RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Makhluk Me Sum


__ADS_3

Sadar dirinya telah dipergoki oleh Ardian, bayangan itu langsung melesat pergi dan menghilang dibalik dinding.


"Aku yakin dia diutus untuk mengawasi anak ini, tapi mengapa? Bukankah Bagas juga bukan suatu halangan yang besar bagi mereka?" gumam Ardian penasaran.


"Hei, ayo!" tegur Maura saat melihat Ardian melamun sambil menatap sisi pojok ruangan itu.


"Apa kau melihatnya?" tanyanya pada Maura.


"Iya, sejak tadi dia ada di sana. Dan aku yakin dia bukan bagian dari serangan tadi.." jawab Maura.


"Loh, kok?" Ardian terlihat bingung.


"Dia sudah ada di sana sejak pertama kali kami disini, dan aku juga tak melihat ataupun merasakan energi jahat dibayangan itu. Mungkin dia memang makhluk penghuni ruangan ini.


Sudah, gak usah dipikirin. Kita fokus saja ke Bagas sekarang ini, dan aku mau tanya.." ujar Maura menatap Ardian serius.


"Apa yang kau lakukan sehingga dalam waktu beberapa jam, para polisi ini bisa membekuk Gilang dan para anteknya?" tanyanya penasaran.


"Sedangkan kasus ini hampir ditutup selamanya, menurut informasi yang aku terima dari keluarga Bagas dan orang-orang, keluarga Gilang menggunakan kekuasaan dan koneksinya untuk menutup mulut dan mata mereka mengenai kasus ini.


Tapi kau malah bisa membongkar dalam sekejap, kok bisa? Apa kau juga punya kekuasaan dan koneksi lebih kuat dari mereka? Atau kau jangan-jangan adalah seorang pewaris tunggal dan seorang milyuner?!" tanya Maura mulai ngawur.


"Jangan kebanyakan baca novel kayak begitu, ataupun nonton drakor melulu, akhirnya di otakmu itu hanya ada begitu isinya! Gak ada yang begitu yah.


Aku lapor polisi dan langsung diproses, terbukti dan ya udah, ditangkap deh orangnya. Selesai!" jawab Ardian lebih gak masuk akal lagi.


"Ceritamu lebih tak masuk akal, kalau mau bohong yang lebih kreatif dikit!" sungut Maura meniggalkan Ardian.


"Contohnya seperti kamu yang berbohong pura-pura jadi teman sekolahnya Bagas dan Vera, gitu?!" ledek Ardian.


Wajah Maura bersemu merah karena ketahuan bohongnya, dia menatap tajam lelaki di sampingnya itu, lalu kembali berjalan meninggalkannya.


Ardian hanya terkekeh saja saat berhasil menggoda Maura, sedangkan ditempat lain ada sosok lain yang menatap mereka dari kejauhan. Dia begitu murka karena buruannya ditangkap oleh mereka.


"Dasar anak muda tidak tahu diri! Mereka tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa! Aku takkan bisa membiarkan buruanku lepas begitu saja, anak itu harus aku dapatkan sebelum anak keturunanku yang dia ambil!" ucap kakek tua itu.


Dia sekarang berada di ruangan gelap, hanya diterangi cahaya lilin. Ada dupa didepannya, berbagai bunga-bunga berlainan jenis berada diatas mangkuk kayu dan telor ayam kampung sebagai sesaji dan sesembahannya.


Dia sedang menatap Maura dan Ardian didalam wadah berisi air kembang tujuh rupa, dia mengawasi mereka melewati media lalat kecil untuk mendekati keduanya. Dari mata lalat itu dia bisa melihat keduanya lewat baskom air itu dan tiba-tiba..


Plak!


Lalat itu seketika mati kena tabok Ardian, setelah jatuh dia injak itu lalat sampai benyek. Si kakek tambah murka dibuatnya, sehingga dia kehilangan jejak mereka.


"Kenapa?" tanya Maura.


"Gak ada apa-apa.. Hanya saja lalat ini begitu berisik di telingaku!" jawab Ardian sekenanya.


"Ohhh.." ucap Maura santai.


Kini mereka sudah berada di rumah sakit, dimana Bagas dirawat, dan keduanya pun memutuskan untuk menjaga anak itu malam ini. Dan mereka tak ingin mengabari kedua orang tua Bagas, karena sudah pasti tahu nantinya bakal gimana.


"Kamu yakin kita gak usah hubungi orang tuanya?" tanya Maura lagi.


"Tidak usah, mereka sudah lelah dalam urusan ini. Jangan ditambah beban pikiran lagi, apalagi mereka sudah mendapat kabar bahwa anaknya sebentar lagi keluar dari penjara itu. Apa tak kasihan melihat mereka jika kembali syok" jawab Ardian.


"Iya, kau benar juga.." jawab Maura.


Mereka duduk di atas kursi didalam ruangan itu, di ruang UGD. Bagas belum di taruh di ruang inap, karena ada beberapa berkas yang harus di urus oleh petugas lain.


Ruangan itu begitu sepi sekali, tak ada pasien lain di sana kecuali Bagas. Ericka di sana bersama dua orang perawat yang bertugas malam itu, sedangkan Ardian sedang keluar bersama petugas kepolisian tadi.


"Jadi kalian berdua memutuskan untuk menemaninya malam ini juga? Wah, kalian ini memang teman yang baik.." ujar petugas itu sambil memandang takjub kepada Ardian.


"Haha! Ti-tidak juga!" sahut Ardian gugup, dalam hatinya dia sangat kesal dengan kelakuan Maura hingga dia juga terpaksa berbohong seperti itu.

__ADS_1


Mereka sedang membeli makanan dan minuman untuk Bagas dan mereka, jadi ada dua petugas yang akan berjaga menemani Bagas dan ditemani oleh Maura dan Ardian.


Sementara itu, di ruang UGD Maura dan seorang petugas lain ada di sana ditemani oleh dua perawat didalam sana.


Tiba-tiba suhu ruangan menjadi dingin, salah satu perawat keluar dari ruangan itu ingin menurunkan suhu ruangan yang terlalu dingin itu, tapi dia tak menemukan tombol remote control nya.


"Aku keluar sebentar, mau cari remotenya" ujar perawat itu kepada temannya.


Sedangkan Bagas terlihat kedinginan, Maura menyelimutinya tapi tak mempan anak itu masih kedinginan.


"Sus, ada selimut lagi tidak? Pasien terlihat kedinginan.." tanyanya kepada perawat yang tinggal seorang diri.


"Oh, baiklah. Akan saya ambilkan.." jawab perawat itu.


Sedangkan petugas polisi yang satunya tinggal menunggu diluar ruangan, dia juga tak tahan dengan suhu udara didalam. Tiba-tiba ada kabut putih menyelimuti malam itu di area sana.


Petugas dan perawat diluar tadi tiba-tiba diam mematung, mereka berdua masuk kedalam ruangan berjalan lurus dan menatap kosong ke depan.


"Loh Sus, sudah balik lagi, mana selimutnya?" tanya Maura tanpa curiga.


"Kita pindahkan saja pasiennya ke ruangan lain.." jawab perawat itu datar.


"Oh, sudah dipindahkan sekarang yah. Syukurlah kalau begitu, jadi anak ini tak perlu kedinginan lagi disini. Nanti disiapkan lagi selimut ekstra ya Sus, buat jaga-jaga kalau dia kedinginan lagi.." pinta Maura dengan ramah, dia belum curiga.


Perawat itu hanya mengangguk pelan sambil tersenyum menyeringai, dia dibantu oleh petugas polisi tadi memindahkan Bagas ke bangsal lain untuk dibawa ketempat rawat inap, sambil diikuti Maura.


Dari sini Maura mulai curiga, karena mereka mendorong kereta bangsal itu lurus begitu saja, mereka melewati beberapa ruangan begitu saja, hingga akhirnya mereka berhenti didepan ruangan di paling pojok di koridor itu.


Dari sana mereka berdua hanya berdiam diri mematung menghadap pintu itu.


Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka pelan, didalam ruangan itu begitu gelap dan dingin, perawat dan petugas itu mendorong kereta bangsal itu, tapi ditahan oleh Maura.


"Siapa kalian?! Mau kalian apakan anak ini?!" tanyanya sambil menggertak mereka.


"Akhirnya kau sadar juga keberadaan kami, hihi! Aku pikir setelah mengikat temanmu itu, kau tak memiliki apapun lagi, ternyata aku salah!" jawab perawat itu sambil menatapnya dengan seringai mengerikan.


"Sayang, kita bawa dulu anak ini. Setelah itu baru kita singkirkan anak itu!" sahut petugas polisi itu.


"Rupanya kalian sepasang kekasih yah, pintar juga cari sarang tempat melakukan hal kotor ini!" bentak Maura kesal.


Bagaimana tidak, yang satunya polisi dan satunya perawat, keduanya memiliki tugas dan pekerjaan yang mulia, yang satu melindungi masyarakat, dan satunya untuk merawat masyarakat yang lagi sakit.


Tapi pekerjaan mereka akan ternodai oleh kelakuan dua makhluk tak tahu diri ini, mereka merasuki keduanya demi menuntaskan pekerjaan mereka.


Sedangkan Dewi Srikandi mereka ikat dan tahan di dunia lain, Dewi juga tertipu oleh mereka hingga tak sadar diserang dari dua sisi.


"Bagaimana, bukankah kami ini pasangan serasi bukan? Hihi!" kata perawat kerasukan itu sambil memeluk oknum polisi yang kerasukan juga.


Mereka berciuman didepan Maura, benar-benar pemandangan menjijikan! Melihat itu Maura mengambil kesempatan untuk menarik kereta bangsal itu dan mendorongnya menjauh dari tempat itu.


"Dasar manusia licik! Tunggu kau!" teriak Perawat itu.


Kedua manusia yang sedang kerasukan itu memiliki kekuatan yang begitu besar, melebihi kekuatan mereka yang sebenarnya.


Dengan bersusah payah Maura mendorong kereta bangsal itu sambil berlari, sedikit lagi tangan perawat dan polisi itu menggapai Maura, dan..


Bhuk!


Bugh!


Ada seseorang yang menendang kedua orang itu sampai terpental, hingga keduanya mengerang kesakitan sambil menatap tajam dan murka kepada mereka.


"A-Ardian?!" ucap Maura terkejut dengan kehadiran lelaki itu secara tiba-tiba.


"Ternyata kalian berada disini? Pantasan dari tadi aku cari tak ketemu, rupanya kalian menyembunyikan mereka disini!" geram Ardian menatap dua manusia kesurupan itu.

__ADS_1


"Apa maksudmu, Ardian?" tanya Maura tak mengerti.


"Apa kau tak sadar, Maura. Jika kau sekarang berada ditempat lain, dialam yang berdampingan di ruangan tadi" jawab Ardian menatap Maura heran.


"Tidak!" jawab Maura terkejut.


"Pantas saja, aku lihat tidak ada Dewi Srikandi disampingmu, kemana dia?" tanyanya.


"Aku gak tau.." jawab Maura sambil memalingkan wajahnya.


Ardian penasaran apa yang membuat Maura sampai memerah seperti itu, betapa terkejutnya dia melihat adegan panas antara perawat dan oknum polisi yang kerasukan itu, mereka tak sadar tubuh mereka dimanfaatkan oleh dua makhluk mesum.


"Dasar jin laknat!" teriak Ardian murka.


Ketika dia hendak menyerang mereka, tiba-tiba ada kabut tebal menyelimuti kedua manusia kerasukan itu dan menghilang begitu saja.


"Sial, kemana mereka?!" geram Ardian kesal.


"Ardian, sebaiknya kita bawa Bagas ketempat nya semula!" ujar Maura.


Membuat Ardian mengurungkan niatnya mencari dua orang kesurupan jin mesum itu, mereka kembali ke ruang UGD tadi dan di sana juga sudah ramai dan terjadi kehebohan.


Bagaimana tidak mereka kehilangan pasien tahanan, ditambah lagi salah satu petugas dan perawat juga menghilang. Mau gak mau Ardian dan Maura menceritakan semuanya.


Seperti biasa, berbagai tanggapan yang mereka terima, ada yang percaya dan ada juga yang tak percaya. Tapi tidak dengan petugas polisi yang bersama Ardian tadi, dia percaya setelah apa yang dia lihat didalam penjara tadi.


Selang beberapa saat perawat dan oknum polisi tadi datang ke ruangan itu, keadaan keduanya sangat memprihatinkan, pakaian keduanya kotor dan ada bercak darah di celana perawat itu.


Saat masuk perawat itu menangis dipelukkan temannya, sedangkan oknum polisi itu terlihat depresi dan linglung.


"Aku, akan bertanggung jawab meskipun aku tak ingat apa yang terjadi.." ujarnya menatap nanar kearah kearah temannya.


"Kasihan mereka, menjadi korban keganasan dua makhluk laknat tadi. Mereka tak saling kenal dan tak saling mencintai tapi harus melakukan pernikahan ini secara terpaksa!" ujar Maura menatap kasihan keduanya.


"Kata siapa.." sahut petugas polisi tadi, Darman namanya.


"Mereka itu saling mengenal satu sama lain, hanya saja pura-pura tak kenal saja!" sahutnya lagi.


"Maksud Bapak?" tanya Maura dan Ardian penasaran.


"Mereka itu adalah mantan kekasih, karena dulu pernah terjadi kesalahpahaman dan akhirnya berpisah. Siapa tahu setelah tiga tahun akhirnya bertemu lagi dalam keadaan begini.


Dan kau tahu tidak, keduanya saling mencintai tapi gengsi mengakuinya. Dan diam-diam saling cari kabar, dan kau tau, Irwan kembali bertugas kesini karena dia tau Nindi juga bertugas disini.


Hehehe, dasar anak muda. Coba dari dulu mereka tak gengsi, mungkin sudah menikah, dan tak akan dipermalukan dan dipermainkan oleh makhluk mesum itu!" sahut Pak Darman.


Mereka mendengar kisah dua orang itu antara kasihan, miris dan terharu. Dan akhirnya mereka dijodohkan karena kejadian laknat itu, kasihan sekali.


"Gak apa juga sih, akhirnya mereka bersatu kembali.." sahut Ardian santai.


Plak!


"Auh! Sakit May.." teriaknya saat kepalanya digeplak Maura.


"Gak apa, apanya! Kasihan mereka, berbuat sesuatu diluar pernikahan akibat ulah makhluk mesum itu! Itu jatuhnya zina!" geram Maura.


"Iya, tapi itu kan diluar kendali mereka. Mereka tak sadar melakukan hal itu, aku yakin tuh cowok gak ngerasain nikmatnya juga!" jawab Ardian dengan entengnya.


Plak!


Plak!


Beberapa kali dia dipukuli oleh Maura karena gemas dan kesal dengan jawabannya itu, sempat terpikir juga oleh Ardian, kenapa gak mereka tadi? Ups!


"Dasar lelaki, otaknya selalu traveling kalau soal itu!" Gumam Maura kesal.

__ADS_1


......................


Bersambung


__ADS_2