RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 :(PNS) Fitnah Yang Kejam


__ADS_3

"Silakan, tapi buat apa nak? Foto itu sekarang tidak istimewa lagi, jika memandanginya terus yang ada hanya menimbulkan sakit hati, dan luka ini akan terus terbuka.." jawab pak Sanusi, menyahuti permintaan Maura.


"Luka itu takkan sembuh jika tak diobati, pak.. Memang untuk mengikhlaskan apalagi untuk melupakan sebuah kejadian dan musibah itu sulit, tapi apa salahnya mencoba.." sahut Maura.


Dia bangkit dari duduknya, dan mendekati foto itu, cukup lama dia mengamati foto itu dan memperhatikan tiap detil foto itu, dia melihat ada sedikit lipatan kecil dibawah foto.


Ada sedikit aneh dengan itu, seperti ada sesuatu yang nyelip didalam foto. Dia mengangkat foto itu dan membuka bingkainya, membuat pak Sanusi terheran-heran dengan tingkahnya.


"Mau kau apakan foto itu?!" tanyanya heran.


"Aku mau membantu kalian dengan ini.." jawab Maura.


"Bantu pakai foto? Memang bisa?!" tanya pak Sanusi kebingungan.


Maura tak menjawab dia sibuk membongkar bingkai foto itu, ternyata sangat sulit membukanya, bingkai itu menyatu dengan cermin kaca dan fotonya, seperti dilem sangat kuat seakan ada sebuah rahasia besar yang disimpan di sana.


Praaangg!!


Maura memecahkan bingkai foto itu, istri pak Sanusi menjerit ketakutan membuat pak Sanusi berusaha menenangkan istrinya yang tiba-tiba mengamuk itu.


"Akh! Bapak tolong!" teriak istri pak Sanusi.


"Tenang, Bu! Tidak ada apa-apa, nak mau kau apakan foto itu?! Kau mengejutkan istri saya!" ucap pak Sanusi marah kepadanya.


Maura tak menggubrisnya, dia tengah sibuk merobek sisi bawah foto itu dan dia menemukan memori card didalamnya terbungkus dengan plastik putih.


"Maura, gawat! Ada beberapa warga datang menuju ke rumah ini, salah satunya adalah pamannya Vera!" ujar Dewi Srikandi melapor kepadanya.


"Tunggu sebentar, aku akan membereskan ini dulu." Jawabnya.


"Pak, diluar ada beberapa warga yang datang kemari. Sepertinya mereka mencurigai saya, nanti jika mereka bertanya tentang saya katakan saja saya adalah temannya Bagas dan Vera" pinta Maura kepada pak Sanusi.


"Lah, kamu kan memang temannya mereka. Kenapa harus takut dan bingung!" ucap pak Sanusi, malah dia yang bingung dengan perkataan Maura.


"Ah, iya! Maaf, saya terlalu panik dengan mereka jadi takut sendiri.." jawab Maura asal, dia lupa kalau dirinya sedang menyamar.


'Hampir saja..." gumamnya.


Maura buru-buru membersihkan pecahan kaca dan bingkai foto, sedangkan pak Sanusi membawa istrinya kedalam kamar.


"Pak Sanusi, keluar! Siapa tamu yang datang itu?! Apa dia penipu juga seperti kalian, hah?!" teriak orang-orang itu diluar rumah.


Pak Sanusi datang tergopoh-gopoh bersama Maura, mereka heran dengan kedatangan para warga dengan ekspresi marah seperti itu, padahal dia merasa tak melakukan apapun.

__ADS_1


"Dia ini Maura temannya Bagas dan Vera, dia datang dengan niat bersilaturahmi.." jawab pak Sanusi dengan gugup.


"Alah jangan bohong kamu, Vera dan Bagas mana ada teman seperti dia, kelihatan dari penampilannya dari kota begitu, sedangkan keduanya orang kampung, miskin!" jawab pak Darto kasar.


"Dan kamu juga, Vera itu mati dibunuh oleh Bagas! Bagaimana bisa kamu datang kerumahnya seperti itu?!" sambung pak Darto lagi.


"Bagas tidak membunuhnya, saya yakin itu!" teriak pak Sanusi tidak terima anaknya di cap sebagai pembunuh.


"Dasar orang tua tidak tahu malu! Dikasih tahu bukannya sadar diri malah ngeyel, kalian tuh harusnya malu tinggal di desa ini. Karena kami tak menerima keluarga pembunuh!" sahut warga yang lain.


"Tenang, bapak-bapak.. Ibu-ibu, saya ini Maura teman sekolahnya Bagas dan mendiang Vera saat di SMA dulu, semenjak lulus sekolah kami kehilangan kontak, karena saya kuliah di kota sebelah. Dan maaf, saya tidak tahu musibah yang menimpa keduanya.


Saya baru pindah ke kota ini lagi dan kuliah disini, dan baru mendengar berita tentang mereka baru-baru ini, saya ingin berkunjung dan bersilaturahmi dengan keluarga masing-masing" ucap Maura berbohong, jantungnya berdegup kencang dan berdoa semoga tidak ketahuan.


"Maura, kenapa kau berbohong?!" tanya Dewi Srikandi.


"Maaf, aku terpaksa melakukannya demi kebaikan bersama" sahut Maura dalam hati.


"Mana mungkin, seharusnya kau membenci mereka karena telah menjadi keluarga pembunuh dan bersimpati dengan korban! Aku yakin mendiang Vera sangat kecewa denganmu!" ucap pak Darto sok tau.


"Saya tidak mudah percaya begitu saja dengan berita yang belum tentu kebenarannya, meskipun Bagas sudah ditetapkan sebagai pembunuh jika tak ada bukti yang nyata dan saksi yang kredibel, maka saya tidak akan percaya sama sekali" jawab Maura.


"Kamu ini ngeyel sekali dibilangin, awas nanti kamu bisa menyesal telah mempercayai mereka. Dan aku juga tak terima jika keponakanku harus mati seperti itu!" ucap pak Darto lagi menatap tajam kearahnya.


Dan suka ikut campur urusan orang, sangat serakah dengan harta peninggalan kakeknya, sehingga bagian ibunya pun diambil juga. Ituuu... Anda kan?!" tanya Maura kepada lelaki berkumis tebal.


Muka pak Darto merah padam dibuat malu Maura, apalagi beberapa warga yang ada di sana menatapnya curiga, dengan berbisik-bisik mengenai dirinya.


"Aa-pa yang kau katakan?! Ii-tu tidak benar!" jawabnya tergagap-gagap.


"Melihat ekspresi dan jawabanmu itu, berarti benar! Pak, apa anda tak malu mengambil keuntungan atas kematian keponakannya sendiri. Kasihan loh mendiang Vera dan adiknya..


Vera juga pernah cerita kepadaku, jika anda ini suka berbohong dan menipu orang. Apa anda sekarang sedang berbohong? Untuk apa? Apa untungnya bagi anda untuk melakukan ini semua?!" cecar Maura lagi.


Pak Darto tak bisa menjawabnya karena dia bingung harus berkata apa, sedangkan pak Sanusi dan warga lain menatapnya tak suka, dia memilih pergi dari sana tapi tertahan oleh kedatangan seseorang.


"Warsih?! Apa yang kau lakukan disini?! Apa kau datang untuk meminta ganti rugi kepada orang itu atas kematian kedua anakmu?!" tanya pak Darto sambil tersenyum sumringah.


Dia berharap kedatangan adiknya itu bisa menghancurkan asumsi Maura dan menghapus kecurigaan para warga, juga membuat pak Sanusi dan istrinya terusir dari desa itu, maka dia akan mendapatkan banyak uang lagi dari keluarga Gilang.


"Sudah, diam! Aku malu dengan sikap dan perilakumu, bang! Jangan berpura-pura peduli denganku ataupun dengan anak-anakku, aku tau selama ini kau memanfaatkan semua ini demi uang kan?!" sahut bu Warsih ibunya mendiang Vera.


Pak Darto sama sekali tak menyangka akan jawaban dari adiknya itu, selama ini bu Warsih hanya diam saja ketika kakaknya itu berbuat seenaknya saja dengan dirinya. Tapi kali ini dia tidak mau dimanfaatkan lagi olehnya.

__ADS_1


"Ke-kenap kau berkata begitu?! Pasti, pasti anak ini yang meracuni pikiranmu kan?!" tanyanya sambil menunjuk Maura.


"Tak ada yang memanfaatkan aku, dan aku tidak akan terbujuk rayu dengan ucapanmu, bang!" sahut bu Warsih sambil menatap marah kearah kakaknya itu.


"Ka-kauu.." pak Darto terdiam mendengar adiknya begitu berbeda dari biasanya.


"Kedatanganku kesini untuk meminta maaf kepada pak Sanusi dan ibu atas semua yang terjadi, selama ini aku salah menilai kalian karena termakan hasutan orang-orang untuk membenci kalian.


Aku baru saja mendapat kabar, jika pembunuh yang sebenarnya telah ditangkap. Dan Bagas akan segera dibebaskan, selain datang untuk meminta maaf, saya juga ingin mengajak kalian pergi ke lapas bersama-sama menemui Bagas, sekalian saya ingin meminta maaf kepadanya.." sahut bu Warsih sambil menangis terduduk bersimpuh dihadapan pak Sanusi.


Membuat Maura dan para warga terheran-heran dengan sikapnya itu termasuk juga dengan pak Darto, tentu saja dia tak terima adiknya itu merendahkan diri dihadapan orang seperti pak Sanusi itu.


"Apa-apaan kamu ini, Warsih?! Apa kamu sudah gila gara-gara kehilangan anak, jadi setres seperti ini!" ucap pak Darto marah.


"Diam kamu bang! Sebentar lagi polisi akan menangkap abang karena ikut bersekongkol dengan mereka, dan memberikan saksi palsu juga memanfaatkan musibah ini demi keuntunganmu sendiri!" kata bu Warsih lebih marah lagi kepada kakaknya itu.


"I-itu tidak mungkin!" mendengar nama polisi dan kebohongannya terbongkar, membuatnya ketakutan dan berlari bersembunyi.


Melihat itu Dewi Srikandi membuatnya terjatuh kedalam parit samping rumah pak Sanusi, hingga dia berlumuran lumpur bercampur kotoran.


"Sampah dan mulut kotor itu sudah seharusnya berada di sana!" ucap Dewi Srikandi saat Maura melihatnya meminta kejelasan.


"Ah! Sepertinya aku selangkah mundur dari Ardian, pasti anak itu sudah mengungkapkan misteri ini lebih dulu dibandingkan aku! Makanya dia langsung bisa menangkap Gilang dan membongkar kedok keluarganya" ucap Maura sedikit kecewa karena kalah dengan Ardian.


"Tidak apa kalau demi kebaikan, yang penting Vera dan adiknya bisa pergi dengan tenang, sedangkan anak bernama Bagas itu bisa memperoleh kebebasan lagi.


Dan sekarang, Maura.. Tugas kita belum selesai, ingat! Meskipun Gilang sudah ditangkap, dan mungkin keluarganya bisa bangkrut ataupun dihukum masyarakat, tapi tidak akan mengubah apapun, selama sihir itu masih ada.


Tugas kita selanjutnya memutuskan mata rantai sihir, praktek ilmu hitam di keluarga itu. Dan aku yakin itu belum terungkap oleh siapapun," ucap Dewi Srikandi.


"Kau benar, Dewi.. Setelah kita memberikan keadilan bagi manusia yang di rugikan oleh mereka, kita juga bisa membebaskan jiwa yang tertahan karena dendam itu.


Semoga aku bisa menghapus dan menghancurkan mata rantai itu segera" ucapnya, diamini oleh Dewi Srikandi.


Mereka ikut ibu Warsih dan pak Sanusi beserta istrinya mengunjungi Bagas di lapas, Maura bertemu dengan Ardian di sana, dia cuek pura-pura tidak melihat.


"Hem! Mau apa lagi ini anak? Semoga dia tidak mengacaukan rencanaku" gumam Ardian.


Dia mencoba tersenyum kearah Maura, tapi gadis itu masih marah kepadanya. Sehingga dia kembali bingung dibuatnya.


......................


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2