
Maura berlari menyusuri lorong rumah sakit itu, banyak arwah-arwah penasaran di sana yang melihat Maura dengan aneh. Seperti ada sesuatu yang menarik di diri Maura, tapi mereka enggan mendekatinya.
Ada sinar terang didalam tubuhnya seperti perisai pelindung untuknya. Membuat para arwah di sana agak takut padanya, mereka hanya menatapnya dari kejauhan saja.
Maura setelah mendapat telpon dari kak Angga dia langsung bergegas ke rumah sakit, tempat sahabat karibnya dirawat.
Sebelumnya,saat ditelpon tadi.
" May, dengarkan kakak. Kamu jangan panik yah.." Kata Angga diseberang telpon.
" Tadi pagi-pagi sekali kakak mendapat telpon dari kepolisian, mereka bilang Maurice dan keluarganya mengalami kecelakaan saat menuju rumah sakit" Kata Angga dengan napas berat.
" A-apa..?! Maksud kaka apa! yang jelas dong ngomongnya, kecelakaan? rumah sakit?" Kata Maura bingung.
" Kakak gak tau harus ngomong apa ke kamu, yang jelas sekarang Maurice ada di rumah sakit dan dirawat di sana. Tolong temani dia, kakak akan usahain akan pulang juga.
Kasihan dia, tidak ada yang menemani. Semua keluarganya tak bisa dihubungi." Jawab Angga.
" Baiklah, aku akan segera ke sana!" Kata Maura sembari berlari mencari taksi lewat.
Pria tadi yang sedari mengikuti Maura, bisa mendengar percakapan mereka dengan jelas, seperti tersambung telpon juga di telinganya. seolah-olah mereka punya telepati, tetapi hanya dia saja yang merasakannya.
" Hei, mau diantar gak?" Tanyanya singkat.
" Apanya?" Maura nanya balik.
" Ke rumah sakit, aku juga mau ke sana. Periksa kepalaku, kali aja ada yang aneh" Jawab pria itu dengan asal.
" Gak usah diperiksa pun kamu juga udah aneh! " Jawab Maura mendengus kesal.
Karena sudah menunggu agak lama tak ada taksi pun yang lewat, dengan berat hati dia menerima tawaran pria tadi. Mereka pergi ketempat parkiran mobil dimana mobil pria itu diparkir sana.
Terlihat Mobil mewah berwarna hitam, sangat cocok dengan pria itu yang penuh misterius.
" Gak kusangka, kamu akhirnya mau juga ikut denganku " Kata pria itu dengan sinisnya.
" Heh, dengar yah jika ada taksi yang lewat tadi, tak sudi aku naik mobilmu ini " Maura mendengus kesal.
" Lagian kamu yang nawarin aku sejak awal, apa salahnya kan?! " Kat Maura mencibir kearah pria itu.
Pria itu hanya diam saja, didalam masker itu terlihat senyum tipis mengembang.
' Kata mereka dia tidak hanya cantik tapi anggun juga, cantik sih iya. Anggun? ini mah jauh dari anggun, petakilan, jutek, mulutnya juga pedas sekali ' pria itu membatin.
Sesampainya di rumah sakit, Maura langsung pergi meninggalkan pria itu yang masih sibuk memarkirkan mobilnya. Sebelumnya Maura minta diturunkan di pintu utama rumah sakit itu.
Dia tidak ingin Maurice menunggu lama, dia tidak ingin juga sahabatnya itu merasakan sakit yang sama seperti dirinya dulu.
Suara derap sepatunya itu bergema di rumah sakit itu, dengan isakan tangisnya dia menuju ruang ICU tempat Maurice dirawat.
Dia hanya dapat melihat sahabatnya itu dari jendela kaca dari luar saja, Maurice belum bisa di jenguk. Dia belum sadar dari pingsannya, beberapa selang menancap ditubuhnya, selang oksigen yang menempel di hidungnya. Kepalanya diperban, juga ada beberapa luka kecil ditubuhnya. Seperti goresan di pipi wajahnya, tangan dan lehernya.
Ada tanda luka yang lain menyita perhatiannya, di salah-satu pergelangan tangannya terlihat tanda genggaman yang begitu kuat sampai berbekas di pergelangan itu.
__ADS_1
Belum lama itu, ada sekitar tiga orang polisi yang menghampiri Maura.
" Permisi, maaf apa anda dari keluarga korban? " Tanya salah seorang polisi itu.
" Saya bukan keluarganya langsung pak, tapi dia sahabat karib saya sudah seperti saudara. Jika kalian butuh keterangan dari keluarganya bisa diwakilkan kepada saya. " Kata Maura kepada polisi itu.
" Maaf, tidak bisa. Hanya keluarganya langsung bisa dimintai keterangan. " Kata polisi itu tegas.
" Kalau begitu, silakan hubungi keluarganya langsung pak " Ujar Maura." Kami tak bisa menghubungi keluarganya yang lain, tidak tahu kenapa. Padahal ini kecelakaan melibatkan satu keluarga, bagaimana hubungan mereka dengan keluarganya yang lain? " Tanya polisi itu heran.
" Maksud Bapak apa yah, satu keluarga? Bukankah hanya Maurice yang terlibat kecelakaan bersama supirnya? " Kata Maura heran dan tambah penasaran.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan sahabatnya ini? batin Maura. Sedangkan supirnya dinyatakan meninggal ditempat.
" Kau sendiri tahu dari mana bahwa Nona Maurice ini mengalami kecelakaan dan dirawat disini? " Tanya polisi itu penuh selidik.
" Ah, aku tahu dari kakakku. Dia meneleponku pagi tadi " Jelas Maura.
" Siapa kakakmu? " Tanya polisi itu lagi.
" Angga, Angga Hartawijaya " Kata Maura lagi.
Polisi itu agak terkejut mendengar nama itu, lalu dia bersikap biasa lagi.
" Oh jadi pak Angga yang memberitahu anda, saya polisi yang menelponnya waktu itu. Karena di kontak hp nona Maurice tercantum namanya Angga's Brother. Jadi kupikir dia kakaknya " Kata polisi itu menjelaskan.
" Kak Angga itu kakakku, jika Maurice menganggap kak Angga kakak juga tak apa. Kami memang sudah seperti keluarga.
Saat ini dia sedang di Florida, jadi tak bisa datang menemuinya. Jadi aku mewakilinya juga " Kata Maura juga.
" Memangnya pak Angga tidak memberitahumu? " Tanya polisi itu.
Maura hanya menggeleng, dia kesal juga kepada kakaknya itu hanya menjelaskan separuhnya saja. Sementara pria yang bersamanya tadi hanya memperhatikan mereka dari jauh.
Belum lama kemudian Kevin sudah sampai juga, terlihat dia nampak kelelahan. Kayaknya sepanjang perjalanan dia kesini berlari, terlihat napasnya masih ngos-ngosan.
" Kevin? sejak kapan kamu kesini, tau dari siapa? Kak Angga? " Maura kaget melihat Kevin berlari menujunya.
Kevin hanya mengangguk saja, dia sedang mengatur napasnya dulu. Salah satu polisi di sana menawarkan air mineral yang dibawanya.
Kevin menerimanya dan berterima kasih, lalu langsung meminum air itu sampai habis. Nampak lelah dan kehausan sekali.
" Maaf pak, airnya aku minum habis " Ujarnya.
" Tidak apa, bagus untukmu " Kata polisi itu bijak.
" Aku mendapat kabar dari kak Angga, mendengar itu aku langsung pamit sama keluargaku untuk pulang duluan. Aku sudah menjelaskan semuanya pada mereka.
Mereka akan menyusul pulang juga, saat ini sedang berkemas kemungkinan besok baru sampai.
Aku langsung mengambil penerbangan lebih awal, agar lebih cepat sampai disini " Katanya menjelaskan.
Polisi yang tadi menatap mereka heran, melihat itu Maura langsung memberi penjelasan. Agar tak terjadi kesalahpahaman.
__ADS_1
" Dia ini Kevin pak, salah satu sahabat kami juga. Dan seperti bapak dengar tadi, dia juga dihubungi kak Angga juga " Maura menjelaskannya dengan baik.
Polisi itu mengangguk tanda mengerti. Dan terlihat dia sedang berdiskusi sebentar dengan rekannya yang lain.
" Baiklah, kami sudah sepakat menjelaskan apa yang terjadi. Seperti yang kalian ketahui, bahwa nona Maurice mengalami kecelakaan hebat bersama sopirnya. Tapi naas, sopirnya tidak selamat karena meninggal ditempat.
Saat itu terjadi, tidak hanya mobilnya saja yang mengalami kecelakaan. Di sana juga ada mobil lain yang mengalami kecelakaan, dan keadaannya lebih parah dan hancur dibandingkan mobil ditumpangi nona Maurice " Kata polisi itu menjelaskan.
" Dan kami juga mengetahui informasi identitas pemilik mobil itu, yaitu kedua orang tua kandungnya. Tuan dan nyonya Gilbert. "Kata polisi itu mengakhiri penjelasannya.
Maura maupun Kevin terperangah tak percaya, mereka syok dengan berita itu. Bagaimana bisa kedua orang tua Maurice bisa juga mengalami kecelakaan, padahal mereka berada di dua mobil berbeda? apa itu kebetulan.
" Dan hasil dari penyelidikan kami, dari pantauan Cctv dijalan itu. Terlihat mobil yang ditumpangi nona Maurice menabrak mobil mereka sampai tiga kali dengan kekuatan penuh, terlihat dengan mobilnya yang melaju sangat kencang.
Dan itu berulang kali sampai dia berputar-putar mengelilingi mobil korban, sampai ada mobil lain yang berusaha menghentikan mobilnya hingga berhenti mendadak seperti itu.
Orang lain itu juga yang menghubungi polisi dan ambulans. Tapi dia langsung pergi, sampai sekarang kami tak tahu siapa informan sekaligus orang yang berusaha menghentikan laju mobil nona Maurice itu.
Dari pantauan Cctv, tak terlihat dengan jelas wajahnya. Apalagi dia sepertinya memakai masker juga diwajahnya. " Kata polisi itu.
Mendengar itu Maura jadi teringat dengan pria menyebalkan itu, masker wajahnya itu tak bisa dilupakan. Ngomong-ngomong dimana dia? batin Maura sambil celingukan mencarinya.
Sedangkan pria itu tadi masih mendengarkan mereka, sambil duduk di bangku yang tak jauh dari mereka. Duduk santai seolah dari keluarga pasien juga, sehingga semua orang di sana biasa saja melihatnya.
Tapi berbeda dengan Maura, kevin dan para polisi di sana. Dia seperti tak terlihat oleh mereka.
Setelah itu para polisi tadi pergi meninggalkan mereka berdua.
" Sudah selesai, ayo kamu juga harus menemaniku juga " Kata pria tadi, dan tentunya saja itu mengejutkan Maura dan Kevin yang di sana.
Bagaimana tidak, selang beberapa menit polisi itu pergi pria tadi tiba-tiba datang entah darimana. Tahu-tahu sudah di samping mereka.
" Kamu siapa, kenapa menarik tangannya begitu kasar?! " Ujar Kevin terlihat marah kepada pria itu.
Pria tadi terlihat agak kasar menarik tangan Maura, sebenarnya dia tak bermaksud begitu.
" Aku? aku pacar gadis ini " Jawabnya asal.
" Apa..?!! tidak, aku bukan pacarnya! ngasal kamu yah! " Maura terlihat marah dengan mata melotot tanda tak suka.
Sedangkan Kevin melongo mendengar jawaban pria tadi, sungguh hal tak terduga. Kalau dipikir-pikir pantas saja Maura begitu cepat move on darinya.
Sedangkan diujung rumah sakit itu terlihat dua orang yang mengamati mereka tersenyum geli mendengar jawaban pria itu.
" Dasar, saat ditanya katanya profesional. Pas dapat ciuman kecil aja udah klepek-klepek ngaku pacarnya. Hehe.." Kata salah satu dari mereka itu.
" Dasar pria bucintan.. " Sambungnya lagi.
" Apa itu..? " Tanya temannya.
" Pria butuh cinta dan kehangatan, haha.." Katanya menjawab.
Hm, norak. Temannya mendengus kesal dengan istilah yang sedikit memaksakan itu.
__ADS_1
......................
Bersambung