RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : ( PNS ) Penyelinapan


__ADS_3

Sementara itu, Maura malah teleportasi ke rumah neneknya. Ibarat kata keluar dari kandang macan masuk ke kandang singa, begitulah keadaannya sekarang ini. Bagaikan de javu, dia kembali bersembunyi didalam kamarnya dulu, dari pencarian orang-orang itu.


Diluar kamar pak Herman dan beberapa orangnya nampak sedang memeriksa setiap ruangan yang berada dilantai atas, dimana dilantai atas berisi kamar-kamar kosong dimana tempat para anak-anak tidur dulu, sebelum mereka dibawah pergi secara diam-diam oleh Nayla dan Nala.


"Aurora kenapa membawaku kemari? Seharusnya dia membawaku kembali ke pesantren pak Kyai, atau antar aku kemana para makhluk itu berada!" gumamnya kesal.


Dia masih belum tau jika yang dia temui tadi bukan Aurora, melainkan arwah sang mama. Maura mendengar suara derit kayu yang dipijak oleh beberapa pasang kaki, dia tau mereka sudah mendekati kamar tempat dia bersembunyi.


Krieeett!


Pintu dibuka berlahan, Maura yang bersembunyi didalam lemari dan berada dibelakang tumbukan beberapa kain didalam sana, nampak waspada berharap mereka tak menemukannya.


"Rasanya tak mungkin ada manusia ataupun makhluk ditempat ini, Tuan.." terdengar suara orang diluar sana.


"Jangan menganggap remeh semuanya, sesuatu yang tak mungkin bisa saja terjadi!" ucap pak Herman, Maura mengenali suara itu.


Dia semakin merapatkan diri dibalik tumbukan kain-kain itu, kemudian dia juga mendengar suara langkah-langkah kaki mulai berjalan, sepertinya mereka semua mulai memeriksa satu-persatu setiap sudut ruangan itu.


Setiap tempat di ruangan itu diperiksa, dari kolong kasur, bawah meja, memeriksa dibalik gorden jendela dan lainnya, mereka tak menemukan apa-apa.


"Sepertinya tidak ada apa-apa disini, mari kita periksa ditempat lain!" ujar pak Herman.


Mendengar ucapan pak Herman membuat Maura sedikit lega, sebenarnya dia bisa saja menghadapi mereka semua, tapi dia tak ingin membuat kekacauan di sana. Dia ingin bergerak sembunyi-sembunyi agar musuh tak tahu pergerakannya.


"Tunggu dulu, kita melewati sesuatu..." Maura baru saja bernafas lega, mendadak kembali tegang mendengar suara pak Herman itu.


"Kali ini biarkan aku yang memeriksanya," ucap pak Herman lagi.


Maura mendengar suara berat langkah kaki mendekati lemari tempat dia bersembunyi, dia bisa melihat dari celah-celah kecil dari balik pintu lemari itu, pak Herman berjalan menujunya dengan hati-hati.


Pak Herman membuka pintu itu dengan pelan-pelan, meskipun dia sedang mencari sesuatu yang mencurigakan, dia tetap berharap tak menemukan apa-apa. Sangat mengerikan sekali jika dia membuka pintu tiba-tiba ada binatang buas atau beracun, itu sama sekali tak lucu.

__ADS_1


Saat dia membuka pintu dan pada saat itu juga dia mendengar suara teriakan dari arah lantai bawah, pada saat itu pintu lemari sudah terbuka lebar dan tak disangka Maura terlihat jelas didalam lemari itu, karena tumbukan kain itu bergeser dan memperlihatkan kepalanya, bagaikan pertolongan Dewi Fortuna, mendengar suara teriakan itu refleks pak Herman dan lainnya menoleh kearah pintu sehingga tak melihat keberadaan Maura di sana.


Melihat itu Maura buru-buru bersembunyi kembali sebelum ketahuan, dan pak Herman langsung menutup pintu lemari dan hampir saja Maura ketahuan jika tak buru-buru bersembunyi.


"Sial, ada apa sebenarnya?!" teriaknya sambil tergesa-gesa keluar dari dalam kamar itu diikuti oleh beberapa orang yang bersama dengannya.


Setelah cukup lama, Maura keluar dari persembunyiannya itu dengan perasaan lega. Beruntung sekali dia bisa bersembunyi dengan aman di sana, itu mengingatkan dirinya waktu itu saat bersembunyi didalam kamarnya Nayla.


Dan pada saat ini semua orang sedang berkumpul didalam sebuah ruangan, dimana di sana juga ada nenek Dawiyah yang terlihat murka dan marah sekali, semua orang nampak terdiam, tertunduk tidak berani menatap matanya.


"Bagaimana bisa arwah itu bisa menghancurkan tempat itu dan kabur begitu saja?! Padahal aku juga sudah menempatkan begitu banyak penjaga termasuk makhluk itu juga! Dan sekarang semuanya hancur dan menghilang, siapa.. Siapa dibalik semua ini?


Tidak ada yang tau tempat itu, kecuali aku dan tentu beberapa orang yang ada disini! Apa ada pengkhianat diantara kalian?! Katakan padaku, aku paling benci dengan pembohong dan juga pengkhianat!" teriak nenek Dawiyah murka.


"Ti-tidak ada yang seperti itu, Bu.. Kami bahkan tak bisa memasuki tempat itu jika tanpa izin darimu," sahut pak Heru gugup.


Nenek Dawiyah diam saja saat mendengar pembelaan dari pak Heru, dia nampak berpikir dan memperhatikan anak-anaknya, apakah mereka semua jujur dan setia padanya? Keraguan mulai muncul dihatinya.


Dan sialnya lagi, dia bergantungan tepat diatas jendela tempat para tetua dan nenek Dawiyah bertemu. Mereka semua nampak sedang sibuk sehingga tidak melihat dan memperhatikan ada seutas tali kain bergantung didepan jendela kaca tempat itu.


Pas Maura turun di posisinya menghadap jendela, betapa kagetnya dia melihat sekelompok orang termasuk nenek dan para paman dan bibinya berada di sana. Dia langsung menarik diri kesamping agar tak terlihat dengan yang lain, kebetulan didalam ruangan itu jendelanya memakai gorden panjang dan tebal, saat gordennya dibuka pasti menyisakan tempat sedikit untuk menutupi jendela kaca itu di pinggirnya.


Dan Maura memanfaatkan posisi itu untuk bersembunyi dari mereka, sebelum turun dari sana.. Saat Maura sedang sibuk mengikat semua kain-kain itu menjadi satu, dia tak disengaja menemukan kotak kayu tua didalam tumbukan kain-kain itu.


"Apa ini? Sepertinya aku pernah melihatnya.." gumamnya.


Dia memberanikan diri membuka kotak kayu itu dan berharap bukan sebuah perangkap yang membuat posisinya ketahuan, atau malah dia teleportasi lagi ketempat yang lebih berbahaya.


Sriing...


Saat membuka kotak kayu sinar putih keemasan keluar pertama kali, sangat menyilaukan mata. Setelah itu berlahan sinar itu menghilang, dan terlihat gulungan kertas dari kulit kayu yang lapuk dan usang.

__ADS_1


"Ini sama persis gulungan kertas dari kulit kayu yang pernah diperlihatkan oleh Nala waktu itu,," gumam Maura.


Tanpa menunggu lama lagi, Maura langsung menyelipkan gulungan kertas itu dibalik bajunya dan bergegas pergi dari tempat itu. Dia berharap kedatangannya kembali ketempat ini ada maksud dan tujuan tertentu, dan mudah-mudahan gulungan kertas inilah jawabannya.


Dan sekarang ini, dia malah terjebak diantara jendela kamarnya dan kamar dibawahnya. Bergantungan seperti Tarzan sambil menahan beban badannya, berharap kain-kain itu mampu menahan dirinya agar tak terjatuh dari sana.


"Sebaiknya aku mengambil resiko, kalau tidak entah sampai kapan aku akan bersembunyi disini," gumamnya kembali.


Bruk!


Dia melompat dari tali kain itu, dan untungnya mendarat dengan benar, kalau tidak mungkin saja kakinya bisa keseleo atau tulang-tulangnya pada retak. Dia celingukan berharap tak ada yang melihatnya, buru-buru dia menarik tali-tali kain itu dan menyembunyikannya didalam tanaman-tanaman bunga di samping rumah itu.


"Syukurlah, aman. Tapi bagaimana caranya aku keluar dari tempat ini? Keluar dari rumah bukan berarti aku aman sekarang,," ujarnya lagi.


Dia mengendap-endap sambil menunduk agar tak terlihat oleh orang-orang didalam rumah itu, dia sekilas mendengar percakapan mereka dari luar pas melalui jendela kaca ruangan itu.


"Terus apa yang harus kita lakukan? Beberapa makhluk peliharaan ibu dan ayah sudah banyak yang musnah dan menghilang semenjak kedatangan anak itu!" ujar bu Sinta sangat khawatir.


"Benar, kita hanya memiliki beberapa lagi makhluk saja dan jangan sampai anak itu mengetahui kelemahan kita ini," sambung pak Herman lagi.


"Meskipun hanya beberapa, jangan remehkan mereka. Makhluk-makhluk itu merupakan bagian dari iblis sesembahan kita selama ini, mereka bagian dari iblis Azazil dan para jin musrik lainnya.


Mereka yang terkuat dari yang kuat, tapi sebelum itu kita harus mencari tahu dulu penyebab hancurnya dunia ciptaanku itu! Dimana arwah Laura berada, selama ini aku menahannya untuk dijadikan sandera dan pertahanan terakhirku, sekarang tak ada gunanya lagi, dia sudah tak ada. Hilang sudah bagian dari rencanaku itu!" ujar nenek Dawiyah.


"Sudah, bu.. Tidak usah dipikirkan dulu hal itu, masih banyak hal penting lainnya yang perlu kita tangani. Setidaknya kita harus menyiapkan Shalimar dan dua orang sepupunya untuk penyerangan ini, karena sepertinya mereka sudah siap.." ucap pak Herman mencoba menenangkan ibunya.


Tapi bukannya tenang, nenek Dawiyah malah menyangka kalau pak Herman lah pengkhianat itu. Tapi dia diam saja dan sedang mengamati anaknya itu.


Pak Herman tak tahu jika dia sekarang menjadi target ibu dan saudara-saudaranya, dijadikan kambing hitam dan tumbal berikutnya.


......................

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2