RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Panglima Adyadharma


__ADS_3

Tiba-tiba angin kencang menerpa mereka, panglima Arialoka dan Dewi Srikandi membelakangi Maura dan Ardian, para peri kecil itu menimbulkan suara bercicit seperti suara anak burung. Dan..


Blarr!


Sebuah kilatan cahaya menerpa mereka seiringan dengan kemunculan sosok prajurit dengan tombak panjang ditangannya, dia memakai baju perang besi jaman kerajaan tempo dulu.


"Siapa kalian? Apa yang kalian lakukan disini?!" tanya sosok prajurit itu dengan suara berat.


"Kami datang kesini untuk mencari jiwa manusia yang tertahan disini, dia masih hidup di dunianya. Tubuhnya dirasuki oleh ratu jin, dan kami harus membawanya pulang" jawab Dewi Srikandi.


"Aku tak tau apa kalian mengatakan yang sebenarnya atau tidak, tapi melihat sekumpulan makhluk kecil itu membentuk sebuah benteng penjagaan, aku yakin tujuan kalian baik.


Aku takkan menghalangi kalian, tapi sebelum itu kalian harus menyerahkan sesuatu yang berharga milik kalian sebagai jaminan" ujar sosok itu sambil menyeringai.


"Kau bilang tidak akan menghalangi kami, tapi melihat caramu itu, sama saja kau menghambat perjalanan kami!" sahut Dewi Srikandi lagi.


"Haha, aku melakukan hal ini demi kebaikan kami semua para penghuni hutan ini. Adanya perlindungan para makhluk kecil itu, tak menjamin keberadaan kalian tidak membahayakan kami!


Beberapa waktu dulu, mereka tertipu oleh manusia rendahan yang masuk kedalam hutan ini, tapi apa yang terjadi, beberapa penghuni hutan ini dibawa paksa oleh dukun itu.


Kami tak ingin kecolongan lagi, jadi sebagai jaminan serahkan apa saja barang berharga milik kalian" ucap sosok itu lagi.


"Kami tak memiliki barang seperti itu, jadi percuma saja kau menahan kami.. Apakah kau menginginkan mahkotaku?" tawar Dewi Srikandi.


"Aku tak menginginkan mahkotamu, tak ada apapun di sana. Aku melihat ada sebuah benda berharga dimiliki gadis itu" ujar sosok itu sambil menunjuk Maura.


"Apa maksudmu kalung ini?" tanya Maura sambil menunjukkan kalung giok delima sakti dilehernya itu.


Makhluk itu tersenyum menyeringai, Dewi dan panglima begitu khawatir dibuatnya. Ardian langsung menghalangi tubuh maura dengan tubuhnya, dia tak ingin makhluk itu sampai menyentuh Maura.


"Tidak bisa, jika kalung itu lepas darinya, maka itu akan melemahkannya. Kau bisa meminta yang lainnya, kecuali yang itu" sahut Dewi Srikandi waspada.


"Haha! Aku telah memiliki segalanya, aku tak butuh itu semua. Aku hanya minta sebagai penjamin saja, nanti setelah kalian kembali aku akan mengembalikannya" ucap sosok itu licik bersiasat.


"Makhluk seperti kalian tak dapat dipercaya, apapun alasannya. Kalian penuh dengan tipu daya dan siasat, jika ada yang termakan ucapanmu, maka kesesatan akan menimpanya.


Ardian, jaga Maura jangan sampai makhluk ini Berhasil merebut kalung itu" ucap panglima Arialoka.


"Dasar, kalian tak sebanding denganku. Dan kalian tahu itu, untuk mempercepat urusan kalian lakukan saja permintaanku itu" ucap sosok itu serius.


"Atau.." sosok itu mengangkat tombaknya tinggi-tinggi, dan...


Ctarr!


Blarr!


Tombak itu menimbulkan cahaya menyilaukan, ada petir diatasnya siap-siap menyerang mereka. Melihat itu Maura menjadi khawatir, dia melihat Dewi Srikandi dan panglima Arialoka begitu kesulitan, mengatasi angin kencang yang dibuat oleh sosok itu.

__ADS_1


"Jika dibiarkan, mereka akan terluka. Dari tingkatan ilmunya, sepertinya sosok itu salah satu jin terkuat di wilayah ini" gumam Maura.


Dia juga melihat para peri kecil itu mulai kalang kabut melihat serangan makhluk itu, Maura berinisiatif berjalan kearah makhluk itu dan memperlihatkan kalung dilehernya.


"Bagaimana jika aku yang jadi jaminannya? Kau akan mendapatkan lebih dari itu, bukan sekedar kalung ini saja" tawar Maura.


"Maura?! Jangan!" ucap Dewi Srikandi khawatir.


"Tidak apa, aku akan baik-baik saja.." ucapnya kepada Dewi Srikandi.


"Apa jaminannya jika aku mendapatkanmu, tanpa perlu khawatir dengan siasat darimu, gadis kecil?!" tanya sosok itu.


"Aku ini makhluk lemah dibandingkan dirimu, apa yang kau takutkan?! Kecuali jika kau ingin berniat buruk denganku, dan kau tahu betul konsekuensinya jika itu terjadi" ucap Maura menatapnya dingin.


"Hahaha! Aku suka denganmu, ternyata kau lebih pintar dari mereka semua! Baiklah, aku terima tawaranmu itu. Lagian aku penasaran sekuat apa dirimu itu!" ucap sosok itu.


"Maura, apa kau yakin?!" tanya Ardian khawatir.


"Percayalah, aku akan baik-baik saja. Kalian pergilah, temukan Meera dan jemput aku disini" jawab Maura sambil tersenyum.


"Kita terlalu fokus dengan dirinya tanpa memikirkan hal lain, kita lupa akan satu hal jika makhluk itu takkan bisa melukai Maura, karena perjanjian antar manusia dan bangsa jin pada masa peperangan waktu dulu itu.


Perjanjian itu terus berlaku hingga kiamat pun tiba, maka dari itu setiap manusia yang bersekutu dengan jin, maka dia pasti akan mendapatkan hukuman, entah itu karma atau tumbalnya sendiri.


Begitu pula sebaliknya, jika ada bangsa jin berusaha melukai manusia maka dia pasti akan mendapatkan sebuah siksaan akibat perjanjian itu sendiri" ucap panglima Arialoka.


"Iya, kau ada benarnya juga. Aku lupa soal perjanjian itu, baiklah Maura.. Kami akan pergi dan segera menjemputmu" ucap Dewi Srikandi.


"Ini akan terus terhubung denganku, jangan lepaskan. Ingat, dimensi ini kau tak bisa menghubungi aku begitu saja, seperti saat kau berada di dimensi lain.


Mutiara ini sebagian dari jiwaku, apapun yang akan terjadi denganmu aku pasti mengetahuinya, kamu tak perlu takut" ucap Dewi Srikandi.


Maura mengangguk, dia melepaskan mereka pergi ke dunia bawah tanah, dimana Meera tertahan didalam penjara buatan ratu jin Sikumbang.


"Nah, gadis kecil! Kau ikut denganku sekarang!" ucap sosok itu sambil meraih tubuh Maura dan didudukan keatas kudanya.


Kuda itu melaju dengan kencangnya meninggalkan hutan dan para peri itu tadi.


.


.


Maura dibawah kedalam gua batu disalah satu sudut hutan itu, saat mereka masuk gua gelap, sepi dan dingin itu menjadi sebuah bangunan yang sangat megah.


Dia melihat ada beberapa orang yang berlalu lalang didepan istana itu, sudah seperti kesibukan masyarakat biasa pada umumnya. Mereka sibuk berdagang, dan ada juga pembelinya, ada anak-anak yang berlarian, ada para gadis bercengkrama, para pemuda sedang berlatih perang.


Setelah melewati pasar itu, mereka menuju istana didepan mereka itu melewati danau yang begitu besar, airnya begitu jernih sehingga terlihat ada beberapa ikan didalamnya.

__ADS_1


Dia melihat ada beberapa pasang kekasih dan ada juga yang sedang bermain musik dipinggir taman danau itu, mereka masuk kedalam pintu gerbang istana, didalam sana ada beberapa prajurit yang sedang berlatih, ada prajurit lelaki dan ada juga prajurit wanita.


Mereka diperlakukan sama, tak ada kesenjangan gender, ataupun drajat, level pimpinan atau apa saja mereka yang ada di sana.


"Semuanya nampak seperti manusia pada umumnya, hanya saja yang membedakannya adalah pakaian, suasana, rumah dan bangunan, juga beberapa peralatan dan barang-barang disini.


Aku seperti sedang melakukan perjalanan waktu saja, ini seperti kembali ke ribuan tahun yang lalu. Semuanya begitu primitif dan beradab" gumam Maura menatap takjub mereka semua.


"Tentu saja, kami hidup dari ribuan tahun lalu. Kami tidak seperti manusia yang kehidupannya terus berkembang, seperti bentuk pakaian, bangunan, peralatan ataupun makanan yang terus berkembang.


Hidup kami terus begini dari tahun ketahun, bukan kami tak sanggup, tapi kami tak mau. Hidup penuh kemewahan, kemegahan hanya milik makhluk penuh nafsu serakah saja. Kami tak ingin hidup seperti itu" ucap sosok itu.


Mereka telah sampai didepan sebuah pintu besi, sosok itu turun dan membantu Maura turun juga. Betapa terkejutnya Maura melihat sosok itu, makhluk jin berwujud sosok prajurit lengkap dengan baju besi perangnya, dilengkapi juga dengan helm perang dengan tombak ditangannya itu, memiliki wajah hitam gosong seperti terbakar dengan mata merah, dan giginya bertaring tajam.


Setidaknya itu Maura dan teman-temannya lihat tadi, tapi sosok itu sedang berdiri dihadapan Maura dengan wujud lain, sosok prajurit gagah, berwajah tampan, penuh wibawa, auranya sangat kuat.


Sosok itu membuka helm perangnya, dan makin terlihat wajah tampan itu, dengan rambut diikat kebelakang, menambah kesan kejantanannya.


"Si-siapa kau sebenarnya?!" tanya Maura takjub sekaligus takut.


"Aku panglima Adyadharma, adik dari panglima Adyaseka dan sahabat dari panglima Arialoka dan Dewi Srikandi.." ucap sosok itu dengan tersenyum tipis.


Jika manusia biasa melihatnya, pasti akan segera terpikat karena sebuah ajian pengikat hati akibat senyumannya itu. Maura bisa saja terkena, tapi gadis ini memiliki kemampuan khusus, jadi tak mempan olehnya, meskipun begitu tetap saja senyum itu mampu menggetarkan kewanitaannya.


"Kalau benar begitu, kenapa kau bersikap seperti itu?! Dan kenapa mereka tak mengenalimu?!" tanya Maura penasaran.


"Karena aku menggunakan wujud lain, dan menutup diri agar mereka tak mengenaliku. Kau pasti sudah tau cerita tentang Dewi Srikandi dan panglima Arialoka dikirimkan oleh Maharaja Balaputradewa kemedan perang melawan para penyihir itu kan?!" tanya sosok itu lagi.


"Tentu saja aku tau, sampai mereka dikhianati oleh salah satu pengkhianat! Dan mereka memiliki banyak prajurit dan ada beberapa panglima juga diikutsertakan.


Apakah kau salah satunya? Waaw, ada berapa banyak kalian di sana? Apa semuanya bereinkarnasi, apa mereka menjadi Jin juga sepertimu dan Kamaru?" tanya Maura penasaran.


"Hanya sebagian, mereka-mereka yang terlibat saja yang menjadi seperti kami. Yang lain langsung naik menuju akhirat" sahut sosok itu.


Dia menarik Maura masuk kedalam istana itu, dan memperkenalkan semua yang ada di sana, bukannya takut, Maura malah terlihat senang sekali, sudah seperti study tour saja.


.


.


.


Berbanding terbalik dengan Ardian dan lainnya, mereka sedang kewalahan melawan sosok di negeri bawah tanah, seekor ular naga bernafas api menyerang mereka.


Menghembuskan nafas apinya dan membakar apa saja yang ada didepannya, Dewi Srikandi mencoba mengikatnya menggunakan selendangnya.


Sedangkan panglima Arialoka dan Ardian mengalihkan perhatian naga itu, mereka hampir babak belur menghadapi ular naga yang sangat kuat itu.

__ADS_1


......................


Bersambung


__ADS_2