
"Ampun! Ampuni kami, Kadarsih! Kami mohon!!" ucap kedua orang itu.
Kadarsih menatap murka keduanya, bayangan dimasa lalu terus bergerak diingatkannya saat masih hidup, ia masih ingat betul dengan kejadian terakhir disaat menit-menit kematiannya.
Dia melihat dan mengingat wajah dan suara mereka yang terus mengatakan kata-kata kotor dan bernada intimidasi saat mencecarnya, dan juga beberapa kata provokasi dari mereka membuat beberapa warga gelap mata dan membunuhnya dan juga bayi didalam kandungannya.
"Kalian tega, kalian kejam!" ucapnya sambil menatap tajam keduanya.
"Ammpuun!! Ampuni kamii, kami salah, karena kami terlalu dibawah nafsu dan tekanan dari kakak iparmu itu, dialah yang meminta kami melakukan semua ini!" ucap salah satu dari mereka.
Dan kebetulan saat mereka sedang ketakutan dan duduk bersimpuh dihadapan Kadarsih, ada juga beberapa warga dan hansip yang berjaga melihat mereka dalam keadaan seperti itu.
Tidak dengan mereka, para warga dan hansip itu tak melihat siapa-siapa di sana, kecuali dengan mereka. Entah itu kebetulan atau memang di sengaja, diantara para warga itu ada dua sahabat yang berprofesi sebagai polisi dan wartawan.
Hati dan jiwa mereka tergerak saat mendengar ungkapan dan ucapan mereka itu, sebagai saksi, mereka mendengar semua pengakuan ketiga orang itu, dan terlihat ketakutan sekali saat melihat kearah satu tempat tapi di sana tak ada apa-apa.
"Apa yang kalian lakukan disini?!" tanya hansip yang tadi diam saja memperhatikan mereka dengan kebingungan.
Setelah cukup lama mendengarkan ocehan mereka, barulah hansip dan beberapa warga tadi termasuk polisi dan wartawan tadi menghampiri mereka, mereka nampak begitu senang saat melihat ada beberapa warga yang datang.
"Ta-tangkap kami! Kami telah melakukan begitu banyak kesalahan, tolong antarkan ke kantor polisi segera!" ucap ketiga orang itu sedikit menceracau.
Mungkin mereka merasa lebih baik di penjara dibandingkan selalu diteror oleh hantu Kadarsih, melihat ketiga orang itu, pada saat itu mereka masih muda, para warga melihat mereka masih dalam keadaan mabuk, aroma miras sangat menyengat dari ketiganya.
"Mabuk kayaknya nih!" ucap salah satu warga.
"Iya, lihat aja berdiri aja masih oleng! Mata merah, benar-benar mabuk ini!" timbal juga yang lainnya.
"Ti-tidak! Kami tidak mabuk, kami bisa mendengar dengan jelas suara kalian, wajah kalian!" ucap salah satu dari ketiga orang itu.
"Iya! Saking jelasnya, kami bisa melihat hantu!" sahut juga temannya.
__ADS_1
"Hantu?" tanya yang lain heran.
"Iya, hantu Kadarsih!" ucap ketiganya kompak.
Setelah itu terdengar suara tangisan diiringi suara tawa cekikikan khas hantu Kunti, membuat semuanya merinding, tapi tidak sampai di sana juga, mereka juga diperlihatkan wujudnya juga.
Kadarsih sedang duduk disalah satu pohon yang berada di sana, kakinya menjuntai kebawah dengan dialiri darah kental sampai menetes kebawah, makin lama makin deras tetesan darah itu, diiringi juga suara jeritan menyayat hati hantu kadarsih.
"Sakit,, sakit,, tolong.. Bayikuuu.." ucapnya melolong sedih.
Membuat semuanya bergetar ketakutan dan lari terbirit-birit, semenjak itu teror hantu kadarsih terus meneror warga kampung itu hingga orang-orang yang terlibat dengan kematiannya terbalaskan olehnya.
Setelah itu dia menghilang kembali, setelah beberapa belas tahun kemudian, tiba-tiba saja hantu Kadarsih kembali lagi. Dan mulai meneror warga lagi, tapi anehnya yang dia teror bukan kampungnya lagi, tapi kampung lainnya yang sama sekali tak berkaitan dengan kematiannya.
Kembali ke masa sekarang, hantu Kadarsih sudah tak memancarkan aura kebencian kepada ketiganya, bahkan mereka juga bisa merasakan kalau hantu itu malah menatap kasihan kepada ketiganya.
"Seharusnya kalian tak perlu dipenjara hingga begitu lamanya, lihat.. Kalian sudah mulai menua, seharusnya kalian telah menikah dan memiliki keluarga sendiri.." ucap Kadarsih lembut.
"Biarkan apa yang menimpa dengan kami menjadi pelajaran yang berharga bagi semua orang dan kami juga tentunya, agar tak mencontoh perbuatan buruk ini, jika terjadi lagi maka inilah yang terjadi.." balas salah satu dari mereka.
"Terima kasih atas semua pintu maaf yang kau berikan, Kadarsih! Jika saat itu kau tak datang, kami tak tau pintu taubat masih terbuka atau tidak untuk kami.." ucap juga satunya lagi.
"Aku datang dengan mengancam kalian waktu itu, dan maaf.. Ada atau tidaknya aku saat itu, jika kalian benar-benar ingin bertobat, aku yakin pintu maaf akan datang darimana saja, selagi kalian masih hidup, kesempatan itu masih ada dan datang kapan saja, kecuali kalian telah mati, maka pintu tobat akan tertutup sudah.." balas Kadarsih.
Semuanya mengangguk setuju, kali ini pandangan tertuju kepada sepasang suami istri yang sedari tadi saling berpelukan saling menguatkan, mereka menatap Kadarsih dengan tatapan takut, malu dan juga sedih.
"Apa kabar, Bang Adam? Sitha?" tanyanya pelan dan sendu.
Mereka tidak menjawab pertanyaannya, mereka hanya menunduk dan menitikkan air mata penyesalan, mereka melihat sosok sahabatnya juga termasuk mantan kekasihnya Adam itu tanpa begitu cantik meskipun dengan wajah sedikit pucat.
Kadarsih sama sekali tak menunjukkan raut wajah kecewa, sedih ataupun marah, dia hanya tersenyum lembut menatap keduanya. Sama sekali tak ada dendam di sana, karena pelan-pelan perasaannya membaik setelah berbicara dari hati ke hati kesemua orang setelah bertemu dan berbicara langsung.
__ADS_1
"Selama ini aku kesepian, tak ada yang mau mendengarkan aku, tak ada yang percaya denganku, tidak ada sama sekali, malah semuanya menganggap ku ini kotor dan hina, apalagi dalam keadaan hamil diluar nikah, tanpa mau tau penyebabnya sama sekali.
Waktu itu, aku merindukan kalian berdua, kekasih dan sahabatku, karena selama ini tepatnya waktu itu, aku selalu bercerita kepada kalian.
Tapi begitu menyakitkan saat menyadari kalian diam-diam menjalin hubungan di belakangku, soal pengkhianatan ini mungkin aku bisa memanfaatkan karena mungkin memang bukan jodohnya.
Tapi, kenapa kalian juga ikut memfitnahku? Kenapa? Aku sangat penasaran? Dan ini merupakan salah satu alasan kenapa aku masih berada di dunia ini!
Huuft,, maaf.. Aku terlalu terbawa emosi, bisakah kalian menjawabnya? Dan tolong, jawablah dengan jujur.." ucap Kadarsih.
"Maafkan aku, Kadarsih... Aku tau, sampai kapanpun dosaku ini tidak akan pernah bisa menyelamatkan diriku nanti, jika kau sangat membenciku, aku pikir itu juga wajar, karena.. Memang ini semua salahku.
Sebenarnya, aku dan bang Adam memang saling menyukai sejak lama sebelum kalian menjalin hubungan, kami terpaksa menyembunyikan hubungan ini setelah mengetahui bahwa kau juga menyukainya, aku tak ingin kau kecewa dan pergi meninggalkan persahabatan kita.
Sehingga aku meminta bang Adam mau menjalin hubungan denganmu, aku tau ini salah tapi saat itu kita masih remaja dan masih begitu egois, aku tak ingin kehilangan sahabat juga pacar, membiarkan pacar sendiri menjalin hubungan dengan sahabat sendiri itu menyakitkan.
Aku tau ini semua salahku, seandainya dari awal aku jujur padamu, mungkin ini tidak pernah terjadi. Aku tau, kakak iparmu itu diam-diam memperhatikan dirimu, saat itu aku masih diselimuti dengan api cemburu.
Dan aku menyetujui rencananya untuk menjebakmu, aku pikir itu hanya sekedar ancaman saja, aku tak pernah berpikir jika dia juga berniat ingin melecehkanmu, dan sumpah demi apapun, aku tak tau soal penyekapan dan pemerkosaan dirimu itu, Kadarsih.
Dan saat itu, aku masih percaya jika apa yang diucapkan oleh kakak iparmu itu ada benarnya, dan karena rasa ingin memiliki Abang Adam kembali, aku menutup mata dan teligaku, menutup hatiku untukmu! Dan berusaha melindungi diri sendiri dengan ikut memfitnahmu, aku sadar ini salah, dan aku minta maaf.." ucap Sitha, merupakan istri pak Adam.
"Aku tak menyangka kau menyimpan begitu banyak rahasia selama ini, Bu.. Kenapa kau rahasiakan ini dariku, Bu? Apa kau tak percaya kepadaku? Kau tau, aku sama sekali tak berniat ingin membuatmu kecewa ataupun mengkhianatimu!
Aku melakukan ini semua atas permintaanmu sendiri, dan merasa kasihan juga dengan Kadarsih, apa kau pikir aku benar-benar jatuh hati kepadanya? Tidak, seperti yang kau tau, itu semuanya sandiwara saja.
Bahkan aku berniat memutuskan hubungan kami setelah beberapa bulan kemudian, dan mengungkapkan perasaanku kepadamu didepannya, aku sama sekali tak menyangka kau malah berbuat seperti itu!" ucap pak Adam sangat kecewa dengan istrinya itu.
"Sudahlah, Adam! Jangan kau hanya menyalahkan Sitha saja, bukankah sedikit banyaknya kau juga terlibat dengan semua ini? Jika apa yang kau ucapkan tadi itu benar, setidaknya kau menolak ide gila pacarmu itu untuk memacari temannya juga!
Emang kalian lelaki maunya enak sendiri, jika terjadi kesalahan kalian angkat tangan, menghindari semua kesalahan kalian dan melimpahkannya kepada yang lain!" sahut guru mereka, sudah tak tahan dengan sikap Adam yang menurutnya sangat egois itu.
__ADS_1
......................
Bersambung