Qu LiWey

Qu LiWey
Bagian 6 : Attack.


__ADS_3

Edit : Ini versi revisi, semoga suka😊


Huwaaaaa.... Audhi mau curhat dulu sama pembaca. Audhi ini ternyata ARMY yang tak berperasaan.. Bagaimana bisa Audhi lupa kalau BTS sudah comeback.. tapi Audhi belum lihat... Haaaaaa...


Audhi baru tau tadi.. saat otak atik fb. Audhi liat mv terbaru BTS yang keren abis...




Mv Bts On.. keren abisss....


hamil online audhi dibuatnya...


wahhhhhh.... keren banget para pangeranku.. lebih keren dari pangeran heterochromia di cerita...


dan audhi bakal kenalin suami audhi...



Wahhh... the shadow like me..


wehhh... aku jatuh cinta.. tatapan si babang bikin audhi meleleh kayak liquid... wahahaha


Jing Xuan : lebay lu Dhi.


Liwey : Wah... ada cogan... otw embat...


Jing Xuan : mau berselingkuh dariku Liwey.


Liwey : Pengennya gitu, tapi itu milik si author..


Audhi : MC terbaik...


ehh... Baiklah audhi bakalan masuk ke cerita ..


Tapi Audhi masih mau menikmati wajah bang tetet dulu lah



Bening banget bang kayak boneka 😍😍


Okeyy... Back to my story...


~♡~


Hah... Hah... Hah...


Deru nafas memburu keluar begitu saja dari mulut gadis cantik ber iris amber. Kakinya melangkah cepat, sedetik kemudian setengah berlari, sedetik kemudian berlari dengan sangat kencang. Peluh sudah tak dapat lagi dikontrol, mengalir cepat membasahi hanfu putih yang dikenakannya.


Entah kenapa? Dia juga bingung. Gadis itu sendiri bahkan tak bisa mengendalikan langkah kakinya. Seolah kakinya telah dikendalikan oleh orang lain. Langkahnya terhenti, tepat berhadapan dengan seratus anak tangga dan juga gerbang bercat merah yang pintunya terbuka lebar. Seolah sudah mengizinkan gadis itu untuk masuk kedalamnya.


Pandangan matanya mengitari sekeliling, dia ingat tempat ini. Tempat dimana dia melihat suaminya tengah bertarung dengan seseorang.


Dan juga tempat dia bertemu dengan hantu mata perban. Sang gadis tersentak, saat tiba-tiba saja kakinya melangkah menaiki anak tangga, memasuki gerbang dan berhenti tepat didepan sebuah kolam kecil berisi beberapa bunga lotus yang belum mekar.


"Qu Liwey." Suara lembut seseorang mengalihkan atensinya. Dengan segera gadis bernama Qu Liwey membalik badan. Alisnya bertaut hampir menyatu menatap seorang wanita cantik dengan hanfu putih serta jubah perak berkibar diterpa angin. Rambut coklat madunya dibiarkan tergerai tanpa satupun tusuk rambut.


Mata amber berkilauannya menatap lembut Liwey. Langkah Liwey tersulut kebelakang saat diketahui wanita didepannya sangat mirip dengan dirinya. Bagaimana bisa?


"Kau pasti bingung akan diriku bukan?" Liwey mengangguk polos. Wanita didepannya, yang sialnya sangat teramat mirip dengan Liwey tersenyum lembut. Membuat Liwey terpana akan kecantikan wanita didepannya. Liwey tidak pernah tahu kalau dirinya akan sangat cantik saat tersenyum seperti itu.


"Aku adalah dirimu, dan dirimu adalah aku." Dahi Liwey mengerut dalam. Tak mengerti akan arah pembicaraan wanita didepannya.


"Maksudmu?"


Wanita didepannya tersenyum menanggapi pertanyaan Liwey, tapi tak satupun kata jawaban keluar dari bibirnya. Membuat Liwey menggeram dalam hati. Apa wanita ini tidak tahu, kalau Liwey tidak suka menunggu.


"Kenapa kau tak bersuara?" Liwey bertanya dengan nada kekesalan yang amat kentara.


"Apa kau yakin akan adanya reinkarnasi?"


Liwey terkekeh pelan. "Hei... reinkarnasi itu tidak ada, itu hanya mitos orang jaman dahulu."


"Benarkah?" Liwey kembali mengerutkan dahinya, tapi tak lama dia mengangkat sebelas alisnya. Menyilangkan kedua tangan didepan dada. Menatap malas wanita didepannya.


"Iya, kenapa? Apa kau percaya akan reinkarnasi? pasti kau orang kolot." Liwey berdecih remeh.


"Hei... secara tak langsung kau mengatai dirimu sendiri kolot." Suara barithon yang entah dari mana asalnya terdengar jelas ditelinga Liwey. Matanya bergerak kesana kemari, mencari seseorang dengan suara yang bisa dikategorikan emm... sexi oleh Liwey.


"Aku disini." Liwey segera menoleh ke kanan saat suara itu kembali terdengar dekat disebelah kanannya. Liwey membelalakkan mata. Saat mendapati sosok hantu mata perban berdiri disampingnya. Tanpa sadar, Liwey menampar kencang pipi hantu pria itu, lalu berlari bersembunyi di belakang tubuh wanita yang mirip dengannya.


"Kenapa hantu gagal operasi mata itu ada disini." Liwey berseru takut dibelakang tubuh wanita berhanfu putih. Sekali lagi Liwey mengerutkan keningnya saat mendengar wanita didepannya tertawa dengan anggun, sembari menatap geli pria dengan mata ditutupi perban yang masih memegang pipi kanan yang terlihat memerah akibat tamparan Liwey.


"Kau tidak ada anggun-anggunnya gadis muda, kau tidak cocok sebagai reinkarnasi Putri Bulan." Gerutu pria mata perban itu. Liwey menatap takut si pria, dan betapa terkejutnya Liwey saat melihat pria itu tidak lagi mengenakan perban. Kini dapat Liwey lihat dengan jelas iris mata berbeda warna didalam matanya.


"Pangeran heterochromia." Liwey berseru tak percaya, perlahan ia keluar dari tempat persembunyian --punggung wanita yang mirip dengan dirinya-- mendatangi pria berambut putih dengan tangan menyentuh dagu.

__ADS_1


"Kau selain mesum ternyata penguntit juga ya." Hah... pria didepannya menaikkan sebelah alis tak mengerti.


"Kenapa kau mengikutiku sampai kesini? Ah... apa kau sudah mencintaiku, itu sebabnya kau mengikuti kemari? Tapi maaf sebelumnya, aku tidak mencintaimu." Liwey mengibaskan rambut coklat madu miliknya hingga mengenai pria dihadapannya.


Pria itu mendengus kesal. Mengusap wajahnya yang terasa panas terkena tamparan rambut Liwey. Sekarang dia mengerti, Liwey menganggapnya sebagai suaminya.


"Kau sangat percaya diri anak gadis. Bahkan suami mu itu malu menikahi gadis bodoh yang bahkan idiom mudah saja tak dipahami. Bagaimana suami mu bakalan mencintaimu, seharusnya kau bercermin, gadis kecil."


Liwey menggeram, tanggannya terkepal bersiap meninju pria putih dihadapannya.


Bughh...


Satu pukulan mendarat mulus dihidungnya.


"Hei... sudah pasti aku tidak mengerti dengan idiom china seperti itu, aku bersekolah di SMA yang mengajari ku untuk menjadi koki dan handal di dapur. Bukan belajar tentang sastra kuno." Liwey terlihat emosi, iris ambernya berkilat dengan pandangan menggelap tepat ditujukan kepada pria yang kini sudah berdiri dengan memegang hidungnya yang terasa bengkok.


"Ahh... istriku, bagaimana bisa gadis bar-bar seperti ini menjadi reinkarnasimu, tidak ada lembut dan anggunnya sedikit pun." Liwey kembali hendak meninju pria didepannya namun gerakannya seolah terkunci, tubuhnya bahkan tak dapat digerakkan. Ada apa dan kenapa? kenapa bisa seperti ini? Liwey hendak bersuara menyuarakan protes. Namun suaranya mendadak hilang.


"Heh... seperti ini lebih baik." Pria berambut putih mengalihkan tatapannya kepada wanita yang sangat mirip dengan Liwey.


"Kita tidak bisa menjelaskannya sekarang. Tunggu waktunya tepat." Pria itu menatap Liwey dalam. "Sampai dimana dia mendapatkan penglihatan ke enam reinkernasiku dibunuh oleh orang yang sama." Liwey tersentak saat dirasanya suhu disekitarnya berubah dingin dan juga banyaknya kilatan petir menyambar dilangit. Liwey ingin menutup telinga dan terduduk menyembunyikan wajahnya dilipatan lututnya. Tapi dia tak bisa, tubuhnya masih kaku. Yang dapat dilakukannya hanya menutup mata, mencoba untuk tidak melihat kilatan-kilatan petir diatasnya.


Wanita berhanfu putih menatap Liwey, dia mengerti kalau gadis itu tengah ketakukan akibat kekuatan suaminya. Perlahan ditepuknya pundak sang suami. Tersenyum lembut lalu mengarahkan dagunya tepat kearah Liwey yang tengah menutup rapat matanya. Tengah ketakutan.


Seketika petir berhenti beraksi, suhu disekitar mereka kembali normal. Liwey perlahan membuka matanya. Iris ambernya menatap kedua orang didepannya pias.


"Ini belum saatnya, saat kau melihat kilasan kejadian itu. Baru kami akan memberitahumu. Sekarang kembalilah." Liwey terhuyung kedepan saat tiba-tiba tubuhnya dapat kembali di gerakkan.


Liwey mendengus geram. Baru saja ia ingin menyuarakan pertanyaan yang sedari tadi menggerayangi otaknya. Sebuah cahaya putih menghantam tubuhnya. Liwey merasa seperti diputar-putar menuju ketitik putih diujung. Kepalanya berdenyut. Lalu ditarik ke atas dan dihempaskan dengan cepat kebawah.


~♡~


"Hah..." Liwey langsung terduduk dari berbaringnya. Pandangannya menggelap, ruangan disekitarnya serasa berputar-putar. Kepalanya berdenyut sakit. Telinganya mendengung hebat.


Menutup mata. Liwey berusaha meredam rasa tak enak akibat gerakan refleks nya barusan.


"Hah... ini sangat tidak enak." Liwey memijit pelipisnya pelan. Helaan nafas keluar dari mulutnya. Pikirannya kembali melayang ke mimpinya tadi malam. Dia bertemu dengan seorang wanita yang mirip sekali dengannya dan juga pria yang sangat mirip dengan si pangeran heterocromia. Dan mereka membahas reinkarnasi.


Lalu apa maksud mereka kejadian? kejadian apa? Liwey kembali memijit pelan dahinya. Entah kenapa kepalanya jadi sedikit sakit memikirkan mimpi aneh itu.


"Nona akhirnya anda bangun." Jiali berjalan mendekati Liwey, tangan kanannya menenteng timba kayu berisi air.


"Jam berap... ahh maksudku waktu apa sekarang?" Jiali tersenyum.


"Sekarang sudah akan memasuki waktu makan siang nona, dan pangeran Mo Jing Xuan meminta anda untuk makan siang bersama di ruang makan kediaman."


"Ayo..! bantu aku mandi." Liwey tersenyum lalu pergi kearah bilik mandi diikuti oleh Jiali.


Sementara diruang makan kediaman pangeran ke-4. Jing Xuan, Yubo dan dua selir yang sedari tadi menunduk dengan senyum malu-malu sudah bersiap duduk dihadapan meja kecil berisi berbagai hidangan makan siang.


Suasana canggung sangat kentara diruangan itu. Para pelayan menunduk, Yubo yang berdiri disamping Jing Xuan sesekali melirik kearah pintu masuk, menantikan seseorang. Dan dua selir yang duduk bersebrangan dengan Jing Xuan, kini terlihat mulai mendengus bosan. Makanan yang terhidang dimeja makan sudah dingin.


"Pelayan, Siapkan makanan baru," Ucap Jing Xuan datar. Pelayan yang berada disekitar ruang makan segera membereskan makanan yang bahkan tak tersentuh sedikitpun lalu menggantinya dengan makanan lain.


"Tolong siapkan sayuran dimeja makan ini." Sekali lagi Jing Xuan berujar yang diangguki para pelayan. Kedua selir didepan nya mendongak tak percaya, hidangan daging dan manisan diangkut lalu digantikan dengan segala macam sayur. Dua selir itu menatap Jing Xuan meminta penjelasan, namun saat iris beda warna itu menatap mereka dengan segera dua selir yang duduk bersebrangan dengannya menundukkan kepala. Jing Xuan mendecih.


Kini meja dihadapan mereka telah dipenuhi dengan beraneka macam sayuran. Mulai dari asparagus rebus, tumis kangkung dan juga sop wortel dan brokoli.


"Putri permaisuri Qu Liwey memasuki ruangan." Suara kasim yang berjaga didepan pintu membuat seluruh atensi penghuni ruang makan terkecuali Jing Xuan menoleh kearah pintu.


Seorang gadis dengan hanfu merah muda berdiri tegap didepan pintu. Mata gadis itu menoleh keseluruh ruangan. Kedua alisnya terangkat saat mendapati berbagai tatapan dari seluruh penghuni ruangan, kecuali Jing Xuan. Pangeran itu tidak menatapnya.


"Wahh... ada apa ini. Ada dua hal kenapa semua orang memandang kearah ku. Pertama aku sungguh menawan dan kedua aku membuat kesalahan. Jadi aku yang mana? kenapa kalian menatapku seperti itu?" Liwey berujar santai. Membuat dua selir yang ada disana menggerutu.


"Kakak permaisuri, seharusnya kakak paham. Kami semua telah lama menunggu untuk makan, dan kau dengan tidak berperasaan datang seterlambat ini." Liwey menatap seorang perempuan berhanfu hijau tengah menatapnya kesal.


Liwey menaikkan sebelah alisnya, kini pandangannya terjatuh pada seorang lagi yang berhanfu kuning, Apa ini simpanan si heterochromia itu?


"Ahh... kalian selir si heterochromia ini, lumayan cantik."Liwey melipat tangannya dibelakang tubuh. "Tapi akan lebih cantik saat dandanan kalian sedikit dikurangi. Apa wajah kalian tidak berat dengan dandanan tebal itu?"


Kedua selir itu saling berpandangan, lalu kembali menatap Liwey yang masih berdiri diambang pintu. Semua orang yang berada diruang itu mengeryit bingung mendengar ucapan permaisuri mereka. Heterochromia? Apa itu.


"Putri Jing, Kemarilah duduk disebelahku." Liwey menatap keasal suara, dilihatnya Jing Xuan sedang meneguk tek dari cawan giok dengan begitu anggunnya.


Dengan cepat Liwey berjalan, lalu duduk asal-asalan disamping Jing Xuan. Matanya menatap berbinar kearah meja. Namun, sedetik kemudian binar itu menghilang digantikan dengan helaan nafas kesal saat melihat makanan apa yang dihidangkan diatas meja.


"Heh... kau ingin memberi makan hewan ternak." Liwey menyilangkan tangannya didepan dada. "Kenapa tidak ada daging?" Semua mata diruangan menatap tak percaya kearah Liwey, bahkan Jiali sampai tersedak udara yang dihirupnya saat mendengar penuturan permaisurinya. Aura dingin langsung menyebar kemana-mana, membuat semua orang yang berada diruangan bergidik ngeri. Mereka sangat mengenal aura seperti ini. Bisa dipastikan bahwa pangeran mereka sedang marah sekarang. Dan mereka juga sedikit takjub dengan permaisuri mereka, karena telah bersikap tidak sopan disaat tempramen pangeran mereka sedang tidak bagus.


Liwey mendengus kesal merasakan aura yang menguar dari tubuh seseorang disampingnya. Dulu, Liwey memang takut akan aura pria disampingnya ini. Tapi semenjak dia bertemu dengan orang yang mirip suaminya ini di mimpinya dan sialnya pria itu sungguh menyebalkan dimata Liwey, membuat Liwey tidak lagi merasa takut akan Aura yang menguar dari tubuh suaminya.


"Berhenti mengeluarkan aura dingin itu! Apa kau ingin membekukan ruangan ini?" Liwey berujar santai, tangannya terulur mengambil cawan giok berisi teh yang baru saja ia tuang. Menyeruput teh. Liwey mengerut saat dirasa air teh yang mengalir ke tenggorokannya dingin.


Liwey sedikit tersentak saat meja didepannya digebrak pelan, dilihatnya Jing Xuan tengah menatapnya dengan kilatan yang teramat jelas dimata, menandakan Mo Jing Xuan tengah marah besar.


Liwey kembali mendengus, dia ingat pria yang mirip suaminya itu juga mengeluarkan aura seperti ini dan juga... petir?


Ouh astaga Liwey harus hentikan ini, jika tidak tempat ini kan tersambar petir.

__ADS_1


"Hei... hentikan, kau bisa mendatangkan petir jika begini." Liwey berseru panik. Bukannya berhenti Jing Xuan semakin menguarkan aura dingin tubuhnya. Dapat Liwey lihat kaki meja makan mereka sudah dirambati es.


"Astaga..." Liwey menutup mulutnya dengan tangan sementara Jing Xuan semakin mendekatkan diri pada Liwey yang duduk disampingnya.


"Kau membuatku geram karena menunggu lama." Jing Xuan mendesis. "Sekarang kau malah dengan tidak sopannya menghadapi ku, apa kau pikir tingkahmu itu sudah benar."


Yubo bergidik mendengar nada suara Pangerannya. Dia sangat ingat, jika pangerannya sudah berekspresi seperti ini, berarti pangerannya sangat marah, dan tak peduli siapapun dia akan menghabisi orang yang membuatnya marah dengan aura dinginnya.


"Ck..." Liwey berdecak, matanya menatap awas jendela besar yang langsung berhadapan dengan halaman depan kediamannya. Mata Liwey membelalak saat dilihatnya awan hitam sudah menyelimuti langit, dan juga dapat dilihatnya kilatan-kilatan petir disana.


"KUBILANG HENTIKAN." Liwey berteriak, mendorong Jing Xuan hingga tersungkur dilantai. "Kau ingin negri Dong Yue ini terkena badai, eoh? Lihat lah keluar, ini semua perbuatanmu." Jing Xuan menggeram marah kearah Liwey, saat dirinya hendak berdiri suara petir yang memekakkan telinga jatuh tepat didepan jendela. Semua orang yang berada disana berteriak panik, bahkan Yubo yang berdiri tak jauh dari jendela terpental jauh hingga kedepan pintu.


Liwey menutup telinganya, demi apa... petir ini bahkan lebih kuat dari pada petir yang diciptakan oleh pria di mimpinya.


Dengan cepat Liwey menyambar Jing Xuan, memeluknya erat. Dia tak tahu lagi apa yang harus dilakukan, dia harus menghentikan ini dengan cara meredam emosi Jing Xuan. Jika tidak negri ini akan tenggelam.


"Berhenti, kau bisa membuat negri ini tenggelam." Lirih Liwey sembari mengeratkan pelukannya ditubuh Jing Xuan. Tidak ia pedulikan lagi suhu tubuh Jing Xuan yang sudah sedingin udara di Antartika. Yang dipikirkannya sekarang adalah meminta Jing Xuan menghentikan ini.


Jing Xuan tersentak, kilatan amarah dimatanya menghilang, suhu dingin diruangan perlahan kembali normal dan ajaibnya petir yang meyambar-nyambar dilangit menghilang menyisakan awan hitam yang perlahan-lahan menghilang.


"Huftt... Akhirnya." Liwey menghela nafas lembut, lalu terduduk dilantai saat pelukannya dilepas. Dengan napas yang masih ngos-ngosan. Liwey berujar.


"Itu tadi hampir saja... bahkan kau lebih kuat dari pria itu." Setelah mengatakan itu, Liwey jatuh terbaring dengan wajah yang amat pucat.


"Liwey..." Jing Xuan panik. Dengan cekatan Jing Xuan menggendong tubuh Liwey menuju kamar. Meninggalkan ruang makan diikuti oleh Jiali yang terlihat khawatir melihat kondisi nonanya.


~♡~


Di sebuah ruangan gelap dan juga lembab, terlihat seorang pria dengan stelan jubah hitam tengah duduk bersilang kaki di atas singgasana kebesaran yang terbuat dari tengkorak hewan dan juga manusia.


Matanya yang sedari tadi memicing, mendadak membuka memperlihatkan iris semerah darah menatap lurus kearah pintu kayu yang sudah tak terhitung lamanya tertutup rapat.


Sebuah seringai muncul di sudut kiri bibirnya, kejadian yang baru saja dilihatnya merupakan kejadian lucu yang tak akan pernah ia lupakan.


"Ho ho ho... dunia atas mau merubah takdir rupanya."


"Kalian tidak akan pernah bisa menyelamatkan reinkarnasi kalian." Iris merah itu seketika berubah menjadi gelap. "Karena kutukanku tidak akan pernah meleset." Suara tawa menggelegar, memenuhi seisi ruangan gelap tanpa cahaya. Menciptakan sedikit getaran dari dinding-dinding tua dipenuhi lumut tempat seseorang itu berada.


"Tunggulah saat aku dapat keluar dari ruangan ini. Maka jangan harapkan ketujuh reinkarnasi kalian akan selamat."


~♡~


Wehh... selesai juga...


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Audhi mau ngumpulin ARMY dulu, boleh?


.


...


.


.


.


.


.


.


Ahh... Kalian tau Ausdi gak sabar nunggu tanggal 28. para pangeran Audhi kambekkkk... semoga audhi gak ketinggalan lah...


oh ya.. Audhi mau nanyak.. gimana part ini...


gaje ya?


yup.. benar... Audhi rasa part ini ancur..

__ADS_1


mohon maaf ya sebelumnya.


__ADS_2