
"Apa yang aku lihat ini benarkah? Apa hanya Halusinasi saja? Apa maksudnya ini?" gumamnya tak percaya.
Sedangkan si Kunti alias Maria hanya memandangnya sendu sambil memeluk bayi arwah itu, diapun menghilang dibalik rerimbunan pohon mangga itu.
Maura masuk kedalam kamarnya sambil memikirkan apa yang terjadi barusan, berhari-hari dia memikirkan tentang Maria dan mencoba mencari identitas aslinya, ditambah misteri bayi arwah itu, membuatnya pusing sendiri.
"Kenapa dia repot-repot memintaku mencari tentang dirinya jika ia bisa berbicara sendiri kepadaku? Dan apa maksudnya untuk menyelidiki tentang dirinya ditahun 80an itu? Apakah semuanya berkaitan dengan kematiannya,? dan arwah bayi ituu?" gumamnya tak mengerti.
Dia langsung bergegas mandi dan menunaikan ibadah sholat magrib, setelah itu dia langsung mengambil laptopnya dan mencari tahu tentang universitas Lentera Jiwa.
Maura terus mengutak-atik laptopnya sampai dia menemukan sebuah berita tentang kecelakaan yang melibatkan seorang mahasiswi terbaik di Universitas itu.
Maria Elizabeth usia 21 tahun ditemukan tewas dikelas tempat dia belajar, dengan beberapa luka tusukan yang menganga, hampir di seluruh lantainya digenangi darah gadis itu.
Pada saat itu mayatnya ditemukan pagi harinya oleh seorang petugas kebersihan, petugas kebersihan itu bernama Surtini alias Surti berusia 15 tahun, seorang remaja yang terpaksa putus sekolah dan bekerja sebagai petugas kebersihan di kampus itu.
Maura terkejut membaca artikel itu apalagi setelah dia melihat foto saksi yang pertamakali menemukan jasad Maria itu, seseorang yang sangat dia kenal siapa lagi kalau bukan bi Surti.
"Apa hubungannya Maria dan bi Surti? Malam itu dia menceritakan ada dua orang yang terlihat sedang menguburkan janin itu dibawah pohon, apakah dia sedang menceritakan dirinya dan bi Surti? Lalu arwah bayi itu?" kepalanya mumet memikirkan hal itu.
Mau gak mau Maura harus memecahkan misteri ini, kalau tidak dia akan terus diganggu oleh Maria, apalagi dia sudah berjanji dengan arwah bayi itu juga.
Malamnya Maura nekat keluar menemui Maria yang sudah jadi Kunti itu, sekali lagi aksinya diketahui oleh si Ranti. Kali ini dia ikut membuntuti Maura hingga mengintipnya dari dalam rumah dan mengintipnya dari celah pintu depan.
"Mbak Kunti, eh! Maksudku Maria.. Aku ingin bertanya denganmu, apa maksudmu dengan semua ini? Aku sama sekali tak mengerti, apa hubunganmu dengan bi Surti? Apakah arwah bayi itu adalah anakmu?!" tanya Maura sambil menatap kearah pohon mangga itu.
Ranti yang sedari tadi mengintipnya mengira Maura gila berbicara sendiri, tapi ketika Maura menyebut kata Kunti dan diiringi suara tangis pilu wanita, membuatnya merinding seketika.
"Kenapa kau menangis?! Katakan saja apa yang ingin kau katakan, aku tak ada waktu untuk mengurusi masalahmu!" bentak Maura kesal karena Maria malah menangis.
"Kau benar, bi Surti adalah adik angkatku! Dia anak pembantu di rumahku dan bekerja di kampusku sebagai petugas kebersihan, aku sangat dekat dengannya dan tak peduli dengan statusnya.
Dia teman ceritaku, dia selalu membantuku tanpa mengeluh, hingga hari itu aku memaksakan bayi ini lahir sebelum waktunya, karena aku takut ketahuan oleh orang tuaku dan takut ditinggal pacarku!
Surti membantuku mengeluarkan bayi ini dan menguburnya didalam tanah disamping pohon ini, lebih tepatnya kami menanam pohon ini untuk menutupi jejak galian tanah bekas kami mengubur janin ini.
Sebelum aku melakukan hal bodoh itu, aku mendapatkan sebuah fakta di kejadian itu, aku melihat lelaki bajingan itu sedang mencumbu sahabatku sendiri! Mereka mengkhianati aku, dan ketika aku ingin melabrak mereka dan ingin membongkar kehamilanku, dia malah bilang akan menikahiku dan akan bertanggung jawab.
__ADS_1
Tapi apa nyatanya, mereka malah bertunangan di saat aku telah menggugurkan kandunganku sendiri, aku yang begitu bodoh percaya dengan kata-kata manisnya.
Malah ibu wanita itu mengusirku dan mempermalukanku dihadapan banyak orang, aku diusir dari kampus itu secara paksa, ibuku meninggal kena serangan jantung, ayahku pergi entah kemana.
Dan rumah ini terpaksa dijual, tapi bi Surti tetap setia memegang janjinya untuk menyimpan rapat rahasia ini, dan masih mau berada di rumah ini menjaga pohon dan kuburan janinku ini.
Tapi aku lelah Maura, aku ingin kembali ke pangkuan maha kuasa bersama bayiku. Tapi aku tak tenang sebelum lelaki dan mereka yang telah menutupi kematianku ini! Dia seharusnya menderita karena membuat hidupku hancur, tapi kenapa mereka malah bahagia?!" teriak Maria menjerit kencang.
Maura menutup telinganya saking kencangnya dia berteriak, sedangkan Ranti meringkuk ketakutan dibalik pintu itu. Badannya gemetaran dan lemas, dia tak bisa bangun ataupun berjalan saking takutnya mendengar suara rintihan dan jeritan kuntilanak itu.
"Kenapa kau tak minta bi Surti saja mengungkapkan kebenaran tersebut? Bukankah dirinya tahu semua apa yang terjadi?" tanya Maura heran.
"Aku sudah mencobanya, tapi tak bisa. Dia tak dapat mendengar ataupun melihatku. Aku bertahun-tahun mengikutinya dan mencoba untuk berkomunikasi dengannya, tapi tak pernah berhasil.
Sampai aku melihatmu, Maura.. Aku tahu kamu spesial, dan ternyata benar kau bisa kujamah, bahkan aku senang berteman denganmu karena aku merasa masih hidup kembali" sahut Maria lagi.
"Tapi kok aku tak bisa mendeteksimu, Maria? Kenapa energi astralmu tak bisa aku rasakan ketika berubah menjadi Maria yang aku kenal?" tanya Maura lagi.
"Soal itu aku tak tahu, Maura.. Mungkin kamu bisa mencari sendiri soal itu, aku sendiri kaget karena akhirnya ada manusia yang mau berteman denganku" ucapnya sambil menyeringai ngeri.
"Aku sebenarnya juga tak ingin berteman dengan makhluk apapun sebangsa kalian, jika aku tau kau ini setan mana mau aku berteman denganmu!" sahut Maura ketus, karena merasa ditipu oleh si Kunti.
"Aku yakin ada yang berbeda dengannya, aku harus berhati-hati menghadapinya" gumamnya dalam hati.
"Kenapa memangnya? Bukankah kau juga berteman dengan makhluk lain?" tanya Maria alias Kunti.
Entah dia bermaksud bertanya karena heran atau menyindirnya yang jelas Maura tak suka dengan pertanyaannya yang terkesan arogan itu.
"Dia berbeda, dia berada dikelas yang sangat tinggi dibandingkan kamu dan lainnya. Jadi berhentilah membandingkanmu dengannya!" sahut Maura lagi.
"Ya sudah, sekarang katakan padaku apa maumu sekarang?" lanjut Maura lagi.
"Tolong jadilah perantara komunikasi antara aku dan bi Surti, dan.. Bantu aku menangkap dan menghukum para pembunuh itu!" kata Maria lagi.
"Soal pertama, mungkin aku bisa bantu meskipun aku tak jamin bisa atau tidak, karena aku belum pernah mencobanya. Yang kedua, aku bukan Tuhan atau malaikat utusan Allah untuk menghukum mereka.
Biarkan pengadilan dunia dan akhirat nanti yang menghukum mereka, jika ingin mengungkapkan sebuah kebenaran insya Allah aku bisa bantu, tapi harus ada bukti dan saksi yang kuat" ujar Maura menyahuti si Maria.
__ADS_1
"Jika aku bisa berbicara dengan bi Surti, aku akan memberitahu kepadanya tentang rahasia dan kejadian sebenarnya, ,dan menunjukkan bukti yang selama ini aku simpan, dan hanya dia yang tahu tempatnya.
Dan kau bisa dibantu olehnya untuk mengungkapkan misteri kematianku yang sebenarnya, sekaligus mengungkapkan semua fakta dunia yang terjadi" ujar Maria lagi.
Maura terlihat sedang memikirkan sesuatu, hingga dia mendengar suara bunyi pintu sedikit terdorong dari dalam, dia tahu ada seseorang didalam sedang mengawasinya.
Dia melihat bayangan dari dalam berlari kearah anak tangga.
"Sepertinya ada yang mengawasi ku sejak tadi, aku harus berhati-hati lain kali" gumamnya.
"Baiklah, berikan aku waktu sebentar saja untuk membicarakan hal ini kepada bi Surti, kau tahu kan dia sekarang sudah sangat tua, jangan sampai dia kena serangan jantung gara-gara terkejut mendengar kabar jika hantu mantan majikannya ada disekitarnya selama ini!" sambung Maura lagi.
Setelah itu dia masuk dan mengunci pintu dan mematikan lampu, dia juga diam-diam naik ke atas dan melihat Ranti berbicara dengan beberapa anak kost termasuk dengan Rizka tentang dirinya dibawah tadi.
"Beneran! Sueerr! Gw berani sumpah apapun, liat ini kaki sama tangan gw ampe merinding dan gemetaran inii... Masa iya masih gak percaya aja" ujarya untuk menyakinkan penghuni lainnya.
"Masa sih, Ran... Nginggau kamunya kalii?" tanya yang lain.
"Ngigau gimana? Wong tidur aja gak!" balasnya sewot.
"Udah, dah malam gw mau tidur lagi, besok ada kuliah pagi!" sahut Riska, ogah meladeni Ranti.
"Iya nih, pasti si Ranti lagi iseng ngerjain kita!" balas Shelly kesal.
Akhirnya satu demi persatu para penghuni kost masuk kembali ke kamarnya, dan meninggalkan dirinya sendirian di sana. Ranti terlihat sangat kesal lagi karena tak satupun yang percaya dengannya.
"Kalau begitu, biar aku bawakan kalian bukti sebagai pembenaran perkataanku tadi, biarkan aku ambil Hpku dulu untuk merekam dan mengambil video anak itu bersama teman setannya" ujar Ranti sambil mengedumel masuk kedalam kamarnya untuk mengambil Hpnya.
Maura berjalan pelan-pelan untuk kembali kedalam kamarnya, dia menutup dan mengunci kamarnya kembali, sedangkan Ranti nekat turun lagi ingin mengambil beberapa foto dan video Maura yang berinteraksi dengan makhluk gaib itu.
Bahkan dia tak sadar jika Maura sudah tak ada, tapi malah si Maria yang menunggunya diluar sana.
......................
Bersambung
Jangan lupa like, komen, share atau kirim gift dan hadiahnya yahh.. makasih ☺️🥰🌹
__ADS_1