RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Firasat Dewi Srikandi


__ADS_3

Setelah itu, Pangkur mengabdi kepada panglima dan keluarganya sampai akhir hayatnya. Ketika panglima gugur dimedan perang, maka Pangkur masih mengabdi kepada keluarga itu sebagai pelayan mengabdikan diri kepada tuannya.


Sampai dia menemukan jodohnya, dan memiliki keturunan. Keluarganya pun tinggal bersama Arialoka bersama ibunya, hanya mereka yang masih setia dan mendampingi mereka sampai akhir.


Ketika ibu Arialoka meninggal, mereka sempat kehilangan arah. Tuan mereka sudah pergi, dan anak majikannya dipenjara karena dianggap telah lalai.


Sampai akhirnya mereka masih menunggu dan berharap keajaiban terjadi, dan benar saja Arialoka akhirnya kembali.


Tapi sayangnya, itu tidak bertahan lama. Selang beberapa waktu, Arialoka pun meninggal dengan mengorbankan diri menggantikan putra mahkota yang telah difitnah oleh rakyatnya sendiri.


Tapi bagaimanapun juga Pangkur telah berjanji, seumur hidupnya sampai keanak cucunya akan terus mengabdi kepada mereka.


Cerita itu diteruskan turun-temurun dari anak cucu hingga keturunan-keturunan selanjutnya.


Hingga ke jaman modern, di masa ini. Julian pun mengikuti jejak para nenek moyangnya. Padahal Ardian sudah tegas mengatakan sudah tak ada keterikatan lagi diantara keluarga mereka.


Ardian membebaskan tugas mereka untuk mengabdi lagi, baginya itu tidak perlu seperti jaman perbudakan saja. Dia tidak suka dengan tradisi seperti itu.


*


Kembali ke jaman sekarang.


Saat ini diluar sana, keindahan suasana kota New York memukau panglima Arialoka. Dia terbang kesana kemari dan berakhir disebuah gedung tinggi.


Gedung tinggi memiliki tower besar itu dia berpijak di sana, tempat yang bagus menikmati suasana malam itu.


Pada saat itu, matanya tak sadar sedang melihat sekumpulan anak muda sedang menikmati malam bersama.


Mereka sedang menikmati makan malam di sebuah restoran yang bernuansa outdoor, panglima tertuju kepada seorang pemudi yang cantik dan ceria itu.


"Dewi..." gumamnya.


Yah, pada saat itu Maura dan teman-temannya sedang menikmati wisata malam. Saat itu Maurice sedang bosan di rumah terus, makanya Maura dan Kevin sepakat mengajaknya makan malam diluar.


Lagian, kasihan dia. Selalu terlihat termenung dan melamun sendirian, mereka khawatir padanya.


"Bagaimana, kau senang sekarang?" Tanya Kevin.


"Lumayanlah, daripada di rumah terus" jawabnya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Lain kali jika kamu bosan, telpon saja. Nanti aku pasti datang padamu" kata Kevin menambahkan.


"Ehem, ini aku dikacangan nih?!" Sahut Maura sambil memanyunkan bibirnya.


"Ups, sorry. Hehe! May, akhir-akhir ini kamu sering di rumah aja. Bodyguard-nya mana?" kata Kevin sambil senyum-senyum.


"Lah, emang seharusnya aku kemana? Lagian kasihan Maurice ditinggal terus," jawab Maura sambil menenang kaki Kevin pelan.


Dia memberitahu kalau Maurice tidak tahu apa-apa, Kevin langsung terdiam dengan ucapannya. Tapi sayangnya Maurice sudah terlanjur mendengarnya.


"Bodyguard? Emang Maura punya Bodyguard?!" Katanya penasaran.


"Gak ada, biasalah Kevin suka becanda kelewatan!" Ujar Maura kesal kepada Kevin, dia melototinya.


Kevin hanya tersenyum nyengir saja, dia sibuk dengan makanannya. Tapi Maurice tahu kalau ada sesuatu diantara mereka.


"Kalian menyembunyikan sesuatu dibelakangku ya?!" Tebaknya.


"Ya ampun, Sista! Kamu salah faham, gak ada apa-apa diantara kami!" jawab Maura kesal.


"Iya, aku tahu. Yang aku tanyakan, apa ada sesuatu yang tidak kalian ceritakan kepadaku?" katanya serius.


"Sebenarnya, saat Maura lagi lari pagi di taman bawah dia tidak sengaja melempar kaleng kosong ke kepala orang lain.


Tentu saja orang itu marah, dia mengikuti Maura sampai ke rumah sakit. Dia mengira Maura tidak akan bertanggung jawab, tapi kalau aku pikir tidak seperti itu.


Pasti ada sesuatu diantara mereka, kau tahu... Pria itu mengatakan kalau Maura menciumnya" ujar Kevin setengah berbisik.


Terus diiringi tawa kecil olehnya, Maurice yang mendengarnya ikut senyum-senyum sendiri.


"Jadi, Siapa Bodyguard itu? Apa kau mengenalnya?" tanya lagi Maurice.


"Tidak, dia sangat misterius sekali. Selalu memakai topi dan masker. Jadi wajahnya tidak terlihat dengan jelas.


Tapi kalau melihat postur tubuhnya, sepertinya dia cukup keren juga" jawab Kevin.


Maura yang dari tadi diam jengah juga, dia terlihat marah kepada keduanya. Dia beranjak pergi meninggalkan mereka berdua.


"Maura, May! Mau kemana?!" Tanya Maurice khawatir.

__ADS_1


"Udah, biarkan saja dia. Nanti juga tenang lagi, lagian sudah besar ini pasti bisa pulang sendiri" jawab Kevin, tentu saja dia hapal dengan perangai Maura.


Mereka bersahabat sejak kecil, dan menurut Kevin ini waktu yang tepat untuk menunjukan perhatian dan perasaannya kepada Maurice.


*


Saat itu Maura berpura-pura lagi marah, sebenarnya dia hanya ingin memberi jarak saja kepada mereka.


Dia tahu, saat ini Kevin lagi berusaha untuk lebih dekat lagi dengan Maurice.


Maura sedang duduk di sebuah taman dekat restoran itu, di tengah taman itu terlihat berbagai ornamen dan hiasan dan juga berbagai lampu kelap-kelip ditengahnya.


Nampak romantis sekali, ah jika membawa pasangan pasti seru kan! Disekitar taman itu banyak orang yang berpasang-pasangan, Maura jadi canggung.


Sekilas Maura seperti melihat seseorang di taman itu, bayangan itu sekekap pergi meninggalkannya ketika menyadari Maura melihatnya.


"Siapa itu, bukan manusia... Bukan juga Makhluk? Apa itu?" gumamnya dalam hati.


Dia mencoba mendekati tempat bayangan itu, dia ingin melihat jejak bayangan itu. Kira-kira siapa dia?


Saat dia semakin dekat dengan tempat itu, semakin perasaannya gelisah. Tiba-tiba saja langkahnya tertahan oleh Dewi.


"Berhenti Maura, jangan lanjutan langkahmu lagi" ujar Dewi Srikandi.


"Kenapa?" tanya Maura penasaran.


"Kau tak perlu tahu, yang jelas kau jangan memeriksanya kembali." Ucap Dewi dengan nada dingin.


Maura penasaran apa yang dirasakan Dewi, sayangnya dia belum bisa memahami isi hati sang Dewi.


"Apa kau mengetahui siapa atau apa dibalik bayangan itu?" tanya Maura, dia merasa sang Dewi tahu sesuatu.


"Firasatmu benar Maura, aku tahu siapa itu. Sudahlah, biarkan saja. Dia tidak berbahaya, mari kita kembali lagi" katanya dengan nada sedikit melemah.


Maura ingin beransumsi sedikit, tapi dia takut salah. Apalagi Dewi bisa merasakan isi hatinya, dia tidak ingin juga Dewi jadi salah faham kepadanya.


"Baiklah, mari kita pulang" ajak Maura menyahuti sang Dewi.


......................

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2