
"Yudha, kamu kenapa? Gak biasanya kamu kayak gini?!" tanya rekannya itu.
"Aku ikut tertawa dan tersenyum bukan berarti aku senang diperlakukan seperti itu! Kalian semakin lama, semakin ngelunjak saja, tak pernah berubah! Apa kalian tak memikirkan perasaanku?!" teriak Yudha meradang melihat mereka satu persatu.
"Maaf, kami tak bermaksud seperti itu. Ini hanya kesalahpahaman saja, maafkan kami Yudha, setelah ini kami tidak akan bercanda seperti ini lagi.." ucap pak Damar mencoba menenangkannya.
"Setelah aku bersuara dan marah seperti ini, barulah kalian berhenti, jika aku tak bersuara maka kalian takkan pernah sadar! Coba kalian pikirkan, sudah berapa kali kalian melakukan hal ini kepadaku.
Dan sudah berapa banyak orang yang kalian bully dengan dalih bercanda, hah?! Dasar tak punya hati, kalian tak punya perasaan sama sekali!" ucap Yudha kesal.
Dia pergi meninggalkan ruangan itu dengan perasaan dongkol, mereka semua yang ada di ruangan itu terdiam, dan kaget baru kali ini melihat ekspresi wajah Yudha dengan serius dan marah seperti itu.
"Dasar manusia lemah, bukan itu inginku! Kau harus melakukan sesuatu untuk menyadarkan mereka, pukul mereka, beri mereka pelajaran, bod*h!" teriak makhluk itu.
Dia mengejar Yudha dan merasukinya dengan mudahnya, karena manusia dengan pikiran kosong dan hati yang sedang lemah itu akan gampang didekati atau dirasuki oleh sebangsanya.
Brakk!
Yudha kembali masuk kedalam ruangan sambil menendang pintu dengan kerasnya, sehingga orang-orang didalam terlonjak kaget. Mereka belum selesai karena rasa kaget dengan kemarahan Yudha, sekarang malah anak itu mengamuk lagi.
"Yu-Yudha?!" ucap mereka gugup.
Yudha masuk ke ruangan itu sambil mengamuk, dia meraih apa saja didepannya, dia melempar, menendang apapun yang menghalanginya.
"Yudha! Tenanglah.." ucap pak Damar lagi.
Entah mengapa dia merasa pernah mengalami situasi seperti ini sebelumnya.
"Diamlah, ini semuanya karena kamu!" teriak Yudha.
"Apa maksudmu?!" tanya pak Damar bingung dan tak terima dengan semua ini.
"Karena kau aku kehilangan kesempatan dengan wanitaku, karena kau aku kehilangan dirinya!" teriak lagi Yudha.
"Wanita? Wanita apa maksudmu?!" jawab pak Damar bingung.
"Memangnya kau apakan Yudha, pak Damar?! Apa kau menggoda gebetannya?!" tanya yang lain berusaha menjauh menghindari Yudha.
"Gak, ini hanya salah faham, bahkan aku juga gak tau kalau dia lagi dekat dengan siapa!" jawab pak Damar tak terima disudutkan.
"Vera, gadisku!" teriak Yudha.
Semuanya terbelalak kaget, mereka tak menyangka diam-diam selama ini Yudha menyukai gadis cantik dan galak itu, karena menurut mereka malah selama ini Yudha malah sengaja menghindari wanita itu, karena takut dia galak katanya.
__ADS_1
Dan tiba-tiba saja dia mengatakan jika dirinya menyukai wanita galak yang selama ini dia hindari, tentu saja mereka salah karena yang sebenernya itu adalah perasaan makhluk yang merasukinya.
"Yudha!" teriak pak Damar, saat Yudha mengangkat bufet kayu lumayan berat itu, ingin melemparnya kearah mereka.
"Aku Danu!" teriaknya.
Pak Damar langsung terkejut, karena dia tak menyangka akan mendengar nama itu lagi, dan dia yakin saat ini Yudha tak menjadi dirinya tapi ada sosok lain yang sedang merasukinya.
"Kenapa kau kembali, Danu?!" tanya pak Damar, meskipun dia tak tahu apa yang dia katakan tapi dia berusaha berkomunikasi dengan makhluk itu.
Semuanya memandangi pak Damar dan Yudha dengan pandangan aneh tak mengerti, tapi saat pak Damar memberikan syarat dan tanda, mereka faham saat ini mereka sedang menghadapi situasi sulit yang sama sekali tak mereka bayangkan.
"Pergilah, jaga pintu depan jangan sampai dia keluar dan kabur, kalau bisa hubungi pak Kyai di pondok pesantren, Kyai yang pernah mengurus Meera dulu.." ucap pak Damar.
Mereka mengangguk setuju dan ingin keluar, tapi Yudha yang kerasukan itu langsung menghentakkan kakinya dan seluruh jendela dan pintu langsung tertutup kencang mengagetkan mereka, termasuk orang-orang yang berada diluar, mereka yang tidak tahu ada apa yang terjadi didalam, jadi penasaran ada apa didalam sana.
Pak Damar dan lainnya berusaha keluar dengan mendobrak pintu dan jendela, tapi tak bisa. Semuanya tertutup rapat dan terkunci kuat, seolah ada kekuatan lain yang menahan itu semuanya.
"Haha! Kalian semuanya takkan pernah keluar dari sini tanpa seizinku! Kecuali kalau kalian bisa membawakan aku Vera kesini, mungkin aku akan menimbangkannya.." ucapnya lagi sambil menyeringai.
Saat mereka menoleh kearah Yudha, entah bagaimana caranya anak itu sudah diatas lemari kayu yang lumayan tinggi dan besar itu, kalau dipikir secara logika, Yudha bertubuh tambun, dan gerakkannya sedikit lambat itu mana bisa dia memanjatnya tinggi, paling tidak barang-barangnya pasti pada berjatuhan semuanya.
"Yu-Yudha?!" mereka semua nampak ketakutan.
"Baiklah, aku akan mengeluarkan salah satu dari kalian!" ucap Yudha dengan tegas.
Sekali kibas tangannya, dia melempar salah satu staf perempuan keluar dari sana mendobrak pintu keluar. Setelah itu pintu kembali tertutup rapat dan terkunci lagi.
"Tidak! Biarkan aku pergi, hari ini aku ada kelas, sekarang ada jam pelajaran untukku, biarkan aku pergi.." ucap salah satu dosen perempuan memelas.
"Kau pikir aku bod*h, hah?! Aku takkan tertipu lagi, aku takkan membiarkan kalian keluar sebelum wanitaku datang!" ucap Yudha lagi, Danu sebenarnya.
Sedangkan staf perempuan yang terlempar keluar tadi meringis kesakitan, dia berusaha bangkit dari duduknya, beberapa mahasiswa yang berada diluar segera membantunya bangun.
"Apa yang terjadi sebenarnya didalam, Bu?" tanya salah satu mahasiswa itu.
"Apa ibi terluka, ibu baik-baik saja kah?" tanya teman mahasiswa itu.
"Aku bingung harus mengatakan apa, sebaiknya kalian menghubungi pak Kyai yang berada di pondok pesantren sebelah, kalian tau kan Kyai itu? Kyai yang membantu Meera dulu?" tanya staf perempuan itu.
"Iya, Bu.. Kami ingat, sebaiknya ibu istirahat sebentar, dan kenapa kita harus menghubungi pak Kyai? Apa ada yang kesurupan didalam, makanya ibu sampai terlempar begini?" tanya mahasiswa lainnya.
"Sepertinya begitu, sebaiknya ibu cepat pergi menemui bu Vera, Kalian pergilah jemput pak Kyai itu!" ujar staf itu sambil tertatih berjalan menuju kelas tempat bu Vera mengajar.
__ADS_1
"Guys, bagaimana ini?!" tanya mahasiswa yang ada di sana.
"Kita segera pergi ke pondok itu untuk menjemput pak Kyai, sebaiknya kita bersikap biasanya, jangan membuat kegaduhan.. Ayo!" katanya.
Dia dan teman-temannya segera pergi, tapi saat mereka hendak keluar gerbang kampus itu mereka ditahan oleh satpam kampus itu.
"Ayolah, Pak. Ini sangat penting dan genting sekali, jika tak mendesak tak mungkin kami membolos.." ucap mereka kepada satpam itu.
"Sebenernya saya gak peduli juga kalian mau bolos atau gak, toh Kalian juga yang merasakannya nantinya, cuma saya hanya menjalankan amanah agar kalian tak keluar dari kampus ini sebelum kelas kalian selesai, aku kenal loh dengan kalian, jadi jangan coba-coba membohongi saya.." ucap pak Kardi, satpam itu.
"Bagaimana ini? Gawat kalau begini.." ujar mereka terlihat gusar.
"Gak apa, paling kita nonton adegan drama kungfu lagi nantinya, ada yang loncat-loncat lagi diatas atap gedung ini.." sahut temannya.
Pak Kardi yang mendengar percakapan mereka, tiba-tiba saja keinginan tahuannya bangkit, dia mendekati mereka pelan-pelan dan mendengar nama pak Kyai disebutkan.
"Kenapa kalian ingin menemukan pak Kyai? Mau mondok?" tanyanya kepo.
"Bukan, ada yang kesurupan lagi kayaknya, Pak.." jawab mereka.
"Makanya biarkan kami keluar menjemput pak Kyai yah?" bujuk mereka.
"Boleh, tapi awas saja jika kalian bohong! Sana pergi, aku mau cek sana langsung.." ucap pak Kardi langsung menuju ruang staf itu penasaran.
Saat sampai di sana, dia melihat ada beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang berkerumun didepan ruangan itu, mencoba membuka paksa pintu dan jendela, tapi mereka nampak kesusahan sekali.
"Ada apa ini?!" tanya pak Kardi bingung.
"Gak tau, Pak. Yang jelas didalam ada kehebohan, dari tadi kami mendengar suara teriakan dan benda-benda jatuh dari dalam! Kami takut bapak-bapak dan ibu-ibu didalam dalam bahaya, kami berteriak ingin dibukakan pintu, tapi dari tadi tak ada yang membukakannya.. Hanya teriakan minta tolong saja" jawab mahasiswa yang ada di sana.
"Danu!!" terdengar suara teriakan dari dalam menyebutkan nama Danu.
Pak Kardi langsung kaget, apa dia tak salah dengar kan? Kenapa nama itu terdengar lagi olehnya?
"Apa yang terjadi? Bagaimana bisa mereka terlepas? Bukankah semua makhluk jahat disekitaran kampus ini sudah diikat oleh pak Kyai?" gumamnya gugup.
Dari ujung lorong koridor itu, dia melihat bu Vera ditemani oleh salah satu staf perempuan menuju ruangan ini, dengan tergesa-gesa, dia juga melihat ada mahasiswa dan mahasiswi lainnya ikut mengiringi mereka.
"Semoga saja mereka bisa mengatasi ini, semoga tak ada lagi korban ataupun hal berbahaya lainnya.." gumamnya lagi.
Dimatanya seorang mahasiswa dan seorang mahasiswi dibelakang bu Vera sangat bersinar sekali..
......................
__ADS_1
Bersambung