
Ketika dia lagi asik dengan makanannya, bu Sinta dan lainnya datang menghampirinya. Mereka memandangi Maura dengan sikap aneh.
"Ada apa, Bi? Mang? Belum makan malam yah? Maaf, Maura duluan makannya. Laper, hehe" ujarnya santai.
"Ooh, tidak apa. Makan saja, santai aja yah gak usah terlalu terburu-buru" ucap bu Sinta sambil mengambil air minum.
Dia terus mengamati Maura hingga dia hilang dari ruang makan itu, terdengar oleh Maura suara kasak-kusuk dari luar dan jelas mereka sedang membicarakannya.
"Dasar, orang-orang aneh! Masih saja percaya dengan tipu muslihat jin dan iblis" gumamnya dalam hati.
Setelah selesai makan dia lalu membereskan tempat makannya, mencuci piring sampai bersih. Setelah selesai dia hendak ingin pergi ke kamarnya, tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara air dari kran wastafel mengucur deras.
"Perasaan tadi sudah aku matikan?" gumamnya heran.
Dia lalu mematikan kran air itu, dan kembali berjalan keluar. Tapi sebelum itu dia mendengar suara klik dari kompornya, dan benar saja kompor itu menyala dari dua tungku itu.
"Rupanya mereka ingin main-main denganku, baiklah... Aku akan ladeni" ujarnya sambil tersenyum sinis.
Dia berpura-pura bingung dan kembali mematikan kompor itu, dan sesuai dugaan Maura semua barang-barang yang ada didapur pada berjatuhan, keluar dari dalam lemari, terlempar hingga melayang melewati Maura.
"Akh! Apa ini?! Tidaaakkk!" teriaknya histeris dan berlari keluar dari dapur itu.
Dia berlari menuju ruang tengah rumah itu, dan ternyata semua tetua sedang berkumpul di sana, dia berlari ketakutan sambil bersembunyi dibalik kursi sofa itu.
"Kamu kenapa, Nak? Kenapa ketakutan seperti itu, dan wajahmu begitu pucat sekali?" kata bu Sinta terlihat khawatir sekali.
"Di-didapur, Bi... Se-semuanya berantakan, terbang dan terlempar tak tahu arah!" ujarnya terlihat ketakutan bersembunyi dibalik sofa itu mengintip kearah dapur itu.
"Masa' sih?! Mungkin kamu salah lihat kali..." bu Sinta berusaha menenangkannya.
__ADS_1
Maura berpura-pura ketakutan sambil melihat setiap ekspresi wajah orang-orang yang ada di sana, ada yang berpura-pura tidak tahu, ada yang bersikap tidak peduli dan ada juga yang tak bisa mengontrol mimik wajah mereka, tersenyum melihat Maura yang begitu ketakutan.
"Kamu tenang saja, tunggu disini jangan kemana-mana. Bibi mau periksa di dapur ada apa" ujarnya berlalu menuju ke dapur.
"Jangan, Bi! Nanti jika Bibi kenapa-kenapa bagaimana?" tanya Maura terlihat khawatir.
"Sudah, tak apa.." ucap bu Sinta sambil berjalan menuju dapur, diiringi oleh beberapa orang.
Tinggallah Maura di sana bersama nenek dan tiga orang lain lagi, neneknya menatap Maura tidak berkedip sama sekali. Dia memperhatikan gerak geriknya, melihat Maura serba salah.
"Nenek termasuk tetua paling dihormati disini, tentu saja karena dia pemimpin disini, tentu ilmu dan kekuatannya sangat tinggi, dan dihormati disini dan kemungkinan oleh orang lain juga" gumamnya lagi, dia berusaha tidak kontak mata langsung sama neneknya, agar tak ketahuan sandiwaranya.
"Anak ini sangat sulit sekali membaca ekspresi wajahnya, dan baru kali ini aku tak bisa mendengar suara hati manusia.
Sudah lama sekali, dia mengingatkan aku dengan mendiang ibunya itu. Ckck, ibu dengan anak sama saja, sama-sama suka nyusahin" gumam nenek Dawiyah dalam hati.
"Di sana tidak ada apapun, semua barang-barang yang kau sebutkan tadi semuanya aman, rapi sepertinya tidak terjadi apapun dari tadi" ujar pak Herman.
"Bener, kok. Aku tidak berbohong!" teriaknya lagi.
"Iya, iya.. Ya sudah kamu istirahat aja didalam kamarmu, besok ada kelas pagi kan? Ya udah, istirahat aja dulu" ucap pak Herman tenang.
"Ta-tapi..." Maura berusaha menyakinkan mereka semuanya.
"Tenang, tidak apa kok" ucap bu Sinta seraya membawanya naik ke lantai atas untuk masuk ke kamarnya.
"Istirahat aia dulu, tenangkan pikiranmu" ucap bu Sinta bersikap lembut.
"Baik, Bu... Terima kasih, saya masuk dulu" ucap Maura langsung masuk dan mengunci pintunya.
__ADS_1
Dia langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur, sambil memikirkan kejadian barusan.
"Mudah-mudahan mereka percaya denganku, tapi yang paling aku takuti itu si nenek! Mudah-mudahan dia tak berpikir macam-macam tentangku, eh! Bodo amatlah" ujarnya lagi.
//
Tengah malam dia terusik dengan suara-suara aneh lagi, dan kali ini terdengar didepan pintu kamarnya.
"Apalagi sih ini? Udahlah aku capek tahu!" teriaknya kesel.
Dan benar saja suara itu hilang setelah dia berteriak, diapun kembali ke tempat tidurnya lagi. Dan gangguan itu datang lagi, terdengar suara nyaring menjerit membuat telinganya kesakitan.
"Hentikan! Aku ingin tidur, besok aku harus berangkat lebih pagi lagi" ujarnya setengah berteriak kesal.
Dia pun menghempaskan tubuhnya ke kasur lagi, setelah kurang lebih satu jam an, gangguan pun datang lagi.
Kali ini suara orang bersenandung disamping kamarnya, dia tak menggubrisnya, dia tahu dia sedang dikerjain. Maka kali ini dia memilih diam, capek juga! Karena semakin kita ladeni maka semakin aktif juga mereka.
......................
Bersambung
Teman-teman, maaf saya tak bisa setiap harinya update bab banyak, hanya sehari sekali saja. Karena disebabkan banyak hal, mulai tak ada ide, sibuk di RL (Real Life) Atau sibuk dengan yang lain.
Oleh karena itu, mohon dukungannya π dengan like dan komenmu membuat aku lebih semangat lagi βΊοΈβΊοΈπ
Terima kasih setiap dukungannya, maaf jika masih ada tulisan yang typo karena menulisnya menggunakan ponsel π
Maaf ya semuanya, love u π₯°π₯°π
__ADS_1