RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Akhir Dari sebuah Pesugihan


__ADS_3

Sementara ditempat lain.


Disebuah rumah gubuk tua ditengah hutan, seorang lelaki tua sedang mengamuk, dia begitu murka karena tawanannya lepas, dia begitu marah dengan anak buahnya yang tak berhasil membawa pemuda itu kepadanya.


"Apa yang kalian lakukan, hah?! Jika begini terus ratuku akan murka, dia akan mengambil anak keturunanku Sebagai pengganti tumbalnya! Aku tak ingin anak-anakku mati sia-sia!" teriaknya kepada dua makhluk tinggi besar berbadan gempal, bau busuk menyeruak dari tubuh mereka.


"Maafkan kami, Tuanku. Kami tak kuasa menahan diri saat merasuki dua anak manusia yang ternyata memiliki ikatan yang sama dengan kami.


Kami tak bisa menahan diri untuk saling bercumbu, ka-kami menyukainya karena sudah lama sekali kami tidak bercumbu dengan tubuh padat seperti itu" jawab salah satu makhluk mes.um itu.


"Dasar bajing*n kalian! Sempat-sempatnya kalian bercin.ta disaat seperti itu! Sudah bagus bisa lolos dari mereka, jika tidak kalian pasti akan ditahan didalam penjara milik maharaja Balaputradewa di dimensi itu.


Aku harap kalian tidak lupa akan itu! Jadi, berhentilah main-mainnya, lain kali nyawa kalian yang jadi taruhannya, ingat?!" bentak orang tua itu.


"I-ingat, Tuanku!" ujar kedua makhluk itu ketakutan.


"Sekarang aku tak tahu harus bagaimana lagi, jika ratu datang dan menagih janjinya, apa yang harus aku lakukan?!" ujar lelaki tua itu.


"Tenang, Tuanku. Kami ada hadiah besar untuk Tuanku.." ujar dua makhluk tadi sambil menyeringai.


"Hadiah? Hadiah apa?!" tanya lelaki tua itu menurunkan sedikit nada bicaranya.


Kedua makhluk itu membawa tuan mereka ke alam gaib, dan berniat memberitahukan tangkapan mereka. Tapi mereka sangat terkejut karena tahanan mereka saat ini sedang bersiap menyambut mereka.


Dewi Srikandi berdiri tegap dengan senjata andalannya, bukan dengan selendang kuningnya tapi dengan trisula ditangannya, dia menatap murka kepada ketiga makhluk laknat itu.


"A-apa yang kalian lakukan?! Apa kalian ingin menjebakku?! Kenapa ada makhluk ini disini?!!" teriak lelaki tua itu ketakutan.


"Ka-kami menahannya tadi, kami kira dia sudah ditaklukkan sepenuhnya, ta-tapi kami tidak tahu jika dia berhasil lepas dari ikatan kami" jawab makhluk busuk tadi.


"Dasar bodoh! Kalian pikir dengan kekuatan kalian yang tak seberapa ini bisa menaklukkannya?! Kalian benar-benar dalam masalah!" geram lelaki tua itu.


Saat mereka masih dalam perdebatan, Dewi Srikandi tak membuang waktu dengan amarahnya yang tak terkendali, dia melemparkan trisula ditangannya dan menancap pas di jantung salah satu makhluk busuk tadi.


"Tidak!!"


"Grrraaawwrrghh!!"


Makhluk tinggi besar dan berbadan gempal itu mengamuk saat melihat kekasihnya jatuh tertancap trisula milik Dewi Srikandi, dia begitu marah dan murka dan bersiap menyerang Dewi Srikandi.


"Tadi aku lengah dan tak menyadari serangan kalian berdua, sehingga aku bisa terjebak disini. Tapi setidaknya aku berterima kasih kepadamu dan kekasihmu yang telah mati itu, karena telah memberitahukan keberadaan tuan kalian ini!" ujar Dewi Srikandi menatap keduanya dengan seringainya.


Saat ini Dewi Srikandi dalam keadaan murka, dia tidak terima dipermainkan oleh makhluk rendahan seperti mereka itu, dunia gaib itu dalam seketika porak poranda oleh perbuatannya.


Semua penghuninya berlari ketakutan, ada beberapa makhluk alam sana yang mengumpat kepada makhluk busuk itu karena beraninya membawa dewi perang ke alam mereka.


Pertarungan tak bisa dielakkan, makhluk busuk tadi mau tak mau dia menyerang Dewi Srikandi meskipun dia tahu kekuatannya tak sebanding dengan sang Dewi. Apalagi setelah melihat kekasih mati begitu saja, dia tak terima.


Sampai saatnya selendang Dewi terikat dilehernya, dia masih berusaha untuk melawan, tapi saat makhluk itu melihat jasad sang kekasih lama kelamaan menghilang, diapun akhirnya menyerah.


"Bunuh aku, dan biarkan aku tinggal bersamanya.." ujar makhluk itu lemas.

__ADS_1


"Kau kebanyakan melihat drama percintaan manusia, sehingga kau lupa jika manusia mati itu akan langsung bertemu dengan rabb-nya. Dan kau tahu betul itu, dan kalian juga hanyalah makhluk rendahan.


Ketika kalian musnah, maka kalian akan dibawa langsung ke akhirat, dan dirimu akan ditempatkan sesuai amal ibadahmu selama ini, surga atau neraka. Itu saja pilihannya.


Dan saat ini, aku pastikan kau harus dipenjara dulu bersama teman-temanmu di tahanan milik maharaja Balaputradewa, sebelum neraka menantimu!" ujar Dewi sambil mengeratkan ikatannya dileher makhluk itu.


Setelah itu, dia melihat manusia lain di alam itu, dia mengejar manusia itu yang terus berlari menghindarinya. Sedangkan makhluk tadi sudah seperti mainan baginya, bagaimana tidak dengan leher terikat selendangnya dia ikut terseret saat Dewi mengejar manusia laknat itu tadi.


"Berhenti kau manusia laknat!" teriak Dewi, suaranya menggema seisi alam itu.


Membuat para makhluk penghuni alam itu bersembunyi ketakutan, mereka memilih bersembunyi sambil memperhatikan mereka dari kejauhan.


Nampak jelas oleh Dewi, dari kejauhan dia melihat ada sosok lain bertubuh lebih besar dari pada manusia dan makhluk lainnya, sosok menyerupai seorang wanita bergaun hitam dengan rambut disanggul rapi dengan konde di kepalanya.


Makhluk itu menyeringai saat menatap Dewi, dengan sigapnya dia meraih lelaki tua itu tadi dan menghilang dari balik kabut hitam didepannya.


"Sial!" umpat sang Dewi murka.


Dia tak bisa menahan diri hingga membanting tubuh makhluk yang terikat dengan selendangnya tadi, sehingga tanah-tanah sekitarnya bergetar menimbulkan retakan-retakan panjang hampir membela alam itu.


Sehingga seisinya lebih hancur lagi, pohon-pohon tumbang dan berbagai jenis makhluk berlarian menyelamatkan diri, menjauhi sang Dewi yang terlihat menakutkan itu.


Sampai saatnya Dewi Srikandi pergi dari tempat itu, barulah mereka merasa aman dan pergi dengan tenang. Pada saat bersamaan, makhluk besar tadi muncul kembali berserta manusia laknat itu.


"Kau harus berterima kasih denganku karena telah menyelamatkanmu, dari serangan makhluk itu tadi. Jika tidak kau akan hancur seperti pohon-pohon ini!" ujar makhluk itu dengan suara berat mengerikan.


"Te-terima kasih, Ratuku!" ujar lelaki tua itu sambil bersujud didepannya.


Membuat makhluk itu tertawa terbahak-bahak senang, membuat alam itu kembali terguncang. Kemudian dia sedang mengibaskan sesuatu ditangannya, tiba-tiba muncul sebuah bayangan di udara.


"He-hentikan ratu, aku mohon! Beri aku waktu, aku akan carikan tumbal nyawa yang lain, jangan ambil anakku!" ujar lelaki tua itu memohon.


"Ini sudah lewat tempo, budakku! Dan aku sudah tiga kali memberimu waktu, dan tak ada lagi kesempatan untukmu. Jika tak ingin anggota keluargamu aku ambil, maka siapakan jauh-jauh hari tumbalnya," ucap sang ratu iblis.


Dengan sekali gerak tangannya, bayangan anak lelaki itu menunjukkan jika dirinya sedang menggorok lehernya sendiri dengan pisau cutter yang dia rampas dari meja petugas.


"Tidaaakk!! Giilaaang!! Anakku.." lelaki tua itu meraung menangis pilu melihat anaknya mati begitu saja.


"Pulanglah, hartamu sudah menanti. Dengan nilai yang sesuai dengan nyawa anakmu sendiri.." ujar ratu iblis itu.


Kemudian dia menghilang dari sana bersamaan dengan menghilangnya kabut hitam bersamanya, saat detik-detik terakhir lelaki tua itu seperti melihat siluet bayangan anaknya berdiri disamping sang ratu iblis.


"Anakku benar-benar telah pergi, dia pergi bersama ratu, hahaha! Huhu..." lelaki tua itu depresi.


Dia tak dapat menahan kesedihannya, apa gunanya harta banyak jika sang anak akhirnya diambil juga, jika diberi pilihan, mungkin dia akan menumbalkan beberapa pelayannya atau mungkin istrinya, yah.. Isterinya.


Dia kembali ke gubuk tua ditengah hutan itu lagi, dengan sekantung emas berlian dengan nilai miliyaran rupiah, tapi dirinya tak bahagia sama sekali, dia hanya menangis meraung saat kehilangan putra tercintanya.


Ditempat lainnya, lebih tepatnya di dimensi dimana maharaja Balaputradewa dan ratu Kenanga Ungu berada, Dewi Srikandi menghadap kepada sang raja, dia tertunduk tak sanggup menatap sang raja.


"Dewi, kau tau kenapa kau berada disini saat ini?" tanya sang raja.

__ADS_1


"Iya, Baginda.." jawabnya sambil menunduk.


"Hamba datang untuk menyerahkan salah satu makhluk rendahan lainnya, dan siap menerima hukuman dari Baginda yang mulia.." sahutnya lagi.


"Kenapa dengan satu makhluk rendahan itu, kau hampir menghancurkan alam lain? Apa kau ingin menunjukkan betapa hebatnya dirimu, wahai dewiku?" tanya sang raja sambil menghampirinya.


"Hamba tidak berani yang mulia, dan maafkan hamba karena tak bisa mengendalikan emosi saat menghadapinya," jawab Dewi Srikandi sambil menundukkan dirinya lebih rendah lagi, tidak berani menatap sang raja.


Maharaja menatap dewi perangnya dengan cinta kasih, dia tahu sebagai raja di dimensinya dia harus adil, tapi dia juga tak bisa membohongi dirinya jika dia amat sangat merindukan sang kekasih.


"Baiklah, sebagai hukumannya.. Kau akan ditahan disini sampai batas waktu tak ditentukan, dan membiarkan rekanmu bekerja sendirian melawan para penyihir dan ahli ilmu hitam lainnya" ucap sang raja memberikan keputusannya.


Dewi tercekat saat hukuman telah diberikan kepadanya, dia tak masalah dengan hukumannya, tapi dia memikirkan Maura yang harus bekerja sendirian di sana, meskipun ada Ardian dan panglima Arialoka, tapi dia masih mengkhawatirkan Maura yang kadang-kadang suka ceroboh itu.


"Apa kau keberatan dengan hukumanmu?" tanya sang raja.


"Tidak yang mulia.." jawab Dewi Srikandi sambil bergetar.


"Baiklah, pengawal bawa dia!" ujar sang raja memberikan perintah penahanan.


Dewi Srikandi ikut dengan sukarela tempat pengasingan dirinya, dengan hati bimbang memikirkan Maura, apalagi dia tidak sempat berpamitan dengan sang rekan, dirinya yang lain.


"Maura, jika kau mendengarku.. Ketahuilah, bahwa aku selalu ada untukmu, kepergianku tak selamanya, bersabarlah dan tunggu aku, kita akan bersama-sama menumpas para penyihir itu bersama-sama, sesuai janjiku dulu.." gumamnya.


Dia berusaha berkomunikasi dengan Maura, meskipun dia tahu itu takkan mungkin, karena semua kekuatan telah ditangguhkan oleh raja Balaputradewa sebagai hukumannya yang lain.


.


.


Di dunia manusia, Maura masih bingung karena belum bisa menghubungi Dewi Srikandi lagi, dia meminta Ardian menyuruh panglima Arialoka menemukan sang Dewi, tapi nihil.


Panglima Arialoka pun tak bisa melacak keberadaan sang Dewi, dia pun sebenarnya khawatir juga apalagi saat melihat kondisi dimensi dimana Dewi sempat disekap oleh dua makhluk me.sum tadi.


"Maaf, tapi aku juga tak bisa menemukan atau melacak keberadaan Dewi, Ardian.." lapor panglima Arialoka.


"Huft, kira-kira kemana dia yah? Aku tak tega melihat Maura yang terlihat khawatir begitu, aku tak tau harus berkata apa padanya nanti" ujar Ardian bingung.


"Aku juga heran, tiba-tiba saja energi gaibnya menghilang, tidak mungkin dia musnah begitu saja, apalagi ditangan dua makhluk rendahan itu tadi. Di alam itu, aku melihat ada bekas-bekas pertarungan mereka, dari jejaknya jelas dia pemenang mutlaknya.


Tapi dia juga menghilang bersamaan dua makhluk itu, saat aku bertanya dengan para makhluk yang ada di sana, mereka semua memilih diam dan menghindar ketakutan.


Sepertinya mereka masih ketakutan akibat pertarungan tadi, dan sejujurnya aku juga sempat merasakan energi Dewi yang sangat besar tadi, sepertinya dia hampir mengeluarkan semua energinya.


Aku tak tahu kenapa dia begitu murka sekali, apa ada sangkutannya dengan semua ini, Ardian? Tidakkah kehilangan Dewi Srikandi sangat mencurigakan?" tanya panglima Arialoka kebingungan.


"Aku tak tahu, panglima. Aku takut berasumsi, takutnya itu tidak benar, dan akan mengecewakan Maura nantinya.." sahut Ardian dengan melamun.


Sedangkan Maura sangat gelisah sekali, dia berulang kali menghubungi Dewi Srikandi, tapi tak ada jawabannya.


"Kemana kau Dewi, aku mengkhawatirkanmu.." gumamnya takut.

__ADS_1


......................


Bersambung


__ADS_2