RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Perlawanan Yang Tak Seimbang


__ADS_3

Maura dan Ardian berjalan menuju auditorium itu dengan penuh semangat membara, semangat untuk menyerang mereka semua yang ada didalam auditorium itu tanpa tahu apa saja yang terjadi di sana. Mereka sudah lelah dengan teror yang mereka terima.


"Didepan ada penjaganya lumayan banyak, bersiaplah untuk penyerangan" ujar Ardian sambil menyiapkan pedangnya, tentunya itu pedang gaib.


"Baiklah..." jawab Maura sambil mengeluarkan selendangnya, selendang milik Dewi Srikandi.


Saat mereka mendekat, Jin yang menyerupai manusia itu hanya diam tak ada tanda untuk menyerang mereka. Sedangkan dalam perjanjian terdahulu tidak ada boleh penyerangan sebelum perjanjian itu dilanggar.


Mereka melewati para penjaga itu, agak heran juga dari sekian banyak jin itu tak menanggapi mereka seolah mereka memang sudah ditunggu atau memang diundang masuk kedalam forum itu.


Krieett!


Ardian dan Maura membuka pintu kayu berukuran besar dengan memiliki dua daun pintu berukiran aneh, khas bau pohon gaharu sangat menyengat dari pintu itu.


"Sepertinya Marino sudah menyiapkan segalanya untuk tuannya itu, kami harus berhati-hati bisa jadi ini juga bagian dari rencananya untuk menjebak kami" gumam Maura dalam hati.


Nalurinya berkata ada yang tidak beres dengan semua ini, dan anehnya mereka tak bisa mendeteksi apapun dari tadi. Sedangkan Dewi Srikandi dan panglima Arialoka sedang pergi menuju arah utara.


Mereka tidak tahu maksud kepergian keduanya, keduanya hanya menitipkan senjata mereka dan memberikan sedikit bekal ilmu kepada mereka.


"Selamat datang para utusan, sang reinkarnasi Dewi Srikandi dan Panglima Arialoka. Haha! Kenapa kalian lama sekali, aku hampir bosan menunggu" ujar Marino dengan seringai mengerikan.


Saat Maura dan Ardian masuk mereka sudah disambut dengan puluhan mayat yang ditumpuk jadi satu menggunung ditengah auditorium itu, bau darah menyengat ditambah bau busuk para makhluk laknat tercium tajam dihidung mereka.


Rasa mual dan ingin muntah mereka tahan sendiri, sampai mereka sadar telah dikepung dari semua arah. Para penyihir dan jin bergabung membentuk lingkaran mengelilingi mereka berdua.


"Dimana Dhania, kau apakan dia?" tanya Maura tanpa basa-basi.


"Dia masih hidup, tenang saja. Kalau aku membunuhnya sekarang tidak seru, lagian aku berniat menjadikannya ratuku di dunia ini. Hihi!" sahut Marino dengan pikiran kotornya.


Maura menggeram dia tidak terima jika Dhania dilecehkan seperti itu, bagaimanapun juga dia sudah seperti kakaknya sendiri.


"Jangan berpikir kurang ajar, jika tidak ingin aku habisi!" bentak Maura.

__ADS_1


"Bukan aku yang kalian habisi, tapi kalianlah yang akan habis malam ini" ujar Marino sambil terkekeh meninggalkan mereka.


Dia berlalu pergi sambil tertawa terbahak-bahak dan membiarkan para bawahannya menyerang Maura dan Ardian, semua makhluk itu menyerang dari semua arah secara bersamaan. Awalnya Maura dan Ardian kewalahan, tapi lama-lama mereka bisa mengimbangi lawannya.


Dengan ilmu bela diri ditambah bekal ilmu gaib yang diberikan para penjaga mereka mampu melawan para penyihir dan jin itu, Ardian yang di sudah lama berkecimpung dengan dunia gaib tidak sulit untuk mengalahkan mereka semua.


Sedangkan Maura yang jago bela diri meskipun baru di dunia gaib, dia mampu menyesuaikan diri dengan baik. Pertarungan yang tak seimbang itu mampu mereka berdua hadapi, memiliki lawan berjumlah belasan itu melawan mereka hanya berdua saja rasanya mustahil bisa kalah.


Tapi takdir sudah ditentukan, bahwa mereka akan dimusnahkan oleh seorang ksatria wanita dan panglimanya. Puluhan tahun silam sudah diramalkan bahwa Dewi Srikandi dan Panglima Arialoka akan bereinkarnasi dan akan membunuh mereka semua.


Tapi pada dasarnya mereka makhluk sombong dan angkuh, mereka tidak mengindahkan peringatan itu dan menganggap mereka lebih hebat dan kuat dibandingkan dua anak manusia hasil reinkarnasi itu.


dengan waktu sekitar satu jam perlawanan itu berakhir, mereka semua tumbang ditangan Maura dan Ardian, mereka berdua nampak kelelahan melawan makhluk yang cukup kuat dan banyak itu.


Tetapi mereka tidak boleh lengah, siapa tahu masih ada musuh yang tersisa. Mata mereka menyusuri setiap sudut ruangan itu dan yakin tidak ada lagi makhluk jahat itu yang masih bertahan.


Tiba-tiba Marino keluar dari sebuah ruangan yang tertutup tirai panjang, dia keluar bersama Dhania yang sudah terhipnotis. Dhania mengikutinya begitu saja tanpa disuruh olehnya.


"Apa yang kau lakukan pada Kak Dhania?! Lepaskan dia!" teriak Maura kalap, dia hendak maju melawan Marino tapi ditahan oleh Ardian.


Itu akan membahayakannya juga, dan ingat prioritas kita adalah keselamatan Kak Dhania" ujar Ardian mengingatkan Maura.


Maura sadar jika Ardian tak mencegahnya tadi, entah apa yang akan terjadi nantinya. Dia hanya menatap tajam Marino yang asik memainkan rambut Dhania yang didudukan di pangkuannya.


Dhania sudah seperti mainnya, jika Kevin maupun Angga akan tahu soal itu mungkin pertumpahan darah akan terjadi lagi. Entah itu dari pihak Marino ataupun dari mereka.


"Apa maumu, katakan saja?! Tidak usah menggunakan siasat licik seperti ini!" teriak Ardian.


Marino yang duduk disebuah bangku besar bak singgasana itu tertawa menyeringai menatap tajam kearah mereka, dia bangkit dari duduknya dan membiarkan Dhania duduk di sana sendirian menungguinya.


"Kau lihat disekitar kita ini, aku sudah membuat hiasan dekorasi yang paling mewah tak tenilai untuk menyambut kedatangan tuanku. Tumpukan manusia-manusia sampah yang penuh ambisi, manusia-manusia serakah akan dunia akan gampang kami pengaruhi tanpa mereka sadari telah terjebak oleh keserakahan mereka sendiri.


Inilah balasannya bagi manusia-manusia serakah itu, harta yang mereka miliki sudah cukup untuk memenuhi kebutuhannya beserta anak cucu mereka nanti, hingga saatnya mereka membayar apa yang seharusnya mereka bayar sejak dulu.

__ADS_1


Tuanku sudah banyak memberikan mereka harta berlimpah, kini saatnya mereka harus memberikan harta yang tak ternilai untuk diberikan kepada tuanku sebagai timbal balik. Setimpal bukan, harta berlimpah untuk anak cucu mereka sampai tujuh turunan dibayar memakai jiwa dan nyawa mereka sendiri. Dan sekarang tubuh mereka menjadi hiasan diruang sakral ini, sedangkan jiwa mereka sudah terkurung ditempat yang aman bersama tuanku" ujar Marino menjelaskan panjang lebar soal mayat-mayat itu.


Maura langsung berpikir jika jiwa para manusia tersesat itu pasti terkurung di penjara di alam gaib, dimana sebuah neraka buatan Arion Gaharu disamarkan menjadi taman atau kebun bunga yang cantik itu tempatnya.


"Dan sekarang kalian telah membuatnya murka dengan menghabisi para suruhannya, selanjutnya kalian akan berada dipuncak Piramida manusia itu. Hihi!" sambung Marino lagi.


" Itu tidak akan pernah terjadi, dan ini yang terakhir kali kalian terutama kau membuat kekacauan di dunia ini. Akan aku pastikan tidak akan ada manusia-manusia yang tersesat lagi oleh kalian" jawab Maura sambil mengibaskan selendangnya dengan tiba-tiba.


Tentu saja itu sudah diprediksi oleh Marino, dia menangkap selendang itu dengan satu tangan. Membuat adegan tarik menarik dengan Maura, dengan sekali hentak Marino berhasil menarik selendang itu sekaligus menarik Maura ke sisinya.


Dia mencengkeram leher Maura dengan satu tangan saja, diangkatnya tubuh Maura seperti mainan saja baginya Maura bukan apa-apa dibandingkan dirinya yang kuat. Melihat itu Ardian tak tinggal diam, dia mengibaskan pedangnya kearah Marino.


Marino berhasil mengelak dan menangkis pedang itu hingga terlempar jauh, Ardian hendak mengambil pedangnya tapi tertahan oleh gerakan tubuhnya yang terasa berat. Ternyata Marino menyerangnya dari jarak jauh, membuat dirinya tak berdaya hingga memuntahkan darah.


Keduanya ternyata bukan lawan yang seimbang bagi Marino, dia merupakan reinkarnasi panglima Arion Gaharu di masa Dewi Srikandi dan Panglima Arialoka.


Meskipun keduanya hasil dari reinkarnasi juga, tapi tidak semerta-merta mendapatkan kekuatan begitu saja, berbeda dengan Marino dia terlahir dari keluarga miskin tidak heran jika dia tergila-gila dengan harta.


Kedua orang tuanya meninggal kecelakaan ketika dia masih kecil dan dirawat dipantau asuhan, hingga di adopsi oleh keluarga de Paquillo.


Kemanapun dia pergi ataupun berada akan membawa bencana dan malapetaka bagi orang lain, dia sudah ditakdirkan pembawa bencana bagi orang lain sejak kecil termasuk kedua orangtuanya dan keluarganya yang lain.


Disaat dia menikmati menyiksa Maura dan Ardian, dia dikejutkan oleh auman mengerikan. Tiba-tiba saja dia diserang oleh mahkluk berbulu putih besar, yang tubuhnya besar melebihi besarnya singa jantan dewasa.


Aauumm! Gggrrr!


Auman suaranya menggelar hingga menggema di seluruh gedung itu hingga bergetar, Maura terlempar jatuh dari genggaman Marino. Samar-samar dia melihat makhluk yang menolongnya itu sedang bergulat bersama Marino.


"Gerald..." ucapnya hingga terjatuh pingsan.


Yah, Gerald datang tepat waktu untuk menolong mereka. Padahal waktu itu dia pergi menghilang cukup lama hingga tiba-tiba datang pada akhirnya diwaktu yang tepat.


......................

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2