RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Kejadian Di Klinik Dr. Jeffrey


__ADS_3

Seorang wanita cantik berambut pirang, rambut panjang ikal sebahu dengan kulit putih bersihnya.


Dengan memakai stelan blazer dan rok mini dengan warna biru lengkap dengan high heels warna putih dan tas selempang warna senada.


Gadis itu meringis seperti kesakitan, padahal dia sebenarnya yang menabrak Maura tapi seolah-olah Maura yang menabraknya.


"Eh, kau punya mata tidak hah?! Kenapa kau sampai menabrak ku segitu kerasnya, apa kau tak melihat ada orang didepan mu?! " Teriak wanita itu.


Dia membuat keributan di klinik kecil itu, sehingga semua orang bisa melihat dan mendengar teriakannya.


Ardian si pria misterius itu tak terlalu memperhatikan mereka, tetapi setelah mendengar suara wanita itu perhatiannya teralihkan ke mereka.


Begitu kagetnya dia, Maura ada di sana bersama seseorang yang dia kenal juga.


Ya, wanita itu Melanie. Wanita yang terus-menerus mengejar Ardian sampai menggunakan mahkluk untuk memberikan pelet untuknya.


"Apa yang dilakukan oleh para wanita itu? Ah, mereka selalu saja membuat masalah.


Biarkan saja mereka, semoga saja Maura bisa mengatasinya. Aku harus bertemu dengan Dr. Jeffrey segera." Kata Ardian berlalu pergi.


Dia masuk kedalam ruangan dokter itu praktek, untuk beberapa saat dokter itu terkejut dengan kedatangan orang asing.


Saat Ardian membuka maskernya, dia tersenyum lega. Dia langsung mengunci pintu dan mempersilahkan Ardian duduk di kursinya.


"Aku pikir kau siapa, orang aneh memakai masker dengan topi yang hampir menutup matamu itu" katanya terkekeh.


"Kenapa kau berpikir begitu, apa karena suara keributan itu?" Kata Ardian.


"Tentu saja, aku pikir kau komplotan perampok." Dokter itu tersenyum geli.


"Baiklah, kali ini menyangkut hal apa lagi?" katanya lagi.


"Soal Melanie, kali ini dia sudah kelewatan. Tolong beritahu dia untuk tidak menggangguku lagi" ujar Ardian tanpa basa-basi lagi.


"Kenapa? Bukannya dia wanita yang cantik dan sempurna, semua pria bermimpi memilikinya " kata dr. Jeffrey.

__ADS_1


"Kalau begitu, kau saja yang dekati dia. Aku tak tertarik dengannya.


Dia bukan tipeku, aku sudah memiliki wanita lain" katanya ngasal lagi.


"Benarkah, siapa wanita yang beruntung itu?" kata Dr. Jeffrey.


Belum sempat Ardian menjawab, mereka mendengar kegaduhan diluar yang memancing mereka keluar dari ruangan itu.


"Ada apa ini? kenapa gaduh sekali diluar ini?!" Dr. Jeffrey terlihat sangat kesal sekali.


Saat itu dia melihat seorang perawatnya lewat tergesa-gesa, dokter itu menghentikannya.


"Lina, apa yang terjadi? kenapa semua orang terlihat heboh dan panik sekali?" katanya penasaran.


"Ada orang lagi bertengkar dokter, tadinya hanya adu mulut malah sekarang jadi adu jotos.


Permisi ya dok, saya permisi dulu karena salah satu dari mereka ada yang terluka" kata perawat itu nampak terburu-buru.


"Tunggu dulu, kalau boleh tahu siapa yang bertengkar? Apakah mereka perempuan, ciri-cirinya?" Ardian penasaran.


Dia masih teringat dengan kejadian Maura dengan Melanie tadi.


"Siapa dia Lina?" tanya dokter Jeffrey.


"Nona Melanie dok, saya permisi dulu" kata perawat bernama Lina itu.


"Apa? Sia*lan, kenapa gak bilang dari tadi sih?!" dokter Jeffrey terlihat panik mengejarnya.


"Ya Tuhan, apalagi ini? Jangan sampai Maura terluka, bisa habis aku sama bi Marni" gerutu Ardian kesal.


Dia juga ikutan berlari kearah lobby klinik itu, klinik itu tidak terlalu besar. Tetapi memiliki cukup tenaga medis dan peralatannya lengkap.


Saat itu klinik milik Dr. Jeffrey tidak terlalu ramai seperti biasanya, tetapi keributan itu mengundang orang banyak untuk melihatnya.


"A-apaan ini? yakin ini mereka yang berantem?" tanya dokter Jeffrey tidak percaya.

__ADS_1


Mereka melihat Maura telah terkapar dilantai, badannya terluka penuh cakaran.


Sedangkan Melanie keadaannya berantakan sekali, rambutnya acak-acakan dia sudah tak memakai blazer dan sepatu lagi.


Terlihat beberapa luka di wajah, tangan dan kakinya. Saat itu dia sedang memegang pisau medis entah dia dapat darimana, tatapannya terlihat tajam kearah Maura.


Saat dia bersiap ingin menyerang lagi, dokter Jeffrey langsung menangkapnya dari samping. Tak ayal lengannya kena sabetan pisau itu.


Darah mengucur dari lengannya, Dr. Jeffrey langsung sigap meraih pisau itu dan dilemparnya kearah bawah kursi yang ada di sana.


Ardian langsung menghampiri Maura, dia menggendongnya langsung kedalam ruang perawatan.


Melanie melihat itu langsung beringas, seperti belut licin dia melepaskan diri dari belenggu Dr. Jeffrey.


Dia menghampiri Ardian dalam posisi menggendong Maura, dia menarik jaketnya dan tak sengaja topi Ardian lepas.


Melanie sangat terkejut, seperti baru tersadar dari sesuatu. Dia nampak begitu gugup didepan Ardian.


Saat itu, setengah sadar Maura melihat Ardian yang sedang menggendongnya.


Ardian tak mempedulikan keadaan Melanie seperti orang syok itu, Dr. Jeffrey memanfaatkan keadaan tersebut.


Dia langsung meraih Melanie menjauh dari Ardian, dan membiarkan Ardian membawa Maura pergi.


"Apa yang terjadi Melanie, kenapa kau seperti orang gila? Kau hampir membunuh orang!" teriak Dr. Jeffrey.


Melanie menangis sedih, pria yang dia sukai memilih melindungi wanita lain daripada dirinya.


Apa ini, apakah peletnya tak bekerja dengan baik? Pikirnya.


Dr. Jeffrey sangat terpukul dengan kejadian itu, sahabatnya dan juga orang yang dia sukai berubah seperti orang lain.


Dia takut, Melanie bisa bergerak lebih jauh jika tak dihentikan. Cintanya pada Ardian sudah membutakan mata dan hatinya.


Sehingga dia tak sadar bahwa ada orang yang lebih dekat dengannya, lebih sayang dan perhatian padanya.

__ADS_1


...----------------...


Bersambung


__ADS_2