RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Cerita Pak Sanusi


__ADS_3

Maura nekat datang ke rumah orang tua Bagas, dengan alamat yang diberikan oleh Vera dia menuju rumah itu.


Awalnya dia minta Vera menemaninya agar lebih mudah menuju rumah itu, karena menurut alamat yang diberikan oleh Vera, letak rumah Bagas berada lumayan jauh di pedesaan dibawah kaki bukit.


Tapi hantu gadis itu menolak untuk ikut bersamanya, alasannya dia malu bertemu dengan keluarga Bagas, terutama ayah dan ibunya. Dia merasa bersalah atas apa yang menimpa Bagas, meskipun dirinya juga korban.


"Pergilah, Maura. Tolong sampaikan permohonan maafku kepada orang tua Bagas, karena aku Bagas juga kehilangan masa depannya, dan nama baik keluarganya pun hancur karena aku" ucap Vera sambil menundukkan wajahnya.


"Ini bukan salahmu, Vera. Ini adalah takdir yang sudah ditentukan, Allah telah menggariskan takdirmu meninggal seperti itu, dan juga jalan takdir yang harus dijalani oleh Bagas juga.


Tapi jangan menyerah, atau berserah diri. Mungkin kamu tak bisa merubah takdir ataupun nasibmu, tapi Bagas masih bisa asalkan dia mau berusaha dan berdoa kepada Allah SWT.


Yakinlah pasti akan ada jalan keluarnya, setidaknya untuk Bagas, jalanmu sudah benar. Setidaknya Gilang masih punya kesempatan untuk berubah, untuk bertobat.


Bantu aku melakukan semua ini, karena aku sendiri pun takkan sanggup melakukannya jika tanpa bantuan Allah SWT dan juga orang-orang yang ada di sekitarku, termasuk kamu.." ucap Maura menguatkan hantu gadis itu.


"Aku akan bantu semampuku, karena kamu tau kalau aku punya batas di dunia ini. Setidaknya dengan ini aku bisa menebus semua kesalahanku ini, dan aku bisa membawa adikku pergi dengan tenang di sisi Tuhan.." sahut hantu gadis itu.


"Aminn.." Maura mengaminkan doanya.


Maura naik mobil travel menuju rumah orang tua Bagas, yang letaknya lumayan jauh dari kota. Saat dia sampai di desa itu, begitu banyak tatapan mata yang tak suka dengannya.


Mereka menatap tajam kearah Maura dengan pandangan curiga, dia hanya diberikan alamat nama desa tersebut tapi tidak dengan alamat yang lengkap, maka Maura pun harus bertanya kepada orang-orang mengenai alamat rumah orang tua Bagas.


"Permisi Pak, Bu.. Maaf, saya mau nanya. Rumah pak Sanusi dimana yah?" tanyanya.


"Sanusi siapa?!" jawab seorang bapak-bapak berkumis tebal yang kebetulan lewat didepannya.


"Sanusi bin Sanip, ayahnya Bagas" jawab Maura masih ramah.


"Kamu siapanya?!" tanya bapak-bapak itu tidak ramah.


"Emm, saya temannya" jawab Maura terpaksa berbohong.


"Jangan bohong kamu! Katakan, kamu dari media mana?! Atau jangan-jangan kamu Intel yah buat mengawasi desa kami?!" bentak bapak itu marah.


"Maaf, saya tak mengerti maksud bapak apa yah?!" tanya curiga Maura, dia tidak suka dengan tuduhan orang itu.


"Alah, gak usah pura-pura kamu! Gara-gara anak sialan itu, nama desa kami hancur karena perbuatannya. Bisa-bisanya dia melakukan hal keji itu kepada seorang gadis dan anak kecil!" jawab bapak itu penuh emosi.


"Belum tentu, Pak.." timbal Maura.


"Semua orang tau semua perbuatannya, gara-gara dia banyak polisi dan wartawan datang mondar-mandir di desa ini, dan dia malah tak mengakui perbuatannya padahal sudah tertangkap basah.


Dan bisa-bisanya juga dia menuduh salah satu anak orang penting di kota, mentang-mentang dia dekat dengan anak itu, apalagi anak itu baik, dia malah menuduhnya membunuh padahal bukan!" ucap bapak itu berapi-api menjelaskannya kepada Maura.


Gadis itu tidak terlalu mendengarkan ucapannya, karena dia sudah tau faktanya, tapi dia fokus dengan sikap bapak itu yang menurutnya mencurigakan.


"Kenapa bapak begitu yakin jika Bagas adalah pelakunya, sedangkan anak itu bukan?!" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Lah jelas, polisi kok yang bilang! Katanya lagi mereka punya saksi dan bukti, apalagi yang harus disangkal" ucap bapak itu sambil tersenyum sumringah.


"Aneh.." gumam Maura.


"Baiklah, kalau begitu... Saya permisi dulu, mau lanjut cari rumah orang tua Bagas.." pamit Maura sopan.


"Hei, nak! Untuk apa kau ke rumah mereka?!" tanya bapak itu penuh curiga.


"Ah, saya datang hanya ingin bersilaturahmi saja, pak.. Mungkin saat ini mereka butuh pertolongan, sekalian mau bantu juga" jawab Maura masih ramah.


"Buat apa bantu mereka, toh kalau mau dikasihani itu keluarga korban, yaitu saya pamannya!" ucap bapak itu terlihat marah sekali.


Maura terkejut, Vera tidak memberitahukan kepadanya jika ada kerabatnya di desa ini. Dia buru-buru berkomunikasi dengan Dewi Srikandi lewat telepati nya untuk menanyakan pernyataan bapak ini kepada Vera yang masih menunggu di kampus.


"Maura, kata Vera memang benar dia memiliki paman di desa ini, adik sepupu ibunya. Tapi mereka jarang berkomunikasi dan hubungan mereka juga tak terlalu baik, katanya" ucap Dewi Srikandi kepada Maura.


"Aneh, ini berbanding terbalik dengan pernyataan orang ini, seakan mereka begitu baik dan dekat dengan korban" ucap Maura dalam hati.


"Aku curiga dia juga terlibat dengan semua ini, kau tau Maura jika organisasi ini sangat besar mereka berada dimana saja, dan dari kalangan mana saja juga" sahut Dewi Srikandi.


"Tapi apa iya pamannya setega itu?" tanya Maura tak yakin.


"Masalah harta tak ada yang namanya saudara, dan kau tau betul itu" ucap Dewi Srikandi lagi.


Maura tertegun, ada benarnya juga kata Dewi ketika dia mengingat kembali keluarga ayahnya itu, dia berharap Gilang bisa bertobat dan berubah seperti ayahnya Maura yang tak ingin mengikuti jejak nenek kakeknya.


Tapi masalahnya, Gilang sudah terlalu jauh melangkah, apa dia bisa kembali lagi seperti dulu sesuai harapan Vera?


"Maaf, pak. Tidak ada apa-apa, permisi.." ucapnya buru-buru pergi dari sana.


"Hei, bocah! Dibilangin juga, kok gak dengerin sih! Jika dia temannya Bagas, sudah pasti dia juga temannya anak itu juga! Hem, sayang sekali aku tak mendapatkan sesuatu darinya" ucap bapak itu.


Dia pun pergi dari sana, dengan mengendap-endap dia bersembunyi dibalik pohon sambil mengawasi pergerakan Maura, dia juga menelpon seseorang.


"Halo, pak! Saya Darto, iya! Hehe.. Anu, saya mau lapor. Ada anak yang mengaku sebagai temannya Bagas, dia datang untuk menemui orang tua anak itu. Bagaimana ini, pak? Apa yang harus saya lakukan?


Oh, baiklah. Awasi saja yah.. Baik, baik pak! Terima kasih, hehe" ucap bapak itu tadi yang bernama Darto menutup telponnya.


"Hehe, lumayan bisa dapat cuan hanya buat lapor beginian doang, hehe!" ucap pak Darto itu sambil menyeringai licik.


Maura semakin jauh dari pandangannya, dia hendak menyusul gadis itu secara diam-diam, saat dia hendak berbalik betapa terkejutnya dia melihat sosok hantu yang begitu mirip dengan mendiang keponakannya itu.


"Ha-hantuuu! Toloongg!!" teriaknya ketakutan.


Dia berlari terbirit-birit menjauhi tempat itu sambil berteriak seperti itu, Maura yang letaknya lumayan jauh masih bisa mendengar suara teriakannya itu dan melihat dengan senyuman.


"Apa kau yang melakukannya, Dewi?" tanyanya kepada Dewi Srikandi.


"Iya, karena aku benci sekali dengan manusia licik dan tamak seperti dia. Dan maaf aku menggunakan rupanya Vera buat menakuti pamannya itu" sahut Dewi Srikandi gemas.

__ADS_1


"Haha, iya! Dan aku yakin Vera pasti tidak akan keberatan," ucap Maura sambil melanjutkan perjalanannya.


Setelah bertanya kesana kemari, akhirnya dia menemukan juga rumah orang tua Bagas, rumah yang dibangun letaknya tak jauh dari mata air sungai itu, didepan rumah ada seorang lelaki tua sedang duduk mengikat bambu-bambu yang dia potong dan susun rapi.


"Permisi, pak.. Maaf, apa saya bisa bertemu dengan bapak Sanusi?" tanya Maura dengan sopan.


"Iya, saya sendiri. Kamu siapa yah? Wartawan atau polisi?" tanya bapak itu terlihat ketakutan.


"Saya temannya Bagas, pak.." ucap Maura dengan sopan.


Mendengar nama anaknya disebutkan dan melihat sikap Maura yang sopan, bapak itu kembali tenang dan sedikit terguncang, matanya berkaca-kaca sambil menatap haru Maura.


"Kamu benaran temannya Bagas atau bohong?! Karena yang saya tahu sejak kejadian itu semua orang memusuhinya dan mengucilkan kami, kami dianggap sangat berdosa sekali karena memiliki anak seorang pembunuh.


Dan tak ada seorang pun yang datang hanya sekedar menyemangati ataupun membantu kami, yang ada hinaan dan caci maki orang-orang yang kami terima hampir setiap harinya." Ucap lelaki tua itu sambil menghapus air matanya.


"Pak, siapa yang ada diluar? Masuk, Pak! Nanti bapak dipukuli lagi!" terdengar suara serak parau dari dalam rumah.


"Bukan siapa-siapa bu!" sahut pak Sanusi menimbalinya.


"Dia Istri saya, ibunya Bagas. Akhir-akhir ini dia sering sakit-sakitan karena terus memikirkan Bagas, belum lagi dia tak tahan mendengar hinaan para tetangga terhadap keluarga kami, kasihan istriku.." ucapnya sedih.


"Boleh saya masuk kedalam, pak? Mau lihat ibu juga, lagian tak enak kalau mengobrol diluar bapak tau sendiri jika ada yang melihat nanti ada saja perkataan para warga yang menyakitkan lagi.." pinta Maura.


"Baik, Nak.. Kau ada benarnya juga" ucapnya sambil mempersilahkan Maura masuk.


"Dewi, kau berjaga disini. Awasi rumah ini, kalau ada yang mencurigakan lapor kepadaku. Aku merasa keluarga ini tidak aman saat ini" ucap Maura kepada Dewi Srikandi.


"Kau benar, Maura. Baiklah, aku akan tetap disini!" sahut Dewi Srikandi.


Maura masuk kedalam rumah sederhana itu, tak ada apapun di sana, hanya ada lemari kayu, meja dan kursi kayu juga bufet kayu saja didalam ruangan itu, terlihat juga ada beberapa foto yang dipajang di dinding ruangan itu.


Ada foto anak muda di sana, dia tersenyum ceria diantara teman-temannya. Dia melihat ada foto Vera, Gilang dan seorang anak lelaki dan dia yakin itu Bagas. Pak Sanusi keluar dari sebuah kamar sambil memapah istrinya dan berjalan kearah Maura.


Mereka duduk bersama di ruang tamu itu, melihat Maura begitu intens memperhatikan foto Bagas dan teman-temannya, pak Sanusi pun tersenyum.


"Itu adalah foto kenangannya bersama teman-temannya saat perpisahan kelulusan sekolah SMP waktu itu, itu foto menyenangkan sekaligus menyakitkan.


Kenapa nasib mereka begitu tragis sekali, kenapa takdir begitu kejam kepada mereka," ucap pak Sanusi sambil menatap nanar foto yang terpajang di dinding rumah itu.


"Apa sebelum Bagas ditangkap, dia mengatakan sesuatu, pak?" tanya Maura berusaha mengalihkan perhatian pak Sanusi.


"Dia tak banyak berbicara, dia hanya menggeleng dan mengangguk saja ketika diajak bicara. Dia hanya mengatakan kalau bukan dia yang membunuh Vera dan adiknya, melainkan Gilang dan teman-temannya" ucap pak Sanusi menjelaskan sesuatu.


"Dan dia selalu memandangi foto itu, dan terus berkata, biarkan semuanya tersimpan didalam kenangan dan tertutup rapi di sana" sambung pak Sanusi juga.


"Kalau begitu, boleh saya liat fotonya lebih dekat lagi, pak?" pinta Maura dengan hati-hati.


......................

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2