
Malam itu takkan pernah dilupakan sama mereka semua, malam penuh kenangan. Angga tak menyangka akan menikahkan adiknya begitu cepat, bahkan seharusnya posisinya saat ini adalah milik sang papa, tapi harus dia mewakilinya sebagai walinya.
"Maafkan aku, Pa. Aku tau mungkin sikapku ini lancang telah mengambil alih tugasmu untuk menikahkan putri kesayanganmu itu.." ucap Angga kepada papanya lewat video call.
"Tidak apa, malah Papa bangga padamu. Kau telah mengambil sikap yang tepat untuk adikmu, karena keduanya sering pergi bersama hingga larut malam kadang pagi, takutnya ada fitnah diantara keduanya.
Kita tau apa yang terjadi dengan mereka, tapi tidak dengan orang lain. Malah mereka mungkin akan mengira keduanya mencari alasan untuk selalu pergi berdua, daripada itu sebaiknya memang harus dinikahkan saja.
Papa, bi Marni, dan kakakmu Tari sangat bahagia mendengar berita gembira ini, langkahmu sudah tepat dan ini semua demi kebaikan adikmu juga.. Sampaikan salam kami buat mereka berdua, katakan kepada mereka kalau doa kami selalu ada untuk mereka berdua.
Dan sampaikan juga ucapan terima kasih kami kepada orang-orang yang sudah banyak membantu mereka dan kalian semua selama di sana, dan Angga... Papa berniat ingin memberikan sedikit rezeki untuk pesantren itu, untuk pembangunannya dan lainnya juga.." ujar pak Irwan menyahuti Angga.
Angga menjadi sangat lega mendengar pendapat papanya itu, dia juga senang mendengar niatan baik sang papa. Bahkan lingkungan tempat tinggal mereka selama ini juga turut mendapatkan rezeki dari pak Irwan, sebagai ucapan terimakasih sudah membantu anak-anaknya selama ini.
"Wah, pasti mereka sangat kaya sekali yah.." ujar salah satu tetangganya Ardian yang ikut acara itu.
"Tentu saja, tinggalnya saja di Amerika sekarang! Lihatlah mereka, meskipun kelihatannya sederhana tapi barang-barang milik mereka sangat mahal dan berharga.." sahut juga yang lainnya.
Mereka semua tampak takjub dengan kehidupan anak-anak itu, meskipun kaya raya tapi kehidupan mereka sangat sederhana, orang tuanya sukses mendidik mereka dengan baik.
Malam hampir mendekati tengah malam, semua orang sudah pada membubarkan diri. Anak-anak santri pun sudah selesai membantu membereskan sisa-sisa acara malam itu, dan kini mereka juga sedang beristirahat sekarang.
"Kami pamit, Pak Kyai... Terima kasih atas semua bantuannya selama ini, kami sangat bersyukur bisa dikenalkan dengan anda dan lainnya, dan maaf jika selama ini kami merepotkan kalian.." ujar Kevin kepada pak Kyai berpamitan.
"Sama-sama, nak Kevin dan nak Maurice... Justru kami yang sangat senang dan bersyukur bertemu dengan orang-orang hebat seperti kalian, ini untuk pertama kalinya pesantren kami didatangi sama bule-bule, hehe.. Eh, malah minta syahadat pula! Bukankah itu luar biasa, hehe.." ucap pak Kyai ramah seperti biasanya.
Maurice nampak sedang berpamitan dengan ustadzah Mariam juga beberapa pengurus pesantren lainnya, termasuk juga dengan beberapa santriwati yang pernah dekat dengannya.
"Maafkan kami jika selama ini selalu bersikap kasar dan tidak mengenakan, Maurice.." ucap Nur, sambil berkaca-kaca.
"Aku juga minta maaf jika selama ini selalu menyusahkan kalian, yah meskipun kalian terlihat galak tapi aku tau kalian sangat baik kepadaku.." sahut Maurice dengan senyuman tulusnya.
Maurice dan Kevin sangat terharu dengan ucapan permintaan maaf para santri dan santriwati yang dulu pernah menuduh mereka berzina, karena mereka akhirnya juga tau kalau itu adalah fitnah para setan untuk keduanya.
Apalagi mereka juga mempersembahkan sebuah pertunjukan yang indah kepada mereka semua, seperti marawis Al Qur'an dan beberapa pertunjukan lainnya sebagai hiburan dan tanda perpisahan untuk keduanya.
Angga dan Dhania juga sangat terharu, melihat kedua adik mereka sangat disambut di sana, dan baru tau pengorbanan mereka selama ini disini yang tak pernah diceritakan kepada mereka.
"Mari kita pulang, sepertinya pengantin kita sudah kelelahan.." ujar Dhania sambil melirik Ardian dan Maura sedang duduk sambil menyender ke dinding dengan mata terpejam.
"Hahaha, kasihan sekali dengan mereka.." ujar yang lainnya sambil tergelak.
__ADS_1
Padahal yang terjadi adalah keduanya seperti diseret paksa keluar dari tubuh mereka, panglima Arialoka tak bisa menghalau ribuan pasukan jin jahat menyerbu pesantren itu, dan membawa kedua jiwa milik Ardian dan Maura pergi dari sana.
Sedangkan pasukannya Maura pun tak sempat menyadari bahaya yang datang, mereka seperti sedang dialihkan perhatiannya agar tak terlalu fokus ke Maura dan lainnya. Sedangkan yang lainnya juga tak fokus dengan bahaya yang akan datang, mereka larut dalam euforia pernikahan Maura dan Ardian.
Saat ini, di dimensi lain.. Ardian dan Maura berjalan tak tahu arah sambil berpegangan tangan, dengan pakaian pengantin mereka tentunya.
"Kita ada dimana sekarang, Ardian?" tanya Maura bingung.
"Tidak tau, yang jelas bukan dunia manusia.." jawab Ardian sambil menatap ke sekelilingnya.
Keduanya terus berjalan hingga berhenti didepan pohon yang sangat besar dan rimbun, pohon itu seperti pohon keramat. Begitu banyak akar-akar menjulang keluar dari permukaan tanah melilit pohon itu sendiri.
Hawa dingin dan pengap begitu terasa, semuanya tampak berkabut dan tak ada apa-apa dan siapapun di sana kecuali mereka sendiri.
"Kalian, tolong bantu aku melepaskan akar-akar ini yang melilit tubuhku.." terdengar suara berat dari arah depan mereka, suara berat yang menggema.
"Kau siapa? Kenapa kau membawa kami kesini?!" tanya Ardian memberanikan diri bertanya.
"Kau tak pantas bertanya seperti itu kepadaku, anak muda! Aku disini adalah pohon tua keramat yang disembah para manusia, sampai-sampai mereka berani meninggalkan Tuhannya, keluarganya, dan juga jiwa kemanusiaannya demi sebuah kekekalan yang abadi!" ujar pohon itu.
Tidak lama kemudian, akar-akar yang lain ikut keluar dari tanah dan mulai bergerak menuju mereka berdua, Ardian menarik tangan Maura dan menjauhi tempat itu.
"Maura, apa kau ingat dengan sebuah kisah tentang sebuah pohon suci, yang bahkan seorang nabi pun menyukai bau harum pohon itu?" tanya Ardian sambil berjaga-jaga menghindari serangan akar pohon itu.
"Pohon Gaharu Sangbuana, pohon yang disebut suci karena bisa mengabulkan semua keinginan manusia pada jaman itu. Manusia kalah itu mengira jika pohon ini pohon suci, karena memiliki segala keajaiban yang dia miliki.
Mulai dari akar, pohon, dahan dan rantingnya, termasuk juga dengan daun-daunnya bisa bermanfaat untuk semua orang. Padahal mukjizat itu diberikan Tuhan untuk kemaslahatan umat manusia pada zaman itu, tapi pohon itu begitu sombong dan angkuh dan mulai mendewakan dirinya sendiri.
Iblis yang pada saat itu sedang mencari celah untuk menyesatkan umat manusia, memanfaatkan peluang itu untuk mempengaruhi manusia dan pohon itu, maka yang terjadi adalah, pohon itu didiami oleh iblis jahat yang terkuat karena disembah oleh umat manusia, sehingga iblis itu juga semakin kuat.." ujar Ardian menjelaskan tentang pohon itu.
"Terus apa hubungannya dengan semua ini? Dan kenapa pohon ini menyerang kita?!" teriak Maura saat melihat ada ranting pohon itu ingin menghantam mereka.
"Awas!" teriak Ardian sambil mendorong Maura kesamping, tak sedikitpun dia melonggarkan pegangan tangannya.
Brak!
Sedikit saja mereka lengah, maka keduanya akan cedera parah oleh serangan pohon itu, dan pohon itu terlihat murka dan menggaum kencang.
"Ggggarrkhh!"
Maura dan Ardian memilih menjauhi pohon itu, dan berusaha menghindari serangan-serangan dari akar-akar dan ranting-ranting pohon, yang berusaha menyerang keduanya.
__ADS_1
"Maura, kau tau cikal bakal terjadi sihir adalah dari pohon ini juga. Karena kelahiran Arion Gaharu dari ayah manusia yang musrik dan penganut ilmu hitam, dan ibu seorang iblis jahat yang bersemayam didalam pohon itu!
Maka ia terlahir dari pohon itu, para manusia yang lemah iman, terhipnotis dengan aroma tubuhnya yang wangi gaharu dan mulai menuruti keinginannya! Dan pada jaman dulu, setelah era Dewi Srikandi dan panglima Arialoka, ada seorang Kyai yang berhasil menyegel pohon itu, sehingga pohon itu tak bisa mempengaruhi manusia lagi dan kekuatan Arion Gaharu semakin melemah, makanya pohon itu terlilit oleh akarnya sendiri!" ucap Ardian lagi, dan kali ini Maura mengerti.
"Baiklah, aku faham sekarang... Dan kita harus memastikan pohon ini tetap terikat dengan akarnya, dan jangan sampai ada musuh yang mencoba melepaskannya!" ucap Maura faham.
"Tapi masalahnya adalah... Kita" sahut Ardian lagi.
"Kita? Kenapa dengan kita?" tanya Maura bingung.
"Sepertinya, pernikahan kita sudah diketahui oleh nenekmu. Dan dia memanfaatkan situasi ini demi keuntungannya sendiri," jawab Ardian sambil menelan ludahnya susah untuk menjelaskannya, dia tak menyangka sama sekali kalau saat ini dia berada di posisi itu.
"Apa hubungannya dengan nenek, apa pernikahan kita ini sesuatu yang salah?" tanya Maura masih tak mengerti.
"Maura, salah satu untuk melepaskan akar pohon itu dengan mudah dan memiliki efek yang besar bagi mereka pemuja iblis itu adalah... Em, darah perawan pengantin baru, apalagi darah itu berasal dari seorang keturunan pejuang sepertimu, sangat dinantikan.." ucap Ardian kesulitan menjelaskannya.
"Tapi, ta-tapi aku..." Maura kebingungan tak mengerti, dia takut apa yang akan terjadi nantinya.
"Kita harus cepat kembali, Ardian! Aku gak mau mereka berhasil merebut tubuhku dan mengambil kepera.wananku begitu saja!" Maura sampai bergetar hebat, dia tak menyangka akan se mengerikan itu.
"Baiklah, tapi aku tak tahu jalan mana yang harus kita lewati. Mengingat kita dibawa paksa kesini, tapi..." Ardian masih bisa mendengar suara bisikan panglima Arialoka meskipun mereka tak bersama.
"Kalian harus bercu.mbu, maka pohon itu akan melepaskan kalian berdua, dia tak menginginkan manusia yang tak suci lagi. Dia hanya menginginkan darah itu untuknya saja.." bisik panglima Arialoka, dia tak bisa menembus pertahanan yang dibuat oleh pohon itu, yang bisa dia lakukan saat ini hanya berkomunikasi saja.
"Maura.." ucap Ardian, wajahnya bersemu merah, keringat dingin membanjirinya.
Maura tak memahami apa yang terjadi dengannya saat ini, dia hanya menatap heran Ardian yang dia sangka kena panik tak bisa pulang.
"Aku yakin kita bisa pulang, percayalah.. Pasti ada jalannya," ucap Maura mencoba menenangkannya.
"Iya, aku tau... Dan aku sedang membawamu pulang saat ini," ucap Ardian sambil menatap lekat kearahnya.
Posisi Ardian semakin dekat dengan Maura, Maura tak menjaga jaraknya sedikitpun karena dia menyadari mereka sudah menikah, dan Ardian berhak untuk lebih dekat dengannya. Tatapan Ardian semakin sayu dan mendekatkan wajahnya kearah Maura, nafasnya memburu menghembuskan hawa hangat ke wajah Maura.
Gadis itu faham apa yang terjadi saat ini, kali ini dia membiarkan Ardian melakukan apa yang ingin dia lakukan, lelaki itu membelai rambutnya lembut dan mengusap wajah Maura dengan tatapan intens.
"Maura, aku sangat sayang sama kamu, aku mencintaimu.." ucap Ardian sesaat sebelum dia menge.cup lembut bibirnya Maura.
Bagaikan mendapatkan aliran listrik yang begitu dahsyat, tubuh Maura bergetar dan merasa tergelitik, tubuhnya menghangat, dan tanpa sadar dia pun membalas kecu.pan itu. Sehingga kedua saling beradu bibir dan saling me.***** menggebu dan pada saat itu juga, akar pohon itu menghantam keduanya dengan keras melempar mereka sangat jauh dari sana.
......................
__ADS_1
Bersambung