RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Sebuah Apotek 2


__ADS_3

Sementara itu, di perpustakaan Maura masih sibuk dengan kegiatannya. Saking sibuknya dan terlalu fokus dia tak menyadari kehadiran seseorang di sampingnya.


"Fokus bener sampai tak sadar ada aku disini.." terdengar seseorang berbisik di telinganya.


"Siapa?" tanyanya.


"Aku.." jawab Ardian sambil tersenyum manis kearahnya.


"Sejak kapan kau ada disini?" tanya Maura lagi heran, karena dia tak mendengar suara langkah kaki ataupun suara lainnya.


"Sejak tadi, kau saja yang kurang peka dengan kehadiranku.. Pekanya kalau demit yang datang, langsung dah gercep!" sungut Ardian pura-pura kesal.


"Haha! Maaf yah.." Maura malu sendiri dengan tingkahnya, dia jadi teringat lagi dengan kejadian tadi siang.


"Apa Maurice sudah pulang yah?" gumamnya sendiri.


"Sudah, bahkan Kevin sudah pergi kuliah juga. Kamu masih betah disini, sebentar lagi perpustakaan akan tutup.." ucap Ardian.


"Jam berapa sekarang?" tanya Maura lagi, dia merasa waktu begitu cepat berlalu.


"Jam empat sore, dan sudah waktunya perpustakaan tutup. Cepatlah berkemas lalu kita pulang.." jawab Ardian.


"Baiklah.." sahut Maura.


Setelah berkemas dan meminjam beberapa buku, mereka bersiap pulang ke rumah, tapi ada yang aneh dengan penjaga perpustakaan itu, dia menatap Muara seakan melihat sesuatu yang aneh, dia berusaha abai dan mengira penjaga itu baru mengenalinya karena itu hari pertama Maura berkunjung ke sana.


"Kau tau darimana aku ada disini?" Maura masih penasaran dengan Ardian yang tiba-tiba datang begitu saja.


"Aku pulang bersama Kevin tadi, kami melihat Maurice sudah ada di rumah dan dia mengatakan jika dia merasa tak enak hati membiarkan kamu sendirian berada disini, padahal tadi kamu memintanya untuk ditemani kesini.." Ardian menjelaskannya kepada Maura.


"Makanya kamu datang sebagai permohonan maaf dari Maurice, begitu? Kamu siapanya dia? Kakaknya atau ayahnya?" tanya Maura sambil tersenyum ngeledek Ardian.


"Aku bisa jadi apapun untuknya, kalau aku jadi ayahnya harus ada yang mau jadi ibunya, jika aku kakaknya berarti harus ada juga yang mau jadi kakak iparnya.." sahut Ardian ambigu.


"Apaan sih jawabnya, absurd banget!" ucap Maura terkekeh.


Mereka pulang melewati apotek sebelumnya, tiba-tiba saja keduanya kompak merinding dan menatap pintu apotek yang sudah tutup itu, sekilas mereka melihat ada sekelebat bayangan yang lewat dari balik pintu tersebut, pintu apotek tersebut terbuat dari kaca tebal khusus untuk dinding atau daun pintu.


"Kamu melihatnya?" tanya Ardian.


"Iya, sejak tadi aku sudah curiga.. Tapi aku yakin ini hanya perasaanku saja" jawab Maura.


"Memangnya kamu tadi kesini?" tanya lagi Ardian khawatir.


"Iya, bersama Maurice. Aku sudah pastikan tadi semuanya aman, tidak ada apa-apa didalam apotek itu. Mungkin tadi hanya perasaanku saja, aku pikir wajar saja karena nuansa mistis pasti ada karena ada dupa bakar, tempat ibadah mereka." Maura berusaha berpikir positif.


"Tapi bayangan tadi.." Ardian masih ragu dengan pernyataan Maura.


"Aku pikir itu hanya penjaga rumah saja, semacam jin penglaris. Kamu tau kan, hal seperti itu sudah biasa bagi mereka. Makanya aku tadi merasa seperti ada tekanan saat bersama Maurice, arah tujuan kami condong kearah apotek tersebut, padahal sebelumnya kami melewati beberapa apotek lainnya.." ujar Maura menceritakan perasaan sedari tadi.


"Kenapa?" Ardian masih memperhatikan apotek tersebut meskipun mereka sudah lumayan jauh dari tempat itu.


"Kata Maurice agar lebih dekat saja dengan perpustakaan, tujuanku juga. Niat awalnya setelah dari apotek kita mau ke perpustakaan, tapi entah mengapa dia memintaku pergi setelah mengantarkannya ke sana.." Maura mulai merasa aneh dengan semuanya.


"Apa kamu mencurigai sesuatu atau melihat ada hal yang aneh?" Ardian merasa penjelasan Maura mendekati kecurigaannya.

__ADS_1


"Tidak ada, hanya ada beberapa ornamen khas mereka. Jangan negatif thinking, semua daerah dan adat maupun suku pasti ada yang berbau mistis, bukan berarti itu ilmu hitam.." ucap Maura berusaha menepis pikiran buruk di kepalanya.


"Maura,,, Apa Maurice sedang.. Hamil?" tanya Ardian hati-hati.


"A-apa?! Hamil?!" Maura malah sangat terkejut dengan pernyataan Ardian.


"Syut, pelankan suaramu! Ini masih terang dan rame, nanti didengar oleh orang lain dan menyangka yang tidak-tidak lagi tentang kita.." ujar Ardian sedikit malu dibuatnya.


"Me-memangnya kita berbuat apa, kenapa mesti malu ataupun takut?! Tunggu dulu, kenapa kamu sampai mengira kalau Maurice hamil?" tanya Maura penasaran.


"Tujuan dia ke apotek tadi mau beli apa?" Ardian malah nanya balik, gemas dengan Maura agak lemot pikirannya kalau soal beginian.


"Emm, entahlah. Dia tidak mengatakan apapun, dia sempat memberikan sebuah clue tadi, tapi aku gak tau apa itu. Memangnya ada apa? Hah! Apa Maurice sedang menggunakan obat-obatan terlarang??!" Maura mencoba menebak tapi sayangnya salah total.


"Ya ampun, Mauraaaa.." Ardian sampai menepuk jidatnya saking gak pekanya Maura.


"Kalau tak salah tebakanku, dia pasti lagi beli testpack.." akhirnya Ardian mengatakannya, dengan wajah bersemu merah.


"Testpack? Alat uji kehamilan?" tanya Maura lagi.


Ardian mengangguk, dia malas menjawabnya. Betapa malunya dia harus membahas sesuatu yang bukan ranahnya, sepasang muda mudi membahas alat uji tersebut padahal mereka bukan mahasiswa kedokteran ataupun tenaga kesehatan, yang lebih parahnya mereka juga bukan suami istri.


Dia tau mereka sekarang berada di negeri yang adat ketimuran yang masih begitu kental, dimana adat budaya dan ilmu agama begitu dijaga. Dia tak mau dipaksa menikah seperti Kevin dan Maurice, bukan berarti dia tak mau menikahi Maura.


Tapi alangkah bahagianya bisa melamar orang yang kita cintai dengan begitu indah dan berkesan, bisa melangsungkan pernikahan dengan mewahnya, dihadiri anggota keluarga dan para sahabat, pasti itu akan mengesankan sekali.


Jika mengingat Kevin dan Maurice, dia merasa miris dan kasian sekali dengan mereka. Tapi beruntungnya keduanya saling mencintai dan mau menerima segala kekurangan pasangan masing-masing, itulah yang membuat keduanya begitu kuat.


"Hei, kau kenapa melamun?" tanya Maura, setelah dipikir-pikir dia merasa malu sendiri karena tak bisa berpikir kearah sana tadi, saat Maurice ingin membeli sesuatu ke apotek tadi.


"Kenapa? Jangan membuatku takut!" ucap Maura kebingungan sekaligus khawatir.


"Sebaiknya kita cepat pulang, Maura! Maurice sendirian di rumah" ujar Ardian mempercepat langkahnya.


"Motormu kemana?" tanya Maura gusar, disaat genting begini Ardian malah tak bawa motornya.


"Dipakai Kevin!" jawab Ardian cepat.


"Terus?" Maura kebingungan sendiri saat tangannya ditarik oleh Ardian kesebuah gang kecil.


"Aku bawa mobil dan dititipkan disini.." ujar Ardian menjelaskan.


"Bagaimana caranya kamu menitipkan mobilmu kesini? Ini gang kecil banget Ardian, motor aja susah lewatnya!" ucap Maura kesal.


Tapi Ardian memilih diam, setelah itu mereka masuk kesebuah pintu yang berada di dinding gang tersebut dan ternyata terhubung dengan sebuah showroom mobil miliknya sendiri.


"Ribet amat sih? Kenapa gak kamu bawa aja pas menemuiku di perpustakaan tadi!" ujar Maura kesal.


"Aku bahkan niatnya tak mau ganggu kamu belajar di sana tadi, tiba-tiba saja mau menghampiri kamu.." jawab Ardian sambil sibuk menyalakan mobilnya, untung saja masih ada beberapa karyawannya yang masih berjaga di sana.


"Kenapa?" tanya Maura lagi.


"Kangen, sudah lama gak ketemu.." jawab Ardian santai dan lempeng aja.


Dia masih sibuk dengan mobilnya, sedangkan Maura merasa wajahnya memanas karena menahan malu, lelaki disampingnya itu tak menyadari ucapannya itu tadi telah membuat Maura setengah syok bergetar.

__ADS_1


"Begini ternyata rasanya digombali tanpa langsung, efeknya luar biasa!" gumam Maura dalam hati.


Untuk menghilang rasa canggungnya, dia berpura-pura mau minum tapi tangannya malah gemetaran karena masih Tremor digodain oleh Ardian, tapi lelaki itu bersikap seolah biasa aja, ini Maura yang ke ge-eran atau Ardian gak liat situasi.


"Yah, tumpah! Sorry.." ucap Maura memelas, dia tak sengaja menumpahkan air didalam botol minumnya mengenai dasboard mobil itu.


"Gak apa, tumpah sedikit. Nanti dilap juga kering.." ucap Ardian sambil mengambil kanebo kering didalam laci dasboard tersebut dan mengelapnya sampai kering.


Jarak diantara mereka begitu dekat, Maura sampai bisa mencium aroma parfum ditubuh Ardian begitu wangi maskulin, jantungnya makin berdetak tak berirama, sampai-sampai Ardian pun bisa mendengarnya.


"Kamu kenapa? Capek yah? Maaf, aku ajak kamu jalan cepat-cepat setengah berlari tadi agar tak pulang terlalu sore, kita harus sampai rumah sebelum magrib deh, kasihan dengan Maurice di rumah sendirian.." ucap Ardian.


"Iya, tak apa.." sahut Maura membuatnya makin salah tingkah, dan ada rasanya sedikit cemburu ketika Ardian mengkhawatirkan gadis lain, meskipun itu sahabatnya sendiri.


"Apa-apaan sih, Maura! Mereka itu sudah seperti saudara sekandung sekarang ini!" gumamnya sendiri dalam hati.


Mobil itu meluncur dengan kecepatan lumayan tinggi, mereka harus sampai ke rumah tepat waktu sebelum waktu magrib tiba, entah mengapa baik itu Ardian maupun Maura merasa jika sahabat mereka dalam bahaya.


Sementara itu, Maurice sudah selesai beberes rumah, memasak untuk makan malam dan sudah merapikan semuanya. Dia hendak bersiap ke kamar mandi untuk membersihkan diri, tiba-tiba dia teringat lagi testpack yang dia beli tadi siang.


"Katanya hasil akan terlihat lebih akurat jika dilakukan di pagi hari, tepat pas bangun tidur pagi-pagi sekali. Tapi aku tak sabar ingin mengetahuinya langsung, emm.. Ini kan ada dua, bagaimana jika aku coba aja sekarang sama besok pagi?


Oke deh, sekalian mandi aja. Biar afdol, hehe!Duh, bentar lagi magrib! Mandi aja sekarang.." ujarnya buru-buru.


Tok!


Tok!


Terdengar suara pintu depan diketuk dengan pelan, Maurice merasa aneh ada orang bertamu sore-sore begini yang bentar lagi mau magrib.


"Siapa yah, Kevin gak mungkin dia kan pulangnya jam delapan malam nanti, Ardian juga gak mungkin, dia kan punya kunci cadangan lainnya," gumamnya sendirian.


Tok!


Tok!


Pintu depan kembali diketuk pelan, Maurice penasaran dia ingin melihat siapa yang datang, dia akan memutar kunci untuk membuka pintu tiba-tiba ponsel ditangannya berbunyi.


Kriingg!


"Iya, halo?" ucapnya seraya membuka kunci pintu.


"Maurice, jangan buka pintu!" teriak Maura dari seberang telpon.


"Apa?" tanya Maurice tak mengerti, kunci sudah terbuka tinggal menarik handel pintu saja.


"Siapapun yang datang ke rumah sekarang, jangan dibukakan pintu! Siapapun itu!" ucap Maura lagi.


Maurice urung membuka pintunya tapi tangannya masih berpegangan dengan handel pintu itu, dia berhenti sambil mendengarkan Maura.


"Tapi kalau Ardian sama Kevin bagaimana?" tanyanya lagi bingung.


"Ardian sama aku, kita sedang menuju rumah, dia katanya bawa kunci lagi. Sedangkan Kevin masih di kampus, sudah aku pastikan tadi.. Maurice, Maurice! Halo?!" Maura panik karena sahabatnya itu tak meresponnya kembali..


......................

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2