RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Dibalik Sihir itu


__ADS_3

Setelah mengetahui semuanya ulah Marino, mereka berniat mematahkan sihirnya. Tapi sebelum itu mereka harus menyelamatkan Rosario dulu dari Melanie atau Maura.


"Julian, kau dekati mereka dulu. Ajak negosiasi Melanie, carilah alasan yang masuk akal.


Aku akan mengecohkan pandangan Marino dulu, ketika perhatiannya teralihkan aku akan menyerangnya lebih dulu sebelum dia sadar situasinya," ujar Ardian.


"Kenapa aku, memangnya kau tak bisa?!" jawab Julian malas.


"Tidak bisa, bisa gawat jika mereka tahu identitasku" sahut Ardian, pandangannya masih kearah gedung disebelah apartemen Maura.


Jarak antara gedung tempat Marino berdiri lumayan jauh dari apartemen Maura, tetapi masih bisa terlihat jelas dari atap apartemen itu.


Dari mata batinnya, Ardian masih bisa melihat Marino dengan segala sihirnya menuju gedung apartemen ini.


Sepertinya Marino tahu kalau Maura sedang berusaha menyelamatkan wanita itu, dan sepertinya dia juga menyadari kehadiran Rosario dan Melanie di atap itu.


"Baiklah kalau begitu, tapi aku tak mau tanggung jawab yah kalau ada apa-apanya nanti." Kata Julian masih dengan wajah cemberutnya.


Ardian tidak menanggapi Omelan Julian, dia masih fokus dengan Marino.


Saat itu Julian datang berlagak tidak tahu apa-apa, setibanya dia di sana dia mendapatkan serangan mendadak dari Maura maupun Melanie.


Keduanya terkejut dengan kedatangan Julian, mereka hendak saling serang tapi malah Julian yang kena.


"Ju-Julian, apa yang kau lakukan disini?" tanya Melanie gugup.


"Kau?!" Maura pun heran dengan kedatangannya.


Julian tak bisa menjawab pertanyaan mereka, dia masih tersungkur dilantai atap itu. Dia merasakan rasa sakit yang hebat, bagaimana tidak dia diserang tiba-tiba secara bersamaan.


Tendangan dan pukulan mereka begitu keras, bagi orang awam tidak seberapa sakit atau kerasnya pukulan itu.


Tapi bagi mereka yang sudah terisi energi gaib dan spiritual masih bisa merasakan dahsyatnya kekuatan tersebut.


Melanie maupun Maura buru-buru memapahnya berdiri lagi, Julian berusaha menahan rasa sakit itu.


Dia juga tak ingin mereka tahu kalau dia juga memiliki kekuatan spiritual seperti mereka, tetapi Julian tak bisa membohongi Maura.


Dengan mata batinnya dan kekuatannya hampir penuh, dia bisa melihat aura Julian berbeda. Apalagi dia sempat sesekali melihat ekor mata Julian menatap Rosario.

__ADS_1


"Kau tidak apa-apa, kan? maaf aku gak tahu kamu ada di sana. Lagian sih, tiba-tiba nongol begitu" kata Melanie masih dengan sok manjanya dia.


"Aku tadi mau kekantor Ardian, terus melihatmu ke apartemen ini. Aku penasaran apa yang kau lakukan disini.


Setelah sampai disini aku melihat keatas ada wanita itu hendak turun kebawah, makanya aku berinisiatif ingin menolongnya.


Itu saja kok, tapi kenapa kalian berdua malah berantem bukannya nolongin dia?" Tanya Julian, Ardian mendengar perkataannya tersenyum geli.


Ternyata bocah ini pintar juga aktingnya, tapi kalau dipikir-pikir pekerjaannya adalah wartawan wajar saja dia pandai berbicara dan mengarang kata-kata.


"Em, anu... aku hanya ingin, ingin menolongnya juga!" Kata Melanie berusaha mencari alasan.


Sedangkan Maura hanya diam sambil menatap Julian tajam, dia sedang menyelidiki dirinya diam-diam dengan mata batinnya.


"Maura, pria ini juga memiliki ilmu spiritual dan kekuatannya lumayan besar.


Hati-hati jangan terlalu percaya dengannya, dan aku yakin dia juga tahu siapa dirimu" kata Dewi Srikandi didalam tubuhnya itu.


Maura terdiam memikirkan ucapan Dewi tadi, dia juga tidak terpikirkan olehnya. Akhir-akhir ini mereka sering bertemu, mungkinkah ini takdir atau disengaja?


"Oh begitu, baiklah... kenapa kalian bertengkar, berebut siapa yang duluan yang mau menyelamatkannya begitu?!" Tanyanya lagi heran.


Mereka menghampiri wanita itu, dia terlihat linglung dan merasa aneh dengan dirinya tertidur diatap.


Dia juga kaget dikelilingi tiga orang sambil menatapnya heran, wanita itu bangun dan sepertinya baik-baik saja.


"Aku kenapa ada disini, kalian siapa?" Dia bertanya heran.


"Justru kami yang bertanya, apa yang kau lakukan diatap ini sampai tertidur?" ujar Maura.


Wanita itu masih kebingungan, dia berusaha berpikir tetapi kepalanya tiba-tiba sakit sampai tubuhnya mau jatuh.


"Kau tidak apa-apa? Ayo kita kebawah, mari saya antarkan kamu sekalian aku juga mau turun." Kata Melanie sambil memapah wanita itu turun kebawah.


Sadar Melanie mau keluar melalui pintu dimana dirinya bersembunyi, Ardian buru-buru bersembunyi dibalik tumpukan kardus didekat tangga itu.


Melanie turun bersama wanita itu tanpa curiga sama sekali dengan Julian, dia juga ingin cepat-cepat pergi dari sana.


Dia tidak ingin terlibat lebih jauh dengan Maura dan Julian, dia takut dia ketahuan Julian dan akhirnya Ardian juga tahu.

__ADS_1


Meskipun dia juga merasa heran, kenapa Maura bisa kenal dengan Julian? Apakah karena dia juga kenal dengan Ardian, makanya waktu itu Ardian menolongnya?


Pikirannya berkecamuk, memikirkan banyak hal. Rasa cintanya itu membuatnya menjadi gila, dia tak ingin wanita lain dekat dengan Ardian kecuali dirinya.


Sementara Ardian lega dia tidak ketahuan, dia ingin menolong Rosario tetapi Maura masih di sana. Kemungkinan besar Maura takkan mau melepaskannya.


Sebelumnya.


Saat Maura dan Melanie masih bertengkar dan Julian harus jadi korban pukulan mereka.


Ardian sibuk mengalihkan perhatian Marino, sebelum itu dia menghubungi Rosario dulu lewat komunikasi gaib dengan Jin pengawalnya itu.


"Rosario, kau mendengarku 'kan?!" Tanya Ardian.


"Iya Tuan, aku bisa mendengar dan melihatmu juga" jawabnya terdengar senang melihat kehadiran tuannya itu.


"Dengar, berpura-pura lah tidak tahu aku ada disini, Maura tidak tahu apa-apa tentangku. Jadi, bersikaplah biasa." Ujar Ardian.


"Baik Tuan," jawab Rosario.


"Aku akan mengalihkan perhatian Pemilik sihir ini, setelah perhatiannya teralihkan olehku kau harus buru-buru mematahkan sihir itu." Ujar Ardian, sembari berusaha melepaskan tali selendang Dewi Srikandi yang masih terikat dengan Rosario.


Cukup dengan tatapan matanya, benda apapun bisa bergerak sesuai keinginannya. Termasuk melepaskan selendang itu, meskipun keduanya hal gaib, tapi masih bisa dia lakukan dengan hati-hati.


Jangan Sampai si pemilik selendang tahu, bisa gawat nantinya jika ketahuan. Karena sesuai tugasnya, menjaga Maura dari jauh tanpa dia harus tahu siapa dirinya.


Setelah Rosario lepas dari ikatan selendang itu, dia berusaha menyelematkan wanita itu dari sihir Marino.


Sedangkan Ardian berusaha mengalihkan perhatian Mario dari atap gedung itu.


"Apa yang kau lakukan? Kau tidak boleh mencelakai manusia jika tidak hukumanmu bertambah!" Terdengar suara cukup kencang ditelinganya.


Marino terkejut mendengar suara itu, dia melihat disekitarnya tidak ada siapapun. Lalu siapa yang menengurnya?


Dia menyeringai senang, akhirnya dia mendapatkan lawan yang sepadan. Saat dia masih sibuk dengan urusan suara itu dia tidak sadar targetnya lepas.


......................


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2