RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Salam Perpisahan


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, Maura hanya diam saja dipunggung Aurora, kuda Unicorn itupun tidak mengajaknya bicara lagi setelah dia mengatakan, jika yang dilihat oleh Maura tadi merupakan nyata adanya. Maura hanya bisa melihat dan mendengar mereka, tapi tak bisa berkomunikasi dengan mereka.


Karena saat ini Maura dalam bentuk roh, dia keluar dari tubuhnya melalang buana ke dunia masa lalu itu untuk merubah nasib makhluk lainnya. Saat diperjalanan pulang, dia melihat banyak sekilas bayangan masa lalunya, termasuk kenangan bersama sang Mama, dan tanpa dia ketahui malah berada di tempat keluarganya, tapi dengan wujud lain.


Sriiingg!


Didepan mereka ada seberkas sinar terang berkilauan, seperti diamond terkena pantulan cahaya. Aurora semakin kencang melajukan sayapnya, dan tiba-tiba semuanya gelap ketika Maura masuk kedalam cahaya itu.


"MAURA!" gadis itu terlonjak kaget setelah mendengar suara teriakan khas sahabatnya itu.


"Astaghfirullah, Maurice! Kaget aku.." ucapnya setelah bangun dari tidurnya.


"Kamu tidur atau pingsan sih, tidur kok ngebo! Susah banget dibangunin," gerutu Maurice kesal.


Sementara itu, melihat Maura sudah bangun Kevin dan Andrian langsung keluar dari kamar dan hanya menggelengkan kepalanya saja, melihat tingkah dua sahabat itu saling mengomel.


"Kirain dia mengapa, ternyata cuma kecapean aja!" ucap Kevin sambil duduk didepan meja makan, melanjutkan minum kopinya yang tertunda tadi.


"Wajar sih, semalam benar-benar menguras tenaga dan energi saat mengusir hantu bergaun merah itu!" sahut Andrian juga.


Kini keduanya kembali melanjutkan kegiatannya masing-masing, tanpa mengkhawatirkan Maura lagi. Sementara gadis itu masih nampak bengong didalam kamar itu, memikirkan semua kejadian selama dia menghilang beberapa hari lalu.


"Jadi, aku hanya tidur semalaman aja, cuma beberapa jam doang kan?" tanyanya lagi penasaran kepada Maurice.


"Iya, bukan gitu aja dan kamu melewati sholat subuh juga!" jawab Maurice dengan mimik wajah yang ditekuk.


"Perasaan udah pergi beberapa hari deh..." gumam Maura heran.


"Apa?!" tanya Maurice bingung apa yang diucapkannya.


"Gak ada, btw.. Perasaan aku gak enak deh, sebentar aku cek dulu.." ujar Maura sambil memeriksa bagian celananya yang terasa lengket dan basah.


"Astaghfirullah, aku lagi dapet!" teriak Maura.


"Ya Allah, kenapa pula aku capek-capek bangunin kamu kalau tau kamu gak bisa sholat..." gerutunya kesel.


Kemudian Maurice keluar dari kamar dan mulai menyibukkan diri dengan mempersiapkan bekal untuk sang suami bekerja, dan juga sarapan buat semuanya.


"Maura, kamu gak apa--" Andrian menyapa Maura yang baru keluar dari kamar.


Tapi gadis itu menghiraukannya dengan berlari kearah kamar mandi, sayangnya Andrian terlanjur melihat bercak merah yang menempel pada celana yang dipakai Maura.


"Ma-Maura.." wajahnya merah padam, dia tau siklus periode yang dialami para wanita, jadi malu sendiri saat melihat itu.


"Mampus aku.." gumam Maura malu.

__ADS_1


"Mampus kenapa?" sahut Maurice sambil menyiapkan sarapan.


"Andrian gak sengaja liat aku!" sahut pula Maura dalam kamar mandi.


"Lah wajarlah, kan nampak! Kecuali kalau kamu demit baru gak keliatan, eh! Kita semua juga bisa liat demit yah, hadewhh..." sahut lagi Maurice sambil tersenyum geli.


Beberapa saat kemudian, setelah membersihkan diri Maura keluar dari kamar mandi. Wajahnya terlihat sedikit pucat seperti sedang kelelahan.


"Maurice, aku langsung pulang aja yah.. Aku capek banget, kayaknya aku gak bisa kuliah hari ini.." ujar Maura menghampiri sahabatnya itu, berjalan pelan .


"Kamu sakit? O ya, aku lupa! Kamu kalau lagi dapet hari pertama pasti ngerasain nyeri kan.. Ya udah, kamu istirahat aja dulu.. Ntar aku kasih tau Andrian sama teman sekelasmu deh," ucap Maurice sedikit khawatir.


"Sudah lama sekali aku gak ngerasain haids sampe nyeri banget kayak gini, kirain udah sembuh tapi kok balik lagi yah?" ujar Maura sambil menahan rasa nyerinya.


"Mungkin dari efek kecapean juga kali, kan biasa kayak gitu.. Udah, sekarang sarapan dulu terus istirahat. Nanti aku beliin obat anti nyerinya.." ucap Maurice kepada Maura.


Gadis itu mengikuti saran temannya, karena cuma itu yang bisa dia lakukan sekarang ini. Saat mendengar keadaan Maura, Kevin dan Andrian sempet menawarkan Maura untuk beristirahat di rumah itu, tapi dia tak nyaman tinggal sendirian di sana.


"Kalau kamu mau, aku bisa tinggal disini buat nemenin kamu.. Aku bisa bantu kamu apa aja, yang penting kamu nyaman disini," ucap Andrian sebelum Maura pulang.


"Hehe, aku ini gak sakit kok! Hanya tamu bulanan aja nyerinya juga sedikit. Aku cuma butuh buat istirahat aja.." jawab Maura berusaha untuk tetap tenang.


"Beneran?" tanya Andrian ragu.


"Buat jaga-jaga kalau aku lagi males keluar, aku bisa makan ini jika lagi lapar!" gumamnya sendiri.


Saat dia hendak menuju kasir, dia sempat mendengar dua atau tiga orang sedang bercakap-cakap di samping rak barang-barang belanjaan itu, mereka sedang membahas sesuatu yang membuat Maura sedikit tertarik.


"Jadi, apotek juga sekaligus klinik milik si Cici itu udah bangkrut?" tanya seorang wanita paruh baya yang nampak antusias dengan dua orang temannya itu.


"Iya, katanya sih suaminya Cici itu suka judi dan banyak hutang dengan para rentenir. Apoteknya dijual buat bayar hutang, kasian dikejar-kejar rentenir mulu!" sahut si ibu satunya lagi.


"Tapi yang aku denger lain lagi loh, katanya si Cici juga pelihara jin penglaris gitu.. Dan jinnya minta tumbal terus, si Cici gak bisa nyari tumbal lagi, makanya jinnya pergi dan si Cici balik lagi bangkrut!" ucap si ibu lainnya.


"Masa' sih? Takhayul itu!" ucap temannya tidak percaya.


"Beneran kok, serah situ kalau gak percaya!" jawab temannya tadi.


Maura sedikit tersenyum lega saat mendengar hal itu, dia senang akhirnya hantu gaun merah itu terlepas juga dengan keterikatan perjanjian laknat yang pernah dia lakukan dengan iblis masa itu.


Maura keluar dari minimarket itu, dimana Andrian masih sabar menunggunya diluar. Saat Maura menutup kembali pintu kaca transparan minimarket itu, dia terkejut dia melihat pantulan bayangan hantu wanita gaun merah di pintu kaca minimarket itu.


Saat ia berbalik, tidak ada siapapun dibelakangnya. Andrian melihatnya bingung, Maura berusaha bersikap tenang seolah tak terjadi apapun. Kemudian dia menghampiri Andrian dan pulang menuju kost-an nya.


Dia sempat menoleh sebentar kearah minimarket itu, dia sangat terkejut sekali dengan apa yang dia lihat saat ini. Hantu wanita gaun merah dengan wajah mengerikan itu berada didepan minimarket, dan bukan hal itu yang mengagetkannya.

__ADS_1


Tapi wajah hantu itu berlahan-lahan berubah menjadi lebih baik, sedikit demi sedikit wajah itu menunjukkan wajah aslinya. Maura menatap haru kearah hantu itu, bayangan Fa Wei Xian terlihat jelas di wujud hantu itu. Hantu itu melambaikan tangannya kearah Maura, sebelum dia benar-benar menghilang.


Maura membalas lambaian tangannya pelan, jarak mereka semakin menjauh seiring Andrian melajukan motornya, dan hantu itu pelan-pelan menghilang.


"Kamu lagi dadah-dadah sama siapa?" tanya Andrian sambil memperhatikan Maura dari arah kaca spion motornya.


"Engg, gak ada kok! Ini rambutnya ganggu mulu ketiup angin!" bohong Maura, berpura-pura merapikan rambutnya.


"Masa Andrian gak bisa liat dia sih? Apa dia hanya ingin menampakkan dirinya dihadapanku saja?!" gumam Maura dalam hati.


Beberapa saat kemudian, Maura sudah sampai di kost-an nya. Andrian pun langsung pamit ke kampus, tinggallah Maura sendiri di kostan itu. Semua anak-anak kost pada pergi, ada yang kuliah ataupun yang bekerja.


"Sepi banget, suasananya gak enak disini sendirian!" gumam Maura sambil memandangi setiap sudut kost-an nya itu.


Dia naik ke lantai atas, tempat kamarnya berada. Saat dia membuka pintu kamar, ada yang aneh pintu kamarnya tidak terkunci dengan benar. Padahal Maura merupakan orang yang sangat teliti, dia tahu betul kamarnya terkunci dengan rapi.


"Hem, ada yang gak beres ini! Dari sudut posisi keset kamarku aja ini udah beda, ada yang mau ngisengin aku rupanya! Biarin aja, aku mau liat siapa orangnya!" ujar Maura terlihat keki.


"Hihihi! Mau aku bantu? Aku tau siapa yang melakukan itu semua, hihi.." Kunti yang mendiami pohon rambutan punya ibu kost ikut berbicara.


"Aku tak butuh bantuanmu, aku tau kau mau bantu karena ada maunya kan?!" bentak Maura kearah Kunti itu.


"Hihihi, kau benar sekaliii... Izinkan aku dekat denganmu, tubuhmu sangat wangi. Aku sukaaa.." ucap si Kunti.


Tangannya mulai menjulur kearah Maura, tubuhnya yang berteger diatas pohon rambutan itu mulai berdiri, dia ingin menggapai Maura yang saat ini berdiri diatas balkon teras lantai dua.


"Jangan sentuh aku! Jangan pernah berpikir untuk mendekati aku juga, kau tau betul siapa aku! Jika kau nekat juga, aku akan mengirimkanmu langsung ke neraka buatan temanku di alam sana." Ujar Maura sambil menatap tajam kearah Si Kunti.


"Aku tau, makanya aku ingin dekat denganmu! Hihi, tapi jika kau tak suka.. Aku tak bisa berbuat apa-apa, tapi boleh kan jika aku melihatmu dari sini? Hihi!" sahut si Kunti mengurungkan niatnya mendekati Maura.


Maura tak menimbali si Kunti, dia masuk kedalam kamarnya. Sedangkan si Kunti sedang bersenandung kecil diatas pohon rambutan itu, dia tahu siapa Maura yang sebenarnya. Dia juga beberapa kali pernah melihat Maura melawan beberapa jin yang mengganggu beberapa anak di kost-an itu.


"Non Maura lagi ngomong sama siapa yak?" gumam Supri melihat Maura berbicara sendirian diatas balkon kearah pohon rambutan.


"Ngomong sama pohon? Masa iya sih?! Ngawur!" ucap si Supri sambil terkekeh sendiri.


Sedangkan Maura memilih menutupi telinganya dengan earphone saat mendengar senandung rindu yang dinyanyikan si Kunti, suaranya yang melengking memekikan telinga, dia berusaha acuh dengan makhluk yang lagi caper itu dan memilih tidur untuk menenangkan perutnya yang kembali merasa nyeri.


"Aku mungkin tak bisa mndekatimu, tapi mereka mungkin bisa. Hihihi.." ujar si Kunti masih diatas pohon.


Setelah menatap kamar Maura, tatapan hitam kelam itu menuju kearah lain. Melihat sosok yang jauh lebih kuat dibandingkan dirinya, aura gelap begitu pekat, sehingga siapa saja dapat merasakan energi gaibnya yang begitu besar.


......................


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2