RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Tidur Sambil Berjalan


__ADS_3

Maura tersentak dari berdirinya seolah baru saja didorong oleh sesuatu, dan dia kembali lagi ke posisinya semula, berdiri didepan kamarnya dan hantu gadis remaja itu sudah tak ada lagi.


"Hei, kamu gak apa-apa kan?!" tanya Ardian khawatir.


"Iya, aku gak apa. Tapi.." dia masih berusaha mengingat kejadian barusan.


"Sudah, lupakan. Kamu bisa capek kalau terus-terusan mengurusi mereka, biarkan saja" ucap Ardian mencoba menenangkannya.


"Tapi kasihan dia, ini tak adil!" ujar Maura dan teringat lagi bayangan kenangan milik hantu gadis remaja tadi.


"Semuanya butuh dikasihani olehmu, dan semuanya pasti merasa Kematiannya tak adil. Apa kamu akan terus-menerus seperti ini, mereka takkan membiarkanmu istirahat, pikirkan juga kondisimu!" ucap Ardian lagi.


"Huft, ya sudah.." sahut Maura pelan.


"Ya sudah, kamu istirahat aja dan jangan lupa tutup dan kunci pintu dan jendela kamu, gak usah kamu tanggapi mereka, mau seberisik apapun mereka, abaikan saja.." ucap Ardian lagi.


Dia mengusap lembut kepala Maura dan berpamitan pulang, Maura pun langsung masuk kedalam kamarnya dan mengunci pintu maupun jendela kamarnya.


"Apa yang dikatakan oleh Ardian tadi benar, tapi kasihan dengan mereka.. Akh! Bodo amat!" gusarnya.


Dia kembali tidur dan terlelap di kasurnya dengan nyenyak, dia tak menyadari jika sebenarnya ada makhluk lain didalam kamarnya itu, padahal kamarnya sudah dilindungi oleh kalung yang dia pakai, tapi perisai itu tembus oleh makhluk itu.


Padahal tak ada satupun makhluk yang bisa masuk kecuali makhluk murni atau masih suci, termasuk Dewi Srikandi.


"Kakak.." ternyata itu hantu anak kecil tadi.


Dia memandang sendu kearah Maura, dia mendekati gadis yang tertidur lelap itu, dan hantu anak kecil itu duduk berjongkok dihadapan Maura.


"Kakak, maaf... Aku dan kakakku hanya meminta tolong sekali saja, ini demi seseorang yang masih hidup bukan demi kami yang sudah mati ini.


Kamu harus menyelamatkannya, karena dia dan keluarganya harus menanggung beban yang sangat besar, suatu hukuman yang tak adil bagi mereka yang tak melakukan kejahatan apapun" ucap hantu anak kecil itu.


Dia menangis sambil menatap Maura sedih, badannya basah kuyup dengan tangan pucat dan dingin itu dia menyentuh kepala Maura, dan tiba-tiba ada cahaya putih bersinar diantara mereka.


.


.


"Maura! Hei, Maura!" terdengar teriakan seseorang memanggilnya.


Maura terkejut dan tersadar dari diamnya, tiba-tiba saja dia berada dipinggir jalan menghadap hutan, diarah kejauhan dia melihat Ardian tergopoh-gopoh berlari menuju kearahnya.


"Ngapain kamu bengong disini?! Hei, kamu sadar gak sih apa yang kamu lakukan?!" cecar Ardian sangat panik sekali.

__ADS_1


"Ardian, aku kenapa disini? Bukannya aku tadi lagi tidur dikamar yah?!" tanyanya bingung dan panik.


"Apa kamu tidur suka ngelindur, Maura?! Tidur sambil berjalan?!" tanya Ardian lagi.


"Gak mungkin, dan ini sepertinya sangat jauh dari rumah kostku!" ucap Maura mulai sadar dimana dia berada.


Tentu saja, dia saat ini dipinggir jalan raya yang kanan kirinya adalah hutan lindung yang cukup lebat. Dan dikedua ujung jalan sama-sama sepi tak ada perumahan ataupun itu.


"Tentu saja, ini hutan perbatasan pesantren dengan desa sebelah!" ucap Ardian.


"Haaah?!! Kok bisaa!!" teriak Maura terkejut.


"Tentu saja, coba kamu pikir bagaimana ini bisa terjadi?!" tanya Ardian lagi.


"A-aku gak tau.." Maura menangis karena takut, baru kali ini dia mengalami hal ini.


"Sudah, jangan menangis. Ayo kita pergi dari sini, karena ini dekat pesantren lebih baik kita kesana dulu sekalian sholat subuh" ucap Ardian lagi dan makin membuat Maura terkejut.


Mereka pergi dari sana menaiki motor Ardian menuju pesantren, karena waktu mendekati subuh sudah banyak santri dan santriwati yang sudah bangun, tapi Ardian dan Maura segera menemui pak Kyai dulu.


"Maura, Ardian?! Kenapa subuh-subuh begini kalian sudah ada disini? Dan kamu Maura, kenapa datang dengan pakaian itu dan mana sandalmu?!" tanya pak Kyai bingung.


Saat ini Maura memakai baju tidur piyama warna salem, dia juga gak sadar dari tadi cuma nyeker aja. Dengan menunduk malu dia mengikuti pak Kyai masuk kedalam pondoknya.


Untung saja Maura memakai piyama celana panjang dan baju panjang dan cukup tebal jadi dia tak terlalu risih, mereka tadi bertemu dengan pak Kyai didepan masjid saat pak Kyai ingin datang ke masjid.


Karena melihat keadaan Maura seperti itu, pak Kyai membawanya ke ustadzah Mariam untuk menutupi kepalanya dan meminjamkan sandalnya.


"Terima kasih, Ustadzah.. Maaf merepotkan terus!" ucap Maura tak enak hati.


"Sudah, gak apa.. Ayo kita temui lagi Kyai dan Ardian" ucap ustadzah Mariam.


Kini mereka berkumpul diruang tamu di pondok pribadi pak Kyai, menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka, kenapa tiba-tiba datang ke pesantren seperti itu.


"Aku gak tau, Kyai. Tiba-tiba saja sudah terbangun dan berdiri didepan hutan di sana, dekat pesantren ini.." ucap Maura menjelaskan apa yang dia tahu.


"Ardian, bisa kamu jelasin apa yang terjadi pada anak ini?" tanya pak Kyai ke Ardian.


"Tadi malam, saat saya lagi tidur sempat bermimpi tidak bagus. Saya melihat Maura berjalan ketengah danau, Kyai.. Saya terbangun dari tidur, dan segera menunaikan sholat tahajud untuk menenangkan diri.


Tapi ketika aku hendak tidur lagi, tiba-tiba saya dikejutkan oleh kedatangan panglima Arialoka dan Dewi Srikandi. Mereka sangat cemas dan khawatir Sekali.


Mereka bilang, Maura dibawah pengaruh makhluk murni, jiwa suci yang belum kembali ke maha kuasa dan berhasil masuk kedalam kamar Maura dan menembus perisai yang sudah dibuatnya.

__ADS_1


Karena perisai itu tak berguna untuk makhluk murni atau jiwa suci seperti itu, jadi mereka bisa masuk dengan leluasa. Bahkan aku sendiri pun tak melihat ataupun menyadari jika hantu anak kecil itu ada didalam kamar Maura.


Sepertinya dia menyelinap ketika aku masih fokus menyadarkan Maura saat hantu gadis remaja memaksakan kenangannya sebelum mati untuk dilihat oleh Maura juga.


Sebenarnya aku juga khawatir sekali dengannya, karena anak ini mudah kasihan melihat makhluk-makhluk seperti itu, tapi aku sudah memastikan jika dia untuk sementara waktu tidak perlu fokus dengan hal-hal seperti itu lagi.


Dan ternyata benar adanya, saat aku melihat kedalam rumah kostnya, pintu gerbang dalam keadaan terbuka tanpa penjaga. Dan aku yakin Maura sudah keluar, kami terbagi dua aku mencari kearah sini sedangkan panglima Arialoka bersama Dewi Srikandi mencari ketempat berlawanan.


Dan akhirnya menemukannya didepan hutan belokan sebelum pesantren, dia diam terpaku menatap hutan itu dengan pandangan kosong, kalau gak aku panggil aku gak tau kemana mencarinya lagi jika hilang ditengah hutan itu," ucap Ardian menjelaskan panjang lebar tentang kejadian tadi.


"Maura, kau benar-benar tak merasakan apapun? Dan Dewi Srikandi tak bisa menjagamu?!" tanya pak Kyai.


"Aku gak tau..." jawab Maura pelan sambil menunduk.


"Dewi sudah bilang, Kyai. Jika dia sendiri tak bisa menyadarkan Maura, katanya makhluk kecil itu tak membiarkan dirinya untuk mendekati Maura" sahut Ardian lagi.


"Ada dua kemungkinan jika seperti itu, antara dendam atau peduli.." kata pak Kyai.


"Maksudnya?" tanya Maura masih bingung.


"Dendam, kemungkinan dia mati dalam keadaan mengenaskan atau mati tak wajar. Peduli berarti ada sesuatu yang harus dia lakukan sebelum pergi ke akhirat, entah karena masih merindukan orang tuanya atau ada sesuatu yang harus dia lindungi" ucap pak Kyai menjelaskan.


"Bagaimana jika keduanya?" sahut Maura lagi.


"Maksudmu?" tanya pak Kyai penasaran.


"Sebelumnya aku sempat melihat sedikit kenangan hantu gadis remaja, dan aku yakin dia kakak hantu anak kecil itu, dan mereka memang mati tak wajar.


Kematian mereka ditutupi dan pembunuhnya masih berkeliaran disini, malah seseorang yang tak bersalah akan disalahkan atas kematian mereka" akhirnya Maura menjelaskan semuanya tentang kenangan hantu gadis remaja itu tadi.


"Hem, pelik juga kalau begini. Kita akan berurusan lagi dengan polisi dan hukum, karena menyangkut masa depan seseorang yang masih hidup" ucap pak Kyai.


"Jadi kita akan membantunya?" tanya Maura.


"Harus jika itu menyangkut orang hidup!" jawab pak Kyai semangat.


"Yess, kita bantu orang lagi!" ucap Maura senang.


Ardian dan ustadzah Mariam hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah mereka berdua, sangat bersemangat sekali jika menyangkut tolong-menolong itu, meskipun yang ditolong itu hantu juga.


......................


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2