
"KAKAK!" Teriak seseorang dari arah hutan. Dan muncul seorang anak perempuan kecil dan seorang perempuan seumuran Fei Li.
Melihat itu, Fei Li langsung tersenyum dan merentangkan tangannya. Lalu Si anak perempuan tadi menubruk tubuh Fei Li dengan keras.
Dan Fan Fan berusaha melepaskan anak perempuan itu dari Fei Li. Dan perempuan seumuran Fei Li tadi cuma menggelengkan kepala melihat dua bersaudara di depannya itu.
Yah anak perempuan itu adalah Alvenia atau Fen Fen kembaran dari Fan Fan. Perempuan seumuran Fei Li tadi bernama Felicia atau biasa dipanggil Cia.
"Hai, Fei. Kami langsung cepat cepat menyelesaikan misi saat kau mengirim pesan itu." Ujar Cia dan diangguki juga oleh Fen Fen yang masih memeluk Fei Li.
Sedangkan Fan Fan sudah menyerah melepaskan pelukan adiknya dari tubuh Fei Li karena Fen Fen memiliki tenaga yang sangat besar dan Ia memeluk Fei Li dengan sangat erat.
Setelah beberapa saat, Fen Fen melepaskan pelukannya dan seluruh anggota juga sudah kembali ke pekerjaan masing masing bahkan anggota anggotanya yang terkapar karena dikalahkan oleh Alfano tadi sudah dibawa ke ruang kesehatan.
"Sudahlah ayo masuk. Pekerjaanku belum selesai." Ucap Fei Li lalu Fan Fan, Fen Fen, juga Cia pun masuk ke dalam dan berjalan menuju ruang kerja Fei Li. Begitu pula dengan kelima kakak laki laki Fei Li. Jadi hanya tersisa penjaga gerbang, Fei Li, dan Alfano di depan sana.
"Jordan jaga gerbang baik baik jangan sampai ada yang menyusup lagi tanpa sepengetahuanku. Kau juga masuklah, Al." Ucap Fei Li ke penjaga gerbang yang bernama Jordan itu dan juga kepada Alfano. Lalu mereka pun masuk ke dalam markas dan berjalan menuju ruang kerja Fei Li.
__ADS_1
Saat di lorong menuju ruang Fei Li, Fei Li menggunakan semacam alat komunikasi transparan di telinganya dan memanggil semua pimpinan ke ruang kerjanya.
Saat sampai di dalam ruang kerjanya, Fei Li langsung duduk di kursi kebesarannya dan membalikan kursi itu dan menghadap ke arah yang bersebrangan sedangkan Alfano langsung duduk di sofa yang sudah diduduki oleh Fan Fan, Fen Fen, Cia, Nang Xin, An Rei, Fang Xi, Lin Guai, juga Jing Chen.
Tak lama para pimpinan pun masuk satu persatu ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu dan semakin lama atmosfer terasa semakin berat. Dan sekitar 5 menit, seluruh pimpinan berada di dalam ruang kerja milik Fei Li dan duduk di sofa tanpa disuruh.
"Kenapa, Fei?" Tanya D. Alaric atau Geraldio. Bersamaan dengan Fei Li membalikan kursinya dan menatap ke arah mereka sambil tangannya menopang dagunya diatas meja lengkap dengan kaca matanya yang membuatnya semakin cantik.
"Begini, sepertinya kita harus buat 1 markas lagi di ibukota. Soalnya untuk membeli jasa kita, orang harus mati matian melewati Hutan Kematian." Ucap Fei Li sambil membuka kaca matanya sambil menghela nafasnya.
"Boleh juga, Fei. Bagaimana kalau kalian?" Ujar Cia menanggapi.
"Aku setuju. Nanti aku carikan tempat yang cocok. Untuk harga tak masalah bukan?" Tanya Rixana Sang Pemimpin informan.
"Ya harga bebas. Uangku ada banyak. Kalau pun kurang aku bisa menggunakan tabunganku." Ucap Fei Li acuh tak acuh.
"Jangan lupakan uang sakumu selama ini, Fei." Ucap Nang Xin menimpali.
__ADS_1
"Ya itu nanti saja. Kalau memang aku butuh." Ucap Fei Li lagi dengan nada yang sama, acuh tak acuh.
"Terserah." Ucap Nang Xin lagi.
"Aku ikut saja." Ucap Jonathan dengan nada dingin dan datar.
"Em tapi Fei dia siapa?" Tanya Stefany Sang Pemimpin penyerangan jarak jauh sambil menunjuk Alfano dengan nada bingung.
"Ah dia tak perlu kau hiraukan. Dia tak penting." Ucap Fei Li dengan nada acuh.
"Bagaimana yang lain?" Tanya Fei Li.
"Kami ikut saja." Ucap para pimpinan yang lain secara bersamaan.
"Baiklah. Rix tolong carikan tanahnya. Budget tak terbatas. Yasudah kalian boleh pergi." Ucap Fei Li dengan tegas.
Hola balik lagi sama aku di novel ini. Nah seperti biasa jangan lupa like sama jadiin favorite. Kalau mau, kalian boleh kasih vote. Yaudah segini dulu aja ya. Jangan lupa jaga kesehatan. See you soon. Byeeee.
__ADS_1