Qu LiWey

Qu LiWey
Bagian 51 : Dimulai


__ADS_3

Perjalanan pulang menuju kediaman tak mempunyai gangguan berarti, baik dari bandit ataupun musuh kerajaan. Jing Xuan sedari tadi tak tanggung-tanggung menjaga Liwey, bahkan wanita itu sudah ia dudukkan  tepat di pangkuanya dengan alasan agar Liwey tidak terlalu merasakan goncangan dari kereta kuda yang akan membahayakan janinnya.


Iris amber Liwey memutar saat mendengar penuturan Jing Xuan, tapi dia tidak terlalu perduli. Toh, duduk di pangkuan suami tampannya itu dia bisa bermanja sedikit bukan?


Memasuki halaman kediaman, para dayang serta prajurit sudah berbaris menantikan kehadiran mereka. Jing Xuan membantu Liwey turun dengan amat perlahan dan penuh kasih sayang, seakan liwey adalah benda berharga nan amat rapuh.


"Terima kasih," lirih Liwey sembari tersenyum menatap iris beda warna sang suami yang tengah menatapnya lembut. Berjalan beriiringan diikuti beberapa dayang, Jing Xuan masih setia merangkul Liwey penuh kehati-hatian. Tangannya tak lepas dari pinggang Liwey, hingga saat sudah berhasil masuk kedalam kamar yang akan mereka tempati berdua. Liwey dan Jing Xuan dikejutkan dengan kehadiran dua dewa tengah tersenyum kearahnya.


"Aku turut senang atas berita kehamilanmu, Qu Liwey." Tan'er berjalan mendekat sembari mengusap pelan perut Liwey yang masih datar, sebuah senyum miris ia tampilkan. "Kau harus kuat, kehamilanmu kali ini disertai dengan bencana besar yang mungkin akan datang sebentar lagi," lanjutnya.


"Apa maksudmu?" Jing Xuan sedikit menaikkan nada suaranya, matanya menatap nyalang dewi yang amat mirip dengan istrinya itu. Bencana besar? Ramalan bodoh apa lagi yang akan mereka sampaikan, apa mereka tak bisa melihat situasi dan kondisi. Kenapa disaat dirinya seharusnya sedang berbahagia akan kehadiran calon buah hati mereka malah terlihat menakut-nakuti.


Aura dingin menguar diseluruh ruangan sesaat setelah tangan Jing Xuan terkepal erat. Liwey mengambil tangan suaminya, membukanya perlahan sembari terus menatap wajah suaminya yang tampak tak bersahabat.


"Atur emosimu," bisiknya. Dibawanya lelaki dengan surai putih itu duduk tepat disampingnya, tangannya masih dengan senantiasa mengusap pelan lengan Jing Xuan berharap suaminya itu dapat meredakan emosinya.


Setelahnya, Liwey menatap Tan'er sembari tersenyum miris. Menunduk menatap perut datarnya namun terdapat kehidupan di dalam sana. Liwey tak dapat menolak perkataan Tan'er, bagaimana pun kilasan kejadian dirinya dan suaminya terbunuh mungkin salah satu pertanda akan ada peperangan besar yang akan terjadi cepat atau lambat.


"Kami akan membantu semampu kami, bagaimana pun masalah ini terjadi karena kalian adalah bagian dari kami." Liwey mendongak menatap Liancheng yang ternyata kembali memakai penutup mata seperti awal-awal bertemu.


Liwey hanya tersenyum tipis, tangannya mengenggam telapak tangan dingin Jing Xuan dengan erat.


Menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan, Liwey tersenyum lembut menatap Jing Xuan yang tengah menatapnya dengan kening berkerut.


"Jangan seperti ini, kau akan menjadi lebih cepat tuk menjadi tua," ujar Liwey dengan tangan mengusap dahi berkerut Jing Xuan.


"Entah ini pertanda buruk atau bukan, tapi aku sepertinya sudah mendapatkan kilasan tanda yang buruk buat kita." Pernyataan Liwey sontak membuat Jing Xuan menggeleng.


"Tidak, kita tidak akan mempunyai nasib buruk, sayang." Jing Xuan mengelus pelan wajah sang istri. "Kita akan tetap bertahan walau sebesar apapun goncangan yang akan kita hadapi kedepannya."


"Semoga saja, aku tak ingin berpisah darimu. Aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu, sayang." Keduanya saling berpelukan penuh kasih sayang. Tan'er menunduk saat tak sanggup lagi untuk membendung air matanya, dirinya yang membawa Liwey masuk kedalam rencananya. Dia terlalu tak berperasaan membiarkan Liwey sebagai alat untuk membunuh Hongli. Semua salah dirinya.


Liancheng yang menyadari sang istri tengah bersedih membawa Tan'er kedalam pelukannya.


"Aku berharap kalian tetap dipertemukan walau terpisah jarak. Aku tak tahu lagi harus berbuat apa, seharusnya aku tidak egois dengan membawa Liwey kedimensi ini."

__ADS_1


Penuturan dengan penuh isak tangis dari mulut Tan'er membuat sepasang suami istri ntersebut melepas pelukannya. Berbeda ekspresi yang ditampilkan keduanya, Jing Xuan dengan ekpresi terkejut sekaligus keheranan karena tak mengerti akan apa yang dikatakan Tan'er. Sedangkan Liwey malah tersenyum tipis.


"Tak apa, sedikit banyaknya aku sudah tahu akan takdirku sendiri. Serta tujuan diriku terbangun di dunia yang bahkan sempat tak masuk kedalam nalar otak ku."


Jing Xuan semakin bingung. Perkataan Liwey seolah menyiratkan jika istrinya itu bukan bagian dari dunia yang tengah ia tempati, melainkan berasal dari dunia lain? Seberapa banyak rahasia Liwey yang tak ia ketahui.


"Tapi aku merasa bersalah padamu."


"Tidak, aku tak menyalahkanmu, Tan'er. Aku berterima kasih padamu karena telah menyelamatkan diriku, setidaknya dengan kesempatan hidup yang kau berikan. Aku bisa merasakan yang namanya hidup mewah dan juga cinta. Aku amat berterima kasih padamu."


Tidak, Jing Xuan sudah tak tahan lagi untuk tidak bertanya. "Apa maksud kalian, aku tidak mengerti? Istriku, apa maksud dari kesempatan hidup? Apa kau pernah meninggal sebelumnya? Dan apa maksud kau membawa istriku ke dimensi ini? Yang kau maksud dunia ini bukan? Sebenarnya ada berapa rahasia yang kalian sembunyikan dariku," tukas Jing Xuan bingung. Tan'er malah semakin terisak sedang istrinya menunduk dalam dengan tangan mengusap perutnya penuh kelembutan.


"Aku bukan manusia dari zaman ini, Xuanxuan. Aku dari masa depan."


"Masa depan, maksudmu?"


Liwey menatap tepat manik beda warna suaminya itu, matanya memanas bahkan genangan air mata sudah membasahi pelupuk mata siap untuk tumpah.


"Aku bukan Qu Liwey dari dimensi ini, Aku Qu Liwey dari abad 21 yang mati tenggelam." Karena Hongli. Lanjutnya dalam hati.


"Aku masih tak mengerti, apa maksud dari semua ini." Jing Xuan menggeleng tak mengerti.


Jing Xuan semakin mengerutkan dahinya. Dapat dia simpulkan, jika selama ini Liwey yang ia kenal bukan Liwey yang seharusnya menjadi istrinya? Atau mungkin Liwey yang ia kenal adalah Liwey dari abad 21?


Huh ... teka-teki macam apa lagi ini. Terus, mereka membawa jiwa Liwey dari abad 21 kemari hanya untuk dijadikan alat untuk membunuh Hongli. Tapi ... istrinya tengah mengandung, tidak mungkin dia akan ikut jika saja bencana yang mereka katakan terjadi.


Astaga, apa tidak bisa Jing Xuan menikmati hari-hari bersama sang istri dengan damai. Dirinya hanya ingin menikmati hari-hari kehamilan sang istri dengan kebahagiaan. Apa keinginan sederhana itu tidak akan ia dapatkan?


Dua sosok di depannya ini teramat jahat, entah kenapa Jing Xuan merasa jijik menjadi salah satu bagian jiwa mereka.


"Kenapa kalian memberikan kami ujian berat seperti ini? Tidak bisakah kami menikmati hari-hari bahagia sebentar saja," ucap Jing Xuan datar, namun tak perlu dielakkan jika ada nada getir sarat akan kesedihan tersembunyi disana.


"Maafkan aku, maafkan aku." Tan'er semakin terisak didekapan sang suami sementara Liwey terus menunduk dengan tangan yang tak berhenti mengusap perutnya lembut.


Kilas kejadian itu selalu terjadi saat dirinya dalam kondisi hamil muda. Apa sekarang dirinya akan pergi juga bahkan sebelum dirinya bisa melahirkan sang anak kedunia. Apa takdir dirinya juga akan sama seperti di kilasan kejadian tersebut. Jika benar, apakah Liwey bisa menjalaninya.


Semakin lama berkutat dengan pemikirannya tanpa sadar membuat Liwey terisak. Jing Xuan yang menyadari segera membawa sang istri kedalam pelukan. "Kenapa sayang, kenapa kau menangis? Apa ada yang sakit?"

__ADS_1


Liwey menggeleng di dalam dekapan suaminya, perlahan wanita itu melepas pelukan keduanya. Matanya menatap lembut iris beda warna milik Jing Xuan, sembari tangannya mengelus lembut rahang tengah suaminya itu.


"Aku akan menerima takdirku, apapun yang akan terjadi kedepannya. Aku berharap kita dapat dipertemukan kembali, aku amat mencintaimu." Jing Xuan mengeleng cepat.


"Apa-apaan kau ini, kita tidak akan pergi kemana pun. Kau akan tetap aman di sisiku, bersama anak kita juga nantinya."


"Aku berharap seperti itu."


Mereka berdua kembali berpelukan, hingga mereka tak menyadari jika keberadaan dua dewa itu sudah menghilang dari sana.


Sebuah ketukan dari pintu membuat pelukan keduanya terlepas.


"Masuklah," perintah Jing Xuan dingin. Terlihat salah satu kasim kepercayaan sang Kaisar menghadap keduanya dengan baju yang sudah berlumuran darah dengan dua orang pengawal yang memapahnya.


Sontak Jing Xuan dan Liwey berdiri seketika, "apa yang terjadi, kenapa kondisi anda seperti ini?" Tanya Jing Xuan dengan nada khawatir yang kentara. Entah kenapa otaknya mengatakan jika kondisi istana kekaisaran sedang tidak baik sekarang.


"Am-- ampuni hamba yang mulia, pangeran. Tapi-- kerajaan sedang diserang."


Diserang?


"Siapa penyerangnya, dari kekaisaran mana?" Mendengar kata penyerangan membuat Jing Xuan tak kuat untuk menahan amarah, kedua tangannya sudah terkepal kuat namun masih mampu untuk menahan agar aura dinginnya tidak keluar. Bagaimana pun kasim ini tengah terluka, dan dia tidak ingin membuatnya semakin parah.


"Putra Mahkota Yanzhi memberontak Yang Mulia." Tepat setelah perkataan dari sang kasim, Jing Xuan menendang salah satu meja hingga terbelah menjadi dua. Apa sebenarnya yang ada dalam pikiran saudaranya itu.


"Aku akan segera kesana untuk menghantikan pemberontakan. Pengawal perintahkan pada Yubo untuk menjaga istriku sementara aku berada di istana kekaisaran."


Jing Xuan berbalik, menatap dalam Liwey. "Aku akan segera kembali, ingat jangan pergi kemanapun aku tidak ingin kau terluka."


Setelah mendapat anggukan dari sang istri, Jing Xuan segera beranjak dari sana meninggalkan Liwey sendirian di dalam sana.


"Apa ini takdir yang di maksud?" ujar Liwey lirih. "Maafkan Ibunda jika tak bisa melihat dirimu lahir anakku."


...--------------------...


......Bersambung.......


Hai ... aku kembali lagi setelah sekian lama menghilang dari peradaban, semoga part kali ini dapat melepas rindu kalian pada Liwey dan JingXuan ehe ...

__ADS_1


Btw kita udah dengan dengan end, semoga aja Audhi bisa buat klimaks yang terasa nyata. Jangan lupa doakan Audhi manteman.


See you di next chapter.


__ADS_2