari tersenyum sinis.
"Kau selanjutnya." Itu yang Liwey tangkap dari gerakan bibir pria itu.
Liwey menggeleng lemah. Apa maksud dari pria itu berjubah itu, apa dia melihat keberadaan Liwey?
Kini, suara beriak air menyapa indra pendengarannya. Alunan musik RnB mengalun rendah dari speaker yang berada di kabin kapal. Banyak orang bercengkrama, saling tertawa mendengar lelucon satu dengan yang lainnya. Liwey tahu dirinya dimana. Ini adalah kapal yang mereka sewa untuk merayakan hari perpisahan SMA.
"Liwey!!" Liwey berbalik, dapat ditangkapnya sosok gadis yang sangat familiar di ingatannya -- Ah, Jiali -- tengah berlari dengan rambut terurai berlari menuju sosok gadis dengan rambut sebahu dengan tubuh dibalut dress berwarna putih. Itu adalah dirinya, sebelum terjatuh dari kapal.
"Anna!"
"Apa yang kau lakukan?! Ayolah, kita bersenang-senang."
"Tidak, aku masih ingin di sini dulu."
Ingin rasanya Liwey berteriak mengatakan 'ikut lah bersamanya, kau akan selamat jika bersamanya."
"Ya sudah, tapi kalau kau bosan, cari aku disana."
"Baiklah."
Hah. Liwey mendesah lemas. Ini adalah detik-detik dimana dirinya terjatuh, Liwey ingin menghentikan kejadian naas itu namun apa daya, kali ini tubuhnya tak dapat bergerak.
Sulur asap hitam berbentuk spiral melingkupi tubuh Liwey di sana. Ah, dirinya tahu, itu adalah spiral asap kematian yang hongli ciptakan.
"Eh, kenapa aku mengambang!"
Panik, Liwey panik saat itu, dan sekarang juga dirinya panik. Melihat dirinya yang perlahan naik tak memijak lantai namun tak dapat dirinya tolong.
"Apa yang ... arghh!!"
Byur.
Semuanya kembali gelap.
...******...
Liwey tersentak dari tidur panjangnya. Matanya mengerjab menatap langit-langit kamar kuil yang ia tempati. Semua yang dirinya lihat, itu ... terasa sangat nyata.
"Istriku, kau sudah bangun."
...******...
Tbc ...
jangan lupa like and komennya ...
kalau ada typo mohon maaf
Salam Audhikim🤓
__ADS_1