
Peperangan tak seimbang itu telah berakhir, semua makhluk kiriman itu telah dibawa ke kerajaan bayangan oleh semua prajurit Dewi Srikandi. Setelah semuanya benar-benar selesai, Maura turun kebawah melihat semua keadaan setelah peperangan itu selesai.
Maura masuk kedalam rumah bu kost, semua nampak berantakan sisa-sisa pertarungan antara Mbah Sukinah dengan para makhluk kiriman itu, dan juga pertarungan antara prajurit jin Dewi Srikandi dengan para makhluk kiriman itu tadi.
Maura masuk lebih dalam lagi, dia melihat Mbah Sukinah tergeletak tak berdaya didalam ruangan keluarga deket dengan meja makan, dia melihat begitu banyak sesajen diatas meja, bisa kemungkinan itu adalah alat-alat ritual Mbah Sukinah untuk melawan para makhluk kiriman itu.
Tapi sayangnya dia kalah dalam pertarungan ini, entah bagaimana caranya Mbah Sukinah datang ke alam mimpinya Maura, dan meminta tolong untuk menyelamatkan bu kostnya.
"Mbah, Mbah... Mbah bisa denger saya gak?" Maura pelan-pelan membangunkan si Mbah Sukinah.
Dengan berlahan Mbah Sukinah membuka matanya, dia melihat sosok bayangan seorang dewi dengan samar dihadapannya, tapi lama kelamaan sosok itu menghilang seiring dia bisa melihat dengan jelas, dan ternyata itu adalah Maura.
"A-apa yang terjadi? Uhuk, uhuk!" Mbah Sukinah berusaha bangkit tapi tubuh rentanya terlalu tua untuk menahan rasa sakitnya itu.
Dia kembali terjatuh setiap kali mau bangun, sisa-sisa darah dari muntahan telah mengering dibaju dan juga lantai disekitarnya. Maura membantu Mbah Sukinah bangun dan memberikannya air minum, Mbah Sukinah terlihat begitu lelah sekali.
Setelah cukup terdiam, dia langsung terperanjat seperti baru mengingat sesuatu. Dia memperhatikan ke sekelilingnya, dia nampak ketakutan dan memperhatikan Maura dengan seksama.
"Siapa kau?!" tanya Mbah Sukinah dengan tatapan menyelidiki.
"Saya Maura, Mbah.. Masa iya ga bisa ngenalin?" tanya Maura sambil tersenyum manis.
"Makhluk apapun bisa saja menyerupai seseorang untuk mengecohku! Katakan sejujurnya, siapa kau?!" tanya Mbah Sukinah masih tak percaya, dia memundurkan tubuhnya agar sedikit menjauh dari Maura.
"Ya ampun, Mbah! Ini aku, masa iya setan! Mana ada setan cantik begini, jika ada makhluk lain bisa meniruku, gak akan bisa sesempurna ini, hehe.." canda Maura, dia berusaha menyakinkan Mbah Sukinah.
Maura berlahan maju untuk mengulurkan tangannya untuk membantu Mbah Sukinah agar bisa berdiri lagi, tapi diluar dugaannya Mbah Sukinah malah menyerangnya dengan konde perak miliknya.
Seeeeett!
Benda tajam itu melukai pergelangan tangannya, Maura berteriak kaget. Dia tak menyangka Mbah Sukinah sampai berbuat seperti itu, darah segar mengucur berlahan dari tangannya itu, tercium aroma yang berbeda dari darahnya itu, bukan bau amis ataupun bau anyir khas darah, melainkan bau wangi bunga-bungaan.
Mbah Sukinah nampak terkejut dengan semua itu, sesaat dia yakin itu Maura karena makhluk halus tidak akan terluka hanya karena sebuah goresan seperti itu, dan takkan mengeluarkan darah juga, apalagi Maura juga sedang meringis kesakitan.
"Ma-Maura, ka-kauu.." Mbah Sukinah nampak terkejut sekali.
"Benar, ini aku! Ih, si Mbah pakai kekerasan gak bagus ini, ini bisa dianggap penyerangan loh!" sungut Maura sambil memegangi tangannya yang terluka.
__ADS_1
Mbah Sukinah terdiam sambil menatap gadis itu, dia pernah mendengar sebuah cerita dari para tetuanya dulu, jika akan lahir seorang anak dengan aroma bunga-bungaan yang akan menumpas kezaliman di dunia ini, terutama dengan dunia ilmu hitam.
Maura bangun dari duduknya dan menuju dapur, dia membersihkan lukanya dengan air mengalir dari wastafel pencuci piring di sana. Sesaat dia mendengar suara isak tangis dari arah sebuah kamar, dia pikir awalnya itu hanya suara angin saja, karena terdengar lirih.
Setelah dia pertajam kembali pendengarannya, ternyata suara orang menangis dan suara itu begitu mirip dengan suara ibu kostnya.
"Bu?" panggil Maura untuk memastikan.
"Dia ada didalam kamarnya, aku memintanya untuk tetap diam di sana walau apapun yang terjadi, dia tidak akan keluar sebelum pagi.." sahut Mbah Sukinah sambil duduk bersandar di dinding ruangan itu.
Tapi sayangnya Maura sudah pergi menuju kamarnya bu kost, jadi dia tak mendengar kelanjutan perkataan Mbah Sukinah. Dia berjalan berlahan menuju arah suara orang menangis. Semakin jelas suara itu sampai akhirnya dia berada didepan kamar.
Pintu kamar itu sedikit terbuka, Maura membuka pintu itu dan mengintipnya dari luar, suasana didalam kamar begitu gelap, tapi samar-samar dia bisa melihat siluet bayangan manusia yang sedang duduk dipojokkan kamar itu.
"Bu, ini Maura.. Ibu gak apa?" tanya Maura sambil masuk kedalam kamar itu.
Berlahan Maura berjalan kearah bu kost, dia meraba saklar lampu didinding dan akhirnya dia menemukan tombolnya.
Klik!
Lampu menyala terang seketika, begitu kagetnya Maura saat melihat kearah bu kost, wanita paruh baya itu kepalanya agar berputar sedikit dari belakang sambil menatap tajam kearah Maura, matanya melotot dengan senyuman menyeringai, rambutnya yang biasa bu kost sanggul kini berantakan dengan baju penuh dengan percikan darah.
"Hihihi! Wanita tua dan bodoh ini begitu mudah ditipu, dia langsung keluar setelah mendengar suara suaminya, hihihi! Memang, sekuat apapun manusia, dia tetaplah lemah, mereka memiliki begitu banyak kelemahan sehingga begitu mudah diperdaya, hihi!" ujar sosok yang mendiami tubuh bu kost saat ini.
Sebelum pertarungan antara makhluk kiriman itu dengan prajurit jin Dewi Srikandi dimulai, makhluk itu berusaha membujuk bu kost agar keluar dari kamarnya, tapi tak pernah berhasil. Tapi setelah makhluk itu menyerupai suara suaminya bu kost, wanita lemah dan kesepian itu luluh juga apalagi ada beberapa kata membujuk rayu bu kost, sehingga dia lupa bahwa semuanya adalah ilusi semata.
Bu kost membuka pintunya berlahan, hanya sedikit saja tak sampai lebar tiba-tiba asap putih tebal masuk kedalam kamarnya, wanita itu panik dan baru sadar jika ini semua adalah tipu daya makhluk itu.
"Si-siapa kau? Pergi, pergi!" teriak bu kost histeris.
Bagaimana tidak, dibalik kabut putih dan tebal itu muncul sosok mengerikan. Sosok berwujud seorang nenek-nenek tua, dengan wajah penuh luka, mulutnya mengeluarkan cairan lendir hitam berbau busuk menyengat.
Dan pada saat bersamaan itu juga prajurit jin datang untuk menyerang semua makhluk yang ada di sana, mendengar ada keributan dan mengetahui lawannya bukan makhluk biasa, makhluk jahat tadi masuk kedalam tubuh bu kost untuk bersembunyi.
Dia menutup rapat pintu kamar itu untuk bersembunyi dari semua prajurit itu, karena itulah dia tak terdeteksi oleh semua prajurit karena dia merasuki tubuh bu kost ditambah lagi kamar itu memiliki perisai pelindung juga.
"Kau benar-benar licik sekali.." ucap Maura setelah melihat sekilas bayangan apa yang terjadi sebelumnya.
__ADS_1
"Hihi.. Kau pikir aku begitu bodoh membiarkan diriku hancur begitu saja?! Setidaknya tubuh ini menjadi milikku, dan kemudian bangunan ini juga menjadi milikku!" ucap bu kost dengan suara serak menyeramkan.
"Kau tidak tau diri sekali, ini semua bukan milikmu! Kau harus berhenti sekarang juga atau kau akan menyesal nantinya, cepat keluar dari tubuhnya dan lawan aku langsung jika kau berani!" tantang Maura.
"Kau pikir aku bodoh, anak muda! Aku tau siapa kau, tak mungkin aku percaya denganmu begitu saja. Pada akhirnya kau akan melenyapkan aku juga.." ucap makhluk yang bersarang ditubuh bu kost.
"Seharusnya dari awal kau sudah menyadarinya, jika kau berurusan denganku, maka kau tidak akan aku lepaskan! Bukankah kau tau siapa aku? Kenapa kau masih meneruskan perbuatan bodohmu itu?!" ujar Maura marah.
"Dengar, manusia! Sekuat apapun kau, tetap saja kau manusia! Kau lemah, kekuatanmu juga berasal dari bangsa kami! Kau tak lebih dari seorang budak, sama seperti yang lain!" ujar si iblis didalam tubuh Bu kost.
"Aku memang manusia biasa, aku memang tak sekuat makhluk seperti kalian. Tapi aku memiliki kekuatan dari Sang Pencipta, sang pemilik tubuh ini, yang menentukan mana yang baik dan mana yang bathil.
Mereka yang kau sebutkan tadi adalah makhluk-makhluk pilihan yang ditugaskan oleh Sang Pencipta untuk menangkap dan menghukum kalian sebelum dimasukkan kedalam neraka abadi, tempat yang seharusnya kalian berada.
Kami tidak bersekutu, kami tidak melakukan perjanjian, tidak ada syarat apapun diantara kami, ini semua adalah takdir yang harus kami jalani dan kami iklhas melakukannya tanpa mengharapkan imbalan apapun.
Bukan seperti kalian yang haus akan kekuasaan, kekuatan dan pengakuan! Kalian berbeda dengan kami, dengan para makhluk yang selama ini membantuku, mereka makhluk spesial yang melakukan sebuah misi yang sangat berharga, ingat itu!!" teriak Maura murka.
Entah bagaimana caranya, tiba-tiba sekarang ini mereka sudah berada ditempat lain, di alam gaib. Seiring murkanya Maura, langit malam itu semakin gelap gulita. Tak ada bintang ataupun cahaya bulan yang menyinari bumi malam ini.
Angin bertiup kencang, suara guntur bersahutan seiring dengan kilatan petir saling menyambar, tiba-tiba hujan deras membasahi bumi , udara dingin menusuk tulang sehingga siapapun yang berada diluar rumah tidak akan ada yang tahan.
Seolah merasa dengan cuaca yang begitu ganjil ini, Mbah Sukinah merasa khawatir akan sesuatu, apakah Maura tak kunjung kembali dari dapur. Dia memaksakan diri untuk bangun meskipun agak sulit baginya untuk bediri, dia berjalan ke dapur tapi gadis itu tidak ada.
Kemudian dia teringat saat Maura mengatakan tentang bu kost atau bu Hayati, Mbah Sukinah merasa gugup lalu berusaha menuju kamar bu kost, tapi kamar itu tertutup rapat dan tak terdengar suara apapun dari dalam.
"Kemana anak itu? Tidak mungkin kan dia masuk kedalam? Bu Hayati mungkin sudah tertidur, apa dia sudah kembali kedalam kamarnya?" gumam Mbah Sukinah.
Padahal saat ini Maura berada didalam alam gaib bersama makhluk yang mendiami tubuh bu Hayati, karena manusia biasa tidak bisa masuk ke alam gaib, karena kekuatan Maura dan dibantu oleh beberapa prajurit Dewi Srikandi, dia bisa memindahkan mereka begitu saja ke alam gaib tanpa membawa tubuh bu kost.
"Sial, ternyata kau mengecohku dari tadi! Dasar bodoh, kenapa aku tak menyadarinya ketika kau panjang lebar berbicara!" geram makhluk itu.
"Kau baru menyadari betapa bodohnya dirimu itu.." ucap Maura.
Saat itu, iblis jahat itu sedang memperhatikan keberadaan mereka saat ini tidak menyadari jika telah terjadi sesuatu diantara mereka.
Betapa kagetnya dia ketika melihat Maura sudah berubah penampilannya, dari seorang gadis biasa menjadi seorang Dewi Perang yang siap bertarung kapanpun.
__ADS_1
......................
Bersambung