Qu LiWey

Qu LiWey
Bagian 17 : Jantung Jing Xuan


__ADS_3

Hayolooo ... ada apa dengan jantung Jing Xuan?


Dia mendadak kena sakit jantung kah?


Ouh ... Syukurlah ...


Jing Xuan : Doamu sangat tidak etis Audhikim.


Author : sepak, tendang hilangkan Jing Xuan dari peradaban.


Oke Lupakan yang di atas.


Sekali lagi Audhi ingatkan . Klik 👍 sebelum membaca dan klik 💜 untuk menempatkan Qu Liwey di daftar favoritmu ...


Happy Reading🤓🤓.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Langkahnya perlahan memasuki pendopo dekat dengan kolam teratai yang entah kenapa menjadi tempat favoritnya akhir-akhir ini. Menghirup udara sebanyak-banyaknya, mengisi tiap lorong yang berada di rongga paru-parunya.


Liwey menutup matanya perlahan. Menikmati tiap deru angin yang berhembus pelan, menyapu wajahnya lembut, menerbangkan tiap helai rambut yang hari ini ia biarkan tergerai. Suara beriak air kolam terdengar samar, menambah ketentraman simfoni alam yang tercipta sore itu.


Setidaknya disini tidak bising karena kendaraan' Batinnya.


Kedua bola matanya membuka. Pohon persik yang baru saja berbunga menyambutnya, tersenyum lembut Liwey berujar. "Jiali kau bisa tinggalkan aku sendiri."


"Tapi, Nona ...."


Liwey berbalik, menatap lembut Jiali yang sedari tadi juga berdiri dibelakangnya.


"Beri aku waktu sendiri," ucapnya sambil tersenyum lembut kearah Jiali, lalu kembali memfokuskan atensinya kearah pohon persik yang berdiri kokoh dihadapan. "Aku hanya ingin sendiri." Lanjutnya.


Jiali mengangguk pasrah, walaupun hatinya berat meninggalkan Liwey sendirian. Bagaimanapun kondisi Nonanya sedang tidak bagus hari ini, dia hanya takut terjadi sesuatu padanya.


"Berhati-hatilah, Nona."


"Hmm." Liwey mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari pohon persik disana. Langkah Jiali terdengar menjauh, membuat Liwey serta merta menghela napas lelah.


Kembali memorinya memutar ulang hari dimana ia merayakan perpisahan di danau bersama teman-teman sekelasnya dengan menyewa kapal, lalu ia terjatuh tanpa sebab yang jelas. Adakah yang mendorongnya? Atau keseimbangannya sedang buruk saat itu? Dia tak tahu.


Iris Ambernya menatap langit, saat memori ia terbangun disebuah kamar kecil yang terbuat dari kayu yang dipelitur sempurna. Lalu, ia ingat, saat dimana Jiali menangis terisak dan berkata 'Nona, anda sudah sadar? Anda baik-baik saja, syukurlah dewa.'


Liwey terkekeh kecil, saat mengingat keterkejutannya akan itu. Ia hendak lari saat rasa sakit di perut bagian kiri terpaksa mengehentikan kegiatannya, dan Liwey ingat bagaimana dia berteriak histeris saat mendapati darah tembus dari perban putih yang melilit perutnya.


Juga, pada saat itu ia sadar. Bahwa ia jatuh kedunia lampau seperti drama dan novel-novel yang pernah ia lihat.


Tapi ... takdirnya berbeda, dia bukan semata tertarik ke jaman dahulu untuk membalaskan dendam si pemilik tubuh yang sering disakiti dan berakhir meninggal tragis karena penyiksaan. Hanya saja, dia tertarik ke dunia ini karena ia memiliki tugas yang harus ia selesaikan.


Bahkan aku sendiri tak tahu apa tugas yang seharusnya ku emban.


Liwey berputar sembilan puluh derajat kearah timur, letak kuil yang dikatakan oleh Tan'er berada. Kembali Liwey menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan.


Seketika Liwey jatuh terduduk di lantai kayu pendopo, menyandarkan punggungnya pada tiang pendopo. Menekuk kedua lutut didepan dada lalu melingkarkan tangan mengelilinginya, Liwey menatap sendu kearah bunga teratai yang belum mekar di tengah danau.


Kini pikirannya sudah lari jauh kemasa ia seharusnya berada. Mengingat bagaimana hangatnya sarapan bersama kedua orang tuanya. Mengingat bagaimana capek sekaligus serunya berlari mengejar sang satpam penjaga gerbang sekolah sebelum ia menutupnya saat bel mulai bergema. Mengingat ricuhnya saat melakukan praktik menu baru dengan teman kelompoknya, Anna dan Edward.


Serta, mengingat bagaimana dirinya serta dua temannya menunggu bus dan berdesakan untuk masuk kedalamnya lalu berebut kursi untuk duduk tapi malah berakhir berdiri karena semua kursi sudah terisi.


Liwey tersenyum saat mengingatnya, tapi tak lama senyum hangat yang ia tunjukkan berubah menjadi pedih saat ia menyadari, semua hal yang ia ingat jelas namun terlihat samar bersamaan.


Seperti seseorang yang mengidap prosopagnosia* Liwey tak dapat mengenali bahkan melihat wajah orang-orang yang ia ingat dan sayangi disana. Tanpa sadar, bulir bening jatuh mengukir aliran sungai kecil di pipi sedikit berisi Liwey.


"Apa yang kau lakukan disini, Putri Jing?" Tersentak, Liwey sontak menoleh dan mendapati Jing Xuan berdiri tegap menjulang dihadapannya.


Jing Xuan mengerutkan kening mendapati reaksi Liwey, dan kerutannya semakin dalam saat mendapati air mengalir di pipi Liwey.


"Kau menangis?" Tanyanya.


"Eh ...." Liwey kembali tersentak, diusapnya kedua pipinya dan kembali terkejut saat mendapati air membasahi jari tanggannya.


Sejak kapan air mata ini jatuh.


Liwey terdiam, memandangi tangannya yang basah oleh air mata dari pipi yang baru ia seka.


"Hiks ..." dan tanpa bisa dicegah, Liwey segera terisak. Kembali dilipatnya kedua lutut lalu menenggelamkan wajahnya di sana.


Dia sedih, meratapi nasibnya yang menyedihkan. Bahunya bergetar di setiap isak yang keluar dari mulutnya.


Jing Xuan heran, apa kata-katanya terlalu menyakitkan sehingga membuat Liwey sampai menangis begitu kencang dan ... pilu? Ah ... Jing Xuan tak mengerti perempuan.


Matanya masih menatap Liwey, bahu gadis itu bergetar dan secara tak langsung Jing Xuan menghawatirkannya. Jing Xuan bingung akan Liwey, namun dia juga khawatir terhadapnya.


Menghela napas pelan, Jing Xuan akhirnya memilih duduk disamping Liwey dan entah dapat keberanian dari mana, Jing Xuan memeluk Liwey. Iya, dia memeluk Liwey, menyandarkan kepala gadis itu di dadanya yang bidang serta mengusap punggung bergetar Liwey berusaha menenangkannya.

__ADS_1


Liwey sedikit tersentak dengan perlakuan Jing Xuan terhadapnya, namun tak lama ia kembali menangis meratapi nasibnya.


"Tenanglah." Jing Xuan masih mengusap punggung Liwey, masih berusaha menenangkan gadis yang semakin terisak didadanya. Bahkan ia sampai tak menyadari bahwa jantungnya sudah memompa lebih cepat dari pada biasanya.


"Xuanxuan," ucap Liwey, gadis itu sudah berhasil meredakan isak tangisnya.


"Iya." Jing Xuan tanpa sadar malah semakin mengeratkan pelukannya pada Liwey. Entahlah ... hanya saja Jing Xuan merasa nyaman saat memeluk Liwey seperti ini.


"Bisa lepaskan aku? Aku sudah baik-baik saja."


"Hm." Jing Xuan terdiam sebentar, seolah membutuhkan waktu untuk mencerna perkataan Liwey tadi. Seakan tersedar, Jing Xuan dengan keras melepaskan pelukannya pada Liwey yang sontak membuat gadis itu sedikit terjungkal dengan kepala berhasil menghantam tiang pendopo.


"Arghh ..." Liwey mengusap pelan kepala bagian belakngnya, matanya menatap sinis Jing Xuan yang entah sudah berekpresi seperti apa. Antara terkejut dan ... takut?


"Kau membuat kepalaku benjol," ucap Liwey pelan. Kembali Liwey melipat kedua lututnya didepan dada, isakan samar masih terdengar sesekali tapi tidak dibarengi dengan air mata.


"Xuanxuan." Jing Xuan sontak menoleh saat mendengar Liwey memanggilnya, "apa kau percaya bahwa ada peradaban manusia dapat bekerja, makan, bahkan sekolah hanya dengan menatap benda pipih?"


Jing Xuan mengerutkan kening mendengar penuturan Liwey. Tapi dia masih bungkam.


"Apa kau percaya akan adanya dunia lain?"


"Seperti dunia para dewa? Surga dan Neraka?" Jing Xuan akhirnya menimpali. Liwey menoleh kearah Jing Xuan sekilas lalu menggeleng.


"Dunia yang memiliki teknologi canggih, gedung-gedung tinggi pencakar langit, kendaraan terbuat dari besi, dan ...." Liwey menghentikan perkataannya kemudian tertawa hambar membuat Jing Xuan semakin tidak mengerti.


Liwey kembali menoleh kepada Jing Xuan kemudian tersenyum lebar sampai kedua matanya ikut menyipit. Saat itu, Jing Xuan sadar, ada yang aneh dengan jantungnya.


"Kau percaya dengan seseorang yang datang dari masa depan?" Jing Xuan blank, bukannya menjawab Jing Xuan malah memiringkan kepalanya kearah kiri. Membuat Liwey mengerucutkan bibirnya, "lupakan, kau tidak akan percaya."


Liwey sudah menselonjorkan kakinya kedepan, punggungnya bersandar pada tiang pendopo, menutup mata dan menikmati tiap hembusan angin yang menerpa dirinya.


Jing Xuan menyaksikan itu, jantungnya semakin menjadi-jadi. Berdetak seakan ia baru saja berlari dan membunuh sepuluh orang di medan perang. Jing Xuan bingung, kenapa jantungnya bisa merespon berlebihan hanya karena dirinya menatap Liwey saja.


"Xuanxuan." Suara Liwey sontak membuat Jing Xuan terkesiap dan hampir saja terjungkal kebelakang jika ia tak sigap. "Apa kau percaya takdir?" Liwey sudah menoleh kearah Jing Xuan yang sedang bersusah payah mengatur ekpresinya agar lebih tenang.


"Aku tidak terlalu ... memikirkan tentang takdir." Jawabnya setelah merasa sudah benar-benar tenang.


"Begitukah?" Liwey memainkan ujung rambut Jing Xuan yang tergerai, "jika seseorang yang mengaku dewa mengatakan kalau kehadiranmu disini sudah ditakdirkan, apa kau percaya."


Jing Xuan menatap tangan Liwey yang memainkan rambutnya kemudian menatap wajah Liwey yang tak seperti biasanya. Gadis itu terlihat sangat sayu.


"Manusia lahir kedunia ini sudah ditakdirkan, apa yang akan menjadi masa depannya juga sudah ditakdirkan..." Liwey menatap Jing Xuan yang juga sedang menatapnya, "dan juga, kematian manusia juga sudah ditakdirkan. Takdir itu rumit dan aku tidak terlalu suka mempelajarinya."


"Aku tidak tahu, tapi mungkin dapat diubah."


Liwey menghela napas berat. hari ini entah sudah berapa kali ia menghela nafas dengan berat hati. Seakan ia tak memiliki hari esok untuk dapat mengambil napas kembali.


Masih dengan memainkan rambut Jing Xuan, Liwey mengingat perkataan Tan'er bahwa dirinya memang sudah ditakdirkan untuk datang kemari, tapi dia juga ingat perkataan Tan'er bahwa mereka secara paksa membawa Liwey kedunia ini. Apa artinya mereka sedang berusaha merubah takdir dan Liwey dijadikan sebagai perantaranya?


Seakan teringat sesuatu, Liwey sontak menoleh cepat kearah Jing Xuan. Membuat Jing Xuan yang sedari tadi memperhatikan dirinya kembali tersentak. Kenapa dengan Jing Xuan hari ini? Kenapa dia sangat mudah terkejut? Dia tidak pernah begini sebelumnya, mengingat kepekaannya terhadapa sekitar yang memang kuat. Apa karena yang ia tangani Liwey, dan itu mengakibatkan tingkat waspadanya melemah? Entahlah.


"Apa kau tau kuil yang letaknya di timur Dong Yuo?" Jing Xuan mengerutkan kening sebentar sebelum ia mengangguk.


"Dulu aku sering kesana, tapi sekarang sudah jarang." Mata Liwey berbinar cerah mendengarnya.


"Benarkah? Bisakah kau membawaku kesana?" Jing Xuan mengangguk.


"Setelah urusanku selesai, aku akan usahakan untuk kesana." Liwey bersorak senang dan tanpa sadar dia sudah memeluk Jing Xuan erat.


"Terima kasih." Liwey melepaskan pelukannya, tersenyum. Liwey mengatur lagi posisi duduknya berselonjor sembari merapatkan punggung ketiang pendopo, matanya masih asik menatap bunga teratai yang belum mekar itu dengan tersenyum lebar. Hingga ia tak menyadari bahwa Jing Xuan tengah memperhatikannya.


Yang ada didalam pikiran Liwey sekarang adalah ia akan segera mengetahui apa tujuan dia yang sebenarnya, hingga ia sampai terlempar ke dunia ini dan ia juga ingin tahu takdir semacam apa yang membuat dua dewa itu takut dan mengharapkan dirinya untuk mengubah takdir.


"Xuanxuan." Masih dengan senyumannya, Liwey menatap Jing Xuan.


"Tak apa 'kan aku memanggilmu, Xuanxuan?" Jing Xuan kembali mengerutkan dahinya, gadis ini kenapa susah sekali ditebak dia selalu tiba-tiba.


Liwey kembali memainkan ujung rambut Jing Xuan sebelum berujar, "aku tahu kau menghukumku membersihkan halaman belakang hanya karena aku tidak sopan." Liwey mengangkat pandangannya menatap tepat di manik Jing Xuan. "Hanya saja, aku tak terlalu paham akan sopan santun yang ada di kediaman ini. Mungkin aku akan belajar tapi ..." Liwey menjeda perkataannya.


"Lupakan." Liwey menundukkan pandangannya, "aku hanya ingin menjadi temanmu." Lupakan tentang surat cerai yang ia inginkan dahulu. Liwey sudah terlanjur nyaman di sini.


"Kita suami istri." Jelas Jing Xuan yang membuat Liwey kembali menatap kearahnya.


"ehmm ... ya aku tau kita suami istri. Hanya saja, kita menikah tanpa cinta." Liwey semakin asik memainkan rambut Jing Xuan, bahkan ia sudah mulai menggulung rambut itu ke pergelangan tangan.


"Aku hanya ingin kita berteman dan ... membuat komitmen untuk belajar mencintai?" Liwey bahkan tak yakin dengan perkataannya.


Kini Liwey malah meremas rambut Jing Xuan. Membuat si pemilik rambut hanya menatap heran kearah Liwey dan juga hal yang Liwey lakukan padanya.


"Kau mau berteman denganku?" Jing Xuan masih menatap Liwey dengan kerutan dalam di dahinya, "maksudku, kau mau memulai komitmen dalam hubungan kita dengan berteman terlebih dahulu." Liwey melipat bibirnya, tangannya masih asik dengan rambut Jing Xuan seakan itu adalah mainan baru untuknya.


"Jika kau mau menghabiskan malam denganku, aku akan menepatinya." Sontak Liwey melepaskan gulungan rambut Jing Xuan dari tangannya. Matanya membola besar, sedang tangan kanannya kini sudah menunjuk-nunjuk Jing Xuan.

__ADS_1


"Kau ... kau ..." demi apa, Liwey gugup? Sejak kapan? Ah ... sejak tadi. "Aku ... aku tak ... mau melakukannya tanpa cinta. Iya, aku tak melakukan itu tanpa cinta." Liwey mengangguk mantap seakan apa yang ia katakan adalah keputusan yang sudah bulat.


"Pftt ...." Jing Xuan berusaha untuk tidak tertawa. Apa yang dipikirkan istrinya ini sampai ia jadi sepanik dan gugup seperti itu.


Menarik napas lalu membuangnya, Jing Xuan menganti posisi duduknya menghadap Liwey. "Apa yang ada dipikiranmu, Putri Jing?"


"Eh ... bukankah ...." Liwey memiringkan kepalanya kekiri, lalu seakan mendapat pencerahan sontak Liwey membulatkan matanya dan itu memancing tawa Jing Xuan pecah.


Keajaiban dunia, seorang Jing Xuan yang tak pernah tertawa sama sekali kini malah tertawa lebar karena Liwey. Sebesar itukah pengaruhnya? Jing Xuan saja tidak mengerti, dia hanya ingin tertawa.


"Hei ... berhenti menertawakanku." Pipi Liwey memanas, entahlah dia merasa malu akan pikiran kotornya tadi.


Ya Tuhan, tolong buat lubang tepat dibawahku sekarang juga. Aku ingin bersembunyi. Batin Liwey.


Liwey semakin gelagapan saat tawa Jing Xuan semakin menggelegar. Sontak Liwey langsung menenggelamkan kepalanya tepat di perut Jing Xuan, dengan posisi berbaring Liwey semakin leluasa merapatkan wajahnya di perut Jing Xuan yang terasa keras di wajahnya. Liwey yakin pasti ada delapan kotak disana, memikirkannya semakin membuat Liwey memerah.


Sedangkan Jing Xuan, pria itu tersentak kaget dengan perlakuan spontan dari Liwey. Jantungnya berdetak tak karuan mengingat dimana Liwey menempatkan wajahnya sekarang.


Baiklah, Liwey meletakkan wajahnya di perut Jing Xuan dan apa kalian tau hal yang terdekat dari situ. Arghh aku tak perlu menjelaskannya lebih jauh.


Mengambil udara sebanyak mungkin, Jing Xuan berusaha untuk rileks.


"Putri Jing, bisakah kau berdiri." Pinta Jing Xuan, yang dibalas dengan gelengan kepala dari Liwey dan itu berhasil membuat tubuh Jing Xuan memanas, dan kalian tidak boleh melupakan jantungnya yang berlompatan ria disana.


Ouh astaga. Jantungku.


"Baiklah." Tolong bantu Jing Xuan untuk memahan diri teman-teman.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Yubo berdiri tak jauh dari pendopo tempat Jing Xuan sedang duduk berdua dengan Liwey saat retina matanya menangkap sosok Ailin berjalan tak jauh darinya dengan diikuti dua dayang yang setia mengikutinya kemana-mana.


Seketika ingatan di hari Liwey menghajar Ailin terngiang di benaknya, juga ke tidak akuran Liwey dan Ailin di minggu ini. Sontak alarm tanda bahaya muncul di otak Yubo, dia tak akan mengizinkan Ailin melewati pendopo kalau tak ingin kejadian yang tak diinginkan terjadi.


Mengingat bagaimana Ailin sangat terobsesi dengan Jing Xuan dan disana Jing Xuan tengah memeluk Liwey. Ia takut perang antar kerajaan akan terjadi di kediaman ini. Baiklah itu berlebihan.


"Salam Putri Ailin." Yubo menyapa.


Ailin mengangguk lalu tersenyum menanggapi Yubo.


"Bersyukur kau ada disini, Yubo. Putri ini hendak mengajak Yang Mulia Pangeran untuk makan kudapan bersama di pendopo dekat kolam teratai. Apa kau bisa menyampaikan undangan dari Putri ini?"


Yubo melirik kearah dayang yang membawa nampan berisi teh dan cemilan manis sebentar lalu kembali menatap kearah Ailin dengan tersenyum sopan.


"Yang mulia pangeran sedang sibuk, dan beliau tidak bisa di ganggu, Putri." Terlihat gurat kesedihan di wajah Ailin dan itu mampu membuat Yubo merasa kasihan terhadapnya.


"Yah ... pangeran Jing Xuan pasti akan sangat sibuk." Ailin berujar sendu, "baiklah, sekarang izinkan aku lewat. Putri ini sedang ingin menikmati waktu di pendopo."


Yubo terkejut mendengar penuturan Ailin, segera merentangkan tangannya, isyarat bahwa Ailin tak boleh masuk. Jika Ailin masuk ke pendopo, dia tidak tahu hal besar apa yang akan terjadi setelahnya.


"Kenapa?" Tanya Ailin.


"Pangeran Jing Xuan sedang berada di pendopo ...."


"Benarkah." Ailin memotong perkataan Yubo, "kalau begitu Ailin akan sekalian mengajak yang mulia untuk makan kudapan sembari bekerja."


Yubo panik saat dilihatnya Ailin sudah berhasil melangkah mendahuluinya. "Tapi, pangeran Jing Xuan sedang bersama Putri Jing."


Ailin tersentak, gadis dengan stelan hanfu berwarna biru pudar dengan hiasan bordir bermotif awan itu berbalik mengahadap Yubo dengan tatapan yang seolah mengatakan 'apa maksudmu'


Yubo menggaruk tengkuknya yang tak gatal, apa salah kalau sepasang suami istri berduaan bukan? kenapa reaksi putri Ailin berbeda. Ah ... Yubo lupa, Ailin 'kan terobsesi dengan Jing Xuan.


Hingga suara tawa lepas dari arah pendopo mengangetkan mereka semua. Membuat Yubo, Ailin dan juga dua dayang yang berhadir disana segera menuju asal suara dan betapa terkejutnya mereka saat mendapati Jing Xuanlah yang tertawa lepas dengan Liwey yang tengah berekspresi panik di sampingnya.


Yubo menganga tak percaya, ini keajaiban dunia. Jing Xuan yang ia kenal sejak sepuluh tahun yang lalu sangat jarang tertawa lepas seperti itu dihadapannya ... tidak, Jing Xuan bahkan tak pernah sedikitpun tertawa di hadapannya dan sekarang pangeran yang terkenal dingin itu tertawa selepas itu hanya karena Putri Jing.


Sungguh besar pengaruh Putri Jing ternyata.


Sementara Ailin, gadis itu sudah mengepalkan kedua tangannya mendapati pemandangan yang ia lihat sekarang. Bahkan ia semakin mengeratkan tangannya saat matanya mendapati Liwey membaringkan tubuh dan meletakkan kepalanya di pangkuan Jing Xuan.


"Dasar gadis jal*ng." Ailin berbalik pergi bahkan ia sampai menabrak bahu Yubo yang berdiri di belakangnya. Ailin kesal, sangat teramat kesal, dan Yubo malah mengerutkan kening saat umpatan Ailin masuk ke teliinganya.


"Bukankah dia lebih pantas dikatakan seperti itu?" Yubo menaikkan kedua bahunya acuh, lalu kembali menghadap kearah Jing Xuan dan Liwey, menikmati moment romantis dua pasangan yang tengah dimabuk cinta? Entahlah.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Tbc.


Audhikim.


*Prosopagnosia adalah kelainan dalam mempersepsi wajah yang membuat orang yang mengalaminya akan sulit mengenali wajah termasuk wajahnya sendiri. Keadaan ini biasanya diakibatkan oleh kerusakan otak akut, walaupun bukti terkini juga memperlihatkan adanya kemungkinan pengaruh faktor keturunan.


Semoga kalian suka, salam dari istrinya Kim Taehyung.

__ADS_1


__ADS_2