
Camelia terduduk didepan Maura,sorot mata Maura yang tajam dan memiliki karisma yang tinggi. seolah memerintah Camelia untuk tunduk padanya.
Didalam unit apartemen,Bik Marni dan Gerald sudah kewalahan,mereka sempat menyerah tapi keadaan itu berubah ketika para prajurit Zarak itu pada kabur.
Mereka keheranan,apa yang sebenarnya terjadi. Saat mereka sibuk mempertahankan perisai apartemen, mereka sempat mendengar suara Maura dan Camelia melawan para prajurit iblis itu.
Setelah semuanya selesai, hening tak ada suara. Bik Marni dan Gerald keluar mau melihat keadaan Maura dan Camelia.
"Srikandi.. Itukah engkau..?" Suara Bik Marni bergetar dan terduduk bersimpuh didepan Maura.
Gerald yang tidak tahu siapa itu Srikandi,tapi dia bisa merasakan energi luar biasa disana. Didalam penglihatan Gerald,didalam tubuh Maura ada sosok wanita cantik memakai kain songket warna merah keemasan,dengan kemben merah dipadukan selendang warna kuning keemasan dililitkan di pinggangnya.
Sang Dewi,itu yang dipikirkan oleh Gerald melihat sosok itu ditubuh Maura. Rambutnya panjang bergelombang melayang-layang tertiup angin,ada mahkota kecil dikepalanya,dengan berbagai perhiasan emas berkilau dan gelang yang melingkar dilengan kanan dan kirinya. Termasuk juga gelang dikedua tangannya, posisi kedua telapak tangannya disatukan seperti salam hormat.
Wanita yang begitu cantik sempurna,tidak salah Gerald menyebutnya Sang Dewi.
"Namamu Sumarni bukan? terima kasih sudah menjaga keturunan tuanku Sultan Sriwijaya.." Kata Maura dengan suara yang berbeda.
"Betul Srikandi,hamba merasa terhormat engkau mengenaliku.." Kata Bik Marni.
"Keluargamu sudah turun-temurun menjaga dan mengawasi keluarga Hartawijaya,dan mengendalikan mereka kalau mereka menyimpang lagi.." Kata Srikandi didalam tubuh Maura.
"Maafkan aku baru datang setelah sekian lama,dan tak bisa menyelamatkan keluargamu. Hanya kau satu-satunya keturunan terakhir punggawa yang ditugaskan untuk mengawasi keluarga itu." Sambungnya.
"Maafkan hamba dewi, sebenarnya hamba bukan keturunan terakhir punggawa kesultanan. Hamba memiliki keponakan lelaki,dia berhasil selamat dan keberadaanya disembunyikan agar tak diincar oleh keluarga Hartawijaya yang lain." Kata Bik Marni.
"Begitukah, bagus.. setidaknya,keturunan punggawa itu harus ada untuk terus melanjutkan misinya." Kata sang dewi.
"Apa keluarga Hartawijaya tahu siapa kau sebenarnya..?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Tahu dewi,mereka tahu setelah kematian kedua orang tuaku. Hanya Pak Irwan Hartawijaya yang percaya dan menyelamatkan hamba.. meskipun dia lemah dan pengecut,,dia orang baik dan tidak ingin menganut ilmu hitam seperti seluruh keluarganya yang keturunan Sang Iblis Arion Gaharu.
Saat ini kami dalam persembunyian dari mereka dan akhirnya mereka mengetahui keberadaan kami,dewi. Hamba bertekan akan terus bersama Maura dan saudara-saudaranya." Kata Bik Marni.
"Memang itulah tugasmu menjaga para keturunan tuanku Sultan Sriwijaya,meskipun harus menyamar menjadi pelayan di rumah musuhmu.." Kata sang dewi.
"Hamba juga minta maaf tak bisa menjaga keturunan sebelumnya,sampai hamba harus melihat langsung kematian beliau didepan anaknya yang masih kecil." Kata Bik Marni terisak kecil. Dia sedih harus mengenang kejadian waktu itu.
"Itu bukan salahmu, hanya waktu saja yang kurang tepat. Aku sudah lama bersemayam ditubuh Laura,dan berulang kali mengingatkannya tentang musibah itu terjadi, tapi dia bersikeras untuk tetap bersama Irwan Hartawijaya demi anak-anaknya.
Kau tau,jepit rambut yang dipakai olehnya waktu itu sudah dikutuk oleh pembuatnya, yaitu Arion Gaharu itu sendiri. Dia ingin menumbalkan Laura untuknya tetap abadi sekaligus membalaskan dendam leluhurnya di masa lalu.
Tapi sayang,saat jin utusannya datang untuk mengambil nyawanya,malah mereka melihat gadis kecil ini yang memiliki aura lebih tinggi dibanding Laura.
Dan mereka mengincarnya juga,aku tak sempat menyelamatkan Laura. Karena dia memintaku untuk menjaga putrinya,dia lebih memilih mati daripada putrinya diambil oleh jin laknat itu.
Dan mulai saat itulah aku berada disisi Maura,aku bersembunyi didalam tubuh lemah ini. Dan sempat tertidur panjang,sampai saat dia bertemu kucing itu."
" Dan kau kucing nakal,bagaimana bisa kalung giok delima sakti itu bisa bersamamu? Itu seharusnya kau tak memilikinya..?!" kata sang dewi sedikit membentak Gerald.
"Namaku Gerald dewi,aku hanya menerima pemberian hadiah dari tuanku dulu. Jujur saja,aku terbebani oleh kekuatan kalung ini. Begitu besar dan berbahaya." Kata Gerald dengan suara lembut.
Biasa Gerald selalu bicara angkuh dan sombong,tapi sekarang kucing itu terlihat takut dan lemah dihadapan sang dewi.
"Memang sepatutnya,itu kalung seharusnya berada ditangan pemiliknya yang asli. Kalung itu milik tuanku Sultan Sriwijaya untuk melindungi para keturunannya. Yaitu Maura dan saudara-saudaranya." Kata sang dewi.
Gerald dan Camelia terkejut mendengarnya, bagaimana bisa kalung itu pemilik aslinya adalah Maura.
"Katakan,bagaimana tuanmu dulu mendapatkannya..?" Tang sang dewi.
__ADS_1
"Tuanku dulu membelinya dari seseorang,pria itu memiliki wajah seperti orang Asia. Aku tak mengenalnya,tapi aku lihat tuanku terlihat akrab dengan pria itu." Kata Gerald menjelaskan.
"Apa kau mengenalnya Gerald,bukankah dulu nenek selalu membawamu kemanapun dia pergi..?" Tanya Camelia penasaran.
" Tidak nona,sama sekali tidak pernah aku berjumpa dengannya. Aku selalu mengingat orang-orang yang pernah bertemu atau berkenalan dengan nenek nona,aku tahu melalui aroma tubuh mereka. Karena manusia memiliki bau tubuh yang berbeda-beda." Kata Gerald menjelaskannya.
"Jadi begitu,dia kabur jauh juga rupanya. Dan bertemu neneknya yang.." Sang dewi berhenti berbicara lalu melirik Camelia.
Pandangannya sedikit aneh kepadanya, seperti ada sesuatu yang ditutupi sang dewi kebenaran tentang nenek Camelia sebenarnya.
"Kalung itu dititipkan kepadaku oleh tuanku Sultan untuk menjaga para keturunannya,kelak pada masa terakhirku akan menyerahkan kalung ini kepada penjaga seterusnya.
Tapi kepercayaan Sultan dikhianati oleh salah satu punggawanya,kalung itu dicuri. Aku saat itu memergokinnya bertarung hingga mati,dia curang menyebarkan bubuk hitam kemataku.
Pandanganku terhalang,aku lengah dan mati terhunus pedangnya. Tapi sebelumnya aku bersumpah akan memburunya sampai keturunan terakhirnya." Kata sang dewi murka.
"Kini aku sudah kembali,aku akan menjaga Maura dan keluarganya. Kau tak perlu disini lagi dan kembalikan kalung itu." perintah sang dewi.
"Tidak..!" Teriak Camelia.
"Aku akan terus disini sampai dendamku terlaksana,dan kalung ini milik nenekku yang berarti juga milikku..!" Lantang Camelia berbicara dihadapan sang dewi.
Dia tidak terima diusir begitu saja,apalagi dia sudah tahu begitu besar kekuatan kalung itu. Dia berpikir akan cepat balas dendam kepada Si kabut hitam memakai kalung itu.
"Aku tahu kau berat menerimanya,tapi itulah yang terjadi. Pada awalnya kalung itu memang bukan haknya,dan harus dikembalikan.
Kau tahu,kalung ini hanya bisa dipegang oleh jiwa yang suci seperti kucing ini. Makhluk pendendam sepertimu takkan bisa memilikinya, kecuali kalau kau ingin hancur." Kata sang dewi menjelaskan.
Kata-kata sang dewi membuat Camelia terpuruk dan menangis,dia tidak tahu harus bagaimana jika harus pergi,siapa yang akan melindungi keluarganya dan kekasihnya.
__ADS_1
......................
Bersambung