
Maura menarik tangan Nala masuk kedasar danau itu, awalnya semuanya gelap dan dingin didalam air itu sampai Maura melihat setitik cahaya dibawah danau itu.
Dia berenang lebih jauh lagi kedasar danau itu, sehingga titik cahaya kecil itu lama-kelamaan makin besar seiring dia mendekat.
Maura dan Nala masuk kedalam lubang cahaya menyilaukan itu, dan akhirnya keluar dari sana. Anehnya, mereka didalam dasar danau tapi setelah masuk kedalam lubang itu mereka malah muncul kepermukaan.
Seperti memasuki dunia teleportasi, membuat mereka berpindah begitu saja.
"Fhuaahh!"
Keduanya kembali menghirup udara segar dan bernafas dengan lega, keduanya keluar dari danau itu dan mendapati mereka berada ditempat lain.
Suasananya nampak begitu berbeda, begitu terang dan menyilaukan seperti saat siang hari. Maura dan Nala nampak keheranan, tapi tetap melanjutkan perjalanan mereka.
"Menurut peta ini, kita harus melewati gua batu yang sangat panjang. Aku tak tahu nanti kita akan bertemu atau menghadapi apa di sana nanti.
Jadi, siapkan mentalmu. Jangan seperti tadi, malah kabur duluan tinggalin aku!" ujar Maura masih kesal.
"Hehe, maaf yah! Aku tadi refleks nyebur kedalam danau. Jadi gak tau kalau kamu masih ada di sana" ujar Nala sambil cengengesan.
Maura mendengus kesal, mereka melihat didepan danau itu ada batu lumayan besar berbentuk pipih menghadap danau itu.
"Kita istirahat dulu di sana, aku capek!" ucap Maura.
"Baiklah, aku juga.." sahut Nala juga.
Nala mengeluarkan air minum dan beberapa cemilan dari tas ranselnya, Maura agak heran melihat ransel Nala yang masih utuh dan tidak rusak, padahal mereka sudah melewati banyak hal.
"Mau heran tapi ini dunia gaib, ya sudahlah" gumamnya dalam hati.
"Untuk jaga-jaga aku bawa bekal kayak gini, kalau-kalau kita kehabisan energi" ujar Nala.
Maura melihat ada beberapa cemilan di sana dan juga teh botol, mereka menikmatinya sebentar sebelum mereka melanjutkan perjalanan lagi.
Nala membuka buku berisi mantra-mantra untuk berjaga kalau mereka membutuhkan senjata untuk melawan musuh, jika ada yang mencoba menghalangi mereka nanti.
"Untuk apa buku itu? Apa ada yang kau pelajari?" tanya Maura.
"Kita akan menghadapi sesuatu yang berbahaya nanti, jadi perlu sesuatu yang bisa menjaga kita. Senjata buatan manusia takkan bisa melukai apalagi membunuh mereka.
Hanya mantra-mantra dan ajian seperti ini yang bisa melawan mereka, makanya aku masih membaca dan mempelajarinya" ucap Nala sambil membaca buku itu.
"Yang kita hadapi itu jin dan iblis, kan?! Kira-kira apa yang membuat mereka takut dan lemah?" tanya Maura.
__ADS_1
"Yang aku tahu mantra-mantra ini berguna untuk melawan ataupun menahan serangan dari musuh" ucap Nala, dia menatap Maura tak mengerti.
"Aku faham jika kamu akan berbicara seperti itu, karena sejak kecil kamu dan lainnya dididik seperti itu, dan dikasih pemahaman yang sangat berbeda dengan orang lain.
Aku takjub denganmu dan Nayra bisa bertahan dari semua ajaran itu, meskipun awal penolakan itu berasal dari dendam kalian.
Aku berjanji akan membantumu dan saudara-saudara lainnya keluar dari tempat itu, dan kalian mendapatkan pendidikan ilmu dunia dan akhirat yang lebih baik lagi" ucap Maura.
Dia tidak mau men judge Nala dan lainnya soal pemahaman mereka yang berbeda, dia harus mendekati mereka pelan-pelan agar mereka mengerti dan faham situasinya.
"Semoga Allah melindungi kami semua, amin!" gumamnya.
Mereka melanjutkan perjalanan itu, sampai saatnya mereka tiba didepan pintu gua itu. Dari luar penampakan gua itu sudah aneh, berbentuk kepala ular yang menganga lebar, menjulurkan lidahnya dengan taringnya gak besar dan lancip-lancip.
"Hufft, lihat dari bentukannya sudah aneh begini. Sudahlah, ayo kita masuk!" ujar Nala.
Maura mencegah Nala masuk ke ruangan itu, ia merasa ada yang aneh dengan semua itu. Dia memasuki semak-semak belukar yang menutupi sisi luar gua itu.
Betapa terkejutnya Maura dan Nala melihatnya, gua itu begitu besar dan panjang sampai ke ujung sisi hutan itu tak terkira. Dan bentuk gua itu seperti ular raksasa, besar dan panjang sekali melebihi siluman ular yang mereka temui diperbatasan hutan sebelumnya.
"Maura, aku rasa ini bukan gua..." bisik Nala.
Pada saat dia membisikkan itu, Maura juga melihat mata gua batu berbentuk ular itu berkedip sebentar. Dia terkejut dan segera menjauhi gua itu bersama Nala.
"Dia ternyata ularr.." ujar Nala gemetaran.
"Sesuai dengan bentuknya, dia memang ular. Biasa jin selalu penuh tipu daya. Kalau tidak hati-hati maka kita akan masuk kedalam perangkapnya" ujar Maura masih waspada didepan gua itu.
Tiba-tiba kepala ular itu hidup, setelah mulutnya tertutup rapat dia mengangkat kepalanya tegak menatap mereka berdua, perbedaannya begitu jauh, sangat jauh.
Dimana ular itu menatap mereka seperti kucing menatap cicak saja, mereka merupakan lawan yang tak sepadan. Lidah ular itu saja orang begitu panjang hampir menjilat mereka.
"Manusia, apa yang membuatmu datang kemari? Ini bukan tempat yang bisa kau datangi" ujar ular itu bersuara berat.
"Kami datang untuk menjemput saudara kami yang dibawa paksa oleh manusia laknat bersekutu dengan iblis!" jawab Maura dengan lantang agar ular itu bisa mendengarnya.
"Kau tak perlu berteriak seperti itu, aku tak tuli!" ujar ular itu tak terima.
"Maafkan aku, karena tubuhmu begitu besar melebihi kami. Aku pikir kau tak bisa mendengar kami jika berbicara, maaf aku sama sekali tak bermaksud merendahkanmu.." ucap Maura lagi.
"Haha! Aku bisa mengerti, tapi biasanya mereka berbicara seperti itu karena takut padaku. Bagaimanapun juga kalian takkan bisa lepas dariku begitu saja" ujar ular itu sambil menatap mereka dengan tajam.
"kenapa dan mengapa? Aku rasa kami tak mengganggumu.." ujar Maura berusaha tenang.
__ADS_1
Sedangkan Nala dari tadi hanya diam, sambil memeluk tas ranselnya, dia bersembunyi dibalik punggung Maura. Dia hanya sekali-sekali mengintip dari balik punggung Maura.
"Setiap manusia yang datang pasti tujuannya sama, kekuatan, kekuasaan dan juga harta dan wanita! Katakan padaku, apa tujuan kalian sebenarnya?!" ujar jin siluman ular gua itu.
"Bukankah sudah aku katakan tadi, kami kesini hanya untuk menjemput saudara kami yang dibawa paksa disini!" ujar Maura geram.
"O ya, siapa nama manusia itu? Aku mengenal semua manusia yang hilir mudik di hutan ini, bau mereka membuatku tak tahan, busuk seperti hatinya!" ujar jin ular itu.
"Namanya Dawiyah, istri dari Darmaji. Mereka merupakan sepasang suami istri pemuja penyihir hitam keturunan iblis. Dan kami... Dan kami ini adalah cucunya" ujar Maura hati-hati.
"Apa?! Hahaha! Ternyata kalian datang untuk menyusul nenek kalian rupanya, dasar manusia busuk! Kalian ingin mengelabuiku rupanya!" ujar jin ular itu murka.
"Kami tidak bermaksud seperti itu, apa yang kami katakan semuanya benar dan jujur! Kami ingin mengambil saudara kami yang akan dijadikan tumbalnya" kata Maura menjelaskan kembali.
"Dasar manusia busuk, keturunannya sendiri dia makan juga! Kalau kau ingin memang berniat baik, maka kau harus mengikuti ujianku dulu. Jika kau lulus maka kau kubiarkan lewat dari sini, bagaimana?" tawar jin ular itu.
"Aku tak membuat kesepakatan dengan jin seperti kalian, apapun hasilnya kami takkan mendapatkan apa-apa" sahut Maura sambil memperhatikan gelagat jin itu.
"Didalam peta ini, kami harus masuk kedalam gua yang ada disini untuk bisa mencapai persembunyian nenek itu. Dengan kata lain kami akan masuk kedalam perutmu!
Menyerahkan nyawa kami sendiri, kami tidak akan terjebak dengan tipu muslihatmu itu" ujar Maura mulai mengerti jalan pikiran jin itu.
"Haha! Tak kusangka ternyata kau pandai dan licik juga, manusia" ujar jin ular itu.
"Aku hanya ingin bisa pergi dari sini, sebelum waktu kami habis. Sebelum subuh kami harus kembali ke rumah" ujar Maura lagi.
"Baiklah kalau begitu, kau harus mengalahkan aku dulu. Jika aku kalah maka kau akan mudah keluar dan masuk ke gua para persembunyian dan persembahan manusia yang bersekutu dengan jin dan iblis itu.
Karena aku adalah pintu itu sendiri, tanpa seizinku tak mudah memasuki ataupun melewatinya. Baik itu manusia maupun jin yang hendak kesana, mereka harus izin dulu denganku.
Bagaimana, apakah kau bersedia? Seperti katamu tadi, waktu kalian tidak banyak. Maka putuskan dengan baik-baik, sebelum menyesal nantinya" ujar jin ular itu.
"Kalau kami kalah?" tanya Maura.
"Bhahaha! Kau ini, aku suka padamu! Pandai dan licik, kau tau juga jalan pikiranku. Haha!" ujar jin itu lagi.
Maura hanya menyunggingkan senyumannya, sebelum datang kesana Maura sudah dibisikkan sesuatu oleh Dewi Srikandi, karena dia tahu bahwa mereka akan menghadapi salah satu jin penunggu terkuat dan penuh kutukkan nantinya.
"Aku telah bertemu dengan jin itu, Dewi" gumamnya sambil tersenyum sinis.
......................
Bersambung
__ADS_1