
"Kau... Siapa?" tanya Maura bingung dengan semua situasi ini.
"Aku adalah penghuni hutan ini, salah satu makhluk abadi ciptaan Tuhan tapi keberadaanku disini penuh permasalahan, jika aku pergi, maka kemana aku pergi? Karena hutan ini adalah rumahku, tempat tinggalku.. Jauh sebelum manusia datang dan tinggal di sekitaran hutan ini" ucap Dewi itu semakin membingungkan Maura.
"Maksudnya, kau memiliki konflik besar dengan manusia disini? Mereka mau mengusirmu?" tanya Maura lagi.
"Konflik?" tanya Dewi itu bingung.
"Ah! Aku lupa dimana aku sekarang.." gumam Maura merutuki dirinya yang lupa tempat dia sekarang ini dimana.
"Maksudku permasalahan yang kau ucapkan tadi, iya permasalahan! Apa kau memiliki masalah dengan penduduk sekitar? Mereka mau menyakitimu?" tanya Maura lagi setelah menjelaskan arti dari katanya tadi.
"Oh,, Iya kamu benar! Awalnya kami hidup berdampingan dengan manusia, tidak ada masalah yang terjadi diantara kami. Kamu tau, di hutan ini begitu banyak makhluk yang hidup dan mendiaminya?
Tapi mereka enggan menampakkan diri dihadapan manusia, mungkin mereka malu, takut atau mungkin mereka belum percaya sepenuhnya dengan mereka. Hanya beberapa saja yang berani muncul dan berinteraksi dengan manusia.
Semuanya bermula dari sebuah kesalahan saya di masa lalu, aku sedang mandi di tengah danau ini, ada seorang manusia yang sedang mencari obat-obatan dari tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat di hutan ini, dan dia merupakan seorang pemuda yang tampan dan gagah berani.
Dia tak sengaja melihatku mandi, kau tau.. Manusia itu memiliki naf.su birahi yang sangat tinggi dibandingkan makhluk seperti kami ini, tak jarang kasus pencabulan sering terjadi diantara mereka.
Aku yang tidak berpikir panjang, menghinanya begitu saja, mengatakan jika dia sengaja mengintipku dan memiliki niat buruk padaku, dan tentu saja itu tak benar. Maka semua makhluk di hutan ini memberi perintah dan peraturan kepada manusia untuk tidak datang lagi atau masuk kembali ke hutan ini, akibat kejadian itu semua manusia hampir kehilangan mata pencaharian mereka di hutan ini.
Karena hutan ini merupakan sumber kehidupan utama bagi mereka, mata air yang bersih dan menyegarkan, banyak tumbuh-tumbuhan yang bermanfaat bagi mereka, bisa buat obat-obatan, makanan, ataupun peralatan ataupun bisa dibuat apa saja sesuai kebutuhan mereka.
Tentu saja mereka tidak terima, akibat kesalahan satu orang, semuanya kena getahnya. Maka dari itu, banyak sekali yang diam-diam melanggar peraturan tersebut dan ketahuan, dan kau tau, Nona..
Yang paling menyakitkan, pemuda yang terkena fitnahku waktu itu telah dihukum oleh penduduk desanya, dia mati mengenaskan dan memiliki dendam yang begitu besar kepadaku, jiwa yang tidak tenang, merasa tidak adil apa yang dia alami, jiwa itu hidup dan menjelma menjadi makhluk mengerikan.
Dia meneror dan membunuh setiap penduduk desa yang menghukumnya, bahkan setiap bertemu dengan manusia dia pasti akan membunuh mereka.
Bahkan, dia telah menjelma menjadi iblis yang paling mematikan, membunuh dan memakan manusia membuatnya semakin kuat dan kejam, ditakuti semua makhluk hidup termasuk kami.
Aku yang merasa bersalah, menyadari sebuah kesalahan dan keliruan selama ini berniat untuk menembusnya, tapi kepada siapa? Pemuda itu telah mati dan menjadi iblis, penduduk desa? Mereka semua telah mati, dan semuanya itu terjadi akibat kesalahanku.
Aku mendatangi iblis itu, berniat menenangkan dirinya dan mengakui kesalahanku di masa lalu. Awalnya dia mau memaafkan aku dan berniat menghentikan perbuatannya, tapi dengan syarat, aku harus mau menjadi istrinya.
Demi kepentingan semuanya, demi kelangsungan hidup umat manusia dan makhluk penghuni dunia ini, aku mau melakukannya dan berharap kedamaian kembali seperti semula. Tapi makhluk itu telah banyak memakan jiwa manusia, membunuh dan banyak melakukan kejahatan lainnya, jiwa sucinya telah membatu melebur menjadi api kebencian dari neraka yang begitu dalam.
Dia melupakan janjinya kepadaku, dia lupa dengan semua perjanjian yang kami buat, dan masih melakukan kejahatannya. Puncaknya, dia mengumpulkan manusia-manusia jahat dan serakah untuk dijadikan budaknya, membuat patung batu dari sebuah perwujudan dirinya dan diriku untuk disembah oleh para pengikutnya itu.
Sungguh sebuah perbuatan yang terkutuk! Aku membencinya, tapi tanpa aku sadari ternyata aku sedang mengandung anaknya dan darahku ini yang tercampur dengan darah iblis itu melemahkan aku, sehingga aku dengan mudahnya dibawah kendalinya.
Dan tibalah anak itu lahir, malapetaka makin besar, manusia sudah lupa cara berdoa kepada Tuhannya, mereka menjadikan patung-patung kami sebagai sesembahan dan Tuhan ataupun Dewa ataupun Dewi bagi mereka.
Anak yang lahir itu menjadi iblis sepenuhnya, dan mengontrol umat manusia di negeri ini dan sifat dan prilakunya melebihi kejamnya iblis yang melahirkannya, dan kau tau.. Ayah iblis itu siapa dan dimana?" tanya Dewi itu kepada Maura setelah cukup lama bercerita tentang dirinya dan semua kisahnya itu.
"Siapa?" tanya Maura mulai tak tenang.
"Aku ..." sahut Naga besar seperti makhluk raksasa itu, yang masih melayang melingkar diatas permukaan danau tersebut, sedangkan Dewi itu nampak tenang duduk diatas kepalanya.
__ADS_1
"Ka-Kau?!" ucap Maura kaget, dia sampai mundur beberapa langkah kebelakang saking terkejutnya.
"Tenanglah,, dia sudah tak seperti dulu.." ucap Dewi itu sambil mengelus kepala Naga itu.
"Ta-tapi bagiamana ini bisa terjadi?!" tanya Maura kebingungan dan takut juga.
"Saat itu aku diluar kendali, rasa amarah dan dendamku membawa jiwa ini terperosok kedalam jurang neraka yang paling dalam, membuatku menjadi iblis yang sangat kejam dan sadis,.
Aku memang berniat menikahinya dengan penuh cinta dan mengakhiri semuanya, tapi jiwaku sudah terikat dengan raja iblis dan tak bisa lepas begitu saja, sehingga aku tak bisa menghentikan perbuatan jahatku.
Kelahiran anak itu aku pikir telah mengakhiri segalanya, tapi justru malapetaka makin besar, anak itu justru mengikat diriku dengan ibunya menjadi satu! Jiwa suci ibunya ternodai oleh jiwa iblisku, dan kami dibuang ke hutan ini, menyerang siapa saja yang kami lihat, tidak perduli itu manusia ataupun makhluk hidup lainnya, entah itu jin ataupun binatang yang hidup di hutan ini.
Maka, tidak heran hutan ini menjadi mengerikan dan sangat dijauhi oleh semua makhluk. Setidaknya itu lebih baik, maka aku dan istriku ini setiap siang hari bertapa dan berharap Tuhan mencabut kutukan ini, setidaknya ada seseorang yang bisa mengakhiri semuanya.
Dan pada malam harinya, sisi jahat kami muncul dan mulai berjaga dan mengincar siapapun yang masuk ataupun lewat didepan hutan ini, dan entah ini kebetulan atau tidak.. Kamu datang, Nona.." ucap Naga tersebut ikut menjelaskan semuanya.
"Apa semua ucapan kalian bisa dipercaya? Entahlah, aku merasa ragu dengan semuanya! Kau tau, sifat jin dan iblis itu hampir sama, yaitu penuh dengan tipu muslihat! Ya mungkin saja semua cerita kalian itu benar, tapi aku tidak tau niat hati kalian apa." Maura masih curiga dengan mereka.
"Kami tidak akan marah atau menyalahkan dirimu jika tak percaya dengan kami, Nona. Tapi satu hal yang pasti, kau telah membebaskan kami berdua dari kutukan ini. Jiwa kami telah terpisah sepenuhnya, dan kami sudah bisa mengontrol emosi dan nafsu ini.
Setidaknya kami tidak akan melakukan perbuatan jahat lagi dan mengganggu ketenangan hidup manusia dan makhluk lainnya juga, meskipun sedikit terlambat.. Kami ingin ucapkan terima kasih atas bantuannya!" ucap Dewi itu sambil menundukkan tubuhnya hampir duduk bersujud.
Ular Naga itupun juga menundukkan kepalanya sebagai tanda ucapan terima kasih dan hormatnya, setelah itu keduanya melayang tinggi dan..
Wuuzz!
Naga itu meluncur kebawah kearah Maura, sontak gadis itu terkejut dan reflek lari menjauhi tempat itu.
Kepulan asap putih menyelimuti tempat Naga itu jatuh bersama Dewi itu tadi, dan mulai hilang menipis, samar-samar terlihat dua sosok bayangan berbentuk manusia berjalan kearah Maura.
Gadis itu hampir tak bisa berkedip dan menutup mulutnya yang ternganga, akibat terpesona dan takjub melihat bentuk kedua sosok tersebut, Naga tadi sekarang merubah penampilannya menjadi seorang lelaki bertubuh tegap, penuh wibawa dan berkarisma, rambut panjangnya putih sempurna termasuk alis dan bulu matanya.
Hidupnya mancung sempurna, bibirnya yang tipis berwarna pink dengan pakaian bak pangeran atau Dewa-Dewa jaman dulu, begitu tampan dan gagah, sudah seperti aktor Cina berperan film Kultivasi saja.
Sedangkan sang Dewi, sudah jelas. Dia begitu cantik dan sangat anggun, usia mereka sudah dipastikan berumur ratusan hingga ribuan tahun, tapi fisiknya begitu muda seperti usia awal dua puluhan saja, membuat Maura yang notabene manusia biasanya yang kebetulan memiliki kemampuan istimewa, merasa minder dan tak percaya diri.
"Kenapa kau seperti itu? Apa aku menakutimu?" tanya sosok lelaki itu.
"Aaa... Ti-tidak kok, ah-hahaha! Maaf, aku hanya kaget saja!" ucap Maura serba salah karena malu dengan tingkahnya sendiri.
"O ya, kenalkan namaku Maura!" ucapnya sambil mengulurkan tangannya begitu saja.
"Maura? Namamu cukup aneh dan unik, hem... Aku Liu Wei Yan, dan ini istriku Fa Wei Xian.
Maura, katakan apa keinginanmu? Agar kami bisa hidup dengan tenang tanpa harus memikirkan balas budi kami untukmu, anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih kami atas kebaikanmu.." ucap makhluk yang bernama Liu Wei Yan.
"Balas budi apaan, aku bahkan tidak berpikir ataupun merasa telah membantu kalian! Justru kita tadi hampir saling bunuh-bunuhan!" sungut Maura tidak mengerti.
"Hehe, Nona.. Tanpa sadar kau telah membebaskan kami, meskipun obat penawarnya sudah didepan mata, tanpa bantuan manusia kami takkan bisa terbebas dari kutukan ini.." sahut Fa Wei Xian.
__ADS_1
"Penawar??" tanya Maura lagi tambah bingung.
"Iya, air danau itu merupakan penawar racun kutukan ini. Tapi kami tak bisa melakukannya sendiri, harus dibantu oleh manusia jika ingin berhasil, dan memang itu syaratnya. Tapi bagaimana mau meminta bantuan manusia, ketemu manusia saja langsung dilahap begitu saja.." sambung suaminya, Liu Wei Yan
sedih.
"Iya, itu semua diluar kendali kami. Tapi entah mengapa denganmu kami berhasil.." tatap Fa Wei Xian heran.
"Tentu saja aku berbeda, aku bisa menghindari kalian dan tanpa sengaja malah membantu kalian juga. Padahal niatku tadi ingin membuang kalian kedalam jurang tersebut.
Eh, itukan jurang! Kenapa tiba-tiba ada air didalamnya?! Tiba-tiba begitu, apakah semua ini halusinasi, emm.. Maksudku, apakah ini hanya hayalan atau tipu muslihat dari kalian selama ini?" tanya Maura tambah curiga lagi.
"Iya, kau benar! Tapi itu untuk kebaikan kita semua, kami sengaja menutup mata manusia lewat pandangan mereka saat melihat danau ini, yang mereka lihat itu adalah jurang dalam mengerikan tapi sebenarnya adalah danau dengan air suci penawar racun kutukan ini.
Dan tidak boleh tercemari oleh tangan manusia ataupun makhluk lain, jika tidak fungsinya tidak berguna lagi. Maka dari itu semua makhluk tidak akan berani mendekati danau ini yang mereka kira adalah jurang yang sangat berbahaya.." ujar Fa Wei Xian menjelaskan lagi.
"Oh, begitu.." ujar Maura sambil manggut-manggut tanda mengerti.
"Ah! Apakah kalian benar-benar bisa melakukan apa saja untukku? Apapun itu?!" tanya Maura begitu bersemangat.
"Iya, apapun itu. Kecuali melakukan kejahatan, kami tak bisa.." sahut Liu Wei Yan.
"Tenang saja, aku tidak sepicik itu kok! Aku hanya meminta kalian untuk membantuku menemukan seseorang di masa lalu, hingga menyebabkan sebuah masalah di masa depan!" ucap Maura tanpa berpikir lagi.
"Apa maksudmu, di masa lalu dan.. Masa depan?" tanya Liu Wei Yan bingung.
"Aduh, kenapa aku selalu lupa dimana aku berada sih!" gumam Maura dalam hati, kesal dengan dirinya sendiri.
"Nona, siapa sebenarnya dirimu ini? Apakah kau bukan manusia yang terlahir disini? Kau sangat berbeda sekali dengan manusia-manusia yang pernah aku temui, yang jelas kau bukan makhluk halus lainnya.." tanya Fa Wei Xian menatapnya curiga.
"Nona, apakah kau... Seorang iblis?!" tanya Liu Wei Yan asal menebak, tapi ia mulai bersiap ingin melindungi istrinya dan melawan Maura.
"Ngawur! Kalau aku iblis, ngapain aku nolongin kalian, aneh!" ucap Maura kesal dituduh begitu saja.
"Ah, iya! Betul juga.. Tapi matamu sangat berbeda dengan manusia-manusia disini, gaya bicaramu juga aneh! Sebenarnya siapa anda ini?" tanya mereka lagi penasaran.
"Jelas aku bukan bagian dari kalian atau para makhluk disini, kita kan berada di dimensi dan waktu yang berbeda, bahkan negara pun juga beda.." gumam Maura, tapi masih bisa didengar dengan jelas oleh mereka.
"A-apa?!" teriak Liu Wei Yan terkejut.
"Di-dimensi dan waktu berbeda? Apakah kau seorang Dewi?" tanya Fa Wei Xian makin aneh saja.
"Ah, sudahlah! Aku lelah, ngantuk dan lapar! Aku mau istirahat saja!" gerutu Maura kesal.
"Ah, maafkan atas ketidak pekaan kami, seharusnya dari tadi kami menawarkannya kepadamu, mari Nona.. Ikut aku dan beristirahat ditempat kami yang sederhana..." ucap Fa Wei Xian ramah.
Sekali kibas oleh tangannya, tiba-tiba ada pintu ajaib didepannya dan membawa mereka ketempat lain dari sana.
"Wuiih! Kalah deh pintu kemana aja nya Dora-emon, hihi!" gumam Maura cekikikan.
__ADS_1
......................
Bersambung