RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Burung Cantik


__ADS_3

Maura terbangun dari sujudnya, dia mengerang kesakitan karena merasa badannya pegal-pegal. Sewaktu berada dimensi lain, Maura selain bertemu dengan para ksatria dan panglima dari kerajaan bayangan untuk membahas tentang Garaga dan Phoem, dia juga beberapa kali melatih kemampuan dirinya dalam mengendalikan emosi dan tenaga dalamnya yang sudah cukup lama tidak dia pakai.


"Ternyata cukup menguras energiku juga, aku pikir ini tidak akan membawa dampak pada fisikku ternyata sampai kebawah juga.." gumamnya mengeluh.


Matanya berkeliling menatap setiap sudut kamarnya, entah mengapa dia merasa ada sesuatu yang nampak berbeda. Ada beberapa benda yang sedikit bergeser letaknya dari sebelumnya, bahkan ada juga yang terjatuh dari tempatnya juga.


"Apa yang terjadi? Apa ada sesuatu selama aku melepas sukma tadi?" gumamnya lagi.


Dia bangun dari duduknya dan mulai mengamati sesuatu, kemudian dia seperti teringat dengan sesuatu, Maura membuka pintu lemari pakaiannya dan mengambil sebuah kotak kecil dan membukanya.


"Alhamdulillah, kalungnya masih aman.. Aku berharap para sekutu penyihir atau bangsa jin lainnya tak menemukannya, ini semuanya jadi dilema bagiku. Jika tidak aku pakai, aku takut mereka semua dan makhluk penganut ilmu hitam lainnya menemukannya dan mengambilnya dariku.


Tapi jika aku pakai, maka akan mudah mereka mendeteksinya bersama keberadaanku juga. Huft, apa pilihan yang dikatakan oleh Aurora adalah benar jika seharusnya aku memakainya, setidaknya aku akan aman dari gangguan para makhluk itu?" gumam Maura masih bingung dengan pilihannya sendiri.


Sementara itu, diluar rumah begitu banyak makhluk yang berkumpul mengelilingi rumah. Mereka masih penasaran dengan Maura dan benda bercahaya itu. Sedangkan si Kunti bersembunyi dibalik rerimbunan pohon rambutan karena takut dengan semua makhluk itu.


"Nona, semoga kau mampu mengusir mereka semua sama seperti kau mengusir yang lainnya juga.." ujar si Kunti ketakutan, dia berharap banyak dengan kemampuan Maura itu.


.


.


Keesokan harinya, Maura berangkat sendirian ke kampusnya sedangkan Maurice ada jadwal mengecek kandungannya bersama Kevin, Dhania yang excited ikut mengantarnya juga kebetulan dia tak ada kelas mengajar pagi ini.


"Kak Angga berangkat bareng Ardian, mana mau dia suruh Ardian jemput aku! Huft, jangan manja, Maura! Semangat jalan kaki sampai kedepan," ucapnya.


Dia berjalan keluar menuju jalan raya diluar kompleks perkampungan tempat dia tinggal, dia tinggal di komplek perumahan yang masih dikategorikan perkampungan meskipun terlihat modern, terlihat dari rumah-rumah yang letaknya tak beraturan, taman ditengah-tengah perumahan juga ada lapangan basket dan futsalnya juga, minimarket dan juga beberapa toko yang ada didalam perumahan itu, tapi letaknya tak beraturan, tidak serapi kompleks perumahan lainnya.


Dia melewati rumah tetangganya yang menurutnya agak aneh itu, aura rumah itu nampak gelap, sekelebat bayangan melintas dari dalam pekarangan rumah itu. Tengkuknya merasa dingin seketika, dia merasa ada energi gelap sedang mengawasinya.


"Setelah sekian lama, tingkat sensitivitasku akhirnya bekerja juga. Aku yakin ini bukan sekedar perasaanku saja tapi memang ada sesuatu.." gumamnya sambil memperhatikan rumah itu sambil berjalan melewatinya.


Setelah cukup jauh, Maura berhenti memperhatikan rumah itu dan berjalan menjauh. Sementara itu didalam rumah ada dua orang sedang menatap Maura dari balik tirai jendela kacanya.


"Gadis itu cukup peka, apa kau yakin ingin menjahilinya dan ingin merebut kekasihnya, Dena?!" tanya seorang nenek kepada cucu perempuannya itu.


"Dia hanya peka, bukan berarti dia tau apa-apa.. Sejauh ini tak ada yang bisa menghentikan langkahku, setiap keinginanku semuanya harus terpenuhi jika tak ingin kubuat menyesal seumur hidupnya!" ucap gadis yang bernama Dena itu tersenyum sinis.


"Terserah kau saja, asal jangan melewati batasmu!" ucap sang nenek sambil berlalu pergi.


Sekarang ini Maura sedang menunggu angkot yang satu jurusan ke kampusnya, kali tumben angkotnya semuanya penuh, apa semuanya pada ingin berangkat pagi atau apa?


Tiin.. Tiin.. Tiin!


Sebuah mobil sedan dan mewah sedang melaju mendekat kearah Maura, gadis itu awalnya biasa saja tapi dia merasa jika mobil itu sedang menghampirinya.

__ADS_1


"Maura!" tiba-tiba seseorang membuka kaca mobil dan memanggil namanya dengan wajah cerianya.


"Ichan?!" tanya Maura bingung karena melihat temannya itu berada didalam mobil mewah itu.


Bukan apa-apa, Ichan yang selama ini Maura kenal merupakan anak yang suka berpenampilan sederhana dan suka berhemat, makanya tak heran jika dia senang sekali kalau ditraktir, dan senang menemukan hal-hal yang baru baginya tapi belum tentu bagi orang.


"Hai, malah bengong! Ayo naik," ajak Ichan sambil membukakan pintu mobil untuknya.


"Ah, i-iya.." sahut Maura masih bingung.


Maura memperhatikan mobil itu, dan mengingatkannya dengan semua kemewahan yang dia miliki sewaktu masih berada di New York, Amerika.


"Kenapa, bagus bukan? Hehe, aku yakin kau pasti mengira ini adalah mobil keluargaku. Kau salah, Maura.. Ayahku merupakan seorang sopir pribadi seorang saudagar kaya pemilik salah satu perkebunan kopi dari kota sebelah.


Sekarang bos dan cucunya itu pindah ke kota ini, dan otomatis ayahku juga. Aku dan ibuku tentu saja senang sekali dengan kepindahan ayah kesini, setidaknya kami tak perlu LDR an lagi, hehe.." ucap Ichan menjelaskan semua kebingungan Maura.


"Ooh, begitu.." ucap Maura sambil manggut-manggut.


"Halo, Nona.. Salam kenal, saya ayahnya Ikshan, eh! Ichan, hehe.." ucap ayahnya Ichan memperkenalkan diri dari kursi pengemudi depan mereka.


"Ah, iya Om.. Salam kenal, nama saya Maura, panggil saja begitu.." sahut Maura ramah.


"Kebetulan hari ini saya baru bisa mengantarkan Ichan kuliah, biasanya saya tak ada waktu untuk ini.." ujar ayahnya Ichan tersenyum ramah.


"Apa tak apa Ayah mengantarku ke kampus dengan mobil ini, apa majikan ayah tak marah?" tanya Ichan dengan nada sedikit khawatir.


"Sampai segitunya, biasanya orang kaya punya bengkel dan mekanik sendiri atau punya showroom langganan, kenapa harus Ayah yang melakukan semuanya?" tanya Ichan dengan nada sedikit kecewa, takut ayahnya kelelahan.


"Tak apa, ayah masih bisa kok.. Lagian paling cuma nyuci mobil saja, kok.. Ayah juga tau, jika mobil itu ada masalah pastinya akan ayah bawa ke showroom juga, hehe.." ucap ayahnya Ichan santai.


"Iya, Chan.. Ayahmu pasti tau apa yang harus dia lakukan, btw Om.. Jika mobilnya perlu diservis, teman saya juga punya showroom mobil kok.. Mau di service, ganti sparepart, atau mau beli mobil baru juga bisa, semuanya lengkap!" ucap Maura, tiba-tiba saja ingat showroom nya si Ardian.


"Siapa? O ya, Ardian! Haha, ampe lupa gw!" sahut juga Ichan sambil tertawa geli.


Tidak lama kemudian, mereka sudah sampai di kampusnya, Ichan meminta ayahnya untuk menurunkan mereka agak jauh dari kampus mereka, dia malu jika ada beberapa teman mereka yang lainnya melihat, karena mereka tau kondisi ekonomi keluarganya takkan mampu membeli mobil mewah seperti itu.


"Hei, kau harus bangga dengan ayahmu, dia rela harus bekerja jauh demi kalian semua. Lihat, akhirnya kalian bisa bersama lagi kan.." ucap Maura.


"Iya, kau benar.. Hanya saja, semenjak pulang ada beberapa tingkah ayahku yang terlihat aneh.." gumam Ichan berjalan sedikit lesu menatap kebawah nya.


"Maksudnya??" Maura bingung dengan ucapan temannya itu.


"Ah, si Ardian kayaknya udah nungguin lu dari tadi! Sampai ketemu di kelas yah, byeee!" ujar Ichan sambil berlari menjauhinya.


Kebetulan dari jarak mereka, terlihat ada Ardian berjalan kearahnya sedangkan si Arga sedang memperhatikan Ichan dengan tatapan aneh, membuat Maura merasa was-was takut jika sahabatnya itu menjadi sasaran kemarahan si Arga.

__ADS_1


"May.." sapa Ardian.


"Hem.." sahut Maura cuek sambil terus berjalan melewatinya.


"Kamu masih marah sama aku? Maaf ya, kemarin sore dari showroom menelpon katanya ada pelanggan yang sedikit bawel, makanya aku buru-buru pergi kesana, maaf yah.." ucap Ardian menjelaskan semuanya, dengan sedikit memelas menatap Maura.


"Huft, iya.. Aku mengerti, kok!" ujar Maura.


Ardian tersenyum sumringah kemudian dia menoleh kearah Arga yang sedari tadi memperhatikan mereka, dia tersenyum penuh kemenangan seolah sedang bertarung memperebutkan hatinya Maura saja.


Hari itu semua berjalan lancar tanpa ada gangguan ataupun keanehan lainnya, paling gangguannya adalah sifat usil dan jahilnya si Arga, ditambah lagi sifat kekanak-kanakan Ardian yang cemburuan.


Salah satu cara agar dia bebas dari keduanya adalah bersembunyi didalam perpustakaan atau diatas rooftop disalah satu gedung kampusnya itu, seperti saat ini. Dia sedang menikmati makan siangnya sendirian diatap sana sambil sesekali memperhatikan ponselnya.


"Apa enaknya makan sendirian disini?" tiba-tiba ada suara lembut mengajaknya berbicara.


"Siapa?!" tanya Maura waspada.


"Aku.." seekor burung Phoenix terbang mendekat kearahnya, Maura bingung datang darimana burung itu? Apa lepas dari kandangnya?


"Aku pikir siapa, ternyata seekor burung cantik yang datang menyapaku.. Kau sendiri kenapa bisa sampai disini? Setauku burung sejenis kamu sangat langkah di negeriku, mungkin juga sudah tak ada..


Apa kau datang cukup jauh dari negeri seberang? Atau.. Kau kabur dari kandangmu, burung cantik.." ucap Maura tersenyum mengagumi bentuk burung itu dengan warna bulu-bulunya yang indah dan cantik.


"Kau bisa bicara dengan hewan juga ternyata, aku pikir hanya dengan makhluk halus saja!" ucap burung Phoenix itu, ada nada sedikit ketus juga, karena disamakan dengan hewan biasa, padahal dia merupakan salah satu burung mitologi China yang sangat diagungkan.


"Sebelumnya aku tak pernah berbicara dengan hewan, baru denganmu saja. Eh, aku lupa! Aku punya sahabat kecil berbulu putih lembut, sekarang dia lebih suka tinggal di pesantren bersama salah satu Kyai yang ada di sana.." ucap Maura, dia hampir saja melupakan Gerry alias Gerald.


"Apa kau mau?" Maura menawarkan makanannya ke burung Phoenix, sepotong roti sandwich miliknya.


"Aku tak makan makanan seperti itu, apa kau tak tahu burung itu makannya apa?!" ucap burung Phoenix itu ketus.


"Idih, galak amat! Tau, tapi siapa tau kau ingin mencoba makanan lain kaann,, jangan bersikap kasar begitu burung cantik.." ucap Maura sambil terkekeh melihat burung itu.


"Jangan panggil aku cantik, sekali lagi kau panggil aku cantik akan aku hancurkan makan siangmu itu!" bentak burung itu tak terima, setidaknya itulah ancaman yang bisa dia lakukan, karena tak mau melanggar aturan langit.


"Lah, memangnya kenapa? Kan kau itu can--" burung itu langsung terbang mendekatinya dengan tatapan tajam.


"Karena aku ini adalah jantan, jantan yang tangguh!" jawab burung itu seketika merubah bentuknya menjadi seorang lelaki tampan penuh karisma, tepat dihadapan Maura.


"Ya Tuhan, godaan apa lagi ini.." gumam Maura dalam hati, saat ini matanya saling bertatapan dengan mata Phoem.


Jantung tak aman, belum lagi Arga mulai mengetahui keberadaannya saat ini, apa yang harus Maura lakukan sekarang, apa Ardian akan memiliki saingan baru?


......................

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2