
Hari ini adalah hari dimana Tari, Angga dan Maura kembali berkumpul dengan keluarganya kembali secara utuh. Karena sang ayah sudah kembali dari negeri asalnya, Indonesia.
"Bagaimana keadaan di sana, Pa?" tanya Angga memulai percakapan.
"Alhamdulillah, semuanya baik-baik saja. Kalian semua bagaimana setelah ditinggal cukup lama sama Papa, gak ada masalah kan?" tanya pak Irwan sambil menatap anak-anaknya itu.
Tatapan terhenti ketika terakhir menatap putri sulungnya itu, dia melihat raut wajah Tari nampak murung.
"Tari, Nak. Kamu kenapa? Kalau ada apa-apa boleh cerita ke Papa" kata Irwan lembut.
Dia sebenarnya sudah mengetahui semua hal tentang kejadian di rumahnya itu selama dia pergi, dia meminta bi Marni untuk melaporkan segala kejadian tentang anak-anaknya itu. Entah itu kejadian biasa ataupun kejadian yang 'luar biasa'.
"Pa, ada yang ingin aku katakan. Tapi aku minta Papa dengarkan dulu, sebelum berkata apapun" jawab Tari.
"Baiklah, Papa akan mendengarkannya. Silakan, ceritakan saja" ucap pak Irwan sambil menyeruput kopinya.
"Tari sudah mengajukan surat permohonan cerai kepada Daniel, Pa" ucapnya pelan sambil menunduk.
Byuur!
Pak Irwan tersedak mendengar pernyataan putrinya itu, bagaimana tidak Tari yang nekat menikahi Daniel dan pergi ke Korea untuk tinggal, tiba-tiba akan bercerai begitu saja. Padahal pernikahannya masih baru, belum setahun semenjak keinginannya tinggal bersama suaminya di negara ginseng itu.
'Apa kau yakin?! Sudah memikirkan itu dengan baik-baik?! Kau tahu, perceraian itu bukan hal yang mudah. Coba pikirkan dulu, mungkin hanya emosi sesaat saja" ujar pak Irwan mencoba menenangkan putrinya itu.
Tari hanya menggelengkan kepalanya, dia hanya menunduk sambil menahan Isak tangisnya. Angga ingin menceritakan semuanya tentang hal itu tapi ditahan oleh Tari.
"Tapi.." bisik Angga.
"Tidak.." jawab Tari pelan.
Melihat itu pak Irwan merasa ada yang disembunyikan oleh anak-anaknya itu, dia menatap Maura tapi anak itu malah memalingkan wajahnya pura-pura tak tahu.
"Apa yang terjadi? Tolong ceritakan semuanya, Papa perlu tahu apa keputusanmu hingga meminta cerai kepada Daniel" ucap pak Irwan lagi.
"Pa, maafkan Tari yang selalu membuat Papa kecewa" ujar Tari menatap ayahnya sendu.
"Kenapa kamu bilang kayak gitu? Kamu merasa kalau Papa selalu kecewa sama kamu? Kalau Papa selalu marah padamu?" tanya pak Irwan sambil menatap lekat Tari.
Tari hanya diam saja, dia hanya menunduk tak berani menatap wajah ayahnya lagi. Melihat itu pak Irwan mencoba untuk mengerti posisi putrinya itu.
"Baiklah kalau begitu, Papa percaya sama kamu. Jika itu memang pilihan terbaik untukmu, Papa akan dukung sepenuhnya" ucap pak Irwan pelan.
Dia harus lebih bersabar lagi menghadapi putri sulungnya itu, karena sejak kecil mereka memang tidak terlalu dekat. Karena pak Irwan begitu sibuk dengan pekerjaannya, dan mengurus Maura pada saat itu.
Wajar saja jika ada rasa cemburu kala itu, dia masih terlalu kecil untuk berbagi kasih sayang dengan adik-adiknya ditambah lagi harus kehilangan ibu tercinta.
"Baiklah, sepertinya ini bukan waktu yang tepat. Kalian boleh istirahat kembali, setelah makan malam nanti Papa ingin kalian berkumpul lagi disini.
Buat Tari, Papa ingin bicara berdua saja padamu. Bisa kan? Kalian berdua silakan mau pergi atau mau ngapain, sampai ketemu makan malam yah" ucap pak Irwan lembut kepada anak-anaknya.
Sebenarnya agak aneh juga menurut mereka dengan perubahan sikap ayahnya itu, biasanya dia tak selembut itu berbicara kepada mereka.
__ADS_1
"Papa kenapa, Kak? Aneh banget, kayak bukan Papa aja" ujar Maura heran.
"Syut, diam! Nanti Papa denger" ujar Angga berbisik.
Mereka berdua kembali ke kamar masing-masing, sedangkan pak Irwan berdua saja dengan Tari di ruang tamu itu.
"Tari, Papa yakin ada yang ingin kamu bicarakan berdua saja sama Papa. Ayo, Nak. Katakan saja, Papa akan mendengarkanmu" ucap pak Irwan menatap lekat dirinya.
"Pa, sebelumnya Tari pengen minta maaf dulu ke Papa karena selama ini sudah bersikap tidak baik ke Papa. Karena semuanya ada alasannya" ucap Tari sambil menundukkan kepalanya, jari-jarinya saling beradu menandakan dirinya tengah gelisah.
"Papa mengerti soal itu, Papa akui juga ini sepenuhnya bukan salahmu, Nak. Ini juga salah Papa, karena kurang memperhatikan kamu sejak kecil.
Waktu itu Papa masih depresi karena kehilangan mamamu, tapi disamping itu Papa harus bersikap baik-baik saja didepanmu dan adik-adikmu.
Tapi Papa lupa, kalau waktu itu kamu sudah cukup mengerti tentang permasalahan ini. Hingga akhirnya membuatmu semakin menjauh dari Papa" ucap pak Irwan menjelaskan semuanya.
Kini ayah dan anak itu saling mencurahkan isi hati masing-masing, mereka ternyata memiliki perasaan yang sama dan sama-sama juga gengsi mengakui jika keduanya saling kangen.
"Dasar, bapak dan anak sama aja kelakuannya. Gak heran kalau Tari keras kepala begitu, lah papanya juga begitu" gumam bi Marni sambil memperhatikan ayah dan anak itu.
"Ada apa, Bi?" bu Sarah menyapanya dengan ramah.
"Eh, Ibu bikin kaget saja. Hehe!" ujar bi Marni tersentak karena kemunculan bu Sarah.
Orang tua Camelia, yaitu bu sarah dan pak Jamal sudah bisa masuk kerja hari ini. Kesehatan pak Jamal sudah membaik dan sudah menjadi sopir pribadi nya Angga, sedangkan bu Sarah membantu bi Marni di rumah.
Sementara di kamar Maura, Maurice sedang rebahan di kasurnya. Dia sedang asik membaca novel kesukaannya ditemani beberapa cemilan disampingnya.
"Hehe! Mau?" ucap Maurice sambil menawari cemilan ke Maura.
Maura langsung mengambil cemilan kesukaan mereka dan ikut berbaring disamping Maurice.
"May, aku dengar nanti kamu akan pulang ke Indonesia bareng bi Marni? Makanya sekarang ada bu Sarah untuk membantunya disini agar terbiasa jika bi Marni tak ada, ya kan?" tanya Maurice.
"Aku gak tahu soal itu, sepertinya begitu" jawab Maura seperti orang malas.
"Kok gitu sih jawabnya, masa gak tahu?!" ucap Maurice kesal dengan jawaban Maura.
"Beneran aku gak tahu, sebab Papa ataupun bi Marni belum cerita apa-apa ke aku! Tunggu dulu, ntar malam abis makan malam kita disuruh kumpul lagi sama Papa.
Jangan-jangan mau ngomongin masalah itu lagi? Yahh..." ucapnya lesu.
"Kok jawabnya lesu? Kenapa? Takut ninggalin aku yahh??" ledek Maurice.
"Kalau kamu kemanapun aku pergi harus ikut, gak boleh pisah! Jika benar aku akan pindah ke Indonesia, kamu juga harus ikut dong!" Maura memanyunkan bibirnya lucu.
"Terus kenapa kayak lesu begitu? Aah, aku tahu jawabannya, pasti gak mau pisah ama si pangeran ganteng kan?? Haha!" Maurice tertawa lepas melihat ekspresi Maura yang terkejut mendengar ucapannya tadi.
"Siapa bilang, aku gak ngurusin soal dia yah! Dia mau ada atau gak bukan urusanku!" jawab Maura kesal.
"Siapa?!" tanya Maurice.
__ADS_1
"Dialah! Siapa lagi" jawab Maura ketus.
"Ardian?" tanya Maurice lagi.
"Iya, dia..." Maura sadar kini dirinya kena masuk jebakan Maurice.
Sontak dia langsung bergulat dengan sahabatnya itu, malu karena berhasil kena jebakan.
"Haha! Kena diaa!" teriak Maurice senang akhirnya mengetahui juga perasaan sahabatnya itu kepada Ardian.
"Tenang, May! Tenang yah, nanti aku bantu kamu agar lebih dekat lagi dengannya, haha!" Maurice berlari sambil keluar kamar.
"Mau kemana kamu?! Sini, dasar bocah sial*n!" teriak Maura sambil mengejarnya keluar.
Saat keluar seketika dirinya mematung, dia melihat ada Ardian dan kedua sahabatnya yaitu Julian dan Joanna ada di sana.
"Kenapa diam saja? Ayo sini, ada tamu kok gak disamperin" ucap papanya heran melihat Maura terlihat salah tingkah.
Sedangkan Maurice melihatnya sambil menahan tawa, sepertinya ini memang sudah direncanakan olehnya. Maura mengumpat dalam hati kena jebakan Maurice yang kedua kalinya.
"Ha-hai, ada apa kemari? Mau ketemu siapa? Eh, maksudnya ada perlu apa?" tanya Maura dengan salah tingkah, tentu saja itu membuat Maurice dan lainnya tertawa geli melihat tingkahnya itu.
"Papa yang panggil, Papa mau ngomong sama kalian berdua. Sini duduk!" perintah papanya.
Seketika Maura jadi tegang, kenapa sekarang dirinya merasa kalau sedang di sidang yah? Dia melihat Ardian nampak begitu tenang dan diam saja.
Sedangkan yang lain menunggu di ruang TV, sambil memperhatikan mereka. Bi Marni datang bersama bu Sarah sambil membawa beberapa minuman dan camilan.
"Ini buat teman kalian ngobrol sama nonton yah" ucap bi Marni ramah.
"Wah, pas banget ini! Makasih ya Bi" ucap Angga senang.
Dia sedari tadi diam saja di kamar ikutan nimbrung dengan mereka, kini Tari, Angga, Maurice juga Joanna dan Julian sedang menikmati camilan sambil menonton drama dunia nyata.
"Ah, coba kalau ada Kevin pasti seru yah" ujar Julian.
Maurice dan Joanna saling pandang, mereka berdua menggelengkan kepalanya.
"Fix, ini mah mereka berdua yang pacaran bukan sama kita" ujar Joanna berbisik kepada Maurice.
Maurice hanya menanggapinya dengan anggukan saja dengan ekspresi sedih dan diiringi gelak tawa keduanya, tiba-tiba...
Tingg! Tongg!
"Siapa yang datang?" gumam mereka.
Bi Marni membukakan pintu dan ternyata Kevin dan Dhania yang datang bersama ibunya, bu Ella.
......................
Bersambung
__ADS_1