RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Kesedihan Dan Awal Baru Bagi Ichan


__ADS_3

Ardian sedang duduk di taman rumah sakit itu, dia berusaha mencerna apa yang terjadi. Dia berpikir pasti ada yang salah, tidak mungkin Maura berubah langsung seperti itu, pasti ada campur tangan orang lain. Kekecewaan Maura menurutnya tidak berdasar, dia hanya membaca buku itu tanpa tahu kebenarannya.


"Dia menemui 'mereka', aku yakin mereka juga yang meracuni otaknya hingga berbuat nekat seperti itu!" gumamnya penuh emosi.


Dia langsung pergi meninggalkan rumah sakit itu menuju kampusnya.


"Ardian, kamu mau kemana?" tiba-tiba saja ustadzah Mariam menegurnya dari depan.


"Aku mau ke kampus, Ustadzah.. Mau izin tidak masuk kuliah dulu, sekalian mau ngasih tau dosen kalau Maura lagi sakit, dia masih butuh waktu untuk beristirahat dengan waktu yang cukup lama.." jawab Ardian dengan sopan.


"Oh, ya udah.. Hati-hati, jangan pergi terlalu lama. Maura pasti sangat membutuhkan kamu saat ini," ujar ustadzah Mariam, dia belum tahu apa yang terjadi saat ini.


"Baik, Ustadzah.." ucap Ardian seraya berpamitan untuk pergi.


Ustazah Mariam baru pulang dari membeli makan siang untuk mereka semua, dia juga baru kembali dari pesantren setelah pagi tadi pulang sebentar, jadi dia belum mengetahui yang terjadi pada Ardian saat ini.


"Ya Allah, lindungi dan jaga mereka selalu, anak-anak baik pelindung terbaik bagi orang-orang terdekatnya.." ucap ustadzah Mariam penuh harapan, menatap haru kepergian Ardian.


Disepanjang jalan Ardian tidak bisa fokus, dia terus memikirkan segala hal. Apa saja yang harus dia lakukan setelah ini, bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Maura? Apa akan berakhir begitu saja? Apa mereka terus melanjutkan hubungan ini dengan dasar ketidakpercayaan?


Setelah sampai, dia langsung menuju ruangan dosen mereka dan akan menemui rektornya juga, saat dia melewati perpustakaan, dia mendadak tak menyukai tempat itu. Baginya perpustakaan adalah sarangnya setan, karena dia sering melihat Phoem ataupun Arga berada di sana, dan sejak itu Maura sering berada di sana juga.


Meskipun sebenarnya keberadaan Phoem maupun Arga tidak menggangu semua orang, mereka hanya membutuhkan tempat yang tenang saja, dan perpustakaan adalah tempat yang tepat. Karena ruangan itu sedikit lebih sepi dibandingkan tempat lain.


"Ardian!" sapa seseorang, dan ternyata itu adalah Ichan.


"Hai, bagaimana kabar kamu sekarang, Chan?" tanya langsung Ardian ingin tahu kondisi temannya itu sekarang.

__ADS_1


"Alhamdulillah sudah lebih baik, bagaimana kabarmu dan Maura? Aku dengar kalian sudah menikah?" tanya Ichan lagi.


"Kami baik-baik saja, iya pernikahan dilangsungkan minggu kemarin. Hanya dihadiri keluarga dan kerabat dekat saja, maaf tak sempat mengabari karena menikahnya dilangsungkan dengan cara mendadak, kakaknya Maura harus kembali ke Amerika jadi harus dilaksanakan pada saat itu juga," jawab Ardian lagi.


"Iya, aku sudah tau ceritanya. Dan aku sama sekali tidak menyangka jika pak Angga ternyata kakaknya Maura! Dan bu Dhania kakaknya Kevin, ckck! Dasar kalian semua keluarga good looking semuanya, haha!


Btw, terima kasih atas bantuan kalian semua. Aku tak sempat bertemu dan berterima kasih langsung kepada pak Angga, bu Dhania dan Kevin juga Maurice.


Tanpa bantuan kalian semua, aku tak tahu bagaimana nasib keluargaku. Dan Alhamdulillah semuanya sudah berakhir, sekarang aku ingin fokus dulu membantu ibuku menyekolahkan adik-adikku. Semenjak kejadian hari itu, ayahnya sering sakit-sakitan, mungkin itu adalah konsekuensinya dia bersekutu dengan iblis selama ini.


Semenjak kejadian itu juga, harta benda kami berlahan semakin habis seiring waktu, benar kata orang harta dari hasil pesugihan tidak akan kekal selamanya, aku malu sama semua orang atas perbuatannya ayahku. Kami dihina dan diusir dari rumah kami oleh warga desa.." cerita Ichan, dia tak bisa menyembunyikan kesedihannya saat ini.


"Tidak apa, anggap saja semua ini adalah ujian bagi dirimu dan juga keluargamu, tapi kamu harus tetap hormati ayahmu meskipun perbuatannya salah. Dan jadilah pelindung bagi ibu dan adik-adikmu.. Dan sekarang kalian bagaimana, tinggal dimana saat ini?" tanya Ardian lagi.


"Aku dan keluargaku tinggal mengontrak di desa dekat kota, kebetulan sekolah adik-adikku juga dekat kota, jadi tidak perlu mengeluarkan biaya ongkos sekolah lebih besar lagi, ibuku berjualan makanan didepan kontrakan, dan aku sekarang lagi mengajukan cuti dulu kuliah, saat ini aku mencoba mencari pekerjaan untuk meringankan beban ibuku..," jawab Ichan sambil menunduk malu, dia sebenarnya enggan menceritakan hal ini kepada orang lain, tapi berhubung yang bertanya adalah Ardian maka dia mau menceritakannya.


"Benarkah?! Alhamdulillah ya Allah.. Terima kasih sekali lagi, Ardian! Aku gak tau harus gimana lagi sama kebaikan kamu sama aku, hiks!" Ichan menangis haru dipelukan Ardian.


"Tidak apa, aku membantumu dengan ikhlas tanpa mengharapkan imbalan apapun. Cukup jadilah anak yang berbakti kepada kedua orang tuamu, jadi jadi kakak yang bertanggung jawab kepada adik-adikmu.." ucap Ardian lagi.


"Iya, pasti! Itu pasti!" sahut Ichan menangis haru.


Kemudian mereka berdua berpisah dengan tujuan dan kesibukan masing-masing, Ardian meneruskan tujuannya ke ruangan dosen dan menemui bu Dewi selaku rektornya, setelah menceritakan kondisi Maura saat ini, dan akhirnya proposal cuti mereka disetujui, kini Ardian berniat mencari keberadaan Phoem dan Arga.


"Aku begitu sibuk dengan urusan orang lain, tapi melupakan urusanku sendiri. Aku ingin tahu apa saja yang dibahas oleh Maura bersama mereka berdua hari itu," gumamnya lagi.


Ardian mencari keduanya di perpustakaan, tapi tidak ada. Di gudang, diruangan kosong lainnya juga tak ada. Ardian teringat kalau Phoem suka beristirahat diatas pohon dekat taman kampus, dia ke sana juga tapi hasilnya juga sama, nihil.

__ADS_1


"Di sana rupanya mereka!" serunya saat melihat Phoem dan Arga disalah satu roof top gedung di kampusnya itu.


Dia berlari dan memasuki gedung itu, naik ke lantai atas melalui anak tangga yang cukup tinggi itu. Ada sekitar tiga gedung yang dibangun setinggi tiga atau empat lantai dan semuanya tidak menggunakan lift, hanya ada tangga saja.


Dia berlari menaiki anak tangga, kalau orang lain mungkin sudah ngos-ngosan, tapi ini adalah Ardian, baginya ini udah biasa. Sesampainya di sana dia melihat dua makhluk itu menatapnya, seolah kehadirannya sudah ditunggu.


"Akhirnya kau datang juga kepada kami, bagaimana? Apa misi Maura barhasil?" tanya Arga, niatnya serius bertanya tapi ditelinga Ardian itu seperti mengejeknya.


Bugh!


Tak sungkan-sungkan Ardian langsung memukulnya, dia dan Arga bertengkar saling baku hantam. Dia tak memberikan kesempatan bagi Arga untuk berbicara ataupun menjelaskan semua, dia sudah telanjur emosi.


"Gara-gara kalian dia terancam bahaya! Gara-gara kalian hubungan kami memburuk!. Gara-gara kalian dia semakin jauh dengan agamanya, jauh dari sifat aslinya! Ini semua gara-gara kalian!" teriak Ardian.


Dia menyerang Arga tanpa ampun tapi Arga mampu mengimbangi serangan Ardian, Phoem hanya memperhatikan gerakan mereka saja. Dia terkejut mendengar pernyataan Ardian tadi, maksudnya apa? Apa Maura tidak selamat?


Saat Pertarungan mereka masih berlanjut, tiba-tiba angin kencang berhembus kencang, langit mendadak gelap, guntur bersahutan diiringi kilatan petir, hujan turun dengan derasnya. Semua orang berlindung dibawah bangunan dan menjauhi guyuran air hujan.


"Apa yang terjadi?!" gumam Phoem, dia tahu cuaca hari ini bukanlah pertanda baik.


Ditengah guyuran hujan deras, diatas langit hitam itu terlihat ada cela diantara awan-awan hitam itu, terlihat langit jingga di sana, mungkin sedikit jingga kemerahan dan ada sesuatu yang keluar dari sana menghampiri mereka.


Sebuah kereta kencana berwarna silver tanpa kuda sebagai penarik kereta itu, tak ada juga kusirnya, hanya sebuah kereta kencana mewah dengan warna dan ornamennya serba silver. Semakin rendah turunnya menuju mereka semua.


......................


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2