RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Kamaru


__ADS_3

Maura mendengar suara hembusan nafas, begitu dekat dengannya. Nafas itu memburu mencari mangsanya, terdengar teriakan dari suara itu. Sepertinya dia kesal tidak menemukan apa yang dia cari.


Tiba-tiba tubuhnya terdorong kedepan, dia jatuh bersamaan dengan beberapa pohon, ranting juga dedaunan yang ada didalam lubang hitam tadi.


"Uhuk! Apa itu tadi? Lubang apa itu, begitu dalam dan gelap?!" gumam Maura.


Dia melihat sekelilingnya, dia nampak asing dengan tempat itu. Dia berada di hutan yang tidak tahu dimana tempatnya, yang jelas itu bukan hutan Angkara lagi ataupun hutan Pinus.


"Dewi? Dewi, apakah kau mendengarku?" batin Maura mencoba berkomunikasi dengan Dewi Srikandi.


Tetapi dia tak mendapat jawaban apapun darinya, dia terus mencoba lagi tapi tak bisa. Dia melihat sekelebat bayangan menghampirinya.


Dia langsung berpura-pura mati sesuai saran Dewi Srikandi tadi, bayangan besar dan hitam itu makin dekat makin mengecil.


Dia mencoba sedikit membuka matanya, dia seperti melihat anak kecil bermain diatas pohon kayu tumbang didepan Maura yang terbaring.


"Anak kecil? Apa yang dia lakukan disini? Tunggu dulu, berarti dia bukan manusia? Ya Tuhan, aku pikir ini sudah berakhir to ternyata belum" gumamnya dalam hati.


Makhluk kecil itu terus bermain-main tanpa menghiraukan Maura yang terus berbaring didepannya.


Terlihat Kilauan mata makhluk kecil berwarna hijau itu, dia melirik kearah Maura dan menyeringai.


"Mau sampai kapan dia berbaring di sana? Siapa yang ingin dia tipu? Hehe! Sepertinya Dewi telah mengajarkan sesuatu kepadanya.


Anak ini berbakat, tapi bodoh! Dewi, Dewi... Masih saja kau memakai trik bodoh itu untuk menipuku" gumam makhluk itu terkekeh.


Suasana tiba-tiba menjadi hening, makhluk kecil itu menghampiri Maura. Dia mengamati wajahnya, Maura berpura-pura tidak sadarkan diri tanpa tahu kebohongannya sudah diketahui.


"Bangunlah, aku tidak akan memakanmu. Kau bukan seleraku, aku tak memakan jiwa yang suci" ujar makhluk itu.

__ADS_1


Maura membuka pelan-pelan matanya, didepannya berdiri seorang pria tampan dan gagah. Dia memakai pakaian perang tempo dulu, baju besi sang ksatria yang nampak gagah dikenakannya.


"Siapa kau? Kenapa kau menyerang ku tadi?" tanya Maura heran sekaligus takjub dengan ketampanan pria di depannya.


"Aku makhluk hina, kau tak perlu tahu siapa aku. Yang jelas, aku tidak memangsa manusia ataupun makhluk berjiwa bersih dan suci.


Maafkan atas kesalahpahaman ini, mari aku antarkan kau kembali bersama Dewi" ujar makhluk itu.


Maura heran, kenapa dia tahu dengan Dewi? Dia memperhatikan makhluk itu, sekilas tidak ada yang aneh dengannya. Wujudnya seperti manusia biasa, hanya saja dia memiliki mata hijau berkilau seperti mata kadal.


"Bagaimana kau tahu dengan Dewi?" tanya Maura.


"Tentu saja aku tahu dengannya, kami pernah berjuang bersama. Hanya saja, karena kecerobohan dan kebodohanku semua usaha kami sia-sia.


Puluhan tahun aku jadi budak iblis itu, setelah dia bosan dan tidak memerlukan tenagaku lagi, dia membuangku disini.


Sejak hari itu, aku bersumpah akan memakan atau memangsa semua jenis jin dan makhluk jahat lainnya." Ujar makhluk itu seperti sedang menerawang mencoba mengingat sesuatu.


Dewi Srikandi datang dengan terbang melayang menuju kearah mereka, makhluk itu tersenyum ramah menyambutnya.


"Selamat datang kembali, Dewi. Putri Dadar Bulan..." sapanya.


Dewi Srikandi nampak acuh dengannya dan tidak memperdulikannya, dia langsung menghampiri Maura dan mengecek Maura apa baik-baik saja atau tidak.


"Aku sudah berapa kali bilang padamu, aku tidak akan memangsa manusia atau makhluk suci lainnya.


Kenapa kau tidak percaya padaku?" tanya makhluk itu nampak kesal sekali dengan Dewi.


"Kau sudah tahu kenapa reaksiku begitu padamu, itu berarti aku masih tidak percaya padamu" jawab Dewi dingin.

__ADS_1


Makhluk dia menggaruk kepalanya yang tak gatal itu secara kasar, dia tidak tahu lagi harus berbuat apa lagi biar Dewi percaya padanya.


"Kau tau betul, jika aku waktu dulu kena sihir dan ajian yang kuat oleh penyihir besar itu, kan?" katanya dengan raut wajah yang ditekuk.


"Aku hanya manusia biasa yang tak memiliki kekuatan batin sepertimu ataupun Arialoka, akupun tak kuasa menahan segala bentuk sihirnya itu sehingga secara paksa dijadikan budak olehnya.


Bertahun-tahun lamanya aku jadi pesuruhnya, hingga matipun aku tidak dibiarkan bebas atau kembali ke nirwana. Aku terus melayaninya hingga menjadi makhluk buas.


Sehingga dia membuang ku disini, tempat terasing sepi dan gelap.


Sama halnya dengan hutan Angkara, hutan inipun bagian perbatasan atas perjanjian terdahulu.


Aku disini, menjadi penjaga hutan ini tanpa aku sadari. Memangsa yang jahat, melindunginya yang baik. Itu menjadi petuahku, senjataku sebagai pengingat bahwa aku dulu juga merupakan kstaria yang hebat di jamanku dulu." Panjang lebar makhluk itu menjelaskan semuanya.


Dia duduk didepan Maura dan Dewi Srikandi sambil memainkan ujung kain di pinggangnya.


"Aku masih ingat semua, Kamaru. Dan aku tidak membencimu, hanya saja rasa khawatir itu masih ada.


Aku pikir perlu untuk waspada, mengingat kau sudah cukup lebih lama menjadi budak Arion Gaharu" jawab Dewi Srikandi.


"Baiklah, aku mengerti!" ujar makhluk berlalu pergi dan menghilang.


"Mau kemana dia?" tanya Maura.


"Sudah jangan hiraukan dia, nanti juga balik lagi. Biasa, merajuk" jawab datar Dewi Srikandi.


"Ih, kayak anak kecil. Badan saja besar tinggi dan atletis, kekar dan berbahaya. Tapi sekalinya marah, ambekan!" ujar Maura tersenyum geli melihat.


Akhirnya dia bertemu juga dengan sang pemegang kalung ajaib dileher Gerald itu, kalung giok delima sakti.

__ADS_1


......................


__ADS_2