
Jing Xuan berjalan pelan, tujuannya sekarang adalah kamar yang ia tempati bersama Liwey malam lalu. Perkataan biksu tadi jelas masih terngiang-ngiang di pikirannya.
Hal besar tengah menanti kalian.
Hal besar? Hal besar apa yang biksu itu maksud.
Kutukan itu hanya akan runtuh di tangan sang dewi.
Kutukan? Apalagi maksudnya itu. Arggh ... Jing Xuan mengacak surai putihnya geram. Sungguh, dirinya tak mengerti. Apa maksud dari semua ini. Apa ini mimpi? Tidak, ini nyata. Jadi, apa mungkin ini akal-akalan sihir? Huh. Sihir tak bisa serealistis ini.
Jing Xuan menghela nafas panjang saat dirinya sudah berdiri tepat di depan pintu kamar yang dirinya dan Liwey tempati malam tadi hingga saat ini. Ragu, Jing Xuan ragu untuk masuk. Bukan karena dirinya tak ingin bertemu dengan istrinya, hanya saja dirinya ragu untuk membawa istrinya itu ke kuil utama.
Sang Dewi akan mendapatkannya, saat dia datang kesini.
Perkataan sang biksu masih terngiang-ngiang di dalam otak Jing Xuan. Dia tak ingin Liwey tahu kebenarannya yang sangat Jing Xuan yakini pasti buruk. Ouh Tuhan. Bolehkan Jing Xuan meminta ketenangan untuk hidupnya dengan Liwey. Jing Xuan rela jabatan dirinya di kekaisaran hilang, dia rela koin emas, perak dan tembaga habis tak bersisa, dia rela. Asal dirinya dapat hidup aman bersama istrinya.
Jing Xuan masih terdiam mematung, matanya menatap kosong sepatu kulit yang membalut kakinya. Hingga dirinya tak sadar jika pintu yang sedang ia hadap sudah terbuka.
"Apa yang kau lakukan? Kau ingin masuk?"
Suara lembut mengalun lembut di indra pendengaran Jing Xuan. Pria itu tersentak, langkahnya tersulut kebelakang. Iris beda warna miliknya mengerjab-ngerjab cepat.
Liwey -- seseorang yang membuka pintu -- menelengkan kepalanya ke kiri, sedikit bingung akan reaksi yang di timbulkan Jing Xuan. Apa ada yang salah dengan wajahnya? Sontak Liwey segera meraba wajahnya, mencari sesuatu hal yang membuat dirinya terlihat aneh. Tak ada, wajahnya masih sama. Masih terdiri dari dua mata, satu hidung dan satu mulut. Tapi ...
"Kau kenapa?"
Jing Xuan menghembuskan nafas pelan, dirinya sudah bersikap normal sekarang. Kini, pandangan mata Jing Xuan menatap sayu Liwey, dia tak ingin hal buruk menimpa istrinya ini.
Hanya sang dewi yang dapat menghentikannya.
Siapa? siapa yang harus Liwey hentikan? Itu ... akibat perkataan sang biksu yang itulah berhasil membuat Jing Xuan gelisah sekarang. Dia tak ingin hal buruk menimpa Liwey, tak ingin.
"Hallo ..." Liwey melambaikan tangannya tepat ke wajah Jing Xuan, dirinya gemas sendiri. Pria ini sedari tadi hanya menatapnya, seolah ada hal yang sangat berat yang ingin ia katakan. "Kau kenapa? ada yang ingin kau katakan padaku?"
Jing Xuan masih diam, pria itu masih mempertahankan dirinya menatap wajah Liwey sendu. Hah. Liwey menghela nafas berat, dia kembali teringat tujuannya untuk keluar dari kamar saat ini. Dia harus ke kuil utama untuk bertemu sang biksu agung. Dirinya tak tenang sedari tadi, masih memikirkan kebenaran apa yang akan ia dapatkan di kuil ini.
__ADS_1
"Ya sudahlah jika kau tak ingin bicara, aku akan ke kuil utama."
"Jangan!" Jing Xuan menahan pergelangan tangan Liwey cepat dan lumayan erat, bisa Liwey rasakan pergelangan tangannya di remas kuat. Dahinya mengerut sembari meringis menahan sakit.
Sementara Jing Xuan, pria itu tersadar. Di lepaskannya tangannya dari pergelangan Liwey. Berdiri canggung sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Kenapa dirinya menghentikan Liwey? Apa benar karena dirinya takut? Ouh ... ayolah itu belum tentu benar kejadian buruk bukan.
Baiklah, mulai sekarang Jing Xuan harus mengambil resiko apapun itu. Lagian dirinya sudah datang kemari, tak mungkin pulang tanpa membawa apa pun bukan? Walau sebenarnya Jing Xuan tak tahu apa yang sebenarnya ingin mereka cari di sini.
"Kenapa?" Jing Xuan tersentak dari alam pikirannya. Di tatapnya Liwey yang kini sudah menyilangkan tangan di depan dada menatap Jing Xuan datar. Ah ... Liwey kesal? Iya.
"Maaf." Jing Xuan membenarkan posisi berdirinya. "Ayo kita kesana bersama, aku juga ingin kesana."
Liwey memutar bola matanya malas. Sedari tadi Jing Xuan menguras waktunya sia-sia hanya demi ingin pergi bersama? Tsk, Liwey tak habis fikir. Apa susahnya untuk mengatakannya lebih awal bukan? Dasar, Liwey tak mengerti jalan pikiran pria satu itu.
Kini, keduanya sedang berjalan bersisian menuju ke arah timur bangunan. Dari biksu muda yang sempat Liwey temui barusan, bagunan kuil utama berada di tempat matahari terbit. Langkah Liwey dan Jing Xuan bergema, jubah yang keduanya pakai menyapu lantai koridor kayu kuil yang bersih.
Liwey memperlambat gerakannya, sedari tadi dirinya sedikit heran dengan perubahan sikap Jing Xuan. Pria itu terlihat gugup dan gelisah, jari jemarinya tak henti-hentinya saling bertaut, bahkan kini alis kecoklatan milik Jing Xuan sudah ingin menyatu akibat kerutan dalam di dahinya.
Apa yang dipikirkan olehnya?
Liwey geleng geleng kepala melihatnya. "Hei!" seru Liwey saat dirinya mendapati Jing Xuan sudah berjalan sangat jauh dari dirinya.
"Kau kenapa?" tanyanya kembali.
Jing Xuan tersentak. Memukul kepalanya pelan, Jing Xuan menoleh kebelakang. Pria itu tersenyum kikuk kemudian berjalan menuju tempat Liwey berdiri. Ah ... akibat banyak pikiran Jing Xuan bisa hilang fokus.
Liwey menaikkan sebelah alisnya menatap langkah lunglai Jing Xuan tengah melangkah ke arahnya.
Kenapa lagi dia?
Pertanyaan itu sudah sedari tadi bersarang di kepala Liwey. Tingkah suaminya aneh dan tak seperti biasanya. Apa mungkin suaminya ini buang tabiat? Apa malaikat maut sudah mengikutinya?
"Maaf, kau tertinggal." Jing Xuan menggaruk alisnya.
Liwey kembali geleng geleng kepala. "Kau kenapa? Ada masalah?"
__ADS_1
Jing Xuan diam, dirinya tak tahu harus menjawab pertanyaan Liwey dengan apa. Apa dirinya berkata sejujurnya kalau dia khawatir akan apa yang terjadi pada Liwey saat di dalam kuil nanti? Ah ... tapi pemikiran itu langsung ditepis oleh Jing Xuan. Yang ada Liwey akan mengatakan dirinya terlalu berlebihan. Dan lebih parahnya mengatakan dirinya sakit jiwa.
"Kau kehilangan fokus dan sudah seperti mayat hidup saja." Liwey mendecih. "Apa yang tengah kau fikirkan? Apa wilayah sekutu telah memberontak?"
Hm. Jing Xuan menatapa Liwey dengan alis bertaut. Mengapa malah jadi membahas pemberontak? Lagi pula, Jing Xuan untuk beberapa tahun ke depannya tidak akan turun ke medan perang lagi, karena dirinya yakin jika pihak jajahannya yang kini sudah menjadi sekutu negri Dong Yuo tak akan memberontak.
"Tidak. Pikiranmu terlalu jauh."
"Terus apa?"
Jing Xuan terdiam. Menghela nafas, Jing Xuan menarik pelan pergelangan tangan Liwey dan membawanya untuk ikut berjalan bersama dirinya. "Sudahlah, mungkin aku sedikit kelelahan karena perjalanan yang cukup panjang."
Liwey mengerutkan kening tak percaya. Namun tak urung dirinya mengangguk, lagi pula mungkin ada benarnya jika Jing Xuan memang kelelahan.
"Ayo, kuil utama sudah dekat."
Liwey mengangguk, kini langkah kaki keduanya kembali menapaki lantai kayu menuju pintu besar berwarna merah terang yang menjadi penghubung antara dunia luar dengan bagian dalam dari kuil utama.
Krieeett ...
Pintu terbuka perlahan akibat dorongan Jing Xuan. Liwey menatap suaminya yang tengah mendorong pintu itu dengan tersenyum, kini pandangan wanita itu beralih pada jemari mereka yang bertaut, sungguh hati Liwey mendadak penuh bunga sekarang.
Pintu utama kuil terbuka, di dalam sana tengah berdiri sosok biksu tua yang Liwey yakini adalah biksu agung dan juga Yubo yang tangannya masih diperban.
Tapi, bukan itu yang menjadi perhatian Liwey melainkan dua patung yang merupakan cerminan dirinya dan juga Jing Xuan berdiri kokoh di hadapan sana.
"Tan'er dan Liancheng ..."
...°♡°♡°♡°...
...Tbc...
Jangan lupa tinggalin jejak, gak ngomen gpp,
tapi tolong, klik like di bawah ya ... gak bayar kok, gratis tinggal like doang .
__ADS_1