
Tidur Jing Xuan terusik, suara air mengalir terdengar jelas menusuk gendang telinganya. Mengerjab, Jing Xuan berusaha membuka mata. Cahaya yang bersibobrok dengan retina beda warna miliknya, membuat matanya sedikit sakit.
Hah. Jing Xuan menghela nafas saat sudah berhasil membiasakan matanya dengan cahaya yang berasal dari sekitar. Iris beda warna Jing Xuan menatap sekeliling, lalu dengan sigap segera bangkit berdiri. Tubuhnya sedikit oleng akibat gerakan tiba-tiba yang barusan ia lakukan.
Suara desau angin yang bersitubruk dengan dedaunan dari pohon-pohon rindang, juga tetesan deras air yang jatuh dari atas menghidupi simfoni alam dimana Jing Xuan berada.
Keningnya mengkerut dalam, dia tidak ingat pergi ketempat ini sebelumnya, bahkan tempat ini belum pernah Jing Xuan datangi selama masa perang untuk dijadikan tempat istirahat dirinya dan pasukannya.
Tempat apa ini sebenarnya.
Otak Jing Xuan dipaksa untuk mengingat apa yang terjadi. Seingatnya dirinya turun dari kereta kuda dengan aura dingin yang menyelimutinya. Ia ingat, dirinya tak bisa mengendalikan kekuatannya itu setelah keluar dari ruangan kaisar. Lalu ...
Kedua mata Jing Xuan membola, sebuah kilasan ingatan menamparnya.
Dirinya yang tengah kesulitan dalam mengatur kekuatannya yang sudah berbalik menyerang dirinya sendiri, berlari mencari Liwey istrinya. Lalu kilasan dirinya memeluk Liwey serta menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Liwey sontak membuat Jing Xuan menjambak rambutnya sendiri.
Kenapa dia bodoh sekali, kenapa harus Liwey yang ia tuju saat itu. Masih jelas diingatan Jing Xuan saat dimana Liwey tiba-tiba pingsan hanya karena ingin meredam kekuatan yang tak sengaja keluar. Lalu mengakibatkan gadis itu tak sadar 'kan diei selama tiga hari akibat terkena kedinginan parah.
"Arghh...." Jing Xuan mengacak rambut putih sepinggangnya kasar. Dirinya berjalan mondar-mandir, kuku-kuku jari dia gigiti. Sungguh dia bingung. Dia ingin segera menemui Liwey dan melihat keadaannya, tapi dia terdampar di sini. Di tempat yang tak pernah ia datangi.
Jing Xuan berjalan kesana kemari, berusaha mencari jalan untuk bisa keluar dari tempat itu. Dan, entah kenapa tempat ini seperti tidak memiliki jalan untuk keluar. Jing Xuan semakin frustasi saja.
"Kau sedang apa?" Sebuah suara mengintrupsi kegiatan Jing Xuan berjalan mondar mandir mencari jalan keluar.
Ditatapnya sosok cerminan dirinya tengah berdiri bersedekap dada sembari bersandar di salah satu pohon besar di sana. Lalu tak lama, sebuah cahaya menyilaukan mata muncul di sisi pria itu, perlahan-perlahan berubah dan membentuk sosok wanita dengan iris amber dan rambut coklat yang sangat Jing Xuan kenali.
"Liwey," ujar Jing Xuan lirih. Sosok perempuan itu tersebyum ramah, kemudian berjalan mendekati kearah Jing Xuan diikuti oleh sosok cerminan Jing Xuan disana.
"Kau sudah pernah bertemu dengan kami, Jing Xuan." Suaranya lembut, dan Jing Xuan sadar jika wanita yang tengah berdiri sembari tersenyum kearahnya bukan Liwey nya.
Liwey nya tak akan selembut dan seanggun wanita di depannya.
"Aku Tan'er, kita belum sempat memperkenalkan diri waktu itu." Tan'er melirik kearah sosok laki-laki disebelahnya, "dia suamiku, Liancheng."
Jing Xuan menatap dua sosok dihadapannya bergantian, kemudian menghela nafas. "Liwey dalam masalah sekarang," lirihnya.
Tan'er tersenyum maklum, dia mengerti apa yang dirasakan Jing Xuan. "Tenanglah, dia aman."
__ADS_1
"Dan masih menangis terisak karena dirimu." Liancheng menimpali, dan langsung mengalihkan perhatian Jing Xuan yang awalnya menatap tanah berumput teralih kearahnya.
"Menangis?"
"Iya, dia menangis mengkhawatirkan kondisimu." Bukan Liancheng yang menjawab. "Aku bisa merasakannya." Lanjutnya.
"Aku harus kembali, dimana jalan keluarnya?!" Jing Xuan panik. Mereka mengatakan jika Liwey-nya tengah menangis karena mengkhawatirkan dirinya. Itu artinya Liwey masih baik-baik saja saat ini, dan dia ingin segera kembali untuk memeluk istri tercintanya itu.
"Tidak ada jalan keluar disini."
"Jadi aku harus bagaimana?! terjebak di tempat ini selamanya?! Sementara Liwey membutuhkanku sekarang!!" Jing Xuan berteriak frustasi, dijambaknya rambutnya keras lalu sepersekian detik jatuh berlutut di tanah.
"Liwey pasti menderita sendiran," lirihnya.
Liancheng yang mendapati sosok reinkernasinya tengah terpuruk menatap Tan'er, seolah berkata dalam tatapannya.
Hah. Tan'er menghela nafas pelan, kemudian menatap sosok Jing Xuan yang kini tengah berlutut sembari menatap tanah. Bahu pria itu bergetar hebat, dan Tan'er tahu jika Jing Xuan tengah menangis sekarang.
"Kau mencintainya?"
"Sangat," ucap Jing Xuan lirih, matanya masih terpaku pada tanah berumput dibawahnya, "aku sangat mencintainya."
"Jing Xuan, kapan kau akan membawa Liwey ke kuil itu?" Pertanyaan keluar dari mulut Tan'er. Jing Xuan sontak mendongak. Kuil? Ah, iya kuil di timur Dong Yuo, Liwey memang ingin pergi kesana. Namun Jing Xuan belum memiliki waktu untuk membawanya.
"Kau harus membawanya secepatnya, jangan sampai terlambat. Rantai abadi sudah mulai longgar." Kening Jing Xuan berkerut dalam. Apa katanya, rantai abadi? Apa maksudnya.
"Liwey harus tahu tujuan dia kemari." Mengapa dua orang ini seolah mengatakan bahwa Liwey bukan orang dinasti ini, banyak sekali hal yang membuat Jing Xuan penasaran, terlebih akan sosok wanita yang sudah menjadi istrinya.
"Sebenarnya apa yang kalian sembunyikan dariku." Jing Xuan terduduk di tanah, kepalanya masih mendongak menatap wajah dua orang didepannya. "Kalian berkata, seolah-olah Liwey bukan bagian dari dinasti ini."
Tan'er tersenyum hangat menanggapi pertanyaan Jing Xuan. "Kau tak perlu tahu, kalian akan tetap bersama selamanya."
Kening Jing Xuan semakin mengkerut dalam, sebenarnya apa yang tengah di sembunyikan dua sosok ini darinya.
"Jaga Liwey." Liancheng berujar setelah sekian lama diam. "Dan pastikan amarahmu terkontrol, kuatlah, jangan jadikan luka lama membuatmu menjadi tak terkendali." Liancheng berjokok dihadapan Jing Xuan. Iris beda warna keduanya saling bertubrukan.
Tersenyum tipis, Liancheng meletakkan dua jarinya di simbol pentagram di dahi Jing Xuan. "Kembalilah." Setelahnya, semunya gelap. Jing Xuan merasa dirinya tersedot ke dalam lubang hitam hingga terhempas kuat kedasar.
__ADS_1
...°♡°♡°...
Hisshh. Jing Xuan meringis saat merasakan kepalanya teramat berat, membuka mata. Gelap langsung menyapa Jing Xuan, perlahan dirinya bangkit dari tempat tidur. Dapat dirasakannya benda keras seperti menimpa tubuhnya.
Saat dilihat, selimut? Jing Xuan membulatkan mata saat mendapati selimut yang seharusnya menghangatkan tubuhnya berubah menjadi bongkahan es. Sebegitu besarkah aura yang dirinya keluarkan sampai menjadikan selimut kain ini ditutupi es.
Perlahan Jing Xuan menurunkan kakinya ke sisi ranjang. Matanya mendapati kaki ranjang di selimuti dengan benda putih bersuhu dingin. Menggeleng, Jing Xuan merasa jika dia tak sadarkan diri lebih lama lagi. Maka negri Dong Yuo akan terkena musim dingin mendadak.
Mengedarkan pandangan keseluruh ruangan. Kening Jing Xuan mengerut mendapati sosok perempuan tengah bergelung di balik jubah kebesarannya. Jing Xuan menyipitkan mata, berusaha melihat lebih jelas siapa sosok yang tengah meringkuk itu.
"Liwey," ujarnya lirih. Seketika Jing Xuan langsung berlari dan menghampiri Liwey, menepuk pelan pipi wanitanya lembut -untuk membangunkannya.
Liwey melenguh, perlahan tapi pasti iris ambernya terbuka. Hal pertama yang didapatinya adalah wajah Jing Xuan tengah tersenyum kearahnya. Dia tidak salah lihat kan, Jing Xuan tengah menatapnya.
Tunggu, Jing Xuan?
Dengan sigap Liwey langsung beranjak duduk, ditangkupnya dua sisi wajah Jing Xuan. Tangan hangatnya berpadu dengan kulit dingin khas seorang Jing Xuan.
"Kau sudah sadar." Suara Liwey bergetar, matanya tiba-tiba memanas, air mata sudah menumpuk di pelupuk tinggal menunggu untuk jatuh.
"Kau ... membuatku khawatir." Liwey menunduk sepersekian detik berikutnya lengan Liwey sudah melingkari leher Jing Xuan. Wanita itu memeluknya, menumpahkan tangis yang tak sanggup untuk ia tahan.
"Kau membuatku takut, Xuanxuan. Kau .... membuatku takut." Liwey semakin terisak. "Aku takut kau pergi, aku tak memiliki siapapun lagi jika kau pergi."
Isakan Liwey terdengar pilu di telinga Jing Xuan, dengan lembut dielusnya rambut tergerai Liwey lembut sembari mengecup pelan puncak kepala istrinya itu.
"Aku disini, dan aku tak akan meninggalkanmu. Jangan takut dan maafkan aku."
Liwey semakin mengeratkan pelukannya, seolah tak ingin lepas dari tubuh Jing Xuan. Dirinya takut ini mimpi. Liwey kini sudah merapatkan tubuhnya pada Jing Xuan. Dia tidak ingin Jing Xuan lepas darinya.
"Biarkan begini, aku mengkhawatirkanmu."
Dan semoga ini bukan mimpi.
...°♡°♡°...
TBC ....
__ADS_1
Huhuhu..