
Maura membeli minuman dan beberapa cemilan di sana, dia pura-pura tak melihat pria itu.
" Hai Maura.. " tiba-tiba saja Joanna menyapanya.
Maura terkejut, dia tak menyangka akan ditegur oleh mereka. Ada perasaan tak enak dihatinya, dia masih teringat sikap Julian tadi.
" Iya, kau memanggilku? " tanya Maura cuek.
" Tentu, kemarilah.. " kata Joanna lagi sambil tersenyum.
Maura dengan malas melangkah kearahnya, mau apa sih dia? pikir Maura.
Apalagi dia melihat Julian yang terlihat biasa-biasa saja, tak ada rasa bersalah sedikitpun darinya.
Sedangkan si pria tadi, tidak tahu menghilang kemana setelah Maura menghampiri mereka.
" Dasar aneh, datang dan pergi seenaknya saja! " dia bergumam menggerutu dengan tingkah pria tadi.
" Ada apa? " tanya Maura.
" Sini, duduk disini bergabung dengan kami " kata Joanna ramah.
" Maaf aku tak bisa, Kevin sedang menungguku. " Kata Maura berlalu pergi.
" Tunggu! " cegah Julian.
Maura menghentikan langkahnya, dia memandangi Julian dengan tatapan aneh.
Julian bangun dari duduknya dan menghampiri Maura.
" Aku tahu kau masih marah padaku, aku dengan tulus benar-benar meminta maaf padamu dan Maurice akan perkataanku tadi " ucap Julian.
Terlihat jelas tatapan matanya yang tulus itu, Maura bisa menilainya. Kini, pandangan Maura pun berubah padanya, dia sedikit menurunkan alisnya.
" Jika ingin meminta maaf, tunggu Maurice sampai bangun. Satu-satunya orang yang merasa tersakiti oleh perkataanmu itu ialah Kevin. " kata Maura.
" Minta maaflah dulu padanya, mungkin itu sedikit lebih baik " ujar Maura menambahkan.
" Baiklah aku akan ke sana menemuinya " ujar Julian ceria. Dia senang, paling tidak sikap Maura tidak semarah tadi.
" Sebaiknya nanti saja, sekarang ini perasaannya masih sedih. Takutnya nanti dia tambah marah padamu " kata Maura.
" Baiklah kalau begitu, aku akan menunggunya jika sudah baikan. Sampaikan permohonan maafku padanya " kata Julian lagi.
__ADS_1
Maura mengangguk lalu berlalu pergi, Julian senang Maura akhirnya tak marah lagi padanya.
Dia menghampiri Joanna dan kembali duduk dihadapannya.
" Tidak kusangka, perubahan sikapnya cepat sekali. Aku pikir dia akan lama marah padamu " ujar Joanna sambil meminum Capuccino nya.
" Aku tahu dia tidak akan se labil itu, dia cukup dewasa untuk anak remaja seusianya.
Tidak seperti temanmu itu. " Kata Julian sambil menyeruput ace Americano nya.
Joanna celingukan mencari teman prianya tadi, kemana tuh bocah? pikirnya.
" Kenapa, menghilang lagi dia? pria kuat perkasa seperti dia, ada rasa grogi juga ternyata. Haha.. " kata Julian menggoda temannya tadi.
Tapi pria itu sudah tak ada, jika dia mendengar godaan Julian sudah pasti dia akan dihajar habis olehnya.
Joanna hanya tersenyum manis, dia tahu ada sesuatu didiri teman prianya tadi.
*
Akhirnya keluarga Kevin dan Angga tiba dilantai tempat Maurice dirawat.
Saat Kevin melihat mereka, dia langsung menangis memeluk kakak perempuannya itu.
" Kakak?! " teriak Maura saat melihat Angga dan lainnya.
Dia berlari menyambut kakaknya itu dengan pelukan, dan akhirnya tangispun pecah.
" Ini kenapa pada peluk kakak-kakaknya semua, ini ga ada yang mau peluk Mama sama Papa nih? " tanya pak Wisnu menggoda mereka.
Akhirnya Kevin dan Maura juga bergantian memeluk Pak Wisnu dan Bu Ella.
" Sudah jangan nangis lagi, doakan semoga Maurice cepat siuman dan kembali bersama kita " kata Pak Wisnu bijak.
" Malang sekali anak itu, ga bisa bayangin jika Mama sama Papa yang duluan.. " belum selesai Bu Ella berbicara sudah dipotong sama Dhania.
" Mama ngomong apa sih, anaknya lagi berduka malah ditambah-tambahin kata kayak gitu " katanya sambil cemberut.
" Maaf sayang, Mama tak bermaksud begitu. Mama hanya bilang tak sanggup harus meninggalkan kalian semua sendirian " kata Bu Ella sambil memeluk Dhania.
" Maka dari itu, kita rawat dan beri perhatian lebih pada Maurice. Agar dia tak merasa kesepian dan sendirian lagi. " Kata Angga.
dijawab dengan anggukan semua orang, mereka semua setuju.
__ADS_1
Setelah itu mereka meminta Kevin dan Maura pulang dulu, untuk bersih-bersih dan istirahat sebentar.
Sementara itu mereka yang menjaga Maurice di sana. Saat itu Maura diantar sama Kevin pulang ke apartemennya.
Sesampainya di sana, Maura melihat Gerald di taman depan apartemen itu.
" Gerald..! " teriak Maura memanggilnya.
Maura senang melihat kucing kesayangannya itu, sudah beberapa hari ini dia tak melihatnya.
" Kemana saja kau hah? aku merindukanmu yang bawel itu.. " kata Maura sambil mengusap dan memeluk Gerald.
" Aku selalu ada di sampingmu Maura.. " kata Gerald, kali ini suaranya sedikit merendah.
Tak biasanya dia seperti itu, Gerald biasa yang mereka kenal tak seperti itu. Kucing itu selalu bertingkah angkuh dan berjalan dengan mengangkat kepalanya.
Selalu berteriak dengan mengatakan dia kucing terhormat, kucing bangsawan. Dan sekarang tidak lagi, Maura merasa ada yang hilang di diri Gerald.
" Kau kenapa Gerald, apa ada sesuatu denganmu? kau nampak berubah " kata Maura.
" Tidak, tidak ada yang berubah. Sebaiknya kau pulang saja dulu, tubuhmu bau keringat! " Gerald berusaha menjadi dirinya seperti dulu.
" Baiklah tuan Gerald, mari pulang bersamaku " ujar Maura mau menggendongnya.
Gerald menghindar dengan melompat kesamping.
" Maafkan aku, saat ini aku tak bisa pulang. Kembalilah, aku akan selalu bersamamu dari jauh.
Tenang, aku tidak apa-apa " jawab Gerald sambil berlalu pergi.
Maura heran dengan tingkah kucing aneh itu, dia memutuskan kembali masuk kedalam apartemen sambil bertanya-tanya tentang perubahan sikap Gerald.
Dari kejauhan, Gerald menatap punggung Maura berlalu pergi menjauh.
" Maafkan aku Maura, saat ini aku tak bisa bersamamu. Aku harus menjauhkan kamu dari Camelia dulu.
Setelah anak ini sudah tenang dan mau menerima semuanya, maka aku akan putuskan akan berada didekatmu lagi atau tidak " kata Gerald.
Sementara itu, Camelia yang dikurung didalam tubuh Gerald berontak.
" Keluarkan aku! aku ini majikanmu Gerald, jangan membantahku. Cepat, keluarkan aku! " teriak Camelia yang terkunci didalam tubuh Gerald.
......................
__ADS_1
Bersambung