RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) My Families


__ADS_3

Selama diperjalanan pulangnya, Maura masih tak habis pikir hantu merah itu adalah Fa Wei Xian. Siluman cantik dan baik hati itu berubah jadi iblis ketika menyadari kehancuran sang putri akibat ulah si raja iblis, sehingga diapun tega membunuh suami dan malah diperbudak oleh manusia yang bersekutu dengan iblis lainnya.


"Untung saja itu tak pernah terjadi lagi sekarang, dia begitu baik hati, dan memiliki sifat yang lembut dan penyayang.. Siapa kira dia akan berubah dan menjadi ganas seperti itu, ada bagusnya aku datang ke masa ini untuk merubah sejarah buruk itu," gumam Maura sambil membayangkan betapa baiknya Fa Wei Xian dimatanya dan para makhluk lainnya.


Saat ini Maura bersama Aurora dalam perjalanan menuju dunia masa depan, melewati dimensi waktu yang lumayan panjang. Dalam perjalanannya Maura bisa melihat dengan jelas beberapa gambaran masa lalu yang telah dia lewati sampai sekarang.


"Aku merindukan keluargaku.." ucapnya tanpa sadar.


"Apa kamu ingin datang menemui mereka?" sahut Aurora tiba-tiba saat mendengar ucapannya tadi.


"Bolehkah? Ah, tidak mungkin! Ini bukan waktu dan tempat yang sama," jawab Maura pesimis.


"Bisa saja jika kamu mau,," ucap Aurora lagi.


Tiba-tiba saja lorong waktu itu berubah menjadi ruangan yang begitu luas, semuanya putih dan memiliki lantai berawan, begitu putih dan lembut.


"Sekarang ini kita berada didalam mimpi semua orang, manfaatkan waktu ini sebaik mungkin sebelum kita kembali.." ujar Aurora.


Maura turun dari punggung Aurora, dia melihat ke sekelilingnya semuanya nampak putih dan tak ada apapun di sana. Samar-samar dia mendengar suara anak kecil tertawa riang, dan muncullah seorang anak perempuan yang tampak familiar dimatanya sedang berlarian menuju kearahnya, dan...


"Maura, jangan lari-lari! Ya ampun anak ini.." seorang wanita muda cantik dan sangat anggun nampak berjalan sedikit berlari mengejar anak itu.


"Ma-Mama.." ucap Maura pelan, tanpa sadar air matanya turun membasahi pipinya.


"Ini adalah mimpi dibawah alam sadarmu, Maura. Aku tau, saat kau melihat nasib Fa Wei Xian mengingatkanmu atas ibumu, bukan? Maka inilah gambaran yang kau pikirkan saat itu.." ujar Aurora menjelaskan arti bayangan masa lalunya itu.


Kemudian, dia melihat ayah, bi Marni dan kakaknya Angga sedang duduk bersantai disalah satu sudut ruangan itu, kini ruangan serba putih itu berubah menjadi sama persis dengan apartemen milik keluarga di New York, Amerika.


"Kau juga merindukan mereka bukan, dan inilah gambaran mereka saat ini. Dan tunggu kelanjutannya.." ucap Aurora kembali.


Setelah itu ada Dhania datang bersama keluarganya, yaitu om Wisnu dan tante Ella. Mereka nampak begitu bahagia menyambut kedatangan Dhania dan keluarganya.


"Apa kabar, Om? Bi? Sehat kan?" tanya Dhania menatap mereka satu persatu, tatapan penuh rasa rindu.


"Alhamdulillah kami semua baik-baik saja, bagaimana denganmu? Apa pekerjaanmu di California lancar? Om dengar dari Angga katanya kau akan pindah ke kantor cabangmu yang ada di Florida, deket dengan Angga dong!" goda pak Irwan sambil melirik putra keduanya.


"Haha, iya Om! Soalnya berat LDR an!" sahut Dhania tanpa malu, disambut dengan gelak tawa yang lainnya.


Disudut ruangan itu, Maura melihat mereka dengan perasaan bahagia, meskipun hanya sebentar saja perasaannya begitu bahagia melihat keadaan keluarganya di sana.


Tak ada yang menyadari kehadirannya di sana, entah itu alam kenyataan atau hanya mimpi dan bayangan Maura saja, entahlah.


"Dimana Tari?" tanya tante Ella, setelah menelisik di sekitarnya.

__ADS_1


"Dia sekarang ada di Texas, sedang mengaudit laporan keuangan perusahaan yang ada di sana," jawab pak Irwan.


"Sekarang dia sangat menyibukkan diri semenjak kejadian itu, kita gak tau bagaimana dengan perasaannya sekarang ini," ucap om Wisnu dengan nada pelan.


"Biarkan saja dia menata hatinya kembali, aku yakin anak itu pasti bisa melalui ini semua. Anggap saja ini adalah bagian proses pendewasaan dirinya," sahut pak Irwan juga.


"Aku harap dia bahagia, dan tidak larut dalam trauma masa lalu. Aku ingin melihat anak-anak ini tumbuh bahagia dengan pasangannya masing-masing, dan memiliki anak juga" kata bi Marni juga.


"Itu adalah harapan kita semua, memiliki anak cucu keturunan. Tapi kita tak bisa memaksa mereka untuk melakukan itu semua dengan cepat, semuanya kehendak Tuhan.." jawab pak Irwan bijak.


"Ngomong-ngomong soal anak, apakah kalian tau dalam penglihatanku jika Maurice saat ini sedang hamil, anaknya Kevin!" ujar Dhania ikut menyahuti mereka semua.


"A-apa, hamil?! Kevin bakalan punya anak?!" tante Ella terdengar syok.


"Wajar saja, mereka sudah menikah kok. Semoga penglihatan Dhania betul adanya, dan bukan mimpi belaka,," ucap om Wisnu tenang.


"Anak itu, kalau Maura tidak memberitahu tentang pernikahannya, kita gak akan pernah tahu apa-apa tentang dirinya di sana," ucap tante Ella terlihat kecewa.


"Itu juga Angga yang duluan menelpon, semenjak mereka pergi ke Indonesia.. Tak ada kabar apapun dari mereka, bisa dikatakan beruntung juga memiliki kekuatan supranatural ini jadi tau keadaan orang-orang yang jauh dari kita!" ujar Dhania lagi.


"Biarkan saja dulu mereka, aku dengar mereka begitu sibuk di sana. Begitu banyak kasus yang harus mereka selesaikan dari berbagai macam misi yang mereka laksanakan," jawab juga pak Irwan juga.


"Sibuk apanya, lihat kuliah mereka sering terbengkalai! Padahal sudah diwanti-wanti jangan berurusan dengan hantu terus nanti celaka, eh diam-diam malah mualaf, gak apa sih bagus jika dia serius dalam mendalami agama, tapi menikah? Setidaknya beritahu orang tua jika sudah menikah..


Bukankah doa orang tua penting bagi kebahagiaan dan keselamatan anaknya? Agama juga mengajarkan itu juga bukan, dan kau juga Papah! Seharusnya kau juga mengajarkan kami juga agama, jangan sampai Kevin kembali dia akan mengambil alih tanggung jawabmu dalam memimpin keluarga ini," ujar tante Ella masih sewot.


Terlebih lagi dia sudah menikah dan sebentar lagi memiliki anak, tidak salah juga. Dhania juga sudah belajar agama Islam dengan Angga, sebentar lagi keluarga kita ini akan menjadi keluarga muslim seutuhnya. Aku harap Allah membukakan pintu tobat untukku, dan kau cepat diberi hidayah yang sesungguhnya.." sahut om Wisnu bijak dalam menanggapi istrinya itu.


Tante Ella hanya diam saja sambil menatap malas suaminya itu, dia satu-satunya yang tak menerima mualaf nya Kevin, dia masih belum percaya terhadap satu agama apapun, menjadi ateis sudah lama baginya.


Om Wisnu dan anak-anaknya berharap tante Ella terketuk hatinya bisa menerima Islam, dan mengakui ke Islam an Kevin. Dan tidak tahu bagaimana reaksinya nanti jika bertemu dengan Maurice yang memakai hijab Syar'i, apakah dia akan syok biasa atau malah pingsan? Entahlah..


"O ya, bagaimana perusahaan miliknya Andrian? Siapa yang mengurusnya?" tanya pak Wisnu mengalihkan perhatian agar tak ada keributan lagi di sana.


"Sudah ada yang mengurusnya, katanya mereka adalah orang-orang kepercayaannya Andrian. Kalian pasti tau dengan dua orang anak muda temannya Andrian yang ikut ke Indonesia juga? Nah itu mereka yang mengurusnya," jawab bi Marni menjelaskannya.


"Kan mereka ikut ke Indonesia, bagaimana bisa mengurusnya?" tanya Dhania bingung.


"Tidak lama mereka di sana, katanya gak cocok dengan cuaca dan makannya, haha! Makanya kembali lagi," jawab bi Marni sambil tertawa lucu mengingat cerita Julian dan Joanna.


"Syukurlah, setidaknya Andrian tidak perlu pusing lagi memikirkan perusahaannya disini.." ucap pak Irwan lagi.


"Apa mereka dapat dipercaya?" tanya tante Ella ragu.

__ADS_1


"Insyaallah bisa, mereka berteman sudah lama dan bekerja sama dalam banyak bidang. Bukan urusan duniawi saja, bahkan dalam urusan alam lain juga, haha!" ujar bi Marni lagi.


"Mereka sangat aneh!" ucap tante Ella.


"Mah!" Dhania agaj terkejut dengan pernyataan sang mama.


Om Wisnu mencegah Dhania mengatakan sesuatu, dia tau jika Dhania bersuara lagi maka keributan tidak akan terelakkan lagi, setelah itu om Wisnu menarik tangan istrinya dan mengajaknya ketempat lain, sepertinya ada yang ingin dia katakan.


Sementara itu, diantara mereka yang tinggal masih diam membisu. Dhania nampak begitu malu dengan sikap mamanya yang tiba-tiba jadi berubah seperti itu.


"Hem, maafkan mamah, Om.. Bi.." ujar Dhania merasa tak enak hati.


"Tidak mengapa, kami mengerti kok. Mungkin berat baginya melihat perubahan pada putranya sendiri yang menurutnya begitu cepat," jawab pak Irwan tenang.


"Betul, bagaimana tidak dalam hitungan bulan dia mendadak menjadi mualaf, dan mengabarkan jika dia juga sudah menikah, ditambah lagi dengan penglihatan kamu, bagaimana gak syok dia mendengarnya.." sahut juga bi Marni maklum.


"Apa mamah Ella mau menerima ke Islam an kamu juga, Dhania? Aku takut dia sangat kecewa dengan keputusan yang kalian buat,," ujar Angga pula.


"Soal itu biarkan kami yang mengurusnya, meskipun berat aku yakin mamah pasti bisa menerima. Karena Islam sendiri bukan hal yang tabu baginya, selain karena papah, dia juga sudah mengenal kalian juga sejak lama sekali, sudah pasti tau semuanya. Aku yakin mamah kecewa dengan hal lain, tapi aku gak tau apa itu.." jawab Dhania sambil merenungkan sesuatu.


Maura yang sedari tadi diam saja dipojokkan terdiam kaku saat memperhatikan semuanya, dia bingung sendiri dengan apa yang dia lihat saat ini, apakah ini mimpinya atau nyata? Kenapa begitu jelas sekali?


"Maura, sudah cukup. Ayo kembali.." ujar Aurora mengagetkannya.


Maura mengangguk lalu mengikuti Aurora, saat dia ingin meninggalkan semuanya, tak sengaja dia menyenggol vas bunga yang ada disampingnya.


Prang!


"Apa itu?!" tanya Angga reflek menoleh kearah Maura berdiri diikuti yang lainnya juga.


"Angin mungkin.." ujar bi Marni.


Beliau bangun dari duduknya mendekati vas bunga yang jatuh itu, dan hendak menutup pintu balkon yang terletak tak jauh dari sana. Maura merasa semua orang sedang menatapnya merasa terharu, disaat bi Marni semakin dekat dengannya, ada angin kencang yang menariknya semakin jauh dari mereka semua.


"Bi Marni!" teriaknya sesaat sebelum menghilang dari sana.


Prang!


Sekali lagi vas bunga terjatuh, kali ini dari tangan bi Marni. Wanita paruh baya itu selintas mendengar suara Maura, meskipun pelan dan samar, dia yakin itu suara Maura.


"Maura.." ucapnya pelan sambil menoleh kearah tempat Maura berdiri tadi.


Tapi sosok Maura tak ada di sana lagi, gadis itu bagaikan angin yang tak dianggap saat di sana, tak ada yang menyadarinya.

__ADS_1


......................


Bersambung


__ADS_2