
Maura tertidur pulas, dia tidur dengan nyenyak nya hingga tidak pernah menyadari ada kegaduhan diluar kamarnya itu. Sebelumnya, ada beberapa kamar disampingnya itu mengalami keanehan-keanehan yang jarang terjadi, bisa dibilang tidak pernah terjadi sebelumnya.
Ada salah satu tamu dikamar itu dikejutkan oleh makhluk tinggi besar berbulu bersembunyi didalam kamar mandinya, dan di kamar sampingnya juga ada tamu yang dikejutkan oleh suara tawa cekikikan mengerikan didalam kamar itu dan padahal dia sendirian.
Dan ada juga yang mengalami hal-hal aneh lainnya, dengan dikejutkan oleh beberapa penampakan didalam kamar mereka. Rupanya kehadiran Maura menarik para makhluk itu untuk menghampirinya, dikarenakan mereka tak bisa masuk ke kamarnya, maka kamar-kamar di sampingnya menjadi sasaran para makhluk itu.
Dia terbangun menjelang sore hari, nyaris magrib. Kalau dia tak mendengar suara ponselnya yang terus-menerus berbunyi mungkin dia takkan bangun-bangun juga saking lelahnya dia.
"Astaghfirullah, hampir magrib! Aku harus segera mandi setelah itu langsung pergi sholat" ujarnya terburu-buru masuk ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi dan sholat, dia baru mengecek ponselnya yang sedari tadi berbunyi, dia ingin tahu siapa yang menelponnya tiada henti, apakah ada hal penting kah? Lalu, siapa?
Dia terkejut melihat layar datar di ponselnya itu, tidak ada satupun panggilan telpon yang masuk, jadi ponsel siapa yang berdering sejak tadi? Dan dia yakin itu ponselnya.
"Apa Ardian yah?? Tapi kok gak ada riwayat daftar namanya disini?" gumamnya heran.
Dia memutuskan untuk menelpon Ardian daripada pusing sendiri memikirkan hal itu, dan kebetulan juga sebentar lagi Ardian akan datang bersama teman-temannya.
Tok!
Tok!
Tok!
Maura membuka pintu kamar itu dan melihat Ardian datang bersama rombongannya, dia juga melihat mereka membawa beberapa barang ditangan mereka.
"Aku datang bersama mereka, dan membawakan mu makan malam juga beberapa cemilan" ucap Ardian sambil menaruh beberapa makan diatas meja dan duduk di atas sofa bersama yang lainnya.
Maura nampak begitu senang melihat mereka semua, kedua sahabatnya Kevin dan Maurice menatapnya haru sambil berkaca-kaca, sedangkan Julian dan Joanna nampak kagum melihatnya.
"Ke-kenapa kalian menatapku seperti itu? Membuatku merasa tak nyaman.." ucap Maura kesal sambil menyomot cemilan didepannya itu.
"Tidak ada apa-apa, kami hanya senang saja melihatmu kembali dengan selamat" jawab Joanna.
"Aku kagum padamu, semalaman menghabiskan waktu di dunia gaib berjam-jam lamanya. Kalau aku di sana mungkin sudah mati kelelahan dan kehabisan energi" sahut Julian menimbali juga.
"Bagaimana kalian tau semua soal kejadian itu?" tanyanya bingung.
Lalu dia melihat kearah Ardian, lelaki itu berpura-pura tidak tahu sambil meminum air soda kalengan. Maura mengerti sekarang, ternyata dia yang membocorkan kejadian itu.
__ADS_1
"Kau ini, bagaimana kau bisa bertindak konyol seperti itu?! Kalau terjadi apa-apa denganmu, bagaimana?!" teriak Maurice kesal karena dibuat khawatir oleh Maura.
"Aku juga tidak menyangka akan seperti itu kejadiannya, aku terpaksa karena tak ingin ada orang lain harus menderita karenaku" ucapnya pelan.
Membuat mereka semua yang ada di sana saling pandang, mereka tidak mengerti maksud Maura itu apa. Karena mereka semua ada disini maka Maura memutuskan untuk menceritakan semuanya.
"Maaf jika membuat kalian semuanya khawatir, tapi sesuai dengan ceritaku tadi ini semuanya mendadak terjadi begitu saja. Aku tak punya pilihan selain melakukan hal itu" sambungnya lagi.
"Tidak apa, kami malah salut dan takjub dengan keberanian dan ketangguhanmu itu! Jika aku berada di posisi itu, aku mungkin akan melakukan hal yang sama" jawab Ardian pula.
"Terus, kuliahmu bagaimana?" tanya Maurice lagi.
"Mungkin aku tidak akan kuliah lagi, jika aku terus kuliah yang dikhawatirkan adalah beritaku akan sampai ke keluarga nenekku itu! Dan aku yakin mereka semua masih mencariku saat ini" sahut Maura.
"Kau benar, untuk saat ini kau bisa bersembunyi disini. Tapi tidak mungkin kan kau akan disini selamanya,, jangan bilang kau akan kembali ke New York?! Kau harus ingat lagi, bahwa kami disini datang mengikutmu!" ujar Julian tegas.
"Iya aku tahu, aku akan pergi dari kota ini untuk menghilangkan kecurigaan mereka.. Kalian jangan pergi, ini akan membuat mereka semakin curiga lagi.
Biarkan aku pergi sendiri, jika kalian ingin pergi nanti saja menyusulnya, beri jeda waktu yang cukup lama untuk menghilangkan kecurigaan mereka. Karena mereka sudah pasti tahu tentang kalian semua" ujar Maura lagi.
"Kau benar juga..." ujar mereka semuanya.
Keduanya membuka pintu kamar itu dengan hati-hati sambil celingukan melihat kesana-kemari, tapi mereka tidak melihat satu orangpun atau sosok lain di luar kamar itu. Perasaan keduanya mulai merasa cemas, mereka kembali menutup pintu kamar itu, baru hitungan beberapa menit tiba-tiba suara jeritan itu muncul lagi, dan suaranya semakin kencang.
Kembali, Ardian dan Julian mengecek keadaan diluar dan hasilnya tetap sama tidak ada apapun diluar sana, mereka menjadi yakin dengan kecurigaannya tentang lantai itu. Dan...
Aaakkhh!
Suara jeritan itu semakin kencang, dan mereka yakin itu berasal dari depan pintu kamar itu, Julian yang sudah kesal sampai ke ubun-ubun itu kesal ingin menghajar makhluk itu.
"Hentikan, nampaknya dia hanya ingin bermain-main saja dengan kita. Dan tidak perlu khawatir kamar ini sudah aku pagari, mereka tidak akan bisa masuk. Sebaliknya, jika kita membuka pintu kamar itu, maka kita dianggap mengundang mereka.
Jadi, biarkan saja dan jangan ditanggapi. Itu akan membuat mereka semakin senang, satu hal yang aku takuti, kalau-kalau saja mereka diutus untuk melacak keberadaan Maura, maka ini akan lebih berbahaya lagi" ujar Ardian menjelaskan semuanya.
"Kalau begitu, kalian semua tidak boleh pulang malam ini. Temani aku disini, aku tahu aku akan aman tapi tidak dengan kalian. Aku tak ingin kalian menjadi sasaran mereka selanjutnya" ucap Maura menatap mereka satu persatu dengan perasaan khawatir.
"Tenang saja, kami bisa menjaga diri kok.. Apa kata orang jika kita semua berkumpul disini" sahut Julian lagi.
"Tidak apa, para wanita bisa tidur di atas kasur, dan kalian bisa tidur di sofa atau mana aja yang penting jangan menempel pada kami.
__ADS_1
Ini keadaan darurat, dan benar kata Maura kita tidak tahu makhluk seperti apa yang menunggu diluar sana. Dan besok kita juga free tidak ada kuliah, kita bisa pulang besok pagi dengan tenang" sahut Joanna menimbali.
Akhirnya semuanya setuju, karena mereka juga tak ingin terjadi apa-apa lagi. Lebih baik menghindari bala daripada mendekatinya, mereka beristirahat dengan tenang meskipun ada berbagai gangguan diluar sana.
Besok paginya mereka bangun tidur dengan badan rasanya sakit semuanya, karena mereka tidak bisa tidur dengan nyenyak. Hampir sepanjang malam gangguan datang terus-menerus, dari suara jeritan, tawa cekikikan, tawa tangis anak kecil, hingga suara barang berat digeret paksa.
Paginya, mereka keluar dari kamar itu. Semuanya nampak begitu hening, sepi san sunyi sekali, seolah-olah hanya mereka sajalah di lantai itu.
Sesampainya dibawah mereka langsung check out dari hotel itu, mereka bertanya kepada bagian resepsionis didepan hotel itu tentang kejadian semalam, nampak pegawai itu kebingungan.
"Memangnya mbak-mbak sama mas-masnya ada di lantai berapa?" tanya resepsionis itu hati-hati.
"Kami berada di lantai 12b, sepanjang malam kami mendapat gangguan, apakah para penghuni kamar lain tidak ada yang komplain?" tanya Julian mencoba memancing resepsionis itu.
"Oh lantai itu, semua kamar di lantai itu kosong mulai kemarin siang, Mas. Cuma ada satu kamar yang berisi, yaitu kamar yang kalian huni saja" jawab resepsionis itu.
"Loh, kenapa?!" tanya Maura heran karena merasa dia terasingkan di sana.
"Tidak jelas dengan pasti, katanya para tamu sempat mendapat gangguan dari kamar mereka, tidak tahu apa itu makanya pada memilih check out--" belum selesai dia bicara langsung dipotong oleh pegawai lain yang baru datang.
"Maaf merepotkan kalian atas ketidaknyamanan ini, jangan sungkan untuk kembali menginap disini lagi" ujarnya ramah sambil memutuskan pembicaraan itu.
"Tapi kami belum selesai bicara.." ujar Kevin kesal.
"Maaf untuk hal itu kami tidak bisa berbicara banyak, mohon maaf sebanyak-banyaknya" ujarnya masih ramah.
Akhirnya mereka pergi meninggalkan tempat itu, sebelumnya mereka sempat mendengar resepsionis sebelum ditegur keras oleh temannya yang baru datang itu.
"Jangan berbicara atau mengatakan sesuatu hal yang akan merugikan hotel ini, bagaimana jika rumor ini tersebar luas dan membuat hotel ini semakin sepi? Kita juga akan rugi, bisa dipecat karena tak ada tamu untuk dilayani" ujar pegawai satunya lagi.
"Maaf, aku tidak berpikir sampai arah sana.." jawab pegawai itu sambil menundukkan wajahnya menyesal.
"Sudah tidak apa, lain kali tidak usah ditanggapi lagi jika ada tamu bertanya atau membicarakan tempat ini" ujar temannya lagi.
Mereka yang masih ada di sana bisa mendengar percakapan mereka dengan jelas, membuat mereka yakin ada yang aneh dengan hotel ini.
Jika memang Aura Maura menarik mereka, tidak mungkin mereka bisa bertindak seekstrim itu? Kecuali ada dua kemungkinan, pertama mereka adalah makhluk utusan neneknya untuk menjemput Maura kembali, atau memang ada makhluk berbahaya di hotel ini.
......................
__ADS_1
Bersambung